Bab 2. Perjodohan
Mayra masih kesal dengan sikap Panca akhirnya melakukan aksi mogok, Mayra tak bergeming selangkah dari tempatnya berdiri dan kini malah duduk di bangku area parkir.
"Mayra. Ayo, lihat ponsel aku terus berdering," panggil Panca kesal.
Mayra makin cemberut tak menjawab semua perkataan Panca hanya netranya saja yang sesekali mengedip. Panca yang sedari tadi sibuk menjawab telfon akhirnya menghampiri Mayra dan menatapnya lekat. "Sahabatku yang cantik dan imut serta jutek, sayang aku tak mencintaimu, pulang yuk!"
Mayra masih tak bergeming, saat ini hatinya begitu kesal dan tak ingin memaafkan sikap Panca. Entah kenapa Mayra masih bersih kukuh tak ingin pulang seakan ada firasat buruk yang akan menyambutnya di rumah.
Mayra kembali menggeleng dan menolak ajakan Panca. "May pulang, sebelum Ayah kamu mengirim orang untuk menyeret kamu," jelas Panca akhirnya.
"Argh ... selalu itu yang Ayahku gunakan untuk mengacam!" seru Mayra kesal.
"Oke, kita pulang tetapi minta maaf dulu," pinta Mayra.
Mendengar seloroh Mayra, Panca seketika tertawa, menertawakan sikap sahabatnya yang manja. "Maaf, Mayra cantik, sayang aku tak mencintainya. Maaf jika hari ini sudah membuat hati kamu kesal," ucap Panca bersungguh-sungguh.
"Tidak ada maaf bagimu dan jangan pernah menertawakan aku dan sebagai hukumannya kamu harus bertanggung jawab dengan hilangnya benda ini," ucap Mayra sembari membuang delingu bawang yang di pegangnya dan memutus tali merah yang melilit tangannya.
"Ayo, pulang! Pikirkan saja alasan untuk Ayah nanti," ujar Mayra sekenanya.
Panca hanya bisa menggaruk kepalanya dan menatap sahabatnya dengan bingung. Mengekor langkah Mayra, Panca seakan memikul beban berat. "May, dewasalah sedikit jangan terlalu manja pada diriku dan kamu selalu membuat aku terpojok dengan amarah Ayah kamu," tutur Panca tiba-tiba dan membuat Mayra menghentikan langkahnya.
"Jadi. Kamu menyesal bersahabat dengan aku, kamu merasa aku menjadi beban kamu," cicit Mayra sembari menatap Panca kesal.
"Bukan-bukan seperti itu, paling tidak mulai hari ini kamu harus bisa memutuskan semuanya sendiri dan harus bisa melepas persahabatan kita," terang Panca aneh.
Mayra seketika membulatkan netranya, menatap Panca kesal, dirinya hanya bisa mengembuskan napas kesal tak menyangka jika sahabatnya akan berbicara seperti itu. Sementara itu, Panca hanya bisa melihat sahabatnya dengan tatapan sendu. "May, tolong jangan bersikap seperti itu. Pulang cantik," bujuk Panca lagi.
Mayra tak menghiraukan setiap ucapan Panca, tetapi sesaat bibirnya tersenyum licik.
"Baik. Kita pulang, tetapi janji kita masih bersahabat," tawar Mayra.
"Em ... bagaimana ya?"
"Oke, kalau begitu aku akan melarikan diri dan rasakan nanti apa yang akan Ayahku lakukan!" gertak Mayra.
"Hash, baik-baik!" jawab Panca kesal.
"Hish, enggak akan aku percaya dan sebagai buktinya apa?" tanya Mayra tak kunjung beranjak dari tempatnya.
"Oke-oke, apapun nanti jika kamu dalam kesulitan aku akan membantu kamu, janji!" seru Panca.
"Baik, aku pegang janji kamu. Ya, Allah dengarkan janji sahabat aku ini dan Engkau yang menjadi saksi Ya, Allah!" pekik Mayra keras.
Panca seketika menutup mulut Mayra dengan kesal. "Hash! Pelankan suara kamu, lihat mereka melihat ke arah kita," ujar Panca malu.
Namun, belum juga Panca melepas tangannya suara petir menggelegar seakan alam menyambut ucapan Mayra. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung dan hujanulai turun rintik-rintik.
"Lihat Panca, alam pun merestui janji kamu," ujar Mayra sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo, kita pulang!" ajak Mayra tiba-tiba.
Perjalanan pulang Mayra lalui dengan wajah senang, tetapi netranya seketika meredup saat tiba di rumah. "Ayo, keluar!"
Mayra tak kunjung ke luar dari mobil, sementara Panca hanya bisa menggeleng saat melihat ulah Mayra. "May masuklah, sebelum Ayah kamu marah besar," ujar Panca mengingatkan.
Mayra dengan cemberut akhirnya keluar juga dari mobil, masih berdiri di depan mobil dan tak ujung beranjak dari tempatnya. Panca kembali menggeleng melihat sahabatnya yang tengah kesal. "Akhirnya, aku juga yang kena batunya," ujar Panca sembari ke luar dari mobil. Menarik tangan Mayra dengan kesal hingga mereka tiba di dalam rumah.
Tatapan beberapa mata langsung tertuju pada Mayra dan Panca. Panca yang sadar tengah menggandeng tangan Mayra seketika melepas tangannya. "Sore, Tuan Rusli. Maaf jika saya baru mengantar Mayra pulang," ucap Panca sopan.
"Panca, kemari sini dan kau Mayra juga kemari," titah sang ayah.
Pak Rusli yang duduk di ruang tamu seketika memindai Mayra menatap tajam ke arah tangannya. Sang ayah seketika menyengitkan dahi marah, berdiri berjalan mendekat ke arah Mayra dan Panca. Meraih tangan sang anak dengan tatapan tajam. "Kemana, gelang kamu!" seru sang ayah tak suka dan mengalihkan tatapannya pada Panca.
"Panca!"
"Ma-maaf. Tuan Rusli, tadi secatra tak sengaja Mayra terjatuh dan gelangnya tersangkut pagar," ujar Panca berbohong.
"Kamu, yakin?" tanya Tuan Rusli menyelidik.
Panca hanya mengangguk dan langsung menunduk, melihat tingkah dua anak muda di depannya, Tuan Rusli sesaat tersenyum sembari menepuk bahu Panca. "Terima kasih Panca, memang Mayra yang ceroboh," ujar Tuan Rusli sembari menatap tajam ke arah Mayra.
Panca seketika mendongak lega. "Tuan Rusli, kalau begitu saya pulang dulu," pamit Panca.
Sementara itu, sepeninggal Panca sang ayah Rusli langsung meraih tangan Mayra, menariknya dan seketika menghempas tubuh Mayra di kursi. Tubuh Mayra terjatuh dengan keras dan saat ini dia hanya bisa meringis menahan sakit. "Dasar, anak tak tahu di kasihani. Kenapa kamu membuang jimat itu Mayra," ujar sang ayah kesal.
"Sekarang duduk dan dengarkan! Mulai hari ini kamu tak usah ke kampus dan kamu juga tidak boleh ke luar dari rumah." Sang ayah geram.
"Ayah! Apa maksud Ayah!" seru Mayra penasaran.
Sang ayah tak segera menjawab tetapi netranya yang menatap Mayra tajam. Mayra yang mendapat tatapan dari sang ayah hanya diam tak berkutik. "Mayra, ada yang ingin Ayah sampaika," ujar Pak Rusli pelan dan berusaha untuk meredam emosinya sesaat.
Mayra kini hanya bisa menatap sang ayah dengan tatapan kesal.
"Mayra, Ayah minta kamu tinggal di rumah. Karena Ayah sudah menjodohkan kamu dan ini hukuman untuk kamu," Jelas sang ayah yang tak ingin ada penolakan.
"Apa!" seru Mayra kencang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Syhr Syhr
Hukumannya nggak main-main. Langsung di jodohkan
2023-06-10
1