Berjalan menuju kampung depan Mayra tak menyangka jika semua orang menatapnya dengan heran mereka seakan berbisik tengah mengguncingkan dirinya. Sapaan yang di lakukannya pun tak mendapat sambutan hangat dan mereka hanya menatap dengan tatapan aneh dan sulit di artikan. "Apa ada yang aneh dengan diriku?" tanya Mayra sembati melihat tubuhnya.
"Enggak ada yang aneh. Aku masih memakai baju yang wajar, tetapi kenapa mereka tak menjawab sapaanku," gumamnya pelan.
Hingga langkahnya tiba di perbatasan kampung Mayra menghentikan langkahnya dan melihat dengan heran saat tatapannya tertuju pada seorang gadis yang sudah membawa satu kresek makanan. "Ini dan ayo, cepat kembali sebentar lagi kabut turun," ajak gadis ini sembari menarik tangan Mayra.
"Dik, ta-tapi ini?"
Gadis kecil ini tak menjawab dan terus menarik tangan Mayra agar mengikuti langkahnya. "Sebentar dan kenapa berjalan dengan tergesa," ujar Mayra dan menghentikan langkahnya.
Beberapa warga yang sedari tadi memperhatikan dirinya langsung terdiam dan mereka satu persatu masuk dalam rumah. Melihat sikap mereka Mayra semakin di buat bingung dengan sikap mereka. "Dik, kenapa mereka langsung masuk dalam rumah? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Mayra penasaran.
Gadis ini hanya tersenyum aneh tak menjawab pertanyaan Mayra dan kembali menarik tangan Mayra paksa. Namun, di balik sikap keras gadis kecil yang saat ini sedang berjalan lebih dulu ada kebenaran yang Mayra tangkap. Kabut yang tadinya menipis perlahan turun dan membuat jalanan menjadi gelap. "Dik, apa kabut ini akan datang setiap hari atau pada jam-jam tertentu?" tanya Mayra penasaran.
Gadis ini masih tak menjawab hingga mereka masuk dalam rumah. "Kamu. Jangan pernah ke luar dari rumah ini sendirian ingat itu!" seru gadis ini tak suka.
"Aku! Aku berhak ke mana saja," jawab Mayra tak suka.
Mereka berdua layaknya adik dan kakak yang sedang berseteru meributkan hal yang tak penting. Mereka kini duduk saling diam untuk beberapa saat hingga Mayra akhirnya berdiri dan mendekat ke arah gadis ini. "Kenalkan namaku Mayra dan kamu?" tanya Mayra sembari mengulurkan tangannya.
Lama gadis ini baru menatap ke arah Mayra dan tak lama kembali menunduk. "Kamu, siapa nama kamu?" tanya Mayra ulang.
Gadis kecil hanya menggeleng hanya netranya yang terlihat mengembun untuk sesaat. "Aku lupa, karena sudah lama tak ada yang memanggil namaku," jawabnya aneh.
"Apa, maksud kamu dan kamu jangan bercanda?" tanya Mayra heran.
Gadis kecil kembali menggeleng untuk menyakinkan Mayra. "Hm ... apa kamu tidak sedang bercanda. Lalu, bagaimana aku memanggil kamu nanti?" tanya Mayra bingung.
"Entahlah," jawab gadis ini pelan.
"Bagaimana jika aku panggil Adik saja," ujar Mayra memberi saran.
Gadis ini menatap Mayra tajam dan cukup lama, hingga akhirnya dia mengangguk setuju dengan saran Mayra. "Dik, ganti baju kamu, lihat bibir kamu sampai membiru karena dingin," ucap Mayra sembari datang mendekat.
"Jangan. Tidak perlu, biarkan begini!" teriaknya tak suka dan kemudian berlari keluar dan tak terlihat.
"Aneh, apa dia sedang baik-baik saja dan apa yang adik sembunyikan," gumam Mayra sembari berjalan ke luar menuju halaman.
Menatap pohon yang pernah di buatnya berteduh dan melihat rumah yan berdiri tak jauh dari pohon itu. "Apa dia tinggal dengan orang tuanya atau ...." Ucapan Mayra terputus saat angin dingin berembus lembut menerpa tengkuknya. "Hish! Kenapa tiba-tiba terasa dingin dan kenapa tubuhku juga meremang, ada apa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Memasuki rumah tubuh Mayra makin meremang aroma wangi yang tak asing kembali dirinya cium. "Aroma ini, aroma yang sering aku cium di rumah dan kenapa saat ini kembali tercium," gumam Mayra sembari berjalan mencari asal aroma wangi dupa dan kembang yang tercium hampir bersamaan.
Mayra terus mengedarkan tatapannya dan mencari aroma yang membuatnya penasaran.
"Hi ... hi ...."
"Siapa?" tanya Mayra terkejut.
"Siapa yang tertawa! Dik, ini enggak lucu jangan menggoda!" teriak Mayra tak suka.
Tak ada jawaban, Mayra yang menyadari ada yang aneh langsung memilih kembali menuju ruang tamu. "Jika itu bukan Adik, lalu siapa?" tanya Mayra sembari bergidik ngeri.
"Hihihi ...." Tawa aneh kembali terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments