Hotel Aquila, tempat dimana para orang kaya menginap, satu-satunya hotel bintang lima yang ada di kota Heos.
Steven baru saja terbangun dari tidurnya, setelah dirinya berniat untuk pergi dari organisasi yang dia besarkan seperti anak sendiri, dia kembali meneguk air putih yang ada di depan matanya.
Seseorang sudah berdiri di depannya dengan membungkukkan badannya, "Bos! Ini adalah data yang Anda minta kemarin?" ucap seorang pria berkulit hitam sembari menyerahkan sebuah berkas kepada bosnya.
Steven mengulurkan tangannya dan menerima barang tersebut, dia langsung melihat berkasnya dengan seksama.
Matanya melongo untuk waktu yang sekejap ketika dia melihat nama yang tertera di atas kertas putih tersebut yang berisikan tentang data dari orang yang dia selidiki.
"Charles Hutagalung? Bukankah dia merupakan seorang pebisnis yang pernah kita selidiki sebelumnya, Martin?" tanya Steven dengan mencoba mengingat tentang hari-hari sebelumnya.
"Itu benar, Bos! Sebelumnya Kita ingin menghubungi dia dan mengajak dia untuk bekerjasama atas perintah dari Bos! Tapi, sayangnya ternyata dia sudah meninggal!" jawab Reo yang terlihat sedikit kecewa.
"Aish, padahal aku membutuhkan pria seperti dia! Sudahlah, sekarang aku akan menggantikan identitas dirinya sebagai seorang pemilik dari perusahaan terbesar di kota ini, Neo Group!" ucap Steven dan langsung beranjak pergi dari sana.
Ketika belum keluar dari ruangan itu, Steven berhenti sejenak dan mengatakan sesuatu yang lupa dia katakan, "Persiapkan semuanya!"
Di pagi hari yang cerah seperti biasanya, Sheila sedang termenung di depan televisi yang tidak menyala.
"Hm, pergi kemana dia? Tidak memberitahu tentang kepergiannya? Apakah dia melarikan diri? Jika iya—" ujar Sheila yang terhenti karena suara pintu terbuka sedikit mendecit.
"Kamu kembali?" tanya sumringah Sheila mendapati Steven adalah orang yang membuka pintu tersebut.
"Bukankah aku sudah berjanji kepada suamimu? Maka, aku akan menuntaskan janjiku hingga usai!" ucap Steven dengan tegas.
"Hm, dia benar-benar seorang pengantar barang. Bagaimana pandangan orang-orang di keluarga nantinya? Dan bagaimana aku menjelaskan tentang kematian Charles kepada keluarganya?" gumam Sheila dengan suaranya ternyata terdengar oleh Steven.
"Kamu tidak perlu memberikan penjelasan kepada keluarganya!" ucap Steven datar.
"Tapi—" sanggah Sheila yang dihentikan oleh Steven.
"Dia adalah seorang anak yatim piatu! Aku sudah mendapatkan informasinya! Ini... " ujar Steven dan memberikan sebagian data tentang informasi mengenai suami Sheila, yaitu Charles.
Ketika Sheila melihatnya, dia benar-benar merasa terpukul. Memang benar adanya, Charles merupakan seorang anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan di kota itu.
Charles merupakan seseorang yang hebat karena bisa memiliki sebuah perusahaan terkenal di kota Heos hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri.
Sengaja Steven tidak memberikan data lainnya tentang perusahaan Charles karena dia memiliki alasannya tersendiri.
"Setelah aku mengetahui siapa dalang dibaliknya pembunuhan dirinya, aku akan memberitahumu fakta tentang seorang Charles tersebut!" batin Steven tersenyum kecut.
Steven masuk ke dalam apartemennya dengan perut yang kosong, dia lupa untuk sarapan sebelumnya. Sedangkan perut Sheila juga terdengar keras suara perut keroncongnya sehingga membuat Steven sedikit tersenyum.
"Kita pergi makan?" ajak Steven.
Di sebuah warung makan, Steven dan Sheila baru saja memasuki warung makan tersebut dengan perasaan yang campur aduk, ini adalah pertama kalinya bagi keduanya untuk makan di tempat seperti itu.
Steven berusaha memposisikan dirinya dengan baik, dia duduk di salah satu meja dan diikuti oleh Sheila di belakangnya.
"Pelayan!" teriak Steven yang mendapat tatapan curiga dari penjaga warung makan tersebut.
"Pelayan? Mereka memang terlihat dari orang-orang kaya, tapi kenapa makan di tempat seperti ini?" batin seorang wanita yang saat ini sudah berada tepat di depan Steven.
"Mau makan disini atau dibungkus, Tuan?" tanya wanita itu yang membuat Steven kelabakan.
"Dibungkus? Ehm, maksudnya makan disini saja!" jawab Steven.
Sheila sedikit bingung dengan sikap dari Steven, karena penasaran dia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pria yang satu meja dengannya.
"Kamu baru pertama kali makan disini?" tanya Sheila penasaran.
Steven tersenyum ragu, dia melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak! Tidak! Aku sering makan di tempat seperti ini kok! Ehm, apa aku bisa melihat menunya?" jawabnya dan langsung mengajukan pertanyaan kepada si wanita penjaga tersebut.
"Ehm tidak ada menunya, Tuan! Ehm, ada jengkol, ayam goreng, ..." ujar wanita itu menjabarkan masakan apa yang telah tersedia.
Steven ragu untuk mengatakan salah satu masakan yang tidak dia ketahui itu, dia pun memutuskan untuk berdiri dan melihat ke arah masakan-masakan yang ada di bagian depan.
Dia menunjuk dengan jari telunjuknya untuk memilih makanan apa saja yang ingin dia makan itu dengan asal sehingga wanita itu langsung menyiapkan makanan yang akan diberikan kepada Steven dan Sheila.
Ketika makanan sudah tersaji di depan mereka, Steven langsung makan dengan lahap karena dia menyadari bahwa rasa dari makanan yang sedang dia makan itu ternyata cukup nikmat di dalam mulutnya.
Sheila tidak berani bertanya, dia langsung mengambil nasi dan memasukkan lauk dan masakan ke piringnya dengan perlahan hingga mereka pun selesai makan dengan menyisakan banyak sekali makanan disana.
"Ehm Pelayan! Berapa totalnya?" tanya Steven yang bertanya tentang total harga dari semua yang dia makan bersama Sheila.
Wanita itu berjalan mendekati meja Steven dan menjawab dengan tersenyum, "Tujuh puluh dua ribu saja, Tuan!"
Perkataan yang keluar dari mulut wanita itu langsung membuat Steven berteriak secara tidak sadar, "APA!?"
Menyadari ada yang aneh dengan tanggapan yang diberikan oleh pelanggannya, wanita itu tersenyum kecut dan berkata, "Apakah Tuan tidak mampu membayarnya?"
Perkataan itu tentunya membuat seorang Steven menjadi kesal, dia adalah orang yang mampu melakukan segalanya. Uang sekecil itu dia menganggapnya hanya sebatas butiran debu saja.
"Ma–maksudku ini sangat murah ternyata! Hehe!" ujar Steven dengan sedikit malu.
"Gila! Makanan macam apa ini? Rasanya enak dan harganya benar-benar tidak masuk akal! Apakah mereka tidak mendapatkan keuntungan sama sekali?" bingung Steven di dalam pikirannya sembari mengeluarkan dompetnya.
Dia mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya kepada wanita tersebut, "Ambil saja kembaliannya!"
Rasa curiga muncul di dalam pandangan Sheila, "Aneh sekali! Bukankah seseorang dengan pekerjaan sepertinya sudah biasa makan di tempat seperti ini? Tapi, kenapa dia tidak terlihat seperti itu?" batin Sheila kebingungan.
Baru saja keluar dari warung makan tersebut, sekelompok preman langsung menyambut keluarnya Steven dan Sheila dari sana.
"Tuan dan Kamu cantikku! Ikut aku ke belakang, atau tidak... " ancam salah seorang preman itu yang hampir menyentuh dagu milik Sheila.
Sheila sedikit ketakutan, berbeda dengan Steven yang saat ini sudah berjalan mengikuti pengaturan yang diberikan oleh si preman tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🦂⃟ғᴀᷤᴛᷤᴍᷫᴀ 🕊️⃝ᥴͨᏼᷛN⃟ʲᵃᵃ࿐📴
bukan tidak mampu tp 72 rb menurut Steve terlalu murah
2023-05-21
1
🦂⃟ғᴀᷤᴛᷤᴍᷫᴀ 🕊️⃝ᥴͨᏼᷛN⃟ʲᵃᵃ࿐📴
jadi Charles itu suami Sheila
2023-05-21
0
🦂⃟ғᴀᷤᴛᷤᴍᷫᴀ 🕊️⃝ᥴͨᏼᷛN⃟ʲᵃᵃ࿐📴
Sheila udah terbiasa akan kehadiran Steve
2023-05-21
0