Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Setelah merasa pulih selesai menjalani kemoterapi. Leona meminta pulang saja pada Andika. Ia juga tak tahan berlama-lama dirumah sakit.
"Kamu yakin mau pulang hari ini?" tanya Andika memastikan.
"Iya Kak. Aku bosan dirumah sakit," keluh Leona.
"Ya sudah. Tunggu sebentar. Saya urus surat kepulangan kamu," ucap Andika.
Leona mengangguk sambil bersandar di dinding ranjangnya. Ia sangat lelah. Batin tersiksa dan tubuh pun ikut tersiksa seolah bahagia tak berhak menjadi miliknya.
Leona melamun lagi menatap kosong kedepan. Apakah ia harus meminta cerai pada Pedro? Mungkin memang ia harus lepaskan Pedro demi kebahagiaan lelaki itu bersama wanita pilihan nya. Bukankah cinta terbaik adalah ketika bisa melepaskan seseorang yang tak seharusnya menjadi milik kita? Berat, sangat berat namun Leona yakin bisa hidup tanpa Pedro.
"Leona," Pedho masuk dengan kantong kresek ditangannya. Selama berada dirumah sakit, Kakak iparnya ini selalu setia menemani nya.
"Kak," senyum Leona. "Kakak bawa apa?" tanya Leona sumringah.
"Makanan kesukaan kamu. Kata Dika, kamu boleh makan tapi jangan terlalu banyak," Pedho membuka kantong yang dia bawa.
"Wahhh terima kasih Kak. Kakak baik sekali!" seru Leona tersenyum bahagia melihat makanan kesukaan nya ini.
"Yup. Makanlah," Pedho menyedorkan pizza yang baru saja dia beli. Leona penyuka makanan ini.
"Ya ampun Kak. Enak sekali," seru Leona melahap makanan itu.
Pedho hanya tersenyum sambil menatap Leona makan makanan yang dia bawa tadi. Sesederhana ini membuat Leona bahagia, cukup belikan dia makanan yang dia suka, dia sudah bisa menampilkan senyum bahagia ditengah kegalauan nya.
"Kak aku sudah lama sekali tidak makan, makanan ini," ucap Leona. "Memang benar ya Kak, sakit itu tidak enak. Susah mau makan apa saja yang kita mau," curhat Leona
"Makanya cepat sembuh," goda Pedho terkekeh.
Seandainya ia yang menikahi Leona. Pasti sekarang mereka sudah hidup bahagia berdua. Merajut mimpi dan asa di masa depan. Seandainya waktu bisa diputar kembali, maka Pedho rela meninggalkan pekerjaan nya demi bersama Leona. Ia juga tak menyangka jika posisi nya diganti oleh Pedro. Harusnya dia yang menjadi suami Leona sekarang bukan Pedro. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan takdir dan kehendak Tuhan. Pedho hanya berharap dan berdoa semoga Leona menemukan titik kebahagiaan nya kelak bersama orang baru, meski orang itu bukan dirinya.
"Sudah jangan terlalu banyak," cegah Pedho.
"Yahh Kakak. Masih paper," renggek Leona manja. Selama ini ia tak pernah manja karena tidak ada tempat untuk nya bermanja-manja. Semua orang sibuk dengan urusan pribadi dan pekerjaan mereka.
"Ingin sembuh tidak?" tanya Pedho sambil menutup kembali kotak pizza yang dia bawa tadi.
Leona merenggut kesal. Pedho sama saja seperti Yuna sahabat nya yang cerewet bukan main itu.
"Iya Kak," sahut Leona malas. Pedho terkekeh.
Tidak lama kemudian Andika masuk bersama seorang perawat yang akan melepaskan selang-selang dibeberapa bagian tubuh Leona.
"Na, buka dulu infuse sama saluran kencing nya yaaa," ucap Andika.
"Iya Kak," sahut Leona.
Semua selang yang menempel pada tubuh Leona dilepaskan. Kemoterapi kemarin cukup bekerja ditubuh Leona tanpa efek samping lebih tepatnya efek samping nya belum terlihat. Hari ini wanita yang sempat murung itu kini kembali ceria. Meski Andika dan Pedho tahu jika itu adalah cara Leona menutup luka yang ada dihati nya.
"Ayo," Pedho mendorong kursi roda dan mempersilahkan Leona untuk naik.
Leona turun dari ranjang dan duduk dikursi roda dibantu oleh Andika. Kedua pria ini memang begitu peduli pada Leona. Keduanya selalu setia menemani Leona sejak dirawat dirumah sakit.
"Terima kasih Kak," ucap Leona sambil tersenyum hangat.
"Sama-sama Na," sahut Andika. "Tapi maaf saya tidak bisa mengantar kamu pulang karena saya masih banyak pekerjaan," ucap Andika tak enak hati.
"Tidak apa-apa Kak. Kan ada Kak Pedho yang akan mengantarku," sahut Leona.
Setelah berpamitan pada Andika. Pedho segera membawa Leona pulang. Benar kata Leona rumah sakit tidak baik untuk kesehatan Leona. Berlama-lama dirumah sakit bisa membuat penyakit wanita itu semakin parah nantinya.
Sebenarnya Pedho ingin membawa Leona tinggal di apartemen nya yang kosong. Namun Leona menolak dan memilih pulang ke rumahnya. Apalagi besok Pedro akan kembali ke rumah. Ia tak mau suaminya salah paham. Bagaimana pun Pedro adalah suaminya dan itu takkan merubah apapun.
"Bisa?"
Pedho mengangkat tubuh Leona. Sontak Leona memeluk leher lelaki tampan itu. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu satu sama lain.
"Terima kasih Kak," ucap Leona canggung. Kenapa jadi canggung? Biasanya juga biasa saja.
Pedho masuk kedalam mobil. Lalu Ricard menjalankan mobil nya.
"Kamu sudah pikirkan masalah hubungan kamu dan Pedro?" tanya Pedho.
Leona menghela nafas panjang. "Belum Kak. Aku akan mencoba dulu. Tapi jika Pedro tak juga berubah. Maka aku memilih menyerah Kak," jelas Leona tersenyum kecut. Mungkin egoisme mempertahankan seseorang yang sama sekali tak menginginkan dia. Namun tidak lucu jika tiba-tiba Leona meminta pisah semua orang akan tahu kehidupan rumah tangga nya selama ini.
Pedho mengangguk. Sebenarnya ia menganggumi sifat Leona yang tangguh dan tegar dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam rumah tangganya hanya saja Leona terlalu sering menyiksa diri.
"Tapi jika sudah lelah jangan paksa kan diri,"
"Aku takut membuat Papa dan Mama kecewa Kak. Kakak tahu kan mereka yang menginginkan pernikahan ini?" Leona menghela nafas panjang.
"Mereka akan paham jika tahu yang sebenarnya," sahut Pedho. "Maaf," ia menatap Leona dengan perasaan bersalah.
"Maaf untuk apa Kak?" kening Leona berkerut heran. Perasaan lelaki ini tak memiliki salah padanya.
"Andai saat itu aku tidak pergi. Pasti kamu tidak mengalami ini," ucap Pedho sangat merasa bersalah. Sudah lama ia ingin mengungkapkan perasaan bersalahnya pada Leona. Tapi selalu tak sampai karena mereka tak sedekat ini sebelum nya.
Leona tersenyum. "Jangan minta maaf Kak. Kakak tidak salah," sahut Leona. "Mungkin ini jalan hidupku Kak. Tapi aku tidak apa kok. Aku kuat," ia menampilkan senyum sebaik mungkin supaya terlihat kuat didepan lelaki yang berstatus kakak iparnya itu.
Namun Pedho bukanlah tipe orang yang mudah di bohongi. Ia tahu jika wanita yang duduk disampingnya ini sedang mengalami luka dan patah hati yang hebat. Ia tahu Leona menutupi semua itu lewat senyuman dibibir nya.
Pedho mengangguk. "Jika ada apa-apa jangan sungkan bercerita padaku. Siapa tahu aku bisa bantu," ucap Pedho tulus. Seperti nya sekarang, ia memiliki sesuatu yang harus ia pertahankan untuk Leona.
"Iya Kak. Terima kasih sudah selalu ada untuk aku Kak. Kakak baik banget. Dan aku terharu,"
Setidaknya di detik-detik terakhir hidupnya masih ada yang peduli pada dirinya
**Bersambung... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
SRI WAHYUNI
knp kbnykan Di setiap novel cwe y Di bkin oon krna cinta
2023-05-13
3
Rosalinda Tefa
Seperti biasa penyesalan selalu dtg di akhir
2023-05-08
0
Bonfiasia Watty
Aku suka pedho sama leona
2023-04-23
0