Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Dimeja makan terdengar gelak tawa saling bersahutan dan menggema. Suara keberisikkan Anjani dan Leona membuat para lelaki yang berada di meja makan itu menggeleng salut.
"Hem, bagaimana butik mu, Nak?" tanya Anjani.
Anjani bangga pada pencapaian Leona. Wanita ini pekerja keras dan ulet. Meski di mulai dari awal tapi Leona berhasil berada pada titik kesuksesan sampai sekarang.
"Puji Tuhan lancar Ma," sahut Leona.
Berbeda dengan Pedho dan Pedro, Kakak beradik itu kompak menunjukkan ekspresi wajah mereka. Hanya diam dan mendengarkan saja.
Setelah makan mereka berbincang-bincang diruang keluarga. Kedua orang tua Pedro, adalah orang yang hangat dan kehidupan mereka harmonis. Apalagi Alex yang selalu romantis dengan istrinya itu. Tapi entah kenapa kedua putra nya malah memiliki sifat dingin seperti es.
"Nak, kapan kalian punya anak?" tanya Anjani
Uhuk uhuk uhuk
Pedro langsung tersendak ketika mendengar pertanyaan Anjani. Begitu juga dengan Leona.
"Hem, sedang diusahakan Ma," jawab Leona asal. "Doakan saja semoga cepat dikasih sama Tuhan," ujarnya lagi.
"Bagaimana kalau ikut program hamil saja. Mama punya beberapa teman yang anaknya dokter kandungan?" saran Anjani dengan senyuman manisnya. Dia sudah membayangkan memiliki cucu.
"Tidak perlu Ma," sergah Pedro cepat. "Memang belum waktunya dikasih saja," sambungnya.
Leona pun hanya tersenyum. Kenapa tidak hamil-hamil? Selama menikah saja dia tidak pernah disentuh oleh suaminya itu, bagaimana bisa hamil?
Anjani mengangguk. "Baiklah. Mama harap kalian segera dikaruniai anak. Mama ingin sekali menimang cucu, seperti teman-teman Mama," ucap Anjani penuh harap. Dia kadang iri melihat teman-teman nya yang selalu memamerkan cucu mereka, sedangkan dia hingga kini pun belum memiliki cucu. Padahal putra keduanya sudah menikah cukup lama.
Sementara Pedho hanya menjadi pendengar. Lelaki tampan yang satu ini memang paling irit bicara. Wajahnya juga dingin dan sulit ditebak entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tampan ini. Setiap orang berbicara dia menjadi pendengar. Tidak ditanya tidak akan bicara. Kepribadian nya memang terlampau dingin hingga tak heran hingga kini tak ada wanita yang berani mendekat meski dia banyak dikagumi oleh kaum hawa.
Cukup lama mereka berbincang-bincang. Pedro dan Leona pun berpamitan untuk pulang.
"Terima kasih Ma makanan nya. Enak sekali," puji Leona sambil memberikan pelukan hangat pada mertuanya itu.
"Iya Nak. Sering-seringlah main kesini, biar Mama tidak kesepian." Sambil mencium pipi Leona.
Anjani memiliki dua anak saja yaitu Pedho dan Pedro. Dia tidak memiliki anak perempuan, oleh karena itu dia begitu menyanyangi Leona. Apalagi sifat Leona yang ramah dan mudah bergaul, membuat Anjani semakin menyanyangi menantunya itu.
Didalam mobil keduanya tampak terdiam dan sibuk dengan perjalanan masing-masing. Pedro sibuk menyetir dengan tatapan lurus kedepan. Sementara Leona asyik dengan lamunan nya dengan tatapan yang terarah ke keluar jendela kaca mobil.
Leona masih memikirkan kata-kata Anjani tadi. Jujur dari dulu dia ingin memiliki anak, tapi apa daya jika sang suami sama sekali tak pernah menyentuhnya. Jangan kan menyentuhnya melihatnya saja lelaki itu seperti jijik. Entah apa salahnya.
"Pedro," panggilnya melirik sang suami.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan ucapan Mama. Tapi kamu tahu, bukan? Bahwa aku belum mencintaimu, jadi aku tidak bisa menyentuhmu," ucap Pedro tanpa melihat kearah Leona.
Hari Leona seperti dihantam oleh ribuan ton batu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar ucapan suaminya.
Leona mengangguk dan tersenyum kecut. Apakah ini waktunya dia menyerah karena dia tahu bahwa Pedro tidak akan bisa mencintainya selama masih ada orang ketiga didalam hubungan rumah tangga mereka.
Sampai dirumah kedua nya turun tanpa bicara. Apalagi Pedro, dia seolah tak peduli dengan Leona yang tampak sedih menatapnya.
"Pedro," panggil Leona.
Langkah lelaki itu terhenti. "Ada apa?" tanyanya tanpa berbalik.
"Tidak bisa kah kita memulai hubungan ini dari awal? Maksudku, agar kita bisa saling mencintai," pinta Leona. Leona ingin sebelum dia pergi, Pedro sudah mencintai nya. Hanya itu saja dan impiannya cukup sederhana. Tapi kenapa tidak bisa diwujudkan oleh suaminya?
"Kamu tahu? Aku mencintai Tasya" jawab Pedro. "Aku tidak bisa mencintaimu." Setelah berkata demikian, Pedro berjalan masuk kedalam rumah nya.
Tubuh Leona tersandar di mobil. Tangannya memegang dadanya yang terasa sakit. Kenyataan pahit ini kembali membuat hatinya remuk redam. Sudah sering, sangat sering Pedro menolak untuk mencintainya. Tapi dia, masih saja keukeh mempertahankan cintanya padahal dia sudah tahu bahwa cintanya takkan pernah mendapatkan balasan.
Leona mengelus dadanya pelan untuk menetralisir emosinya. Dia memejamkan matanya sejenak, menikmati setiap rasa sakit yang menikam dada dengan buliran bening yang perlahan lolos seketika dipelupuk matanya.
"Apakah ini akhir dari cinta yang aku perjuangkan? Apa aku harus menyerah?" ucapnya pada diri sendiri. "Pedro, tapi aku mencintaimu. Aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku tidak bisa menyerah Pedro. Bagaimana ini?" lirih Leona menatap punggung suaminya yang masuk kedalam rumah
Leona berdiri tegap. Dia tidak boleh terlalu emosi hal itu bisa menyebabkan kondisi nya memburuk nantinya. Dia menyeka air matanya kasar, lalu berjalan dan masuk.
Leona masuk kedalam kamarnya, sebelum nya dia melirik pintu kamar suaminya yang sudah tertutup rapat. Selama menikah, Leona tak pernah masuk kedalam kamar lelaki itu. Pedro tak pernah mengizinkan nya kecuali assisten rumah tangga yang bekerja disana untuk membersihkan kamar tersebut.
Wanita itu melempar tubuhnya diatas kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya.
"Hufhhhhhh, aku pikir bisa meluluhkan hatinya setelah sekian tahun lamanya. Tapi sampai kapan pun aku tetap takkan bisa memiliki Pedro selama dihatinya masih ada wanita lain," ucap Leona bernafas kasar.
Lama wanita itu bermonolog sendiri sampai akhirnya, matanya terlelap dalam kelelahan dalam posisi belum mengganti baju dan make up masih menempel diwajahnya. Padahal dia memiliki tingkat kebersihan yang tinggi, dia tidak bisa tidur jika belum mandi. Namun karena kelelahan dia tertidur dengan posisi kaki yang tergantung dibibir ranjang.
Leona merenungi nasib malangnya. Dia ingin bahagia seperti wanita pada umumnya, menikah dan memiliki anak adalah impian nya. Sangat sederhana, namun tak mampu dia wujudkan.
Mungkin Leona bisa mencapai kesuksesan dititik sekarang dengan usaha dan kerja keras. Namun dia tidak mampu menggapai hati suaminya hingga sekarang. Entahlah, mungkin hati Pedro memang sudah mati untuk Leona, sehingga dia tidak bisa membuka hati untuk wanita itu.
Bersambung......
Hai guys makasih buat yang masih ikutin..
Mohon maaf kemarin author tidak update karena satu dan lain hal... Sekali lagi thanks buat kalian semua.... .Jangan lupa dukungan nya Guyss.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺
cinta boleh... goblok jangan...
tp cinta emang bikin orang goblok sich...
2023-06-17
0
Irmha febyollah
terlalu bodoh... untuk apa menyakiti diri sendiri buat org gak mengharapkan kita
2023-05-13
2
Aisyah Hasan
1 Baet upnya Thor semngt ya
2023-04-13
0