Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Mobil Yuna terparkir didepan sebuah restourant mewah miliknya. Yuna seorang pengusaha muda yang cukup sukses mendirikan beberapa usaha seperti restaurant, butik, salon dan jasa marketing lainnya.
"Ayo," Yuna menggandeng tangan Leona. "Setelah makan kita harus kerumah sakit," tegas Yuna lagi. Dia mengomel sepanjang jalan kenangan.
"Yun," renggek Leona menahan tangan sahabat nya itu. "Aku takut jarum suntik. Kapan-kapan saja ya. Lagian aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan. Masa iya kelelahan harus dibawa ke dokter segala," ucap Leona beralasan. Pokoknya dia akan mengeluarkan semua jurus andalannya supaya Yuna tidak membawanya kerumah sakit.
Yuna mendengus kesal. Dia menatap Leona jenggah. Leona kalau keinginan nya belum dipenuhi dia takkan berhenti merenggek seperti anak kecil.
"Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Yuna kesal
"Kan tadi aku sudah bilang. Aku tidak apa-apa, Yuna ku sayang," sambil menarik kedua pipi sahabat nya itu.
Yuna meringgis kesakitan. "Awww, sakit Leona. Kamu ini ya...." gerutu Yuna sambil menepis tangan Leona yang mencubit kedua pipi nya.
"Hehe habisnya kamu itu bikin gemes deh, Yun. Sudah cantik, baik hati tapi sayang tidak laku-laku," ledek Leona sambil tertawa lebar.
Yuna mencebik kesal. "Ya, iya yang sudah menikah memang selalu suka meledek jomblo abadi ini," sahut Yuna menyindir. "Sudah ayo." Dia menarik lagi tangan Leona.
Kedua wanita itu masuk sambil berbincang-bincang dengan canda dan tawa. Leona dan Yuna memang sahabat somplak. Keduanya bersahabat sejak kecil sampai sekarang. Hanya saja Yuna belum menikah mungkin belum mendapatkan tambatan hatinya.
"Yun, bagaimana ka_" langkah Leona langsung terhenti ketika melihat seseorang yang begitu dia kenal.
"Ka ap_" begitu juga dengan Yuna
Disana tampak Pedro dan Tasya tengah makan siang berdua. Keduanya tampak mesra sambil saling suap-suapan satu sama lain.
Leona memperhatikan Pedro yang sedang fokus mengusap bibir Tasya tempat makanan nya menempel. Entah kenapa dada nya kembali terasa ditusuk oleh ribuan jarum yang membuatnya berlubang-lubang dan mengeluarkan darah disetiap lubang nya. Leona, tak pernah melihat Pedro sebahagia itu saat bersama dengannya. Tapi lihatlah, betapa sumringah nya wajah suaminya itu saat menyuapi wanita yang dia cintai.
Leona tahu mencintai Pedro adalah sebuah ketidakmungkinan sebab lelaki itu sama sekali tak menatapnya. Malang bagi dia untuk mampu membuat lelaki itu menerima cintanya. Disisi lain, dia tak pernah benar-benar siap melepaskan Pedro untuk Tasya. Jauh didalam lubuk hati Leona paling dalam, suami nya itu adalah ciptaan paling sempurna yang pernah dia lihat selama hidupnya. Meski selama ini lelaki itu selalu menatapnya sebelah mata. Dan itu selalu menjadi kesakitan yang disamarkan oleh Leona. Dia terkadang harus menjadi orang asing bagi perasaan nya sendiri.
Hati Pedro adalah harta berharga yang takkan mungkin Leona miliki. Namun bolehkah ia sedikit egois memaksakan pria itu mencintai nya? Seperti Leona mencintai Pedro? Apa mungkin itu terjadi? Sementara di mata pria itu hanya ada satu kekasih, Tasya.
"Benar-benar keterlaluan!" murka Yuna hendak menghampiri Pedro dan Tasya.
Leona langsung mencengkram tangan sahabat nya itu dan menahan Yuna. "Tidak perlu, Yun," cegahnya. Pipi Leona terasa panas, matanya mulai kabur dan dipastikan setelah ini dia akan menangis lagi
"Tapi Na, ini tidak bisa dibiarkan. Pedro tidak bisa seenaknya begitu sama kamu," ucap Yuna emosi dengan nafas yang memburu.
"Aku tahu, tapi percuma. Dia tidak akan melihat ku disini. Itu akan semakin membuat dia benci sama aku," sahut Leona. Ya, marah takkan membuat suaminya mencintai nya bukan? Jadi untuk apa?
"Ayo Yun. Aku sudah lapar," ajak Leona.
Leona melangkah meninggalkan tatapan nya pada Pedro. Ia tak bisa meyakinkan dirinya kalau hati nya akan baik-baik saja setelah ini. Bukankah selama ini hatinya memang selalu disakiti? Semua memang salahnya memaksa lelaki itu bertahan, berharap cinta yang ada di hatinya bisa menggapai rasa yang dia lambungkan tinggi untuk Pedro. Saat ia percaya cinta sejati akan mendekati dirinya dan dia ingin cinta itu adalah Pedro, suaminya. Tapi sepertinya perlahan Leona harus belajar untuk sadar diri agar tak memaksakan cinta yang tak ingin memiliki nya.
"Ayo makan ke ruangan ku saja." Yuna menarik tangan Leona masuk kedalam ruangannya.
Leona terduduk lemas di sofa dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Tangisnya tak terdengar, hanya air mata yang menunjukkan jika sekarang dia benar-benar patah hati.
'Pedro, sekarang aku sadar bahwa hatimu takkan bisa ku miliki. Setelah ini aku akan belajar untuk melepaskan mu bersama Tasya. Maaf Pedro jika aku menyerah, aku... aku wanita biasa. Aku takut perlahan hatiku mati rasa. Dan tak bisa merasakan apa-apa,' batin Leona
"Leona."
Yuna merengkuh tubuh sahabat nya itu. Ia turut merasakan luka yang sama seperti yang Leona rasakan. Sudah sering dan berapa kali Yuna meminta Leona agar melepaskan Pedro. Tapi Leona masih saja bersikeras untuk mempertahankan hubungan rumah tangga nya.
"Menangislah. Aku tahu kamu terluka. Aku tahu menjadi kamu tidak mudah. Menyerah memang bukan jalan yang baik. Tapi tidak harus memaksakan diri untuk cinta yang takkan mungkin dimiliki," ucap Yuna mengusap punggung sahabat nya itu. Ia turut meneteskan air mata melihat betapa rapuh nya Leona.
"Hiks hiks hiks hiks hiks,"
Tangis Leona kian pecah didalam pelukkan Yuna. Dia melingkarkan lengannya di tubuh Yuna dengan pelukan erat. Menangis dengan isak yang menyayat hati.
Tahukah kamu, hal yang lebih sakit dari mengikhlaskan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang kamu cintai. Dia ada di sampingmu dan menemanimu. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar kamu miliki.
Begitu hal nya dengan Leona. Mungkin dia adalah istri dari pria yang ia cintai, yaitu Pedro. Tapi hati Pedro tak pernah merasakan betapa besar cintanya untuk lelaki itu. Justru luka dan siksaan batin yang Leona dapatkan selama menjalin kehidupan rumah tangga bersama Pedro.
"Hiks hiks hiks hiks. Aku tidak kuat. Aku tidak mampu, Yuna. Aku ingin menyerah. Aku, aku ingin pergi jauh dari sini. Aku ingin pergi," ucapnya mengungkapkan perasaan nya.
"Sudah berapa kali aku katakan, menyerah lah. Suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaan kamu, Leona," ucap Yuna.
Meski Leona berusaha ikhlas untuk mencintai Pedro dengan sikap dinginnya. Namun, Leona tetaplah perempuan biasa. Ia bukan malaikat yang dikisahkan begitu kuat. Bukan juga wanita yang sabarnya tidak bisa habis. Hari ini hati yang remuk semakin remuk. Semuanya terasa menyesakkan. Namun Leona tetap mencoba mengajak dirinya berdamai. Ia masih berharap Pedro bisa membuka hati untuknya. Tidak ada perempuan lain di antara mereka. Tidak ada Tasya.
Namun saat melihat adengan langsung tadi. Leona mulai sadar diri. Bahwasanya dia bukanlah perempuan yang diinginkan oleh suaminya, harusnya dia sadar sedari dulu bukan setelah disakiti dulu baru mengatakan ingin menyerah.
**Bersambung.... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Samsia Chia Bahir
Udh 5 taon tpi G sadar2 yg leona, selama ini pingsan yaaaa kmu 😄😄😄😄😄😄😄
2023-10-22
0
yourfreyaa_
kayak lagu asal kau bahagia yg pas "Aku punya ragamu tapi tidak hatimu"
2023-05-22
0
pigeon
Thor kenapa tidak up hari ini 😥😥😥dari tadi aku nungguin terus dari tadi pagi 😥😉 please Thor hari ini up ya 🙏
2023-04-14
0