Happy Reading 🍡🍡🍡
"Nyonya, ini makanan anda," ucap Bik Lian.
Bik Lian masuk membawa nampan berisi makanan untuk Leona. Wanita itu tampak duduk dibibir ranjang sambil memegang gelas ditangannya.
"Bawa kesini Bik," jawabnya meletakkan gelas tersebut diatas nakas.
"Ini Nyonya." Bik Lian meletakkan nampan berisi makanan untuk Leona.
"Terima kasih Bik," senyumnya. "Bik, temani aku makan yaaa," pinta Leona mengambil nampan dan duduk dibibir ranjang.
"Ohh iya Nyonya," sahut Bik Lian.
Leona makan dengan lahap. Wanita ini memang suka makan. Dia sama sekali tidak menjaga postur tubuhnya. Toh cantik pun suaminya takkan mencintainya.
Bik Lian tersenyum melihat Leona. Leona sebenarnya wanita manja karena memang terlahir dari keluarga berada. Namun sejak dia menikah dengan Pedro, dia belajar untuk dewasa agar menarik perhatian lelaki itu. Nyatanya sekuat apapun usaha Leona, tetaplah dia tidak diinginkan.
Leona menyelesaikan makannya dengan cepat. Tenaganya kembali segar setelah menghabiskan makanan satu piring.
"Ahh kenyangnya." Dia mengelus perut ratanya.
"Terima kasih Bik," senyum Leona.
"Sama-sama Nyonya," balas Bik Lian. "Nyonya, tadi Tuan bertanya tentang anda. Tuan penasaran kenapa anda bisa mimisan?" tanya Bik Lian. "Apa anda baik-baik saja Nyonya?"
"Pedro menanyakan ku?" tanya Leona memastikan.
"Iya Nyonya," sahut Bik Lian.
Wajah Leona langsung merah merona. Hanya karena pria itu menanyakan dirinya, sudah membuat dia salah tingkah sendiri. Bagaimana jika lelaki itu mencintai nya? Pastilah Leona akan menjadi wanita paling bahagia didunia, apalagi sampai mereka memiliki anak. Ahh seandainya Tuhan memberikan Leona kesempatan untuk bahagia, sekali saja. Dia pasti akan pergi dengan tenang jika suatu saat kematian datang menghampiri nya.
"Nyonya," panggil Bik Lian mengelus lengan Leona saat melihat wanita itu tersenyum tidak jelas. "Ada apa? Kenapa Nyonya bisa mimisan? Apa Nyonya sakit?" cecar wanita paruh baya itu. Leona seperti anaknya sendiri karena dia sudah menemani Leona sebelum wanita itu menikah.
"Aku tidak apa-apa Bik. Aku hanya kelelahan, terlalu banyak aktivitas di butik," jelas Leona.
Leona tak kan mengatakan pada siapapun tentang penyakit nya. Dia akan berusaha sendiri untuk sembuh. Dia takkan menyerah untuk mencari kesembuhan. Dia berjanji, akan membuat Pedro jatuh cinta padanya. Sebelum mimpi nya itu terwujud, Leona takkan menyerah.
"Anda yakin Nyonya?" Bik Lian menatap dengan selidik.
Leona mengangguk sambil tersenyum menyembunyikan segala luka yang sudah mengangga didalam sana.
"Ya sudah kalau begitu, Bibi permisi dulu ya Nyonya," pamit Bik Lian.
"Terima kasih Bik, sudah menemani aku," balas Leona.
Leona menarik nafas dalam dan tersenyum. Ahh kenapa dia membayangkan Pedro yang mengkhawatirkan dirinya, pasti akan sangat bahagia sekali jika benar-benar lelaki itu sungguh peduli padanya.
"Huffhhhh, aku tak menyangka jika Pedro mengkhawatirkan ku," gumamnya sambil tersenyum.
Leona membaringkan tubuh nya diatas kasur king size. Dia menatap langit-langit kamar. Dalam bayangannya, suatu saat nanti Pedro mencintainya dan menerima dia sebagai istri. Lalu mereka punya anak dan bahagia. Sederhana itu impian Leona, namun untuk mewujudkan mimpi itu tidaklah segampang apa yang ia ucapkan karena hingga kini hati lelaki itu sama tak berani menatap kearah dirinya.
"Pedro. Sebelum aku pergi dan terlelap meninggalkan mu. Bisakah sekali saja kamu mengatakan cinta padaku? Aku ingin sekali dicintai oleh mu Pedro. Sangat ingin," ucap perempuan itu bermonolog sendiri.
Lama wanita itu bergumam sendiri hingga akhir nya, dia terlelap sambil tersenyum membayangkan wajah sang suami yang memeluk nya ikut terlelap didalam mimpi.
Leona adalah wanita yang ketika mencintai maka akan sangat mencintai. Begitulah perasaan yang Leona rasakan untuk suaminya Pedro hingga membuat wanita itu tidak bisa menyerah memperjuangkan cintanya. Dia tak lelah, meski ditolak ribuan kali. Walau kebaikan nya dibalas dengan sikap dingin sang suami.
.
.
.
.
Pedro masuk kedalam rumahnya. Lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Leona. Kamar mereka bersebelahan.
"Apa dia sudah tidur Bik?" tanya Pedro yang kebetulan berpapasan dengan Bik Lian.
"Iya Tuan," jawab Bik Lian.
Pedro mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu menghela nafas panjang. Pertemuan nya dengan Tasya sedikit mengobati rasa lelah dihatinya.
"Huffhhhh." Terdengar helaan nafas panjang.
Pedro melempar tubuhnya di kasur king size miliknya.
"Aku ingin melepaskan Leona dan menceraikan nya. Agar aku bisa segera menikahi Tasya. Tapi tidak mudah, Papa dan Mama pasti akan marah besar." Lelaki itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Tapi sampai kapan? Hubungan ku dan Tasya sudah berjalan delapan tahun. Sampai sekarang tidak ada kepastian. Aku tidak mungkin menikahi Tasya selama aku beristri seperti ini." Pedro mengusap wajahnya frustasi.
"Ada apa dengan Leona?" lagi-lagi dia mengingat wajah pucat sang istri. "Apa dia baik-baik saja?"
.
.
.
.
Leona mengeliat dibalik selimut tebal. Tidurnya tadi malam lelap sekali.
"Umphhhhhhh,"
Dia langsung menutup hidung .saat merasakan cairan merah itu kembali keluar. Segera dia turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan hidung nya yang berdarah serta darah yang juga menempel dibagian tangan.
"Ya Tuhan, ini bintik-bintik apa?" Leona mulai panik saat bintik-bintik hitam tumbuh dibeberapa bagian wajahnya.
"Aku harus segera menemui Kak Dika," ucapnya.
"Aku mohon jangan drop dulu untuk sekarang. Perjalanan ku masih panjang. Pedro akan semakin jijik padaku, jika dia tahu aku sakit," mohon nya panik.
Wanita itu menahan darah dengan tissue yang ada dikamar mandi. Dadanya panas dan naik turun. Tubuhnya meriang dan beberapa bagian tubuhnya terdapat bintik-bintik hitam
Dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas sekali. Tubuhnya sakit terasa patah dan hancur berkeping-keping.
Leona meletakkan tangan di dada. Nafasnya mulai tak beraturan, segera dia mengambil obat yang ada di dalam laci nakas. Obat yang Andika berikan padanya beberapa waktu yang lalu.
Cukup lama wanita itu menenangkan diri, hingga nafasnya kembali normal.
Setelah merasa dirinya sudah baik-baik saja. Leona membersihkan diri. Setelah ini dia akan bergantung hidup pada obat dan rumah sakit. Untuk sementara mungkin kondisinya belum memburuk. Tapi jika waktu itu tiba dan dia akan terbaring lemah disana. Apakah ada orang yang akan peduli padanya atau merasa takut kehilangan dia?
Leona memang terlahir dari keluarga kaya. Namun kedua orangtuanya jarang memiliki waktu untuk nya karena kesibukan mereka dalam bekerja. Bahkan saat sudah menikah seperti ini, Leona jarang bertemu dengan kedua orang tua nya itu. Ketika dia bertamu kerumah, kedua orang tua nya kadang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Tak ada waktu untuk Leona bagi kedua orang tua nya.
Leona anak kedua dari dua bersaudara. Sedangkan kakak laki-laki nya sedang melanjutkan S3 kedokteran di University Oxford, Inggris. Kakaknya itu pulang setahun sekali atau kadang juga tidak pulang, apalagi sudah memiliki pekerjaan tetap disana.
**Bersambung....**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
yosefus
Lanjut
2023-05-23
0
Bonfiasia Watty
Lanjut thor
2023-04-22
0
Bonfiasia Watty
Leona sebaiknya kanu mwnywrah sjaa jangabbml nau kwbubttybowdri
2023-04-22
0