Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Andika tersenyum saat mengingat Leona membawakan dia bekal makan siang. Dan masakkan wanita itu enak sekali, pas sekali di lidah Andika yang pemilih masalah makanan itu.
"Kamu kenapa?" tanya seorang pria pada Andika saat melihat pria itu tersenyum-senyum sendiri.
"Ahhh tidak," kilahnya
"Kamu sedang jatuh cinta?" tebaknya.
"Jatuh cinta?" Andika ngakak. "Pertanyaanmu itu sungguh tidak bermutu," kilah Andika sambil menggeleng saja. Mana mungkin dirinya jatuh cinta.
"Ya siapa tahu. Bukankah kamu sudah lama sendiri? Jadi wajar kalau jatuh cinta," ucap teman nya.
Andika terdiam. Dia sedang memikirkan ucapan sahabat nya itu Jatuh cinta? Rasanya itu sedikit mustahil sebab hatinya sudah mati ketika dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Dia seperti tak memiliki rasa percaya diri untuk kembali jatuh cinta.
Andika menatap lelaki yang duduk didepan nya itu sambil menghela nafas panjang.
"Apa kamu kenal Leona?" tanyanya.
Kening lelaki itu berkerut. "Kenapa?" Dia menatap Andika penuh selidik. Apa Andika tidak tahu siapa Leona?
"Ehem, tidak." Andika berdehem sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Kenapa dengan Leona?" Lelaki itu masih penasaran. "Kamu mengenal dia?" sambungnya.
Andika mengangguk. "Istri adik mu," sahut.
"Pertanyaan mu itu tidak bermutu. Kamu bilang, apakah aku kenal Leona? Jelas aku kenal, dia adik iparku," sahut Pedho. Ya lelaki itu adalah Pedho.
"Leona....,"
'Kak, jangan katakan pada siapapun tentang penyakit ku. Aku tidak mau dianggap lemah Kak. Aku mohon,'
Ucapan Leona tempo hari membuat Andika mengurungkan niat nya untuk mengatakan penyakit Leona pada Pedho. Padahal tujuan dia mengajak Pedho makan siang adalah untuk membahas penyakit wanita itu.
"Leona kenapa? Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja?" cecar Pedho. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.
Andika menatap Pedho heran. Kenapa pria ini malah terlihat khawatir dan panik?
"Tidak apa-apa," jawab Andika.
Pedho dan Andika adalah sahabat dekat. Keduanya bersahabat sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama hingga sekarang. Jika Andika memiliki sifat lembut dan ramah maka berbanding terbalik dengan Pedho yang wajah nya sangat dingin dan sulit ditebak.
Pedho menghela nafas panjang. Dia terdiam sambil menyenderkan punggungnya.
"Pedho, jangan bilang gadis yang mau dijodohkan sama kamu itu Leona?" tebal Andika.
Pedho mengangguk. "Iya. Dia Leona," Pedho tersenyum kecut. "Saat itu aku tidak ada dirumah karena perjalanan bisnis ke Korea. Papa sama Mama, memilih Pedro menikahi Leona," jelas nya.
"Apa kamu suka dia?" tanya Andika menatap Pedho dengan tatapan curiga.
Pedho tak menjawab pria itu malah terdiam sambil menikmati makan siang nya.
.
.
.
.
"Ahhh akhirnya selesai!" seru Leona menggerak-gerakkan jarinya.
"Aku telpon Yuna saja untuk menemaniku makan siang," ucapnya sambil mengotak-atik ponselnya. Setelah selesai menghubungi sahabatnya, Leona menyimpan kertas dan pensil yang ada diatas meja.
Leona menghembuskan nafasnya kasar. "Apa aku cerita sama Yuna saja ya tentang penyakit ku?" gumam nya. "Tapi aku takut Yuna panik," ujarnya lagi.
Leona beranjak dari kursi nya. Dia berjalan keluar dari ruangan dan menutup kembali ruangan nya.
Leona berusaha untuk tidak sedih memikirkan masalah rumah tangganya. Meski sebenarnya hati nya sangat hancur ketika Pedro mengatakan tak bisa mencintai dirinya. Apa sebegitu buruk dia di mata suaminya itu? Dan Leona, harus menahan perih saat sang suami mengatakan mencintai wanita lain.
"Hai, Cinta," panggil Yuna.
Yuna turun dari mobil dengan senyuman mengembang dan langsung menghampiri Yuna.
"Kelamaan jomblo kamu jadi makin tidak waras, Yun," singgung Leona.
Yuna ngakak. Dia paling suka menggoda sahabat nya ini dengan memangil Leona cinta. Ahh iya, dia jomblo. Jomblo sejati di usia yang hampir kepala tiga.
"Ayo Sayang silahkan masuk," goda Yuna membuka pintu mobil agar Leona masuk.
Leona bergidik ngeri. Lalu wanita itu masuk kedalam mobil. Yuna juga masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan butik Leona.
"Na, kenapa muka kamu pucat?" Yuna melirik Leona yang tampak lebih banyak diam.
"Kelihatan banget ya?" Leona mengusap pipinya.
Yuna mengangguk. "Iya. Kamu sakit?" tanya Yuna sambil memperhatikan Leona. Tunggu, kenapa sahabat nya ini sedikit berbeda? "Na kamu baik-baik saja 'kan? Kok kamu kurusan terus pucat, lagi dapat?" tebak Yuna sambil mengoceh.
"Tidak. Aku lagi dapat tamu bulanan," jawab Leona asal. Dia memang sedang mendapat tamu bulanan dan biasanya wajah nya memang pucat karena menahan nyeri dibagian pinggang.
"Yakin kamu hanya dapat bulanan?" tanya Yuna curiga. "Wajah kamu beda banget lho, tidak seperti biasa," sambungnya.
"Tidak usah berpikir aneh-aneh. Aku baik-baik saja kok," kilah Leona.
"Ehem," Yuna hanya berdehem.
Yuna sangat mengenal sahabat nya itu. Leona adalah tipe wanita yang ceria dan cerewet. Dia jarang sekali murung jika tidak ada masalah. Walau pun ada masalah dia selalu bisa menyembunyikan nya dibalik candaan dan kecerewetan nya. Tapi kali ini, kenapa Leona tak ceria biasanya?
Leona langsung menutup hidungnya. Ketika dia merasakan ada sesuatu yang terasa panas keluar dari hidungnya.
"Na, kamu kenapa?" tanya Yuna panik. Wanita itu langsung menepikan mobilnya.
Leona melihat darah ditangannya karena dia gunakan untuk menutup hidungnya.
"Astaga Na," Yuna panik. "Tunggu sebentar. Berbaring," dia menurunkan sandaran mobil agar bisa menghentikan darah yang keluar dari hidung Leona.
Segera Yuna mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di dashboard mobilnya. Tangannya sedikit bergetar karena melihat darah keluar dari hidung Leona yang cukup banyak.
"Tahan Na," Yuna menutup lubang hidup Leona dengan kapas.
"Pelan-pelan Yun. Kamu seperti mau membunuhku," gerutu Leona.
"Ck, diam. Kamu ini, aku panik tahu," ketus Yuna. Sudah dirinya panik, Leona masih sempat-sempatnya menggerutu.
Yuna masih menahan darah yang keluar dari hidung Leona. Sedangkan Leona tampak meringgis kesakitan. Akhir-akhir ini dia memang sering mimisan, yah seperti nya dia harus mengikuti saran Andika untuk segera menjalani kemoterapi.
"Aku tidak apa-apa Yuna," ucapnya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Hidungmu itu berdarah. Ayo kita ke rumah sakit," ajak Yuna.
"Tidak. Tidak, Yuna. Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan," sergah Leona sambil melepaskan kapas yang digunakan untuk menutup hidungnya. "Darah nya sudah berhenti," timpalnya. "Jadi aku tidak apa-apa," jelas Leona beralasan.
Yuna mendengus kesal. "Aku tidak mau tahu setelah makan siang kita kerumah sakit," tegas Yuna kembali menjalankan mobilnya. "Tidak mungkin hanya kelelahan sampai membuat hidung mu berdarah," omel Yuna malas, Leona ini memang suka sekali menyembunyikan masalah dari nya.
Leona terdiam. Bagaimana pun dia harus mencari cara supaya Yuna tidak membawanya ke rumah sakit. Leona tidak ingin Yuna tahu tentang kondisinya. Yuna pasti akan rapuh jika tahu dirinya sakit dan Leona tidak mau menjadi beban pikiran sahabat nya itu.
**Bersambung..... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Warijah Warijah
Leona seharusnya jujur kpd sahabatnya, agar nnti jika terjadi sesuatu sahabatnya tahu...dn suami somplakny menyesal..
2023-04-13
2
pigeon
next next next next next 😘😘😘 wow ternyata pedho cinta sama Leona🤗🤗semakin seru ini
2023-04-13
0
Dermawaty Sinaga
Lanjuttt thorr suka sama novel mu ini
semangat terus 💪
2023-04-13
0