Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Apa kamu yakin? Penyakit kamu ini tidak bisa diremehkan Leona," ucap Pedho. Jujur ia pun sedih setelah tahu kondisi rumah tangga adiknya. Ia tak menyangka sama sekali jika sikap Pedro seperti itu pada istrinya.
"Aku tidak apa-apa Kak," sahut Leona. "Aku baik-baik saja," bahkan untuk saat ini tidak ada seseorang yang bertanya apa kamu baik? Maka Leona akan jawab bahwa ia tak pernah baik-baik saja
"Kamu harus segera melakukan kemoterapi, Na," ucap Andika.
"Tidak bisa kah di tunda, Kak? Aku takut nanti kemoterapi malah akan menunjukkan kelemahan ku yang sesungguhnya," tukas Leona.
"Tidak bisa ditunda lagi, Na. Kamu harus sembuh," tegas Pedho mengenggam tangan Leona.
Leona menatap wajah Pedho. Tak pernah ia sedekat ini dengan Kakak iparnya. Wajah Pedho terlalu dingin untuk didekati. Tapi kali ini, kenapa wajah Kakak ipar nya ini terlihat hangat dan lembut serta peduli padanya.
"Kak." Mata Leona berkaca-kaca. Bolehkah saat ini ia dipeluk, sebentar saja dia lelah dengan hidupnya.
"Kenapa?" tanya Pedho lembut. "Kamu butuh sesuatu?" sambung nya.
"Kak, bolehkah aku peluk Kakak sebentar saja. Aku lelah Kak. Aku capek. Aku merasa, tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup," pinta Leona.
"Stttttt, jangan bicara seperti itu." Pedho merengkuh tubuh lemah Leona.
Andika hanya menatap saja. Baru kali ini ia melihat sisi hangat seorang Pedho. Lelaki kulkas yang selalu menampilkan wajah datar nya. Lelaki dingin yang tak bisa disentuh siapapun. Namun, lihatlah sekarang. Pedho terlihat begitu peduli pada Leona yang notabene adik iparnya.
Saat hari tidak pernah memutuskan memilih sesuatu, hati yang akan diputuskan oleh waktu.
Pada saat nya, kesepian selalu digantikan dengan kesiapan. Tidak ada yang membuat Leona sepatah hati ini jika bukan Pedro. Kadang benar kata pepatah, orang yang paling kita cintai adalah orang selalu membuat kita menangis. Pedro menjadi racun yang mengaliri tenggorokan nya yang pahit seperti empedu
Leona mencoba ikhlas melepaskan Pedro untuk Tasya. Tapi lagi-lagi ia tak mampu. Ia wanita yang ketika mencintai maka hatinya akan sepenuhnya menjadi milik orang itu, meski disakiti ia takkan mudah berpaling begitu saja.
"Hiks, Kak. Kakak....." Leona menangis sepuasnya dipelukkan Pedho. Air mata tumpah ruah. Tumpah segala kesedihan dan kepedihan. Ia benar-benar tidak dapat menyembunyikan keletihan hatinya dihadapan Pedho dan Andika.
Leona sadar, salah jika membongkar aib sendiri didepan orang asing seperti Pedho dan Andika. Tapi lagi, ia bukan perempuan malaikat yang mampu menahan air matanya jika ia terus disakiti. Namun Leona tak bisa menyerah. Ia mencintai Pedro. Sangat. Itu saja.
Pedho melepaskan pelukan Leona. Tangannya terulur mengusap pipi cantik adik iparnya ini. Andai, waktu itu ia tak ada perjalanan bisnis. Pastilah ia sekarang yang menjadi suami dari wanita ini. Namun, apalah daya takdir Tuhan berkata lain. Ia hanya di ciptakan menjadi Kakak ipar Leona.
"Jika lelah, menyerah lah Leona. Lepaskan Pedro. Jangan memaksakan hatimu untuk orang yang salah," ucap Pedho. Ia berharap rasa sakit dihati Leona terlepas saat ia mengikhlaskan Pedro.
Leona menggeleng. "Aku tidak bisa Kak. Aku mencintai, Pedro sangat," sergah Leona.
Pedho menggeleng. "Cintamu ini tidak benar, Leona. Dengarkan saya...." Pedho memegang kedua pundak wanita yang masih duduk di brangkar ini. "Titik terbaik mencintai adalah melepaskan apa yang tidak bisa kamu genggam. Kadang, kamu harus belajar untuk ikhlas atas cinta yang tidak ingin memiliki kamu. Kamu bisa Leona, fokus pada kesehatan kamu. Saya dan Andika akan bantu kamu melawan penyakit ini," ucap Pedho yakin dan tulus. Ia kasihan pada Leona. Wanita sebaik ini tak seharusnya disakiti.
Leona terdiam. Ia mencerna ucapan Pedho. Leona tak benar-benar sanggup perihal kehilangan Pedro, hatinya, jiwanya sudah menjadi milik suaminya itu meski pada kenyataannya. Pedro hanya mimpi indah yang takkan bisa Leona gapai.
"Tapi aku tidak sanggup Kak. Aku mencintai Pedro," renggek Leona.
"Na." Andika duduk dibibir ranjang. "Untuk sekarang kamu fokus dulu sama kesehatan kamu ya. Pedro juga sedang berada di luar kota. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dia akan tahu. Besok kamu harus kemoterapi," bujuk Andika. Tak bisa lama. Leona harus segera ditangani serius.
Leona mengusap pipi basah nya. Matanya membengkak. Kesedihan dan kepedihan masih saja terlihat mengajar di mata bulat itu. Mata yang dulu bening, kini memancarkan jiwa hening.
"Saya akan hubungi Luiz," ucap Pedho.
"Kak," Leona menggeleng.
"Tidak bisa Leona. Setidaknya Luiz bisa menjadi penguat untuk kamu. Orang tua kamu tidak bisa dihubungi," tegas Pedho.
Leona mengalah. Padahal ia tak ingin merepotkan dan membuat Kakak nya itu sedih. Namun, bagaimana pun ia menyembunyikan penyakit ini akan tiba waktunya ia terbaring tak berdaya.
"Kak, tolong jangan beritahu Papa dan Mama. Aku takut mereka memikirkan ku. Aku baik-baik saja. Masalah hubungan rumah tangga ku dan Pedro. Cukup Kakak saja yang tahu. Biarkan kami selesaikan masalah kami berdua Kak," pinta Leona.
Pedho mengangguk. Inilah yang dia suka dari sifat Leona. Wanita ini tak mau merepotkan orang lain dalam menyelesaikan masalah nya. Meski sebenarnya ia tak pernah benar-benar mampu menyelesaikan nya sendirian. Tapi ia sudah membuktikan bahwa ia tak selalu bergantung pada orang lain.
"Ya sudah. Kamu istirahat yaaa," ujar Andika.
"Iya Kak," Leona kembali berbaring.
"Na, saya tinggal sebentar. Ada urusan sama Andika." Pedho berdiri dari duduknya. Lelaki itu melepaskan jas yang membungkus tubuhnya. Harusnya, siang ini dia ada meeting penting namun ia tak bisa meninggalkan Leona.
"Iya Kak. Terima kasih," sahut Leona.
Pedho dan Andika keluar dari ruangan rawat Leona. Membiarkan wanita itu menepi dan menenangkan hatinya.
Leona harus siap kehilangan Pedro. Kehilangan sesuatu yang berarti selalu mendatangkan sedih. Tidak ada yang benar-benar siap atas kehilangan. Tidak ada yang benar-benar kuat untuk melepaskan seseorang yang begitu berarti. Orang yang begitu disayang. Namun, pelan-pelan hidup harus selalu kembali dijalani.
Leona mengambil ponselnya. Tak sengaja ia melihat postingan suaminya di sebuah media sosial bersama Tasya. Mereka tampak mesra layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Sungguh, hati Leona seperti disiram cuka yang menyebabkan luka itu perih bukan main.
"Pedro, mungkin ini akhir dari jalan cerita kita. Aku akan belajar melepaskan mu untuk Tasya. Tapi kamu perlu tahu Pedro, jika aku sungguh mencintai mu. Ini tak adil karena kamu malah mencintai Tasya. Dan sekarang aku baru sadar, bahwa hati tak bisa dipaksakan. Aku akan melepas mu Pedro. Berbahagia lah bersama Tasya," ucap Leona mematikan ponselnya. Ia meletakkan ponsel itu atas dadanya dengan mata terpejam. Meresapi segala rasa sakit yang terasa menghantam didalam sana.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Samsia Chia Bahir
Bodoh kok dipiara leoni 😄😄😄😄😄😄
2023-10-22
0
🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺
gemes sm Leona...
2023-06-17
0
Amalia Khaer
good Leona
2023-04-17
0