Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku pun keluar dari kamar mandi. Namun Mas Tio tidak ada dikamar, ntah pergi ke mana.
Karena takut Mas Tio marah, aku pun keluar kamar untuk makan malam. Saat aku keluar kamar, ku lihat Ibu Mertua sedang menonton tv.
"Wah. . . Wah. . . Enak banget iya? Baru datang, tidur langsung makan!" Sindir Ibu Mertua.
"Loh bukannya emang dari dulu ibu selalu mengadu seperti itu ke Mas Tio? Jadi apa salahnya kan aku lakukan yang ibu katakan?" Jawab ku sambil menghentikan langkah kaki menuju meja makan.
"Kamu ini iya! Pikir dong tugas menantu itu apa? Kamu mau jadiin Ibu pembantu apa di rumah ini? Enak aja kamu iya! Pokoknya Ibu ngga mau tau, kamu cari pembantu buat bersihin rumah sama masak!" Ucap Ibu Mertua marah sambil berkacak pinggang.
"Bukannya selama ini ibu bilang ngga masalah buat bersihin rumah sama masak kaya biasanya? Yang penting aku sama Mas Tio ngga berantem! Iya kan, itu yang ibu bilang ke Mas Tio? Aku denger Loh Bu!" Ucap ku mengingatkan perkataan ibu dulu.
"Kurang ajar iya kamu! Pokoknya Ibu ngga mau tau! Mulai besok kamu harus bersihin rumah sama masak kaya biasanya, ibu ngga mau lagi kalau harus bersih rumah." Ucap Ibu Mertua marah.
"Iya nanti iya Bu! Kalau aku ada waktu, aku pasti bantuin ibu ko!" Ucap ku santai, sambil melanjutkan langkah kaki ku menuju meja makan.
"Pokoknya besok pagi kamu harus bersihin rumah lagi, kalau ngga cari pembantu." Ucap Ibu Mertua kesal padaku.
"Kalau nyari pembantu, ibu bisa ngomong ke Mas Tio. Lagian rumah ini juga kecil dan hanya ada 2 kamar, masa harus pakai pembantu segala Bu?" Ucap ku heran.
"Emang kamu pikir bersihin rumah sama masak itu ngga cape? Cape tau! Ibu bersihin rumah sama masak sendiri, lah kamu enak tinggal makan!" Ucap Ibu Mertua ketus.
"Iya itu yang aku rasain dulu Bu! Tapi semua yang aku lakuin ngga pernah bener di mata ibu, selalu aja aku di salahkan, di fitnah! Sekarang ibu tau kan gimana rasanya bersihin rumah sama masak sendiri?" Ucap ku kesal,
"Kamu itu ngejawab terus kalau ibu ngomong! Ngga sopan banget kamu iya! Mana uang buat belanja? Keperluan dapur abis semua!" Ucap Ibu Mertua.
"Ko minta uang ke aku Bu? Kan semua uang bulanan Mas Tio ibu yang pegang? Aku bahkan ngga di kasih sepeser pun loh!" Ucap ku santai.
"Kamu kan kerja! Pasti punya uang? Udah sini bagi ibu! Cepetan!" Ucap Ibu Mertua memaksa.
"Ibu Mertua ku sayang! Aku baru bekerja beberapa hari, mana mungkin aku punya uang? Yang namanya kerja di gajih nya itu 1 bulan sekali Bu!" Ucap ku.
"Ibu ngga mau tau, pokok nya besok pagi uang itu harus ada!" Ucap Ibu marah.
"Iya nanti aku mintain ke Mas Tio." Jawab ku santai.
"Jangan! Kamu itu istri ngga berguna banget! Buat apa kamu kerja? Kalau masih minta uang ke suami? Pake uang kamu lah! Kamu juga kan makan dan tidur di sini, itu semua ngga gratis iya! Inget itu! Kamu harus bayar ke ibu!" Ucap Ibu Mertua ku.
"Apa Bu? Aku harus bayar? Ini rumah suami aku loh! Bukan rumah ibu! Masa seorang istri harus bayar untuk tinggal di rumah suami nya sendiri?" Ucap ku sambil menggelengkan kepala kesal dengan apa yang di ucapkan Ibu Mertua ku.
"Ibu ini yang melahirkan Tio dan lebih berhak atas Tio, apalagi ini rumah Tio. Jadi Ibu yang lebih berhak di sini dari pada kamu! Pokoknya ibu ngga mau tau, besok pagi kamu siapin uang 5 juta buat ibu!" Ucap Ibu Mertua marah, kemudian pergi menuju kamarnya.
"Astaghfirullah, makin ke sini ko makin gini aja itu ibu. 5 juta katanya? Aku aja ngga pernah di kasih uang 5 juta untuk aku pribadi, di kasih uang Mas Tio aja buat seluruh kebutuhan rumah dan bayar ini dan itu. Ya ampun ibu macem-macem aja!" Ucap ku sambil menggelengkan kepala.
Kulihat meja makan tersisa 1 box nasi, yang berarti Mas Tio memesan makanan online. Ku buka nasi box ku dan betapa terkejutnya aku, tidak ada lauk sama sekali. Hanya ada nasi putih dan lalapan.
"Astaghfirullah, pasti ini ibu lagi." Ucap ku sambil menggelengkan kepala, seketika rasa lapar ku sudah hilang.
Tak lama Mas Tio datang menghampiriku.
"Kenapa cuman di liatin aja makanannya, dek? Bukannya di makan?" Tanya Mas Tio.
"Coba Mas liat isinya." Ucap ku tanpa menjawab pertanyaan Mas Tio tadi.
"Memang ada apa dek? Ngga suka sama makanannya?" Tanya Mas Tio sambil membuka nasi box di depan ku dan aku pun tidak menjawab, ku biarkan Mas Tio melihat sendiri apa yang ada di dalam Nasi Box itu.
"Loh ko isinya cuman nasi sama lalapan, dek? Kamu cuman makan lauk nya doang, dek?" Tanya Mas Tio.
"Jangankan makan lauk nya, Mas. Liat aja sendok pun belum aku ambil dan tangan ku masih bersih." Ucap ku berharap Mas Tio mengerti maksud ku.
"Terus ke mana lauknya?" Tanya Mas Tio.
"Iya mana aku tau, Mas. Kan yang pesan makanan Mas, bukan aku. Pas aku buka isinya cuman ini, mungkin pedagangnya lupa ngasih lauk nya Mas!" Ucap ku asal.
"Ngga mungkin, Dek. Soalnya tadi Mas buka semua dulu, takutnya ketuker yang punya kamu sama ibu. Jadi Mas hapal betul kalau semua nasi box nya lengkap dengan lauk." Ucap Mas Tio menjelaskan padaku.
"Iya mana aku tau, Mas. Aku kira kamu memang sengaja, cuman ngasih aku makan nasi sama lalab kaya gini. Karna kamu marah, soal proyek tadi." Ucap ku asal ceplos.
"Ya ngga lah, Dek. Mana mungkin Mas tega ngasih kamu makan kaya gini!" Ucap Mas Tio merasa bersalah.
"Iya kan aku ngga tau, Mas. Intinya pas aku buka nasi box nya, isinya cuman ini doang!" Ucap ku.
"Sebentar coba Mas tanya Ibu dulu." Ucap Mas Tio, sambil berjalan menuju kamar ibu.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Ibu, ini Tio." Ucap Mas Tio sambil mengetuk pintu kamar ibu.
"Iya, sebentar." Teriak Ibu dalam kamar.
"Ada apa, Tio?" Tanya Ibu heran.
"Ibu tau ngga ke mana lauk yang ada di dalam nasi box milik Nadira?" Tanya Mas Tio.
"L-lauk nasi box Nadira? I-ya mungkin udah di makan sama dia. Ngapain kamu nanyain k ibu?" Jawab ibu gelagapan.
"Udah Mas, biarin aja. Cuman lauk doang ko, aku bisa pesen lagi. Mungkin Ibu masih kurang lauk nya tadi Mas!" Ucap ku menyindir.
"Apa maksud kamu hah? Kamu nuduh Ibu makan lauk punya kamu? Cuman lauk ikan gurame doang udah belaga kamu! Eh. . " Ucap Ibu keceplosan, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Wah iya mas? Kamu beliin aku ikan gurame? Ko aku baru tau Mas!" Ucap ku dengan sengaja.
"Tunggu! Tio ngga pernah bilang kalau Tio beliin Nadira ikan gurame, ibu tau dari mana?" Ucap Mas Tio curiga.
"I-tu ibu cuman nebak aja! I-ya ibu cuman nebak, bukan ibu yang makan ko. Ikan gurame ga enak ko, mana mau ibu makan!" Ucap ibu gelagapan, dan kulihat Mas Tio menaikan alisnya.
"Wah, ibu hebat! Bisa tau kalau ikan gurame nya ga enak." Ucap ku menyindir.
"Diem kamu! Ibu ngga ngomong sama kamu!" Ucap Ibu marah.
"Mmm. . . Tio ini. . Ngga seperti yang kamu bayangin, beneran ibu ngga makan ikan gurame nya ko!" Ucap Ibu Mertua membantah.
"Udah Mas, ngga perlu di bahas lagi. Nanti aku pesen lagi aja, udah iya Mas, Ibu aku ke kamar dulu." Ucap ku sambil menatap ibu mengejek.
"Maafin, Mas iya dek." Ucap Mas Tio menahan aku yang akan melangkah dengan merasa bersalah.
"Ngga apa-apa, Mas. Udah ngga perlu di bahas lagi iya, aku ke kamar dulu iya Mas." Ucap Ku, kemudian aku pun melangkah menuju kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Ribut Habibi
seperti hidupku dulu
2025-04-03
0
Nurlaela Sifa
mertua durjana
2023-05-21
0
Riyana Lanay
iya ampun
sampe makanan pun di ambil
bener2 itu mertua nya
up thor
2023-04-26
1