Bab VII

Di Lantai Ruang Direktur. . .

Tok. . . Tok. . . Tok. . .

"Masuk." Perintah Selva.

Hosh. . . Hosh. . . Suara napas sang Sekretaris yang tidak beraturan.

"Kamu kenapa? Di kejar setan?" Tanya Selva bercanda.

"Bukan Bu. . Tapi itu Bu. . ." Ucap Sekretaris Dian tergagap.

"Ah kamu ini, cepetan ngomong nya. Saya masih banyak kerjaan ini, mana mba Nadira mau ke sini lagi katanya. Bisa kena amuk saya kalau dia liat kerjaan numpuk kaya gini, mana ruangan berantakan gini" Keluh Selva, dengan memijit keningnya.

"Nah itu dia Bu masalahnya." Ucap Sekretaris Dian sambil menarik napas, menenangkan diri.

"Maksud kamu?" Bingung Selva.

"Ibu Nadira sudah ada di loby dan mungkin sekarang sudah naik lift." Ucap Sekretaris Dian berusaha santai.

"Oh. . . Mba Nadira udah nyampe. . . APAAAAAA?? KENAPA KAMU GA BILANG DARI TADI???" Teriak Selva terkejut.

"Iya kan saya mau ngomong dipotong terus sama ibu, jadi jangan salahin saya dong Bu." Ucap Sekretaris Dian sambil cekikikan.

"Cepet sama kamu halangin dulu, jangan sampe mba Nadira masuk dulu ke ruangan saya. Saya mau beresin dulu semua ini, ayo cepet sana." Titah Selva tergesa-gesa membereskan ruangan nya.

"Oke Bu, saya akan berusaha menghalangi beliau masuk dulu. Tapi jangan lupa iya Bu. . ." Ucap Sekretaris Dian sambil memain kan tangannya.

"Iya saya tau, udah cepet sana." Usir Direktur, yang sedang sibuk beres-beres.

Sekretaris Dian pun meninggalkan Ruang Direktur sambil terkekeh, menunggu sang tamu agung sampai.

Siapakah Nadira???

Sampai membuat seorang Direktur ketakutan??

Di Ruang Direktur. . .

"Aduh ini ruangan kenapa berantakan banget lagi!" Keluh Selva.

"Bisa abis ini kena semprot mba! Kamu sih kemaren malah asik shopping, lupa deh kerjaan numpuk! Lagian kenapa sih banyak banget barang baru? Kan gatel pengen beli. . . Huft. . ." Keluh Selva sambil menyalakan dirinya sendiri, dengan tangan yang sibuk membereskan berkas yang berserakan.

"Semoga Dian bisa nahan dulu mba Nadira." Harapan Selva, sambil terus beres-beres ruangan.

Selva sangat syok mendengar Nadira sudah sampai di Lobby Perusahaan, dia mengira Nadira akan datang siang hari. Bingung harus mulai dari mana untuk membereskan ruangannya, dokumen berserakan, sampah cemilan dan ada juga beberapa baju yang berserakan.

Di depan Lift. .

Sekretaris Dian sudah menunggu, dengan harap-harap cemas. Bingung bagaimana cara menahan agar Ibu Nadira tidak langsung masuk ke Ruang Direktur.

"Lah sekarang aku sendiri yang bingung, gimana caranya iya? Biar Bu Nadira bisa lama di sini dulu?" Pikir Sekretaris Dian.

TING. . .

Pintu lift terbuka. .

Bergegas Sekretaris Dian menyapa.

"Selamat pagi ibu Nadira." Sapa Sekretaris Dian ramah.

"Pagi juga. Apa Ibu Selva sedang sibuk?" Tanya Nadira.

"Ngga ko Bu, ibu tenang aja." Jawab Sekretaris Dian.

"Maaf Bu menyela, tugas saya mengantarkan ibu sudah selesai. Saya pamit, untuk bertugas kembali." Ucap Resepsionis pamit.

"Oh . . Iya, terimakasih banyak sudah mau mengantar saya." Ucap Nadira tulus.

"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu Bu, Sekretaris Dian." Ucap Sopan Resepsionis.

"Silahkan." Jawab Nadira dan Sekretaris Dian.

Sang Resepsionis pun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ayo ke ruangan." Ucap Nadira saat akan melangkah, tapi di hentikan.

"Tunggu Bu." Ucap Sekretaris Dian.

"Ada apa?" Tanya Nadira dengan alis terangkat.

"Begini Bu, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Bisakah ibu mampir keruangan saya dulu?" Tanya Sekretaris Dian hati-hati.

"Oke. ." Mereka pun berjalan menuju Ruang Sekretaris Dian.

Ceklek. . .

"Jadi, ada apa?" Tanya Nadira.

"Begini Bu. . . Aduh gimana iya ceritanya. . ." Ucap Sekretaris Dian terbata-bata, sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.

'Harus ngomong apa iya?' Ucap Sekretaris Dian dalam hati.

"Kenapa kamu diem? Katanya mau ngomong?" Tanya Nadira heran.

"Ini Bu, ada yang saya kurang mengerti Bu." Ucap Sekretaris Dian dengan tangan yang asal mengambil dokumen.

Saat Nadira menerima dokumen itu, alis nya mengkerut. Kemudian menghembuskan nafas, dia bingung ada apa dengan Sekretaris Dian yang biasanya sangat teliti. Tapi memberikan dokumen yang berisi dokumentasi meeting.

"Kamu ini apa-apa Dian? Kamu mau saya jelasin tentang apa?" Ucap Nadira sambil melemparkan dokumen ke meja.

Brukk. .

Sekretaris Dian pun mengambilnya dan membuka dokumen itu. Lalu dia menepuk keningnya, ternyata yang dia ambil dokumen yang berisi dokumentasi meeting Minggu lalu.

'Sial.' Rutuk Sekretaris Dian.

"Maaf Bu." Ucap Sekretaris Dian sesal.

"Tunggu. . . Jangan bilang kalau Selva bikin masalah? Cepat jawab! Tegas Nadira.

"Mmmpp. . . Ngga ko Bu. . . Ngga. ." Jawab Sekretaris Dian gelagapan.

Kemudian aku pun bergegas menuju Ruang Direktur, dan langsung membukanya tanpa ketok pintu. Betapa terkejutnya aku melihat keadaan ruangan yang sudah mirip kapal pecah.

Ceklek. . .

"APA-APAAN INI??? SELVAAAAAAA!!! Teriak Nadira syok melihat keadaan Ruang Direktur yang sangat kacau.

Bagaimana tidak kacau? Dokumen, sampah makanan, bahkan baju pun berserakan. Keadaan yang tidak layak untuk di sebut Ruang Direktur.

"Eh. . . Mba. Udah datang iya, mba?" Cengegesan Selva, sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.

"Menurut kamu?" Ucap Nadira dengan mata melotot.

"Ini. . . Anu. . . Mba kenapa ga bilang mau ke sini? Kan aku bisa jemput di depan!" Ucap Selva mengalihkan pembicaraan, sambil mendekati Nadira.

"Apa itu penting sekarang?" Ucap kesal Nadira.

"Eh. . . Iya penting dong mba! Kan aku bisa siap-siap dulu, jadi. . " Ucap Selva terpotong Nadira.

"Jadi apa? Jadi kamu bisa beresin semua kekacauan ini? Tanpa mba tau?" Tanya Nadira kesal.

"Selva. . . Selva. . . Kapan kamu itu berubah?? Aduh mba pusing sendiri kalau kaya gini!" Keluh Nadira sambil memijit pelipisnya.

"Udah jangan marah dulu, ayo sini. Kita duduk dulu." Ajak Selva sambil menarik tangan Nadira dan membereskan sofa.

Terlihat Nadira menarik napas dengan kesal.

"Jadi mau sampai kapan kamu kaya gini? Kerjaannya shopping, clubing, hangout. Itu dan itu yang kamu lakukan! Perusahaan di tangan kamu ga ada kemajuan sama sekali! Mba bener-bener kecewa sama kamu!" Nadira menjeda ucapannya sambil menarik napas dalam.

" Ekhhh. . . Ngga loh iya, aku ga kaya gitu mba." Elak Selva.

"Jangan kamu kira mba ga pernah mantau kamu? Mba selalu mantau kamu dari jauh, semua kegiatan kamu mba juga tau, Sel!" Kesal Nadira.

"Hehe. . . Wah hebat iya mba, bisa tau apa aja yang aku lakuin!" Kagum Selva sambil bertepuk tangan.

'Ampun Bu Selva.' Ucap Sekretaris Dian dalam hati sambil menepuk keningnya.

"Ini bukan waktunya bercanda! Cepat bereskan ruangan ini SEKARANGGGGG!!!" Teriak Nadira kesal.

"Iya. . . Iya. . . Gak usah teriak-teriak juga kali mba." Jawab Selva, sambil terburu-buru membereskan ruangannya.

Selva pun mulai membereskan dokumen yang ada di mejanya, dan mulai memisahkan mana dokumen penting dan tidak.

"Ga ada niat gitu, buat bantuin? Dari pada duduk diem aja!" Ucap Selva berharap.

"Ngga!" Ucap tegas Nadira, yang sedang memainkan hp.

"Bu Nadira maaf, saya izin kembali ke ruangan saya." Ucap Sekretaris Dian.

"Iya sana, kembali kerja." Ucap Nadira pusing melihat kelakuan sepupunya.

Mendengar Sekretaris Dian izin keluar ruangan, Selva pun tidak terima. Karena dia berharap ada bala bantuan yang akan membantunya membereskan kekacauan yang dia buat.

"Eh. . . ngga iya. . . ga bisa. . kamu harus bantuin beresin ruangan ini dulu." Titah Selva.

"Maaf Bu, saya masih banyak kerjaan." Ucap Sekretaris Dian sambil melenggang pergi.

"Awas kamu iya, aku pecat tau rasa." Ancam Selva.

"Apa? Berani kamu pecat Dian? Kamu yang mba pecat duluan." Ancam Nadira.

"Ampun mba. . ." Ucap Selva memelas .

"Bukannya bantuin, biar cepet selesai! Ah. . Nasib. . Nasib. . Kenapa juga datang di saat yang ga tepat." Gerutu Selva Ingin menangis.

"Mba denger iya." Ucap Nadira.

"Hehe. . ." Cengengesan Selva.

Episodes
1 Bab I
2 Bab II
3 Bab III
4 Bab IV
5 Bab V
6 Bab VI
7 Bab VII
8 Bab VIII
9 Bab IX
10 Bab X
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Bab I
2
Bab II
3
Bab III
4
Bab IV
5
Bab V
6
Bab VI
7
Bab VII
8
Bab VIII
9
Bab IX
10
Bab X
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!