Di Lantai Ruang Direktur. . .
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Perintah Selva.
Hosh. . . Hosh. . . Suara napas sang Sekretaris yang tidak beraturan.
"Kamu kenapa? Di kejar setan?" Tanya Selva bercanda.
"Bukan Bu. . Tapi itu Bu. . ." Ucap Sekretaris Dian tergagap.
"Ah kamu ini, cepetan ngomong nya. Saya masih banyak kerjaan ini, mana mba Nadira mau ke sini lagi katanya. Bisa kena amuk saya kalau dia liat kerjaan numpuk kaya gini, mana ruangan berantakan gini" Keluh Selva, dengan memijit keningnya.
"Nah itu dia Bu masalahnya." Ucap Sekretaris Dian sambil menarik napas, menenangkan diri.
"Maksud kamu?" Bingung Selva.
"Ibu Nadira sudah ada di loby dan mungkin sekarang sudah naik lift." Ucap Sekretaris Dian berusaha santai.
"Oh. . . Mba Nadira udah nyampe. . . APAAAAAA?? KENAPA KAMU GA BILANG DARI TADI???" Teriak Selva terkejut.
"Iya kan saya mau ngomong dipotong terus sama ibu, jadi jangan salahin saya dong Bu." Ucap Sekretaris Dian sambil cekikikan.
"Cepet sama kamu halangin dulu, jangan sampe mba Nadira masuk dulu ke ruangan saya. Saya mau beresin dulu semua ini, ayo cepet sana." Titah Selva tergesa-gesa membereskan ruangan nya.
"Oke Bu, saya akan berusaha menghalangi beliau masuk dulu. Tapi jangan lupa iya Bu. . ." Ucap Sekretaris Dian sambil memain kan tangannya.
"Iya saya tau, udah cepet sana." Usir Direktur, yang sedang sibuk beres-beres.
Sekretaris Dian pun meninggalkan Ruang Direktur sambil terkekeh, menunggu sang tamu agung sampai.
Siapakah Nadira???
Sampai membuat seorang Direktur ketakutan??
Di Ruang Direktur. . .
"Aduh ini ruangan kenapa berantakan banget lagi!" Keluh Selva.
"Bisa abis ini kena semprot mba! Kamu sih kemaren malah asik shopping, lupa deh kerjaan numpuk! Lagian kenapa sih banyak banget barang baru? Kan gatel pengen beli. . . Huft. . ." Keluh Selva sambil menyalakan dirinya sendiri, dengan tangan yang sibuk membereskan berkas yang berserakan.
"Semoga Dian bisa nahan dulu mba Nadira." Harapan Selva, sambil terus beres-beres ruangan.
Selva sangat syok mendengar Nadira sudah sampai di Lobby Perusahaan, dia mengira Nadira akan datang siang hari. Bingung harus mulai dari mana untuk membereskan ruangannya, dokumen berserakan, sampah cemilan dan ada juga beberapa baju yang berserakan.
Di depan Lift. .
Sekretaris Dian sudah menunggu, dengan harap-harap cemas. Bingung bagaimana cara menahan agar Ibu Nadira tidak langsung masuk ke Ruang Direktur.
"Lah sekarang aku sendiri yang bingung, gimana caranya iya? Biar Bu Nadira bisa lama di sini dulu?" Pikir Sekretaris Dian.
TING. . .
Pintu lift terbuka. .
Bergegas Sekretaris Dian menyapa.
"Selamat pagi ibu Nadira." Sapa Sekretaris Dian ramah.
"Pagi juga. Apa Ibu Selva sedang sibuk?" Tanya Nadira.
"Ngga ko Bu, ibu tenang aja." Jawab Sekretaris Dian.
"Maaf Bu menyela, tugas saya mengantarkan ibu sudah selesai. Saya pamit, untuk bertugas kembali." Ucap Resepsionis pamit.
"Oh . . Iya, terimakasih banyak sudah mau mengantar saya." Ucap Nadira tulus.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu Bu, Sekretaris Dian." Ucap Sopan Resepsionis.
"Silahkan." Jawab Nadira dan Sekretaris Dian.
Sang Resepsionis pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayo ke ruangan." Ucap Nadira saat akan melangkah, tapi di hentikan.
"Tunggu Bu." Ucap Sekretaris Dian.
"Ada apa?" Tanya Nadira dengan alis terangkat.
"Begini Bu, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Bisakah ibu mampir keruangan saya dulu?" Tanya Sekretaris Dian hati-hati.
"Oke. ." Mereka pun berjalan menuju Ruang Sekretaris Dian.
Ceklek. . .
"Jadi, ada apa?" Tanya Nadira.
"Begini Bu. . . Aduh gimana iya ceritanya. . ." Ucap Sekretaris Dian terbata-bata, sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
'Harus ngomong apa iya?' Ucap Sekretaris Dian dalam hati.
"Kenapa kamu diem? Katanya mau ngomong?" Tanya Nadira heran.
"Ini Bu, ada yang saya kurang mengerti Bu." Ucap Sekretaris Dian dengan tangan yang asal mengambil dokumen.
Saat Nadira menerima dokumen itu, alis nya mengkerut. Kemudian menghembuskan nafas, dia bingung ada apa dengan Sekretaris Dian yang biasanya sangat teliti. Tapi memberikan dokumen yang berisi dokumentasi meeting.
"Kamu ini apa-apa Dian? Kamu mau saya jelasin tentang apa?" Ucap Nadira sambil melemparkan dokumen ke meja.
Brukk. .
Sekretaris Dian pun mengambilnya dan membuka dokumen itu. Lalu dia menepuk keningnya, ternyata yang dia ambil dokumen yang berisi dokumentasi meeting Minggu lalu.
'Sial.' Rutuk Sekretaris Dian.
"Maaf Bu." Ucap Sekretaris Dian sesal.
"Tunggu. . . Jangan bilang kalau Selva bikin masalah? Cepat jawab! Tegas Nadira.
"Mmmpp. . . Ngga ko Bu. . . Ngga. ." Jawab Sekretaris Dian gelagapan.
Kemudian aku pun bergegas menuju Ruang Direktur, dan langsung membukanya tanpa ketok pintu. Betapa terkejutnya aku melihat keadaan ruangan yang sudah mirip kapal pecah.
Ceklek. . .
"APA-APAAN INI??? SELVAAAAAAA!!! Teriak Nadira syok melihat keadaan Ruang Direktur yang sangat kacau.
Bagaimana tidak kacau? Dokumen, sampah makanan, bahkan baju pun berserakan. Keadaan yang tidak layak untuk di sebut Ruang Direktur.
"Eh. . . Mba. Udah datang iya, mba?" Cengegesan Selva, sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Menurut kamu?" Ucap Nadira dengan mata melotot.
"Ini. . . Anu. . . Mba kenapa ga bilang mau ke sini? Kan aku bisa jemput di depan!" Ucap Selva mengalihkan pembicaraan, sambil mendekati Nadira.
"Apa itu penting sekarang?" Ucap kesal Nadira.
"Eh. . . Iya penting dong mba! Kan aku bisa siap-siap dulu, jadi. . " Ucap Selva terpotong Nadira.
"Jadi apa? Jadi kamu bisa beresin semua kekacauan ini? Tanpa mba tau?" Tanya Nadira kesal.
"Selva. . . Selva. . . Kapan kamu itu berubah?? Aduh mba pusing sendiri kalau kaya gini!" Keluh Nadira sambil memijit pelipisnya.
"Udah jangan marah dulu, ayo sini. Kita duduk dulu." Ajak Selva sambil menarik tangan Nadira dan membereskan sofa.
Terlihat Nadira menarik napas dengan kesal.
"Jadi mau sampai kapan kamu kaya gini? Kerjaannya shopping, clubing, hangout. Itu dan itu yang kamu lakukan! Perusahaan di tangan kamu ga ada kemajuan sama sekali! Mba bener-bener kecewa sama kamu!" Nadira menjeda ucapannya sambil menarik napas dalam.
" Ekhhh. . . Ngga loh iya, aku ga kaya gitu mba." Elak Selva.
"Jangan kamu kira mba ga pernah mantau kamu? Mba selalu mantau kamu dari jauh, semua kegiatan kamu mba juga tau, Sel!" Kesal Nadira.
"Hehe. . . Wah hebat iya mba, bisa tau apa aja yang aku lakuin!" Kagum Selva sambil bertepuk tangan.
'Ampun Bu Selva.' Ucap Sekretaris Dian dalam hati sambil menepuk keningnya.
"Ini bukan waktunya bercanda! Cepat bereskan ruangan ini SEKARANGGGGG!!!" Teriak Nadira kesal.
"Iya. . . Iya. . . Gak usah teriak-teriak juga kali mba." Jawab Selva, sambil terburu-buru membereskan ruangannya.
Selva pun mulai membereskan dokumen yang ada di mejanya, dan mulai memisahkan mana dokumen penting dan tidak.
"Ga ada niat gitu, buat bantuin? Dari pada duduk diem aja!" Ucap Selva berharap.
"Ngga!" Ucap tegas Nadira, yang sedang memainkan hp.
"Bu Nadira maaf, saya izin kembali ke ruangan saya." Ucap Sekretaris Dian.
"Iya sana, kembali kerja." Ucap Nadira pusing melihat kelakuan sepupunya.
Mendengar Sekretaris Dian izin keluar ruangan, Selva pun tidak terima. Karena dia berharap ada bala bantuan yang akan membantunya membereskan kekacauan yang dia buat.
"Eh. . . ngga iya. . . ga bisa. . kamu harus bantuin beresin ruangan ini dulu." Titah Selva.
"Maaf Bu, saya masih banyak kerjaan." Ucap Sekretaris Dian sambil melenggang pergi.
"Awas kamu iya, aku pecat tau rasa." Ancam Selva.
"Apa? Berani kamu pecat Dian? Kamu yang mba pecat duluan." Ancam Nadira.
"Ampun mba. . ." Ucap Selva memelas .
"Bukannya bantuin, biar cepet selesai! Ah. . Nasib. . Nasib. . Kenapa juga datang di saat yang ga tepat." Gerutu Selva Ingin menangis.
"Mba denger iya." Ucap Nadira.
"Hehe. . ." Cengengesan Selva.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments