Tahun demi tahun aku lalui seperti ini, ibu mertua yang selalu menyuruh ini dan itu, kemudian memfitnah ku di depan suami ku. Sering kali aku mengadu pada suami ku, awalnya dia selalu percaya padaku. Namun kini dia tidak pernah percaya lagi pada ku dan selalu berpikir bahwa aku berbohong dan memfitnah ibu mertua ku.
"Nadira, . . ." Teriak Ibu Mertua.
Aku pun menghampirinya.
"Ada apa Bu?" Ucap Nadira.
"Kamu itu, kalau ibu panggil lama banget. Lagi ngapain sih kamu? Pasti lagi males-malesan dikamar." Tuduh Ibu Mertua.
"Astaghfirullah ibu, aku tadi lagi shalat Dzuhur dulu. Jadi nya lama nyamperin ibunya." Ucap Nabila membela diri.
"Alah kamu itu banyak banget alasannya! Udah sini mana uang bulanan yang tadi pagi Tio kasih!" Ucap Ibu Mertua dengan ketus.
"Ada Bu, di kamar uangnya. Emang ada apa iya Bu?" Tanya Nadira pelan.
"Udah jangan banyak tanya. Bawa sini uangnya, ibu mau pake." Ucap Ibu Mertua.
"Waktu itu Nadira kan kasih ibu 1 juta Bu? Masih kurang iya? Iu butuh berapa? Biar Nadira ambilin" Ucap Nadira lembut.
"Bawa aja semua, cepet lama banget kamu itu." Ketus Ibu Mertua.
"Loh, ko semua Bu? Nanti buat kita makan sehari-hari dan bayar tagihan gimana Bu?" Ucap Nadira bingung.
"Iya tinggal minta lagi aja, Tio juga pasti kasih. Udah mana uang nya? Lama banget!" Ucap Ibu Mertua dengan sebal.
"Sebentar iya bu, aku telpon Mas Tio dulu." Ucap Nadira dengan senyum terpaksa.
"Mau ngapain kamu telpon Tio segala? Mau ngadu kamu, hah? Dasar menantu ga berguna! Ngasih cucu ga bisa! Dimintain uang aja pelit banget! Dasar menantu ga tau diri." Marah Ibu Mertua sambil menunjuk muka ku.
"Astaghfirullah ibu, bukannya gitu Bu. Mas Tio udah percayain uang itu buat 1 bulan. Kalau sekarang aku kasih k ibu semua, kita nanti mau makan apa? Bayar tagihan listrik, air gimana?" Ucap Nadira sambil menjelaskan perlahan.
"Alah, dasar aja kamu. Menantu pelit!" Marah Ibu Mertua, sambil pergi ke kamarnya.
Aku pun langsung masuk ke dalam kamarku, sambil beristighfar di dalam hati.
"Ya Allah, kenapa ibu mertua ku semakin ke sini, semakin seenaknya sendiri" Gumam Nadira sambil menghela napas.
'Semangat, Nadira pasti kuat!' Seru Nabila menyemangati diri nya sendiri.
Sore pun datang, ku dengar suara motor berhenti didepan rumah.
"Pasti itu Mas Tio."Ucap Nadira senang dan bergegas keluar kamar.
Tiba-tiba.
Brakk..
"Kamu itu ngapain aja seharian di rumah? Emang ngga punya waktu cuman buat bantu ibu beres-beres rumah?" Bentak Mas Tio dengan muka memerah marah.
"Astaghfirullah, mas. Apa maksud kamu? Datang-datang langsung marah-marah ga jelas gini?" Ucap Nadira bingung.
"Alah ga usah sok ga tau kamu iya! Kamu anggep ibu Mas itu apa? Seenak nya kamu perlakuan ibu Mas seperti pembantu! Kurang ajar sekali kamu iya!" Marah Mas Tio, sambil
Tangannya menunjuk-nunjuk aku.
Luluh sudah air mata ku, selama ini aku sudah berusaha kuat dengan yang aku alami. Sakit sekali hati ku di bentak suami yang sangat aku cintai.
"Mas sudah dengar semua nya dari ibu! Bahkan ibu sampe nangis, karna perbuatan kamu! Sekarang juga kamu minta maaf ke ibu! Dan mulai sekarang uang bulanan, ibu yang pegang!" Tegas Mas Tio, kemudian pergi ke kamar kami.
Seketika tubuh ku luluh ke lantai, sakit sekali diperlakukan seperti ini. Di salahkan untuk sesuatu yang tidak aku lakukan.
Tidak bisakah mencari tau dulu apa yang sebenarnya terjadi?
Aku dan aku yang selalu di salahkan.
Aku pun menghapus air mataku, dan berjalan menuju kamar ibu mertua.
Sebelum aku mengetuk pintu, aku mendengar obrolan Ibu Mertua dengan seseorang di telpon.
"Tentu berhasil dong, enak aja si mandul pegang duit banyak dari Tio. Mending juga duit nya buat ibu shopping, pasti tuh si mandul lagi nangis kejer di marahin Tio" Tawa bahagia Ibu Mertua.
'Astagfirullah, jadi ibu mengadu yang nggak-nggak ke Mas Tio, karna masalah uang bulanan.' Ucap Nadira dalam hati.
"Tadi ibu telpon Tio sambil nangis-nangis, dan ibu bilang aja kalau istrinya ga ngasih uang buat ibu bayar arisan. Awalnya sih Tio ga percaya, iya udah ibu fitnah aja tuh si mandul." Tawa Ibu Mertua dengan senang, sambil menjawab telpon.
"Ibu bilang aja setiap hari ibu di suruh ini itu, sedangkan dia asik aja main hp. Belum lagi ibu cuman di kasih uang 500.000 buat keperluan dapur, ibu selalu nambahin uang belanja pake uang tabungan ibu." Ucap Ibu Mertua ku di telpon.
"Hahaha. . . Mana rela ibu pake uang ibu cuman buat nambahin uang belanja. Sengaja ibu bilang begitu, biar Tio marahin si mandul. Lah menantu pelit kaya gitu. Biar tau rasa dia, hahaha. ." Tawa Ibu Mertua.
"Hahaha. . . Pinter kan ibu, enak aja dia ngabisin duit Tio. Jelas-jelas ibu yang lebih berhak, ibu yang lahirin dan ngurus Tio dari bayi." Ucap Ibu Mertua dengan bangga.
"Udah dulu telpon nya, nanti takut ada yang denger. Tenang aja, nanti ibu kasih bagian kamu." Ucap Ibu Mertua.
Setelah memastikan ibu menutup telponnya. Aku pun segera menghapus air mata ku, kutarik napas ku, agar lebih tenang.
Kemudian aku ketuk pintu kamar Ibu Mertua.
"Ibu. . . bu. . . Ini Nadira Bu, boleh aku masuk Bu?" Ucap Nadira sopan.
"Masuk." Ucap Ketus Ibu Mertua.
'Bismillah, harus sabar' Ucap Nadira dalam hati, sambil membuka pintu kamar Ibu Mertua ku.
"Mau ngapain kamu? Mau marah karna ibu ngadu ke Tio? " Ucap Ketus Ibu Mertua.
"Nadira ke sini cuman mau minta maaf ke ibu, kalau ada perkataan aku yang menyinggung ibu." Ucap Nadira hati-hati.
"Akhirnya sadar juga, dasar menantu ga berguna. Liat kan Tio lebih percaya ke Ibu dari pada kamu, jadi kamu jangan macam-macam sama ibu. Ngerti ga?" Ancam Ibu Mertua.
"Iya, Nadira tau Bu. Bahwa Mas Tio sangat menyayangi Ibu, tapi apa harus dengan memfitnah aku didepan Mas Tio? Apa ibu ga kasian sama aku yang harus dimarahi karna fitnah ibu?" Ucap Nadira kesal.
"Emang nya kenapa? Mau ngadu kamu? Silahkan aja, ibu jamin Tio ga akan percaya sama kamu! Hahaha. ." Tawa Ibu Mertua mengejek.
"Astaghfirullah Bu, apa salah Nadira ke ibu? Kenapa ibu kaya gitu?" Ucap Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.
Namun, tiba-tiba.
"Maafin ibu iya, Nad. Ibu janji ga akan cerita apa-apa sama Tio lagi, ibu tadi bingung mau minta uang ke siapa lagi? Uang simpanan ibu udah abis, ibu pake buat nutupin uang belanja yang kamu kasih. Jadi ibu telpon Tio, kamu jangan marah lagi iya sama ibu." Ucap Ibu Mertua yang tiba-tiba nangis keras.
Aku pun mengernyitkan dahi, bingung apa yang ibu lakukan. Hingga tiba-tiba Mas Tio datang dan marah, oh. . Ternyata itu yang membuat ibu bicara berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments