Sesaat sebelum kami pergi, tiba-tiba ibu datang menggunakan ojek dan turun didepan kami.
"Kalian mau ke mana? Ini ibu udah capek-capek beliin sarapan yang enak." Ucap Ibu Mertua dengan menunjukan keresek makanan yang dibelinya.
"Kita mau berangkat kerja Bu, ini udah siang!" Ucap Mas Tio dan aku hanya diam. Ternyata ibu pergi untuk membelikan kami sarapan.
"Loh. . . Ga bisa dong! Enak aja langsung pergi, ibu udah beliin kalian makanan enak! Ga mau tau kalian harus makan dulu!" Perintah Ibu Mertua kesal.
"Kita udah sarapan, ibu sarapan aja sendiri! Kita pergi dulu, assalamualaikum." Ucap Mas Tio sambil melajukan motornya melewati Ibu Mertua yang tampak kesal.
"Tio. . . Tio. . ." Teriak Ibu Mertua yang terus memanggil, namun Mas Tio terus melajukan motornya.
Di jalan. . .
"Ibu itu makin hari makin aneh! Biasanya juga tiap hari masak sarapan! ini malah beli, pake ojeg segala! Pasti jauh belinya." Ucap kesal Mas Tio.
"Iya mas." Ucap ku singkat
'Ini baru permulaan mas, masih banyak lagi kejutan yang akan kamu dapatkan. Awas aja kalau kamu beneran selingkuh di belakang ku!' Ucapku dalam hati.
"Kita sudah sampai dek." Ucap Mas Tio.
"Makasih iya mas! Hati-hati di jalannya, semoga Allah selalu menjaga dan melindungi Mas. Semoga pekerjaan mas lancar iya, aku pamit masuk dulu mas." Do'a ku untuk Mas Tio sambil mencium tangannya.
"Aamiin, mas berangkat iya dek. Assalamualaikum." Ucap Mas Tio sambil menyalakan motornya.
"Wa'Alaikum salam." Jawab ku sambil melambaikan tangan melihat kepergian Mas Tio.
Aku pun masuk kedalam kantor dan menuju ke ruangan ku.
"Selamat pagi Bu." Sapa Resepsionis ramah.
"Pagi juga, saya ke atas dulu iya." Ucap ku ramah dengan memberikan senyuman.
"Silakan Bu." Jawab Resepsionis.
Ting. .
Lift pun terbuka, aku masuk bersama karyawan lainnya, karena Ku menggunakan lift karyawan biasa.
"Kamu anak baru iya?" Tanya salah satu pegawai.
"Iya mba, saya baru bekerja kemarin. Perkenalkan nama saya Nadira." Ucap ku sambil mengulurkan tangan.
"Aku Sesil departemen pemasaran." Ucap Sesil.
"Kalau aku Anggia departemen keuangan, kamu departemen apa?" Tanya Anggia.
'Waduh, bagian apa iya?' Ucap ku dalam hati bingung.
"Saya jadi Asisten Pribadi Ibu Selva mba." Ucap Ku.
"Wah. . . Enak dong jadi Aspri Ibu Selva, pasti sering keluar kantor tuh!" Ucap Anggia berbinar.
"Iya bener, pasti nanti kamu sering di ajak keluar kantor deh." Ucap Sesil setuju.
"Memang ngapain mba keluar kantor? Meeting atau ketemu klien?" Tanya ku penasaran dengan kelakuan Selva di kantor.
"Haha. . . Iya bukan lah!" Mereka kompak tertawa.
Ting. . .
"Aku udah sampe nih, duluan iya." Pamit Sesil pada kami.
"Sipp." Ucap kami.
"Nih iya, aku kasih tau. Ibu Selva itu hobinya keluar kantor, buat ke mall, salon atau ketemu temen-temen nya. Itu mh udah rahasia umum. Hehe. ." Ucap Anggia sambil terkekeh.
"Oh. . Gitu iya mba! Aku baru tau loh." Ucap ku polos.
"Nanti deh liat aja, pasti banyak tingkah deh Bu Selva itu." Ucap Anggia.
Ting. .
"Aku duluan iya, semangat kerja nya iya." Ucap Anggia melambaikan tangan.
"Iya makasih mba." Jawab ku dengan pintu lift yang akan tertutup.
"Iya ampun Selva, udah ngga punya muka banget kamu didepan karyawan." Gimana ku sambil menggelengkan kepala.
Ting. . .
Sampailah aku di lantai atas, ku langkahkan kaki menuju Ruang Direktur.
"Selamat Pagi Bu." Sapa Sekretaris Dian ramah dengan senyuman.
"Pagi juga, Dian! Oh. . Iya, Selva sudah datang?" Tanya ku.
"Emmm. . Anu Bu." Jawab Sekretaris Dian gelagapan sambil menggaruk leher belakangnya.
"Pasti belum datang kan?" Tebak aku.
"Iya Bu." Jawab Sekretaris Dian sambil menunduk.
"Udah ngga apa-apa! Nanti kalau dia datang, jangan bilang saya sudah datang. Saya keruangan dulu." Ucap ku pada Sekretaris Dian.
"Baik Bu." Jawab Sekretaris Dian, uang kemudian melanjutkan pekerjaan nya.
Aku pun melangkah masuk kedalam Ruang Direktur.
Ceklek. . .
Kulihat meja kerja sudah penuh dengan berkas-berkas yang belum di kerjakan.
"Selva. . . Selva. . . Ini banyak banget yang belum d kerjain." Ucapku sambil menggelengkan kepala, dan memulai mengerjakannya.
2 jam berlalu. . .
Tok . . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Teriak ku.
"Maaf Bu, hari ini kita ada meeting dengan PT. Jaya Wijaya di Hotel Mentari jam 11.00 dan dilanjutkan makan siang bersama. Apakah ibu mau menggantikan Ibu Selva atau saya yang pergi Bu?" Tanya Sekretaris Dian.
"Oke! Biar saya yang pergi. Coba kamu telpon Selva, di mana dia? Jam segini belum ke kantor?" Tanya ku bingung, karena terlalu sibuk mengerjakan berkas, hingga tidak sadar waktu sudah 2 jam berlalu dan Selva belum juga datang.
"Mohon maaf Bu, telpon saya tidak di angkat. Sudah beberapa kali saya coba, namun hasilnya tetap tidak di angkat Bu." Jawab Sekretaris Dian.
"Astaghfirullah Selva, ini kelakuan kamu yang mba ga tau." Ucap ku sambil memijit pelipis ku.
"Iya sudah! Kamu siapkan berkasnya, kita berangkat 15 menit lagi." Perintah ku, sambil aku merapikan meja kerjaku.
"Baik Bu, saya permisi." Pamit Sekretaris Dian yang kemudian keluar dari ruangan.
Aku pun bersiap-siap untuk berangkat, namun ku sempatkan untuk menelpon suamiku terlebih dahulu.
Tut. . . Tut. .
[Hallo] Ucap Mas Tio.
[Assalamualaikum mas] Ucap ku
[Wa'alaikum salam, ada apa dek?] Tanya Mas Tio.
[Mas aku mau ijin iya, aku ada meeting di luar sebentar lagi.] Ucap ku meminta ijin.
[Iya dek, hati-hati di jalan.] Jawab Mas Tio.
[Oke mas! Iya udah aku mau siap-siap dulu iya. Assalamualaikum.] Ucap ku.
[Wa'alaikum salam] Jawab Mas Tio yang kemudian mematikan telpon.
Karena penasaran Selva belum juga datang, aku pun menelpon nya, dan benar telponnya tidak di angkat sama sekali.
"Ampun anak ini! Kemana sih dia?" Ucap ku bingung.
"Coba aku telpon Roy aja, dia pasti tau." Ucap ku.
Aku menempatkan seorang pengawal bayangan bernama Roy, untuk selalu menjaga dan melindungi Selva setiap hari. Kemudian dia akan melaporkan semua kegiatan Selva padaku.
Bukannya aku tidak percaya dengan Selva, tetapi gaya hidupnya yang sering keluar masuk club' malam. Membuat aku khawatir, takut terjadi sesuatu padanya. Sehingga aku menempatkan pengawal bayangan, untuk melindunginya tanpa dia tau.
Tut. . Tut. . .
[Selamat pagi Bu.] Ucap Roy setelah telponku di angkat.
[Assalamualaikum Roy.] Ucap salam ku.
[Eh. . Iya! Wa'alaikum salam Bu, maaf] Ucap Roy kikuk.
[Iya ngga apa-apa! Saya mau tanya, kamu tau Selva di mana? Dia hari ini belum ke kantor." Tanya ku penasaran.
[Ibu Selva ada di rumah nya Bu! Kata ART nya, Ibu Selva masih tidur Bu. Baru pulang tadi Subuh jam 04.00 habis party dengan teman-temanny.] Jelas Roy padaku.
[Astaghfirullah anak itu! Iya udah kalau gitu, kamu jaga dia iya! Kalau ada apa-apa kabari saya.] Ucap ku pada Roy.
[Baik Bu.] Ucap Roy.
[Iya sudah kalau begitu, assalamualaikum.] Ucap ku.
[Wa'alaikum salam.] Jawab Roy, kemudian aku mematikan telepon.
"Ampun deh Selva. . Selva. . Sampai kapan kamu kaya gini? Pusing mba jadinya!" Ucap ku bingung sambil menggelengkan kepala.
Tok. . Tok. . Tok. .
"Masuk." Teriak ku dari dalam.
"Permisi Bu, semua sudah siap." Ucap Sekretaris Dian.
"Oke. Kita berangkat sekarang, takut macet." Ucap ku sambil berjalan keluar ruangan di susul Sekretaris Dian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Soraya
knp nadira ga menyuruh orang tuk mematai Tio
2023-10-09
0
Carneti Fitriani
ibu mertua nya gitu banget perasaan
2023-05-25
0
Riyana Lanay
ngapain itu ibu2 beli sarapan aja lama banget? hahaha
lucu juga tuh
2023-04-26
1