Hingga sore hari, Ibu Mertua ku belum juga pulang. Dan sebentar lagi Mas Tio pulang kerja, firasat ku mengatakan akan terjadi sesuatu lagi.
Ku dengar suara motor berhenti di depan rumah, dan benar suami ku pulang bersama Ibu Mertua ku.
"Assalamualaikum" Ucap Mas Tio dengan wajah datar.
"Wa'alaikum salam, Mas, Bu" Ucap Nadira sambil mencium tangan Mas Tio dan Ibu Mertua.
Kemudian ibu pergi ke kamarnya, begitu pun Mas Tio.
'Apa lagi yang akan terjadi?' Pikir Nadira sambil termenung di ruang tamu.
Aku pun menyusul Mas Tio ke dalam kamar kami, dan dengar suara air di kamar mandi.
"Seperti nya Mas Tio sedang mandi, lebih baik aku siap kan baju nya dulu" Ucap Nadira sambil berjalan ke lemari pakaian.
Setelah mengambil pakaian Mas Tio, aku pun menyimpan nya di kasur. Aku pun keluar untuk mengambil air untuk suami ku.
Saat aku selesai mengambil air, tiba-tiba ibu mertua ku merebut air itu.
"Ibu itu air untuk Mas Tio" Ucap Nadira bingung.
"Iya ibu tau" Ucap Ketus Ibu Mertua sambil berjalan menuju kamar ku.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Tio. . . Tio. . ." Teriak Ibu Mertua didepan kamarku.
Ceklek. . .
"Ini ibu bikinin kamu minum, ayo di minum dulu. Kamu pasti cape abis kerja" Ucap Ibu Mertua dengan senyum.
"Makasih bu" Ucap Mas Tio di depan pintu kamar kami.
"Sama-sama, ayo kita duduk di sambil nonton TV. Kita santai-santai dulu." Ucap Ibu Mertua sambil menggandeng tangan Mas Tio.
Sedangkan aku hanya bisa memandang mereka yang sedang berjalan menuju ruang keluarga.
Tak ingin membuat keributan, aku pun mengalah. Dan menyiapkan untuk makan malam nanti, biarlah urusan mereka nanti saja.
Setelah semua hidangan siap, aku pun menghidangkan di meja makan. Ku lihat mereka masih asik nonton tv dan bercanda, ingin rasanya aku bergabung. Tapi pasti mereka tidak akan suka.
Maka aku pun kembali ke kamar ku, untuk bersiap shalat magrib.
ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR . . .
Ku dengar kan adzan magrib, sambil membaca Do'a. Setelah itu aku pun menjalankan kewajiban ku.
Setelah selesai, ku tadahkan tangan ku untuk berdo'a.
"Ya Allah jika memang ini adalah cobaan yang eungkau berikan, bantu hamba melewati nya. Berikan hamba kekuatan dan kesabaran yang lebih untuk menghadapi semua ini. Lembut kan lah hati suami dan mertua hamba. Engkau yang Maha Mengetahui segalanya." Do'a Nadira dengan air mata yang mengalir.
Bergegas ku hapus air mata ku, dan membereskan peralatan shalat. Kemudian aku keluar kamar, ternyata mereka sedang makan, tanpa menungguku.
Tanpa berkata apa pun, aku duduk dan mulai mengambil makanan. Hening, hanya ada suara dentingan sendok.
Setelah selesai suami dan ibu mertua ku pergi meninggalkan meja makan, tanpa menunggu ku.
"Kuat Nad. . . Kamu pasti kuat." Gumam Nadira menyemangati diri sendiri.
Kemudian aku membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Setelah itu aku mencari suami ku, namun tidak ada. Aku pun menuju kamar ku.
Ceklek. . .
Kulihat Mas Tio sedang sibuk dengan laptop nya.
"Mas." Panggil Nadira.
"Apa?" Jawab Mas Tio.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Nadira.
"Bicara apa?" Ketus Mas Tio, sambil menutup laptop nya.
"Mas kenapa? Ko tiba-tiba diemin aku gini, Mas? Salah aku apa? Tanya Nadira hati-hati.
"Kamu masih tanya salah kamu apa?" Ucap Mas Tio mulai aga kesal.
"Aku bener-bener ga tau mas. Kalau aku punya salah, aku minta maaf. Tapi tolong jangan diemin aku kaya gini." Ucap Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.
Kulihat Mas Tio menarik napas panjang sebelum bicara.
"Mas mau tanya ke kamu. Apa yang kamu lakukan seharian di rumah? Kenapa kamu sampe ga tau ibu pergi ke mana seharian? Kamu kan bisa luangin sedikit waktu kamu buat ibu. Jangan cuman main HP aja, memang apa yang ada di hp kamu? Sampe kamu lupa ngerjain kerjaan rumah dan lupain Ibu? Rumah ini kecil, tapi ngurus rumah aja ga becus." Marah Mas Tio dengan membentak aku.
"Kamu tau ga? Aku nemuin ibu di mana? Ibu duduk dipinggir jalan, dengan muka lelah. Kamu tau apa yang terjadi sama ibu? Ibu abis kecopetan." Jelas Mas Tio dengan marah.
"Ya Allah, mas. Maaf aku bener-bener ga tau, kalau ibu kecopetan." Sesal Nadira.
"Itu karna kamu ga peduli sama ibu ku, walau bagaimanapun ibu ku itu ibu mu juga. Ga bisa gitu kamu peduli sama ibu? Ibu itu udah tua, butuh perhatian dan kasih sayang lebih! Coba dong kamu lebih perhatian sama ibu, dan jangan cuman bisa nya nyusahin ibu terus!" Marah Mas Tio.
"Mas ini ga seperti yang kamu bayangin, aku ga kaya gitu mas. . . " Bela Nadira.
"Alah ga usah ngelak lagi, mas udah tau semua kelakuan kamu di belakang mas. Jangan kira mas akan diem aja, ingat kesabaran mas ada batasnya." Marah Mas Tio sambil berjalan keluar kamar.
'Fitnah apalagi ini? Kenapa terus-terusan aku yang di fitnah? Sampe kapan aku harus kaya gini?' Lirih Nadira dengan air mata yang terus mengalir.
Malam itu ku lalui sendiri, lagi-lagi Mas Tio tidur di kamar tamu.
"Apa aku sanggup jika terus begini?" Tanya Nadira pada dirinya sendiri.
"Lebih baik aku kembali kerja! Bukannya selama ini ibu bilang, semua kerjaan rumah ibu yang kerjain? Iya udah biar sekalian aja aku ga akan beres-beres rumah lagi, kita liat aja besok." Ucap Nadira dengan senyum smirk nya.
"Mending sekarang aku telpon Selva." Ucap Nadira.
Tut. . . Tut. . . Tut. . .
[Hallo mba] Ucap Selva.
[Assalamualaikum, kebiasaan banget ga ucapin salam.] Tegur Nadira.
[Hehehe. . . Iya maaf mba. Wa'alaikum salam, tuh udah di jawab.] Ucap Selva sambil terkekeh.
[Kamu ini iya!] Kesal Nadira sambil menggelengkan kepalanya.
[Btw ada apa nih? Tumben mba telpon jam segini? Atau mba kangen iya sama aku?] Ucap Selva percaya diri.
[Mulai besok mba ke kantor! Udah dulu iya. Assalamualaikum.] Ucap Nadira.
Selesai menelpon Selva, aku memutuskan untuk istirahat.
Keesokan hari nya, aku sengaja bangun saat subuh dan tidak keluar kamar. Aku pun menjalankan shalat subuh, setelah itu aku sibuk memeriksa email.
Tok. . . Tok. . .
Pintu kamar ku di ketuk keras.
"Nadira. . . Nadira. . ." Teriak Ibu Mertua.
"Ada apa, Bu?" Tanya Nadira sambil membuka pintu.
"Masih nanya kamu? Ini jam berapa? Kenapa rumah masih berantakan? Mana sarapannya? Kamu itu ngapain aja sih? Jam segini baru bangun! Cepat ke dapur, bikin sarapan!" Titah Ibu Mertua dengan marah.
"Loh ko gitu Bu?" Tanya Nadira sok polos.
"Apa maksud kamu, hah?" Bentak Ibu Mertua.
"Iya kan ibu bilang, kalau selama ini yang beres-beres sama bikin sarapan itu ibu. Jadi kenapa ibu harus marah-marah?" Tanya Nadira santai.
"Enak aj. . ." Ucapan Ibu Mertua terpotong oleh Mas Tio.
"Ada apa sih? Pagi-pagi udah ribu? Ga bisa apa 1 hari aja rumah ini damai? Apalagi yang harus di ributin?" Tanya Mas Tio dengan kesal.
"Ini loh Tio, masa istri kamu jam segini baru bangun? Harusnya kan dia itu beres-beres, nyiapin sarapan! Eh ini, dia baru bangun jam segini." Adu Ibu Mertua ku, sambil menunjuk aku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments