"Ga perlu menggerutu mba, mending kerja yang bener. Biar cepet pulang, soalnya mba mau ke salon. Kalau kamu ga cepet, mba tinggal." Ancam Nadira.
Karena kasian melihat Selva yang tampak murung, Nadira pun memutuskan untuk sedikit refreshing dengan mengajak nya ke salon langganan mereka untuk perawatan.
"Apa?? Kenapa ga bilang dari tadi coba?" Keluh Selva sambil terus mengerjakan pekerjaannya.
"Iya abis setelah mba pikir-pikir ide kamu tadi bagus juga, mba perlu perawatan. Biar badan mba lebih rileks, ngga cuman rebahan doang." Ucap Nadira sambil menggoda Selva.
"Sial. . . masih banyak lagi." Gerutu Selva.
"Ayo. . Selva semangat, Salon . . . Salon. . ." Ucap Selva menyemangati diri sendiri.
"Ampun ada-ada aja." Ucap Nadira sambil menggelengkan kepala.
NH grup adalah perusahaan yang Nadira bangun dari nol. Hingga kini menjadi perusahaan yang besar, bergerak dalam bidang properti seperti yang dimiliki keluarganya.
Tidak banyak yang tau, bahwa Nadira adalah pemilik perusahaan. Hanya orang-orang penting di perusahaan yang mengetahui dan juga merahasiakan nya, karna itu permintaan Nadira sendiri yang tidak ingin di kenal media.
Bahkan suaminya pun tidak mengetahui bahwa Nadira memiliki sebuah perusahaan besar.
Dengan bantuan Sekretaris Dian, Nadira bisa terus berada di belakang layar, tanpa ada kendala yang berarti.
Apalagi semenjak Tante nya meminta tolong kepada Nadira untuk mengawasi anak perempuannya, yaitu Selva.
Selva anak perempuan Tante Maya satu-satunya, sehingga tumbuh menjadi anak yang manja dan nakal. Namun, kecerdasannya di atas rata-rata. Sehingga Nadira menjadikannya Direktur di Perusahaan miliknya, agar Selva belajar bertanggung jawab, tetap dalam pengawasan Nadira.
Hampir seluruh keluarga besarnya adalah seorang pembisnis dan darah pembisnis mengalir di tubuh Nadira. Sehingga tak heran Nadira bisa membuat perusahaan sendiri.
1 jam kemudian. . .
"Selesai. . . Ayo cepetan kita let's go." Ucap Selva dengan semangat.
"Urusan beginian aja, semangat." Cibir Nadira, yang di jawab cengegesan Selva.
"Ayo. . . Kamu yang bawa mobil." Ucap Nadira.
"Siap." Jawab Selva
Mereka pun berangkat menuju salon langganan mereka, sepanjang jalan di hiasi dengan celotehan riang mereka. Yang tidak ada habis nya, setelah sampai.
"Selamat siang kak, Selamat datang di Salon dan Spa Mauren. Mau treatment apa hari ini?" Ucap ramah Tia pelayan Salon langganan kami.
"Aku seperti biasa aja." Ucap Selva.
"Aku juga sama seperti biasa iya." Ucap Nadira.
"Baik, kalau begitu. Silakan untuk mengganti pakaian di ruang ganti, kak. Saya akan menyiapkan ruangan nya." Ucap Tia.
"Terimakasih." Ucap mereka.
Mereka pun melakukan berbagai rangkaian perawatan dari kepala hingga kaki. Hingga tak terasa mereka sudah 4 jam berada di salon.
Setelah selesai mereka memutuskan untuk pulang.
Di mobil. . .
"Va, anter mba ke perusahaan lagi iya." Pinta Nadira.
"Lah ngapain balik lagi? Mending aku anter langsung ke rumah. Emang ga cape apa?" Tanya Selva bingung, namun tetap memutar arah menuju perusahaan.
"Dih, situ lupa? Kan tadi aku telpon Mas Tio bilang mau pulang telat. Haha. ." Kekeh Nadira.
Nadira memutuskan untuk kembali ke kantor dan dia akan menelpon suaminya, untuk meminta jemput dan untuk memuluskan rencananya. Dia pun memakaikan makeup yang membuat wajahnya pucat, agar terlihat seperti kecapean.
"Oh iya, bener. Yang katanya mau pulang telat, mau mempelajari kerjaan itu kan mba?" Sindir Selva sambil tertawa.
"Haha. . . Iya dong." Tawa Nadira.
"Eh. . Itu ngapain pake segala bibir di bedakin? Yang ada keliatan pucet kali mba! Buat apa kita perawatan bias muka kita fresh kalau gitu?" Ucap Selva bingung melihat Nadira yang menggunakan bedak di bibir dan membuat sedikit riasan. Namun, riasan yang membuat keliatan seperti pucat.
"Heh. . Situ pikir ada iya? Orang yang pertama kali kerja, terus lembur. Pas keluar perusahaan langsung tampil kinclong? Yang ada malah aneh kalau masih tampil kinclong." Ucap sinis Nadira.
"Haha. . . Iya bener juga sih." Ucap Selva membenarkan kata-kata Nadira.
Saat sedang macet, tidak sengaja Selva melihat motor Mas Tio ada di pinggir jalan. Dan mencoba memberhentikan mobilnya tak jauh dari motor Mas Tio berada.
"Eh. . Mba, coba liat sebelah kiri." Ucap Selva sambil memelankan laju mobil.
"Loh itu motor Mas Tio loh, mba hapal banget. Tapi ngapain jam segini ada disini?" Bingung Nadira.
"Coba deh mba telpon." Usul Selva, sambil menepikan mobilnya tak jauh dari motor Mas Tio.
"Oke, coba mba telpon aja kali iya. Siapa tau motornya lagi dipinjem tetangga." Ucap Nadira berpikir Positif.
Tut. . Tut. . Tut. .
"Gak di angkat, mba coba sekali lagi deh." Ucap Nadira.
Tut. . Tut. . Tut. .
[Hallo, assalamualaikum dek.] Ucap Mas Tio, namun terdengar ramai.
[Wa'alaikum salam, mas lagi di mana? Ko rame banget?] Tanya Nadira
[Mm. . itu anu dek. Mas lagi di suruh ibu keluar beli sesuatu, ada apa dek?] Tanya Mas Tio terbata-bata sambil mengalihkan pembicaraan.
[Oh. . Emang mas di suruh beli apa sama ibu?] Tanya Nadira penasaran.
[Mas di suruh beli sabun dek, ini lagi di minimarket.] Ucap Mas Tio bohong.
[Minimarket?] Gumam Nadira, kecewa.
'Kenapa bohong Mas? Jelas-jelas kamu lagi ada di angkringan deket kantor ku.' Ucap sedih Nadira dalam hati.
[Kamu mau nitip sesuatu dek? Biar mas sekalian beliin.] Tanya Mas Tio.
[Ngga mas, kalau jemput aku bisa ga mas? Aku udah mau beres soal nya.] Tanya Nadira berharap.
[Jemput? Aduh gimana iya dek. Ini udah di tungguin ibu, kamu pulang sendiri aja iya dek? Ga apa-apa kan?] Tolak Mas Tio.
[Iya udah ga apa-apa mas, aku pesen ojek online aja kalau gitu.] Ucap Nadira sedih.
[Udah dulu iya dek. Mas mau pulang, assalamualaikum.] Salam Mas Tio.
[Wa'alaikum salam.] Ucap Nadira lirih, sambil terus memperhatikan Mas Tio dari dalam mobil.
Ternyata Mas Tio sedang bersama seorang wanita, dengan pakaian berhijab. Kemudian mereka pergi berboncengan.
"Mba. . . Mba. ." Ucap Selva sambil mengguncangkan bahu Nadira.
"Eh. . Iya apa?" Tanya Nadira bingung, ternyata tadi dia sedang melamun.
"Itu Mas Tio udah jalan, mau kita ikutin ngga?" Tanya Selva.
"Kita pulang aja, kamu anterin mba ke rumah iya." Ucap Nadira lesu.
"Yakin ga di kejar? Mumpung masih keliatan itu motornya?" Tanya Selva penasaran. Ingin sekali dia mengejar motor Kakak iparnya itu, yang dengan berani membonceng wanita lain.
"Mungkin dia temen nya Mas Tio, udah kita pulang aja iya." Pinta Nadira memohon.
"Iya udah, aku anterin." Ucap Selva menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan hening, tidak ada yang suara mengobrol seperti tadi. Hingga sampai di rumah Nadira.
"Udah sampe mba." Ucap Selva sambil memberhentikan laju mobil.
"Mba. ." Tanya Selva.
"Eh iya. . Maaf mba melamun." Ucap Nadira tersenyum.
'Kenapa harus berpura-pura tersenyum begitu mba, padahal hatimu sakit.' Ucap Selva dalam hati.
"Mba ga apa-apa?" Tanya Selva.
"Emang kenapa? Mba baik-baik aja ko, iya udah mba masuk iya." Pamit Nadira sambil membuka pintu, namun di tangannya di tahan Selva.
"Kalau butuh temen curhat, telpon aku." Ucap Selva sambil menggenggam tangan Nadira.
"Iya, assalamualaikum." Pamit Nadira tersenyum paksa.
"Wa'alaikum salam." Jawab Selva, sambil terus memperhatikan Nadira masuk kedalam rumah nya.
"Sialan Mas Tio, berani-beraninya bohongin mba Nadira. Aku harus cari info nih." Ucap Selva kesal, kemudian melajukan mobil nya menuju rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments