Seperti biasa, sebelum subuh aku sudah terbangun. Namun sekarang berbeda, aku tidak akan lagi membereskan rumah ataupun memasak lagi. Aku akan keluar kamar nanti bersama Mas Tio.
Untuk mengisi waktu, aku pun melakukan shalat sunah tahajud, mengaji dan mempelajari berkas di e-mail yang belum sempat aku lihat, kemudian aku shalat subuh.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan setengah 6 pagi, aku pun memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah itu ku bangunkan Mas Tio.
"Mas ayo bangun, udah siang." Ucap ku sambil menggoyang kan badan Mas Tio.
"5 menit lagi dek." Ucap Mas Tio serak.
"Gak ada 5 menit 5 menit, sekarang bangun dan mandi." Ucap ku dengan terus menggoyangkan badan Mas Tio.
"Iya bawel." Ucap Mas Tio sambil bangun dari tidurnya dan sempat memberikan kecupan di kening ku.
Aku hanya bisa tersenyum miris, melihat perilaku Mas Tio seolah-olah tidak ada masalah. Aku pun menyiapkan pakaian kerjanya di atas kasur.
Tok. . . Tok. . . Tok. .
Pintu kamar ku di ketuk dengan keras oleh mertua.
"Nadira. . . buka pintunya." Teriak Ibu Mertua.
Tok. . . Tok. .
Ceklek. . .
"Iya, ada apa Bu?" Tanya ku santai.
"Kamu masih tanya? Dasar menantu ngga berguna, cepat bereskan rumah dan bikin sarapan! Ini udah jam berapa? Cepet sana ke dapur." Ucap marah Ibu Mertua sambil menarik tangan ku.
"Loh ko aku?" Ucap ku polos.
"Lah terus Ibu yang harus ngerjain semua itu? Apa gunanya kamu jadi menantu hah. .?" Marah Ibu Mertua.
Sengaja aku berlama-lama di depan pintu kamar, agar saat Mas Tio selesai mandi dia akan tau kelakuan ibunya. Dan benar, Mas Tio keluar tepat waktu.
"Ada apa ini?" Tanya Mas Tio bingung melihat aku di tarik keluar.
"Eh Tio, kamu udah bangun? Ibu kira masih tidur?" Ucap Ibu Mertua gelagapan.
"Ini kan udah siang Bu, Ada apa ibu ke sini?" Tanya Mas Tio lagi dan aku hanya menyimak.
"Ini tadi ibu minta tolong Nadira buat bantuin ibu di dapur dan beresin rumah." Terang Ibu Mertua berbohong.
"Nadira mau siap-siap berangkat kerja Bu, nanti kalau aku libur pasti bantuin ibu." Ucap ku sambil mengedipkan sebelah mata.
Kulihat Ibu Mertua tampak kesal dengan jawabanku, dan tanpa menjawab beliau pergi meninggalkan kamar kami.
"Dek, udah siap belum?" Tanya Mas Tio yang sedang merapihkan baju kerjanya.
"Udah mas." Ucapku sambil mendekati Mas Tio.
"Iya udah kita berangkat sekarang, biar nanti ngga kesiangan." Ucap Mas Tio menggandeng tangan ku.
"Iya mas." Ucap ku dengan senyuman. Kami pun berjalan keluar kamar bersama menuju meja makan.
Ingin rasa nya aku tertawa melihat meja makan yang masih kosong. Sedangkan Mas Tio tampak bingung, biasanya jam segini meja makan sudah tersedia sarapan full menu yang aku buat.
"Bu. . . Ibu. . ." Panggil Mas Tio ke Ibu mertua.
"Biar aku liat ke dapur iya mas." Ucap ku dan di balasa anggukan oleh Mas Tio yang sedang fokus dengan handphone nya.
Ternyata dapur masih berantakan, cucian piring banyak. Ingin rasanya aku membereskan semuanya, namun aku yang masih kesal dengan sikap Ibu.
Sehingga aku membiarkan saja keadaan dapur seperti ini, dan aku pun kembali ke ruang makan. Tetapi Mas Tio seakan tidak menyadari aku mendekatinya.
"Ekhmmm. . ." Aku pun berdehem.
"Mana ibu dek?" Ucap Mas Tio gelagapan, sambil menyembunyikan handphone nya di saku celana.
"Ibu ngga ada di dapur mas! Aku ke depan dulu iya mas, beli nasi uduk." Ucap ku.
"Iya dek! Jangan lama iya, udah hampir siang." Ucap Mas Tio memberitahu ku.
"Iya mas." Jawabku.
Aku pun berjalan keluar rumah, menuju rumah tetangga ku yang memang berjualan nasi uduk.
"Bu, masih ada nasi uduk nya?" Tanya ku.
"Eh neng Nadira! Ada neng, mau berapa bungkus?" Tanya Ibu Lia penjual nasi uduk.
"Beli 3 bungkus aja Bu, pakai telor semua iya dan sambal nya di pisah." Ucap ku sambil melihat menu-menu yang tersedia.
"Siap neng! Gorengan nya ini masih panas-panas neng." Ucap Ibu Lia sambil membungkus pesananku.
"Boleh deh Bu! Bala-bala 5 aja Bu, soalnya mau berangkat kerja. Takut ga ada yang makan kalau ke banyakan." Ucap ku, yang biasanya membeli gorengan banyak, untuk cemilanku.
"Siap neng! Sekarang neng kerja? Kerja di mana atuh neng?" Tanya Ibu Lia.
"Iya Bu, di tempat kerja yang dulu Bu. Lama-lama bosen juga Bu di rumah doang." Ucap ku, sambil mengambil bala-bala yang memang masih panas dan menyimpan nya di atas kertas nasi.
"Iya atuh, mumpung masih muda iya neng." Ucap Ibu Lia.
"Jadi berapa Bu semuanya?" Tanya ku.
"Jadi 35.000 neng, nih ibu bonusin bala-bala 1." Ucap Ibu Lia.
"Makasih banyak iya Bu, selalu aja di bonusin kalau jajan ke sini." Ucap ku yang memang selalu di berikan bonus oleh Ibu Lia, walaupun hanya bala-bala 1. Aku pun menyerahkan uang kepada Ibu Lia.
"Sama-sama neng! Neng mah Osok berlebihan, tibang 1atuh neng. Komo neng mah osok ngabantosan ibu wae." Ucap Ibu Lia sambil tersenyum dan menyerahkan belanjaan ku.
"Iya ampun masih aja di bahas ibu! Iya udah iya Bu, saya pulang dulu." Ucap ku pamit.
"Iya neng hati-hati." Ucap Ibu Lia ramah.
Ibu Lia ini harus berjuang sendiri demi kebutuhan sehari-hari, karena suaminya mengalami kelumpuhan. Dulu Ibu Lia berjualan keliling sambil menggendong anaknya yang masih bayi.
Karena aku tidak tega melihatnya, aku pun menawarkan bantuan. Dengan memberikan modal usaha, sehingga Ibu Lia bisa berjualan di depan rumah seperti sekarang ini.
Awalnya beliau menolak, namun aku terus memaksa dan akhirnya beliau mau menerima dengan syarat akan di kembalikan dengan mencicilnya hingga lunas.
Mau tidak mau aku menyetujuinya, karena Ibu Lia ini orang yang pekerja keras dan tidak mau dikasihani orang. Hingga sekarang bisa berjualan nasi uduk di pagi hari dan masakan rumahan di siang hingga sore hari.
"Assalamualaikum." Ucap salam ku.
"Wa'alaikum salam, dek! Ayo cepetan dek, udah siang ini. Mas nanti terlambat." Ucap Mas Tio.
"Iya mas." Jawab ku sambil berjalan mengambil piring dan gelas, kemudian menyiapkannya di meja makan.
"Ini mas, ngomong-ngomong ibu ke mana mas?" Tanya ku penasaran.
"Mas juga ga tau, di telpon ternyata bunyi nya ada dikamar. Berarti ibu ga bawa handphone." Ucap Mas Tio sambil memakan nasi uduk.
"Mungkin lagi belanja ke tukang sayur, mas." Ucap ku bohong, karena tadi aku melihat ibu-ibu sedang mengerumuni tukang sayur keliling, tetapi tidak ada ibu mertua ku.
"Iya udah cepetan makannya dek!" Ucap Mas Tio.
"Iya mas." Jawab ku singkat, sambil memakan nasi uduk.
"Mas udah selesai dek! Kamu udah selesai belum?" Ucap Mas Tio sambil membersihkan sisa makanan di mulutnya.
"Aku juga udah mas! Aku bereskan ini dulu iya." Ucapku sambil membereskan meja makan dan menyimpannya didapur.
"Ayo mas kita berangkat." Ajak ku, sambil menghampiri Mas Tio.
"Ayo dek." Ucap Mas Tio sambil berjalan keluar rumah.
"Tapi mas, ini rumah gimana? Kan ibu ngga ada! Terus kita kunci atau gimana? Takutnya ibu ngga bawa kunci." Tanya ku bingung.
"Iya udah kunci aja, nanti simpen d bawah keset kuncinya." Ucap Mas Tio sambil menyalakan motor nya.
"Oke mas." Ucapku sambil mengunci pintu dan menyimpan di bawah keset, seperti perintah Mas Tio. Bergegas aku naik ke motor.
"Kita berangkat iya dek, bismillah." Ucap Mas Tio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Erni Sulistia
up lagi thor
2023-04-17
1