Ekhmmm. . . .
"Maaf iya Bu, sebelumnya. Bukannya ibu sendiri yang bilang ke Mas Tio, kalau selama ini yang beres-beres rumah dan masak itu ibu semua. Terus apa masalahnya? Kalau aku sekarang bangun siang? Apa ibu ga liat? Masa iya yang bangun siang udah rapih, wangi begini?" Ucap Nadira membela diri, dengan menunjukan badannya.
Mas Tio dan Ibu Mertua pun sontak langsung memandang Nadira, dari atas hingga bawah dan benar. Nadira sudah rapih dengan stelan kerja, membuat mereka bertanya-tanya.
"Kamu mau ke mana jam segini udah rapi?" Tanya Mas Tio penasaran.
"Mau ngelamar kerja." Jawab Nadira dengan senyum semangat.
"APAAA. . . MELAMAR KERJA?" Teriak Mas Tio dan Ibu Mertua terkejut.
"Iya, emang kenapa?" Tanya Nadira polos.
"Enak aja! Gak . . . Gak. . . Kamu ga boleh nyari kerja!" Ucap Ibu Mertua tidak terima.
"Loh, ko gitu Bu?" Tanya Nadira polos.
"Iya udah Bu, biarin aja dia kerja. Lagian biar ibu sama Nadira ga berantem mulu, dia juga biar ada kegiatan. Jangan main hp mulu." Ucap Mas Tio menyindir aku ceritanya. Hihihi. . .
"Tapi Tio. . ." Ucapan Ibu Mertua terpotong oleh Nadira.
"Bener itu Bu, biar aku ga main hp aja. Mending aku nyari kerja, bisa dapet uang pula. Iya kan mas?" Ucap Nadira dengan senyum mengejek.
"Diem kamu! Ibu ga ngomong sama kamu!" Ucap Ibu Mertua marah.
"Udah ga perlu di bahas lagi! Sekarang Mas mau siap-siap kerja!" Ucap Mas Tio tegas.
"Bu, kalau sarapan udah siap panggil kami iya." Ucap Nadira dengan senyum kemenangan, sambil mengedipkan mata.
Mereka pun ke kamar, meninggalkan Ibu Mertua yang terlihat sangat kesal dengan apa yang didengar tadi.
"Gak. . Gak. . Dia ga boleh nyari kerja, aku harus mikirin caranya. Kalau sampe dia kerja, yang ngurus rumah ini siapa? Masa aku?" Kesal Ibu Mertua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju.
"Enak aja dia mau kerja! Rumah siapa yang mau beresin? Ini lagi mana harus masak sarapan!" Kesal Ibu Mertua, sambil membuka kulkas.
Membersihkan rumah dan memasak semua aku yang mengerjakan sendiri, tidak pernah satu kali pun ibu membantu. Ibu hanya akan mencari celah kesalahan ku, kemudian mengajukan ke Mas Tio.
Tetapi ibu selalu mengatakan bahwa aku seharian di rumah main handphone, tanpa mau membantu ibu yang cape mengurus rumah.
Setiap hari selalu saja ada ulah yang ibu lakukan. Mulai dari baju ibu yang terkadang katanya kurang bersih, masakan yang ga enak atau lantai yang belum bersih dan masih banyak lagi ulah yang ibu lakukan setiap hari nya.
Jangan kan untuk memainkan handphone, untuk makan tepat waktu pun aku terkadang lupa. Karna selalu saja ada celah untuk ibu mencari masalah dengan ku.
"Apaan ini! Cuman ada kaya ginian doang di kulkas? Sial banget! Iya udahlah masak yang gampang aja." Ucap Ibu Mertua dengan mengeluarkan 2 butir telur dalam kulkas.
"Yang penting sarapan buat aku dan anak ku, biar aja si mandul itu masak sendiri! Enak aja mau makan masakan ku!" Kesal Ibu Mertua, sambil memanaskan wajan dan mulai membuat sarapan 'Telor Ceplok'.
Di kamar. . .
Setelah mengerjain ibu mertua, aku pun mengikuti Mas Tio ke dalam kamar. Dan aku mengajak Mas Tio untuk berbicara sebentar.
"Mas. . ."Panggil Nadira.
"Ada apa?" Tanya Mas Tio.
"Beneran kamu izinin aku kerja mas?" Tanya Nadira pelan.
"Iya aku izinkan, dari pada kamu dirumah terus! Ribut lagi ribut lagi sama ibu. Pusing Mas dengernya." Keluh Mas Tio.
"Iya mas, aku kan selama ini hanya membela diri. Makasih iya mas udah izinin aku kerja." Ucap Nadira sambil bergelayut manja di lengan Mas Tio.
"Oh iya mas, kemaren itu gimana ceritanya? Ko Mas bisa ketemu ibu di jalan? Dan kata Mas ibu kecopetan?" Tanya Nadira penasaran.
"Iya kemaren waktu mas pulang, mas ga sengaja liat ibu lagi jalan kaki sambil nendangin batu. Mas samperin, dan bener aja itu ibu. Tiba-tiba ibu nangis kejer, katanya ibu abis kecopetan jadi pulang jalan kaki. Hp dan semua yang ada di tas ibu di ambil semua sama pencopet." Jelas Mas Tio.
"Ya Allah, tapi ibu ga kenapa-kenapa kan mas? Ada yang luka ga?" Tanya Nadira panik.
"Alhamdulillah ibu baik-baik aja, itu yang bikin Mas kemaren sampe emosi. Takut kalau sampe ibu kenapa-kenapa gimana?" Ucap Mas Tio.
"Aku minta maaf iya, udah lalai jaga ibu. Terus mas udah urus ke kantor polisi?" Tanya Nadira lagi.
"Belum." Ucap Mas Tio singkat.
"Loh ko belum mas? Gimana nanti kalau KTP atau identitas ibu lain nya di pake uang ga bener mas?" Tanya Nadira bingung.
"Ibu ngga mau di ajak ke kantor polisi, katanya ibu masih syok dan minta cepetan pulang." Jelas Mas Tio.
"Iya udah lah iya, Mas. Yang penting ibu baik-baik aja." Ucap Nabila lembut.
"Iya kamu bener, sekarang kita siap-siap iya." Ucap Mas Tio sambil mengelus rambutku.
"Oh iya. . . Kamu ada rencana mau ngelamar di mana?" Tanya Mas Tio.
"Rencananya mau ngelamar di tempat kerja aku dulu Mas, kebetulan Direktur nya masih Ibu Selva atasan aku dulu." Ucap Nadira semangat.
"Iya udah semoga aja kamu keterima iya." Do'a tulus Mas Tio.
"Aamiin. . ." Jawab Nadira sambil menggandeng tangan Mas Tio untuk keluar menuju meja makan.
Dan betapa terkejutnya kami, saat melihat meja makan. Hanya ada 2 telor ceplok yg agak gosong, nasi putih sisa kemaren dan air putih.
Tampak sekali berbeda saat aku yang menyiapkan sarapan biasanya. Ingin rasanya aku tertawaan, namun ku tahan.
"Ayo, Mas. Sarapan dulu, ibu udah nyiapin sarapan itu!" Ucap Nadira menahan tawa, kulihat Mas Tio mengerutkan kening nya.
'hahaha. . . Lihat kan Mas, ini baru permulaan. Kita lihat selanjutnya!" Ucap Nadira puas.
"Ayo Tio, kita makan. Maaf iya cuman seadanya, soalnya di kulkas udah ga ada apa-apa. Maklum lah istri mu kan males banget belanja ke pasar." Ucap Ibu Mertua dengan senyum terpaksa, sambil memandang tajam padaku.
"Apa ini Bu?" Tanya Mas Tio heran, dengan masakan yang ada.
"Kan Ibu udah bilang di kulkas kan ga ada bahan makan, cuman ada telor doang 2. Iya udah ibu masak aja. Beras juga udah abis, itu istri mu ga ngasih ibu uang belanja. Jadi ibu ga bisa deh masakin kamu kaya biasanya." Jelas Ibu Mertua percaya diri.
'APAA?? Ga ada apa-apa kata ibu? Sayuran di kulkas masih banyak, aku kan selalu stok 1 Minggu, belum lagi beras 1 karung gede aku beli awal bulan, masa udah abis?' Nadira tak habis pikir dengan ucapan ibu mertua nya.
"Masa Bu? Semalem Tio buka kulkas isi nya banyak ko Bu! Beras juga banyak ko, Tio yang beli awal bulan kemaren. Ga mungkin kan tanggal segini udah abis?" Bingung Mas Tio.
"Eh. . . Itu. . Anu. . . Tio." Gelagapan Ibu Mertua bingung menjawabnya.
"Aku kan selalu stok sayuran buat 1 Minggu Bu di kulkas, dan baru 2 hari lalu aku stok loh Bu. Masa udah abis aja?" Tanya Nadira polos.
"Sayuran yang kamu beli itu jelek-jelek tau, makanya nurut ke ibu. Kan ibu udah bilang belinya di pasar, biar masih seger dan bagus. Jadi kan sayang sayurannya ga pada ke pake, mubazir deh! Ucap Ibu Mertua melotot pada ku.
"SUDAH CUKUP. . . Duduk, kita sarapan!" Ucap Mas Tio kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments