Bab IX

Melihat Selva dan Dian berdebat, menjadi hiburan tersendiri untuk Nadira. Setidaknya bisa mengurangi beban pikiran yang di rasakan.

"Haha. . . Ya ampun kalian itu lucu banget. Haha. . . Mba ga kebayang, selama ini kalian pasti cekcok mulu? Haha. ." Tawa Nadira puas, sambil memegang perutnya.

"Lah ini masih aja ketawa! Belum puas mba?" Tanya Selva menggelengkan kepala.

"Iya maaf, ini udah berhenti ko ketawanya." Ucap Nadira di sisa tawanya.

Ekhmm. . .

"Oke kita mulai serius iya." Ucap Nadira serius.

Saat akan berbicara dengan serius, tiba-tiba OB yang di perintahkan untuk membeli makan datang, membawa pesanan kami. Sehingga kami memutuskan untuk makan siang dulu.

Tok . . . Tok. . . Tok. . .

"Ampun, ada aja yang ganggu!" Ucap Selva kesal.

"Hahaha. . ." Tawa Nadira kembali pecah, melihat ekspresi Selva yang kesal.

"MASUK." Teriak Selva.

Ceklek. . .

"Permisi Bu, ini saya mengantarkan pesanan ibu. Mohon maaf lama, tadi motor saya mogok. Jadi lama belinya Bu." Jelas sang OB yang bernama Pak Heru dengan ketakutan.

Pak Heru adalah OB senior di Perusahaan ini, sudah bekerja semenjak Perusahaan pertama kali di bangun. Pak Heru memiliki seorang anak yang memiliki penyakit jantung lemah dan sang istri telah meninggal.

"Iya ga apa-apa, tolong kamu tata di meja." Ucap Selva santai.

"Baik Bu." Ucap sang OB, sambil membuka bungkusan makanan yang dibawanya.

"Sudah selesai Bu, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sang OB.

"Iya." Jawab Selva singkat.

"Tunggu." Ucap Nadira menahan OB itu keluar, Selva yang melihatnya hanya menaikan sebelah alisnya dengan bingung.

"Ini ada sedikit rejeki, bisa buat benerin motor kamu iya." Ucap Nadir tulus, dengan memberikan amplop kepada OB tersebut.

Yang membuat Selva mau untuk bekerja di Perusahaan Nadira, karena sejak dulu Selva selalu mengagumi Nadira yang memiliki hati yang baik, dermawan, dan tidak pernah membedakan orang kaya ataupun miskin.

Hal itu yang membuat Selva mau dan betah bekerja dengan Nadira. Karena Nadira tidak pernah menuntutnya untuk melakukan hal yang tidak dia suka. Tetapi membuat berbagai macam cara, untuk Selva belajar menjadi mandiri hingga sekarang.

"Ngga perlu Bu, terimakasih. Saya. . " Tolak sang OB, namun di potong Nadira.

"Saya tidak menerima penolakan, ambil uang ini dan kembali bekerja!" Perintah Nadira dengan memasukan amplop kedalam saku baju sang OB.

"Tapi Bu, saya. ." Ucap sang OB dengan mata berkaca-kaca.

"Ambil uang itu dan kembali kerja!" Perintah Selva.

"B-baik Bu. Terimakasih banyak, semoga Allah membalas dengan berkali lipat." Do'a sang OB tulus.

'Terimakasih ya Allah, ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Berikanlah kebahagiaan untuk mereka.' Do'a tulus OB dalam hati.

"Aamiin." Ucap Nadira dengan tersenyum.

"Saya permisi dulu Bu." Pamit sang OB dengan mata yang sudah mengalir.

"Silahkan." Ucap Nadira.

Setelah OB keluar. . .

"Yuk kita makan dulu mba, laper banget tau." Ucap Selva.

"Oke." Ucap Nadira, kemudiaan mereka pun makan siang dan melaksanakan shalat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah selesai.

"Jadi ada angin apa mba pengen balik ngantor?" Tanya Selva bingung.

"Pusing mba sama mertua! Bikin masalah mulu tiap hari. Mana Mas Tio udah mulai ga percayaan sama mba, ah. . . Pusing mba!" Keluh Nadira.

"Emang gimana sih ceritanya? Sampe bikin mba aku yang penyabar ini kesel? Ayo dong cerita." Desak Selva ingin tahu.

Kemudian Nadira pun menceritakan semua yang terjadi pada nya, dari awal menikah ibu mertua yang ikutan tinggal di rumah mereka sampai uang bulanan yang sekarang di atur mertua.

"WHAATTTT. . . Gila banget tuh mertua mba! Harus dikasih pelajaran tuh mba! Enak aja mba aku yang baik ini di gituin, liat aja nanti aku balas dia mba." Ucap Selva marah mendengar cerita ku.

"Gak perlu, biar itu jadi urusan mba. Lagian mba juga udah cape sama sikap mereka, makanya mba akan turutin semua perkataan Ibu Mertua mba itu." Ucap Nadira sambil menaik turunkan alis nya.

"Maksudnya gimana mba?" Tanya Selva bingung.

"Kan mertua mba selalu bilang mba males-malesan di rumah, ga mau masak, ga mau beresin rumah. Iya udah mulai sekarang mba akan lakuin ucapan Ibu Mertua mba. Biar ngga di fitnah terus, mending kita buat menjadi kenyataan." Ucap Nadira sambil menaik turunkan alis.

"Wah. . . Wah. . . Wah. . . Setujuuuuu. . . Bener tuh mba. Dari pada di fitnah terus, mending kita buat jadi kenyataan. Siiippp deh mba emang paling TOPPP. . . !" Seru Selva bangga sambil mengacungkan jempol tangannya.

"Jadi mba mulai sekarang bakalan masuk kantor lagi, lagian di rumah mulu bikin mba stress. Mending di sini, sambil ngawasin kamu. Iya ga?" Goda Nadira.

"Waduh. . ." Ucap Selva sambil menepuk keningnya.

"Alamat ga bisa shopping sesuka hati lagi." Keluh Selva dengan muka memelas.

"Hahaha. . . Iya iyalah, waktu kerja iya harus kerja dong cantik. Enak aja kamu makan gaji buta." Ucap Nadira sambil terkekeh.

"Gini aja deh, aku punya saran. Mba kan bosen iya dirumah, mending mba shopping atau treatment aja di salon. Tenang aku temenin ko mba." Nego Selva dengan mata berbinar.

"Mmm. . . Sepertinya itu ide bagus." Setuju Nadira sambil memegang dagunya, sambil berpikir.

"Iya kan? Dari pada mba duduk diem di kantor, mending kita perawatan terus shopping deh. Biar makin kinclong dan cetarrr. ." Ucap Selva dengan semangat dan senyum yang mengembang.

"Iya. . . Tapi lain kali. . . Hahaha. . ." Ucap Nadira sambil tertawa mengejek.

"Yah. . . Masa lain kali mba? Ga kasian apa? Aku udah cape beres-beres ruangan, muka udah kucel. Boleh lah kita ke salon dulu." Rayu Selva dengan memelas.

"NO. . . Sana kembali bekerja! Itu sih salah sendiri! Ruangan bukannya di bersihin, malah di berantakin." Ucap kesal Nadira.

"Tapi mba. . ." Selva memelas.

"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kerja!" Titah Nadira sambil mendorong badan Selva menuju meja kerja.

"Lah terus kalau aku kerja, mba ngapain di sini? Kata nya mau ngantor lagi? Iya udah mba aja yang ngerjain semuanya." Ucap Selva lemas.

"Terus kalau mba yang ngerjain semuanya, kamu mau ngapain?" Tanya Nadira.

"Iya tidur lah." Ucap Selva cengengesan.

"Enak aja kamu mau makan gaji buta, udah sana kerja. Lagian sejak kapan mba ga pernah kerja? Kamu lupa? Setiap hari mba cek semua laporan yang masuk ke email mba, kalau mba ACC. Kalian baru ngerjain, iya kan?" Tanya Nadira.

Setiap hari Nadira bekerja secara online, mengecek semua laporan yang masuk ke email. Terkadang melakukan zoom dengan Petinggi Perusahaan. Itulah sebabnya Nadira Sering berada di dalam kamar, yang menimbulkan pikiran negatif dari Ibu Mertua.

"Hehehe. . Iya kali aja gitu mba mau gantiin aku dulu, 1 hari aja. . .eh ngga deng 1 Minggu mba, iya bener. . . 1 Minggu aja mba." Ucap Selva sambil muka memelas.

"Ngga ada iya, udah sana cepet kerjain semuanya." Titah Nadira.

"Iya deh iya." Ucap Selva tidak bersemangat.

Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Hingga terdengar dering telpon.

Mas Tio Call. . .

[Assalamualaikum, Mas.] Salam Nadira senang.

[Wa'alaikum salam, dek. Maaf mas baru telpon kamu, tadi mas ada meeting.] Jelas Mas Tio.

"Iya ga apa-apa mas. Mas udah makan siang?" Tanya Nadira.

[Udah tadi, selesai meeting langsung makan siang bersama. Kamu sendiri udah makan siang?] Tanya Mas Tio balik.

[Aku juga udah ko mas. Oh iya mas, aku udah mulai kerja lagi hari ini.] Ucap Nadira memberi tahu suaminya.

'Mulai kerja apaan? Orang cuman duduk-duduk sambil main HP.' Cibir Selva.

[Wah hebat kamu, dek. Baru ngelamar udah langsung kerja aja.] Bangga Mas Tio.

[Iya, Mas. Alhamdulillah aku langsung keterima lagi, katanya pas banget ada yang keluar. Jadi aku diminta langsung kerja.] Terang Nadira pada Mas Tio.

'Iya gimana ga di terima? Lah. . Wong ini kantor punya dia. Yang ada aku di pecat kalau nolak. Nasib. . Nasib. .' keluh Selva dalam hati.

[Syukur kalau gitu, dek. Biar kamu ada kesibukan dan ga berantem terus sama ibu.] Ucap Mas Tio senang.

[Iya, Mas. Oh iya, Mas Tio nanti ga perlu jemput iya! Soalnya aku banyak kerjaan, maklum harus menyesuaikan lagi. Banyak yang harus aku pelajari lagi, mas. Ga apa-apa kan kalau aku pulang telat?] Tanya Nadira menjelaskan dengan hati-hati.

'Punya rencana apa lagi nih orang?' Pikir Selva dalam hati, sambil melirik Nadira.

[Iya, mas ngerti ko. Iya udah kamu lanjutin kerjanya, mas juga mau lanjut kerja. Kamu hati-hati iya! Kalau perlu di jemput kabari mas.] Ucap Mas Tio.

[Siap, mas juga nanti hati-hati iya. Semangat kerja nya, assalamualaikum.] Ucap Nadira.

[Wa'alaikum salam.]Jawab Mas Tio sambil mematikan telpon.

Episodes
1 Bab I
2 Bab II
3 Bab III
4 Bab IV
5 Bab V
6 Bab VI
7 Bab VII
8 Bab VIII
9 Bab IX
10 Bab X
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Bab I
2
Bab II
3
Bab III
4
Bab IV
5
Bab V
6
Bab VI
7
Bab VII
8
Bab VIII
9
Bab IX
10
Bab X
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!