Melihat Selva dan Dian berdebat, menjadi hiburan tersendiri untuk Nadira. Setidaknya bisa mengurangi beban pikiran yang di rasakan.
"Haha. . . Ya ampun kalian itu lucu banget. Haha. . . Mba ga kebayang, selama ini kalian pasti cekcok mulu? Haha. ." Tawa Nadira puas, sambil memegang perutnya.
"Lah ini masih aja ketawa! Belum puas mba?" Tanya Selva menggelengkan kepala.
"Iya maaf, ini udah berhenti ko ketawanya." Ucap Nadira di sisa tawanya.
Ekhmm. . .
"Oke kita mulai serius iya." Ucap Nadira serius.
Saat akan berbicara dengan serius, tiba-tiba OB yang di perintahkan untuk membeli makan datang, membawa pesanan kami. Sehingga kami memutuskan untuk makan siang dulu.
Tok . . . Tok. . . Tok. . .
"Ampun, ada aja yang ganggu!" Ucap Selva kesal.
"Hahaha. . ." Tawa Nadira kembali pecah, melihat ekspresi Selva yang kesal.
"MASUK." Teriak Selva.
Ceklek. . .
"Permisi Bu, ini saya mengantarkan pesanan ibu. Mohon maaf lama, tadi motor saya mogok. Jadi lama belinya Bu." Jelas sang OB yang bernama Pak Heru dengan ketakutan.
Pak Heru adalah OB senior di Perusahaan ini, sudah bekerja semenjak Perusahaan pertama kali di bangun. Pak Heru memiliki seorang anak yang memiliki penyakit jantung lemah dan sang istri telah meninggal.
"Iya ga apa-apa, tolong kamu tata di meja." Ucap Selva santai.
"Baik Bu." Ucap sang OB, sambil membuka bungkusan makanan yang dibawanya.
"Sudah selesai Bu, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sang OB.
"Iya." Jawab Selva singkat.
"Tunggu." Ucap Nadira menahan OB itu keluar, Selva yang melihatnya hanya menaikan sebelah alisnya dengan bingung.
"Ini ada sedikit rejeki, bisa buat benerin motor kamu iya." Ucap Nadir tulus, dengan memberikan amplop kepada OB tersebut.
Yang membuat Selva mau untuk bekerja di Perusahaan Nadira, karena sejak dulu Selva selalu mengagumi Nadira yang memiliki hati yang baik, dermawan, dan tidak pernah membedakan orang kaya ataupun miskin.
Hal itu yang membuat Selva mau dan betah bekerja dengan Nadira. Karena Nadira tidak pernah menuntutnya untuk melakukan hal yang tidak dia suka. Tetapi membuat berbagai macam cara, untuk Selva belajar menjadi mandiri hingga sekarang.
"Ngga perlu Bu, terimakasih. Saya. . " Tolak sang OB, namun di potong Nadira.
"Saya tidak menerima penolakan, ambil uang ini dan kembali bekerja!" Perintah Nadira dengan memasukan amplop kedalam saku baju sang OB.
"Tapi Bu, saya. ." Ucap sang OB dengan mata berkaca-kaca.
"Ambil uang itu dan kembali kerja!" Perintah Selva.
"B-baik Bu. Terimakasih banyak, semoga Allah membalas dengan berkali lipat." Do'a sang OB tulus.
'Terimakasih ya Allah, ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Berikanlah kebahagiaan untuk mereka.' Do'a tulus OB dalam hati.
"Aamiin." Ucap Nadira dengan tersenyum.
"Saya permisi dulu Bu." Pamit sang OB dengan mata yang sudah mengalir.
"Silahkan." Ucap Nadira.
Setelah OB keluar. . .
"Yuk kita makan dulu mba, laper banget tau." Ucap Selva.
"Oke." Ucap Nadira, kemudiaan mereka pun makan siang dan melaksanakan shalat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah selesai.
"Jadi ada angin apa mba pengen balik ngantor?" Tanya Selva bingung.
"Pusing mba sama mertua! Bikin masalah mulu tiap hari. Mana Mas Tio udah mulai ga percayaan sama mba, ah. . . Pusing mba!" Keluh Nadira.
"Emang gimana sih ceritanya? Sampe bikin mba aku yang penyabar ini kesel? Ayo dong cerita." Desak Selva ingin tahu.
Kemudian Nadira pun menceritakan semua yang terjadi pada nya, dari awal menikah ibu mertua yang ikutan tinggal di rumah mereka sampai uang bulanan yang sekarang di atur mertua.
"WHAATTTT. . . Gila banget tuh mertua mba! Harus dikasih pelajaran tuh mba! Enak aja mba aku yang baik ini di gituin, liat aja nanti aku balas dia mba." Ucap Selva marah mendengar cerita ku.
"Gak perlu, biar itu jadi urusan mba. Lagian mba juga udah cape sama sikap mereka, makanya mba akan turutin semua perkataan Ibu Mertua mba itu." Ucap Nadira sambil menaik turunkan alis nya.
"Maksudnya gimana mba?" Tanya Selva bingung.
"Kan mertua mba selalu bilang mba males-malesan di rumah, ga mau masak, ga mau beresin rumah. Iya udah mulai sekarang mba akan lakuin ucapan Ibu Mertua mba. Biar ngga di fitnah terus, mending kita buat menjadi kenyataan." Ucap Nadira sambil menaik turunkan alis.
"Wah. . . Wah. . . Wah. . . Setujuuuuu. . . Bener tuh mba. Dari pada di fitnah terus, mending kita buat jadi kenyataan. Siiippp deh mba emang paling TOPPP. . . !" Seru Selva bangga sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Jadi mba mulai sekarang bakalan masuk kantor lagi, lagian di rumah mulu bikin mba stress. Mending di sini, sambil ngawasin kamu. Iya ga?" Goda Nadira.
"Waduh. . ." Ucap Selva sambil menepuk keningnya.
"Alamat ga bisa shopping sesuka hati lagi." Keluh Selva dengan muka memelas.
"Hahaha. . . Iya iyalah, waktu kerja iya harus kerja dong cantik. Enak aja kamu makan gaji buta." Ucap Nadira sambil terkekeh.
"Gini aja deh, aku punya saran. Mba kan bosen iya dirumah, mending mba shopping atau treatment aja di salon. Tenang aku temenin ko mba." Nego Selva dengan mata berbinar.
"Mmm. . . Sepertinya itu ide bagus." Setuju Nadira sambil memegang dagunya, sambil berpikir.
"Iya kan? Dari pada mba duduk diem di kantor, mending kita perawatan terus shopping deh. Biar makin kinclong dan cetarrr. ." Ucap Selva dengan semangat dan senyum yang mengembang.
"Iya. . . Tapi lain kali. . . Hahaha. . ." Ucap Nadira sambil tertawa mengejek.
"Yah. . . Masa lain kali mba? Ga kasian apa? Aku udah cape beres-beres ruangan, muka udah kucel. Boleh lah kita ke salon dulu." Rayu Selva dengan memelas.
"NO. . . Sana kembali bekerja! Itu sih salah sendiri! Ruangan bukannya di bersihin, malah di berantakin." Ucap kesal Nadira.
"Tapi mba. . ." Selva memelas.
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kerja!" Titah Nadira sambil mendorong badan Selva menuju meja kerja.
"Lah terus kalau aku kerja, mba ngapain di sini? Kata nya mau ngantor lagi? Iya udah mba aja yang ngerjain semuanya." Ucap Selva lemas.
"Terus kalau mba yang ngerjain semuanya, kamu mau ngapain?" Tanya Nadira.
"Iya tidur lah." Ucap Selva cengengesan.
"Enak aja kamu mau makan gaji buta, udah sana kerja. Lagian sejak kapan mba ga pernah kerja? Kamu lupa? Setiap hari mba cek semua laporan yang masuk ke email mba, kalau mba ACC. Kalian baru ngerjain, iya kan?" Tanya Nadira.
Setiap hari Nadira bekerja secara online, mengecek semua laporan yang masuk ke email. Terkadang melakukan zoom dengan Petinggi Perusahaan. Itulah sebabnya Nadira Sering berada di dalam kamar, yang menimbulkan pikiran negatif dari Ibu Mertua.
"Hehehe. . Iya kali aja gitu mba mau gantiin aku dulu, 1 hari aja. . .eh ngga deng 1 Minggu mba, iya bener. . . 1 Minggu aja mba." Ucap Selva sambil muka memelas.
"Ngga ada iya, udah sana cepet kerjain semuanya." Titah Nadira.
"Iya deh iya." Ucap Selva tidak bersemangat.
Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Hingga terdengar dering telpon.
Mas Tio Call. . .
[Assalamualaikum, Mas.] Salam Nadira senang.
[Wa'alaikum salam, dek. Maaf mas baru telpon kamu, tadi mas ada meeting.] Jelas Mas Tio.
"Iya ga apa-apa mas. Mas udah makan siang?" Tanya Nadira.
[Udah tadi, selesai meeting langsung makan siang bersama. Kamu sendiri udah makan siang?] Tanya Mas Tio balik.
[Aku juga udah ko mas. Oh iya mas, aku udah mulai kerja lagi hari ini.] Ucap Nadira memberi tahu suaminya.
'Mulai kerja apaan? Orang cuman duduk-duduk sambil main HP.' Cibir Selva.
[Wah hebat kamu, dek. Baru ngelamar udah langsung kerja aja.] Bangga Mas Tio.
[Iya, Mas. Alhamdulillah aku langsung keterima lagi, katanya pas banget ada yang keluar. Jadi aku diminta langsung kerja.] Terang Nadira pada Mas Tio.
'Iya gimana ga di terima? Lah. . Wong ini kantor punya dia. Yang ada aku di pecat kalau nolak. Nasib. . Nasib. .' keluh Selva dalam hati.
[Syukur kalau gitu, dek. Biar kamu ada kesibukan dan ga berantem terus sama ibu.] Ucap Mas Tio senang.
[Iya, Mas. Oh iya, Mas Tio nanti ga perlu jemput iya! Soalnya aku banyak kerjaan, maklum harus menyesuaikan lagi. Banyak yang harus aku pelajari lagi, mas. Ga apa-apa kan kalau aku pulang telat?] Tanya Nadira menjelaskan dengan hati-hati.
'Punya rencana apa lagi nih orang?' Pikir Selva dalam hati, sambil melirik Nadira.
[Iya, mas ngerti ko. Iya udah kamu lanjutin kerjanya, mas juga mau lanjut kerja. Kamu hati-hati iya! Kalau perlu di jemput kabari mas.] Ucap Mas Tio.
[Siap, mas juga nanti hati-hati iya. Semangat kerja nya, assalamualaikum.] Ucap Nadira.
[Wa'alaikum salam.]Jawab Mas Tio sambil mematikan telpon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments