Ceklek. . .
"Assalamualaikum." Ucap salam ku, yang tidak ada yang menjawab.
Tidak seperti biasanya rumah terasa sunyi, tidak ada tanda-tanda orang di rumah. Tapi saat aku melihat jam dinding, sudah pukul 18.30 artinya Ibu dan Mas Tio pasti ada di rumah.
Kulangkah kan kaki ku menuju kamar, namun saat aku memegang pegangan pintu. Aku pun menghentikan langkah kaki ku, saat mendengar Mas Tio sedang berbicara di telpon dengan seseorang.
[Iya sayang, nanti Mas main lagi ke rumah kamu. Kamu tau sendiri kan, Mas harus jagain ibu yang lagi sakit. Kamu harap maklum iya sayang, nanti pasti Mas ke sana.] Ucap Mas Tio lembut kepada seseorang di telpon.
[ . . . ]
[Kamu tenang aja, kalau Ibu udah sehat. Mas pasti ajak Ibu ketemu kamu dan keluarga kamu. Kamu do'ain aja iya, supaya Ibu segera sembuh. Jadi Mas bisa segera melamar kamu.] Ucap Mas Tio lembut.
'Astagfirullah, apa maksudnya ini? Siapa yang Mas Tio panggil sayang? Melamar? Siapa yang mau Mas Tio lamar?' Ucap ku dalam hati, dengan air mata yang mengalir di pipiku.
Kaki ku terasa lemas, hingga aku terduduk di depan pintu kamar. Aku pun sudah tak sanggup lagi, untuk mendengar percakapan mereka.
'Tega kamu Mas! Apa salah ku sampai kamu berbuat seperti ini padaku? Astaghfirullah, ya Allah kuatkan hamba.' Ucap ku dalam hati dengan terus menangis tanpa suara.
Setelah beberapa saat aku mulai tenang dan tak sengaja ku mendengar Mas Tio mau mengakhiri panggilan telpon nya. Bergegas aku hapus air mata ku, dan berusaha bangkit.
Ceklek. . .
Tepat seperti dugaan ku, Mas Tio selesai menelpon dan membuka pintu. Dia tampak terkejut melihat ku dan aku pun berpura-pura tidak mendengar pembicaraan nya.
"D-dek. . . Kamu udah pulang?" Tanya Mas Tio gelagapan.
"Iya Mas, maaf iya aku pulangnya telat. Tadi lagi banyak kerjaan." Ucap ku tersenyum paksa.
"Hmm. . . Kamu udah dari tadi pulangnya dek?" Tanya Mas Tio gugup.
"Ngga ko Mas, aku baru aja nyampe. Mau buka pintu kamar, eh. . Mas udah keburu buka pintu duluan." Ucap ku bohong dan kulihat Mas Tio tampak menarik napas lega.
"Syukur kalau begitu. Eh. . . Maksud Mas, syukur kalau kamu udah pulang. Iya udah sana kamu bersih-bersih dulu, nanti kita makan malam." Ucap Mas Tio.
"Oke Mas, aku bersih-bersih dulu iya." Ucap ku sambil melangkah masuk ke dalam kamar dan segera ku tutup.
Tak sanggup berpura-pura kuat, akhirnya aku pun terduduk kembali di balik pintu. Aku pun terisak menangis tanpa suara, meratapi nasib pernikahan ku ini.
"Ternyata ini yang membuat kamu berubah Mas, kamu punya wanita lain di belakang ku." Ucap ku lirih dengan air mata yang mengalir di pipi ku.
"Apa karena aku belum hamil? Sampai kamu menduakan ku? Aku juga ingin hamil Mas!" Ucap ku lirih, aku menangis dalam diam. Tak lama handphone ku berdering menandakan telpon masuk.
. . . MAMA CALL . . .
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
Ku tarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum mengangkat telpon ini. Setelah dirasa cukup tenang, baru aku berani mengangkat telpon.
[Assalamualaikum, sayang.] Ucap Mama.
[Wa'alaikum salam, mah.] Jawab ku, berusaha agar tidak menangis mendengar suara Mama.
[Kamu baik-baik sayang? Gimana kabar kamu? Udah lama kamu ngga pulang! Mama kangen!] Cecar Mama dengan berbagai pertanyaan.
[Satu-satu dong Mah, kalau mau nanya.] Aku pun terkekeh dengan kelakuan Mama yang tidak pernah berubah, selalu mengkhawatirkan anaknya.
[Iya ampun maaf sayang, Mama terlalu kangen sama kamu. Jadinya begini deh, hehe. . . ] Ucap Mama sambil tertawa.
[Maaf iya, Ma! Ade belum nengokin Mama dan Papa lagi!] Ucap ku sendu, karena sudah beberapa bulan ini aku tidak berkunjung ke rumah kedua orang tua ku.
Setiap aku ingin pergi ke rumah kedua orang tua ku, Mas Tio selalu banyak alasan agar aku tidak jadi pergi. Ntah apa yang terjadi, aku pun tidak tahu.
[Ngga apa-apa sayang, yang penting kamu sehat. Itu aja udah bikin Mama dan Papa seneng.] Ucap Mama lembut, rasanya ingin sekali aku menangis dan mencurahkan segala keluh kesah ku. Namun aku tak sanggup, jika harus melihat Mama terluka karena cerita ku.
[Alhamdulillah Ade baik-baik aja, Mama ngga usah khawatir iya. Mama sendiri gimana kabarnya? Jangan telat makan iya mah, harus jaga kesehatan. Insyaallah nanti Ade nengokin Mama dan Papa.] Ucap ku berusaha menghibur Mama.
[Tapi ko perasaan Mama itu ngga enak terus mikirin Ade! Beneran Ade baik-baik aja? Inget jangan bohong sama Mama, ayo jujur ada apa?] Desak Mama menanyakan yang terjadi pada ku.
Mungkin ikatan batin antara aku dan Mama sangat kuat, disaat aku sedih atau pun sakit. Mama selalu ikut merasakan nya, ingin rasanya aku berkata jujur. Namun aku takut membuat Mama khawatir, mungkin lebih baik aku menutupi masalah ku.
[Beneran Ade baik-baik aja, Ma. Ikh. . Ade nanya ngga di jawab?] Ucap ku pura-pura merajuk.
[Inget iya! Kalau ada apa-apa, langsung cerita ke Mama! Ngga boleh kamu simpan sendiri, kamu punya Mama untuk berbagi keluh kesah. Ingat iya sayang!] Ucap Mama lembut.
[Iya, Ma! Kalau ada apa-apa Ade pasti cerita. Sekarang jawab pertanyaan Ade yang tadi.] Ucap ku mengalihkan pembicaraan, aku sebenarnya sudah tidak sanggup untuk berbicara. Ingin rasanya aku menangis dan mengadu pada Mama. Namun, aku berusaha menahan nya.
[Hahaha. . . Dasar kamu ini! Alhamdulillah Mama dan Papa sehat sayang, kita cuman sedang rindu sama Pinguin di rumah ini.] Ucap Mama sambil tertawa pelan.
[Ikhh. . . Mama! Ade bukan Pinguin tau.] Ucap ku merajuk.
Dulu saat masih kecil aku suka sekali dengan hewan yang satu itu, Pinguin. Karena bentuk dan cara berjalannya yang lucu, aku pun berjalan mirip Pinguin. Apalagi dengan badan yang gempal, membuat aku di juluki 'Pinguin Kecil'.
[Hahaha. . . Iya sayang, kamu bukan 'Pinguin Kecil' kita lagi. Sekarang kan kamu Pinguin Besar. Hahaha. . .] Ucap Mama sambil tertawa dan terus memberikan candaannya padaku, untuk menghibur ku.
[Ah. . . Ade marah nih! Pokoknya Ade bukan Pinguin!] Ucap ku kesal, namun aku sedikit terhibur dengan candaan Mama.
[Hahaha. . . Iya maaf deh, Mama kan bercanda sayang.] Ucap Mama dengan sedikit terkekeh.
[Udah nih! Ade tutup telpon nya kalau Mama manggil Pinguin lagi!] Ucap ku pura-pura mengancam Mama.
[Hahaha. . . Jangan dong! Mama masih kangen tau!] Ucap Mama lembut.
[Abis nya Mama nyebelin deh.] Ucap ku merajuk.
[Aduh anak cantik Mama marah, maafin Mama iya sayang! Mama kan bercanda, udah dong jangan marah. Nanti cantiknya ilang loh!] Ucap Mama sedang merayu ku, agar tidak marah.
[Tapi bener loh iya? Jangan panggil Ade Pinguin lagi?] Ucap ku pura-pura kesal.
[Iya sayang! Kamu itu anak Mama yang paling cantik, yang paling baik sedunia deh!] Ucap Mama yang masih merayu ku.
[Iya . . . Iya lah aku kan anak perempuan Mama satu-satunya, Nadira gitu!] Ucap ku bangga sambil tertawa.
[Hahaha. . . Dasar pede banget iya kamu!] Ucap Mama sambil tertawa.
[Harus dong! Aku harus percaya diri, aku kan anak Mama!] Ucap ku terkekeh.
[Hahaha. . . Dasar kamu ini! Iya udah Mama tutup dulu telpon nya iya! Mama mau nemenin Papa makan malam dulu.] Ucap Mama.
[Ah. . Mama ngga seru deh!] Ucap ku kecewa.
[Hey! Ini udah jam berapa? Emang kamu ngga makan malam? Udah ah sana kamu makan malam! Mamah mau makan malam juga!] Ucap Mama.
[Hehehe. . . Iya, Ma! Iya udah Mama sama Papa sehat-sehat iya! Kalau ada apa-apa kabarin Ade iya! I love Mom!] Ucap ku .
[Pasti itu, Ade juga iya! Kalau ada apa-apa kabarin Mama dan Papa, jangan di Pendem sendiri oke! I love my princess! Assalamualaikum] Ucap Mama pamit .
[Wa'alaikum salam, Ma.] Ucap ku, kemudian aku mematikan telpon dan aku termenung memikirkan semua hal yang terjadi.
Ceklek. . .
"Kamu belum mandi juga? Ini udah malem! Mas kira kamu udah beres?" Tegur Mas Tio.
"Maaf Mas, tadi aku telponan sama Mama dulu. Ini baru beres telponan!" Ucap ku sambil menunjukan daftar panggilan masuk di handphone ku.
"Iya udah sana kamu mandi, terus makan. Mas sama ibu udah makan barusan!" Ucap Mas Tio.
"Iya Mas." Ucap ku, kemudian aku pun bergegas masuk kedalam kamar mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments