"Ini Tio kamu makan iya, walau pun cuman telur ceplok. Ibu jamin rasanya enak." Ucap Ibu Mertua bangga, sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Mas Tio.
Sedangkan aku hanya duduk diam, memperhatikan apa yang akan terjadi lagi.
"Dek, ini telur nya kita bagi 2 aja. Kamu harus sarapan dulu sebelum berangkat." Ucap lembut Mas Tio.
"Iya makasih, Mas." Jawab Nadira dengan senyum senang, walaupun Ibu Mertua nya melotot pada ku.
Kemudian Nadira membagi 2 telur itu, dan menambahkan nasi putih. Kemudian dia berikan kepada Mas Tio.
"Ini Mas." Ucap Nadira dengan menyerahkan piring Mas Tio.
"Makasih dek." Ucap Mas Tio, yang kemudian menyendok makanannya. Kemudian. .
HUUEEKK. . .
Begitu pun dengan Nadira. . .
HUUEEKK. . .
Keduanya bergegas membuang makanan yang tersisa di mulut mereka.
"APA-APAAN sih kalian ini, ga ngehargain masakan ibu. Kalau ga mau jangan kaya gitu, seenaknya aja muntah di depan ibu. Ga sopan banget kalian ini!" Marah Ibu Mertua.
"Ibu yang apa-apaan? Coba ibu makan sendiri telur yang ibu bikin?" Ucap kesal Mas Tio, sambil terus minum air putih.
"Orang telur nya enak gini. . ."Ucap Ibu Mertua terpotong karna menyuapkan telur ke dalam mulut nya.
HUUEEEKK. . .
"Gimana Bu? Enak iya telur nya?" Ledek Nadira sambil tersenyum menahan tawa.
"DIAM KAMU. . . Ini salah kamu! Harusnya kamu pagi-pagi nyiapin sarapan kaya biasanya! Jadi ibu ga perlu masuk dapur, mana mau ibu berurusan yang kaya beginian." Marah Ibu Mertua sambil keceplosan ngomong, kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
Kulihat Mas Tio terdiam, dengan kening berkerut.
Aku selalu yakin, jika segala perbuatan ada ganjarannya. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
Semoga cepat atau lambat, Mas Tio akan segera mengetahui yang sebenarnya. Karna ntah sampai kapan aku akan bisa bertahan seperti ini terus.
"Eh. . eh maksud ibu itu. . ."Ucap Ibu Mertua terbata-bata, sambil menggaruk leher belakangnya yang tak gatal.
"Tunggu. . . Tadi ibu bilang selama ini Nadira yang bikin sarapan? Tapi kemaren ibu bilang ibu yang bikin sarapan? Jadi ibu bohong?" Kesal Mas Tio.
"Eh. . . Bukan Tio. . . Itu Nadira dia tuker-tuker tempat bumbu. Ibu kan tadi buru-buru, jadi salah ngambil bumbu. Makanya makanannya ga enak." Ucap Ibu Mertua gelagapan, dengan muka merah menahan kesal."
"Bukannya selama ini ibu bilang yang masak itu ibu?" Tanya Mas Tio.
"Iya emang ibu yang masak ko, tadi ibu cuman salah ngomong aja. Maklum ibu kan lagi kesel, udah jangan di bahas lagi." Ucap Ibu Mertua mengalihkan pembicaraan.
"Jangan buat aku kecewa Bu. Ayo dek kita berangkat, Mas anterin kamu dulu." Ucap Mas Tio sambil berdiri meninggalkan meja makan dengan ekspresi muka yang bingung dan kecewa.
"Iya mas, aku bereskan meja dulu sebentar."" Ucap Nadira tersenyum senang.
"Jangan lama, mas tunggu didepan." Ucap Mas Tio sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Ada rasa senang saat ibu mertua sendiri yang membongkar sedikit demi sedikit kebohongan yang selama ini di ucapkan nya.
Setelah Mas Tio menjauh,
"Ini gara-gara kamu! Dasar menantu ga berguna! Mau enaknya aja sendiri!" Hardik pelan Ibu Mertua.
"Loh, salah aku apa Bu? Bukannya ibu yang bilang selama ini sarapan ibu yang bikin? Jadi aku cuman merealisasikan ucapan ibu aja ko! Harusnya ibu berterimakasih dong ke aku." Sindir Nadira sambil membersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur.
Sedikit demi sedikit aku akan berusaha mengembalikan kepercayaan Mas Tio padaku. Aku berharap rumah tangga kami akan selalu tentram lagi seperti dulu.
"Kurang ajar banget iya kamu! Melawan terus sama ibu!" Marah ibu mertua.
"Aku ga. . ." Ucapan Nadira terpotong Mas Tio yang memanggil.
"Dek. . . Ayo cepat, ini udah siang!" Teriak Mas Tio.
"Iya sebentar." Teriak Nadira dari dalam.
"Ibu aku pergi dulu iya ngelamar kerja, do'ain iya Bu supaya aku keterima. Jadi ibu bisa puas deh beres-beres rumah sendirian." Ucap Nadira dengan senyum senang, sambil berlalu meninggalkan Ibu Mertua nya. Dengan melambaikan tangan.
"Sialan. . . Dasar menantu ga berguna!" Ucap kesal Ibu Mertua berjalan ke kamarnya.
Didepan rumah, Mas Tio sudah duduk anteng di motor.
"Mana ibu, dek? Mas belum pamit." Tanya Mas Tio.
"Aku udah pamitin ko mas ke ibu, katanya ibu mau beres-beres dulu. Kita di suruh berangkat aja." Bohong Nadira sambil menggandeng Mas Tio dengan senyum senang.
"Iya udah kalau gitu kita berangkat." Ucap Mas Tio.
"Sebentar mas! Aku lagi inget-inget takut ada yang ketinggalan, kan repot mas kalau ada yang ketinggalan." Ucap Nadira cepat.
"Iya udah cepet cek dulu semuanya, kita langsung berangkat." Ucap Mas Tio.
"Ok! Kayanya udah semua mas, yuk berangkat!" Ucap Nadira sambil duduk di kursi penumpang.
"Iya udah yuk. Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Mas Tio.
Kami pun berangkat menuju PT. NH grup tempat kerja ku dulu. Walaupun sebenernya akulah pemilik perusahaan itu, namun tidak banyak orang yang tau, termasuk suami dan keluarganya.
Sepanjang jalan kami hanya saling diam, tak terasa sudah sampai dekat kantor. Tak ada yang berubah dari kantor ini, semua masih sama seperti terakhir aku datang.
"Alhamdulillah sampe juga iya mas!" Ucap syukur Nadira dengan senyum senang.
"Iya dek." Ucap Mas Tio sambil memarkirkan motornya.
"Mas aku masuk dulu iya, do'akan aku semoga keterima lagi di sini." Ucap Nadira penuh harap.
"Aamiin. . . Mas pasti do'ain kamu, semangat iya sayang." Ucap Mas Tio lembut sambil mengelus rambutku.
"Pasti dong. Mas juga hati-hati berangkat kerjanya, semoga Allah melancarkan segala urusan mas dan selalu dalam lindungannya." Do'a tulus Nadira.
"Aamiin, makasih sayang. Udah sana gih masuk." Ucap Mas Tio.
"Ok mas, dadah. . ." Ucap Nadira sambil meninggalkan parkiran.
Setelah sampai Loby, ku lihat Mas Tio pun sudah tidak ada lagi di parkiran. Bergegas aku menghampiri Resepsionis.
"Pagi mba." Sapa Nadira dengan senyum.
"Pagi juga mba, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Resepsionis.
"Begini mba, saya kemaren sudah membuat janji dengan Ibu Selva Direktur Utama di sini. Bisa tolong sampaikan bahwa Nadira sudah sampai." Ucap Nadira sopan.
"Baik Bu, saya akan menyampaikan nya. Mohon ibu tunggu sebentar di ruang tunggu yang sudah disediakan." Ucap Resepsionis dengan sopan.
"Baik mba." Ucap Nadira sambil berjalan ke arah yang di tunjukkan.
Di Resepsionis. .
Tut. . . Tut. . . Tut. . .
"Hallo, selamat pagi. Dengan Sekertaris Dian, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sekretaris Dian.
"Pagi bu. Ada tamu untuk Ibu Direktur atas nama Ibu Nadira. Katanya sudah membuat janji sebelumnya." Ucap Sopan Resepsionis.
"Sebentar saya cek dulu iya, atas nama Ibu Nadira iya! Eh. . . Apa? Ibu Nadira tadi kata kamu?" Tanya Sekretaris Dian terkejut.
"Iya betul Bu, atas nama Ibu Nadira. Apa boleh saya persilahkan naik Bu?" Tanya Resepsionis hati-hati.
"Iya ampun! Iya cepat kamu suruh beliau naik. Jangan buat beliau menunggu! Ayo cepet samperin dan minta maaf jangan lupa!" Titah Sekretaris Dian.
"B-baik Bu." Jawab Resepsionis bingung.
'Mungkin ini tamu penting.' Pikir Resepsionis, bergegas menuju Ruang Tunggu.
"Permisi, dengan ibu Nadira?" Tanya sopan Resepsionis.
"Iya, betul. Bagaimana apa saya bisa menemui Ibu Selva?" Tanya Nadira dengan senyum.
"Mohon maaf membuat ibu menunggu, silakan Bu. Ibu Selva sudah menunggu ibu, mari saya antar." Ucap Resepsionis tulus.
"Baik." Ucap Nadira sambil mengikuti Resepsionis menuju lift.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Sukliang
dasar mertua bau tanah udah mau mati jd goreng telor aja dak bisa
lha orang udah mau mati
2023-10-14
0
Abdul Bozes
masa masak telor yang gampang aja ngga bisa? parah banget
2023-05-21
0