Pov Mas Tio
Malam ini aku akan mengajak Sifa, pacar baruku berkencan. Iya, aku berpacaran dengan teman satu kantor ku yang baru dipindah tugaskan ke kantor pusat.
Namanya Sifa, seorang gadis berhijab, yang membuat dada ini selalu berdebar setiap melihatnya.
Aku tau ini salah, karna aku sudah memiliki istri dan aku mencintainya. Namun, semakin ku tepis rasa ku pada Sifa. Semakin aku ingin selalu melihatnya.
Hingga saat itu tanpa sengaja aku melihatnya nampak kesusahan, dan ternyata dompet nya hilang. Aku pun menawarkan untuk mengantarkan pulang.
"Kamu belum pulang? Kantor udah sepi loh!" Tanya ku dengan senyuman.
"Belum mas, dompet aku hilang mas dan baterai hp ku habis pula." Jawab Sifa dengan muka yang bingung.
"Iya udah gimana kalau mas aja yang anter kamu pulang?" Aku pun menawarkan mengantarkannya pulang.
"Ga usah mas makasih. Kalau di izinin, boleh aku pinjem uang mas dulu? Nanti besok aku ganti." Pinta Sifa.
'Sial, susah banget sih. Ayo pikir Tio. . . Jangan sia-sia kan kesempatan ini.' Ucap ku dalam hati sambil mencari ide.
"Aduh maaf, kebetulan aku juga ga bawa uang cash. Dan aku habis kuota." Ucap ku bohong.
'Ayo dong mau, kapan lagi coba ada kesempatan kaya gini?' Ucap ku dalam hati, berharap Sifa setuju.
"Aduh gimana iya mas?" Ucap Sifa bingung.
"Udah ayo, nanti keburu malam. Gak baik perempuan pulang malam." Ucap ku sedikit memaksa.
"Iya udah kalau gitu mas, aku ikut mas aja. Maaf udah ngerepotin mas." Ucap Sifa.
"Ngga ngerepotin ko." Ucapku senang.
'Malah aku seneng banget, akhirnya bisa juga deket-deketan gini sama kamu.' Ucap ku dalam hati senang.
"Rumah kamu di sebelah kanan?" Tanya ku pada Sifa.
"Di Gg. Rusa No. 32 mas. Tepat belakang mesjid." Jawab Sifa.
"Oh di situ, oke mas tau. Kita berangkat sekarang iya." Ucap Mas Tio.
"Iya mas." Jawab Sifa.
Aku pun melajukan sepedah motor ke alamat yang Sifa berikan. Sepanjang jalan kami saling diam, bingung memulai pembicaraan. Hingga akhirnya kami tiba di rumahnya.
"Yang mana rumah nya?" Tanya ku.
"Itu mas yang cat hijau." Ucap Sifa sambil menunjuk rumahnya ternyata orang tua Sifa sudah menunggu dengan ekspresi cemas.
"Oke sudah sampai." Ucap ku.
"Iya mas, makasih banyak iya. Maaf ngerepotin, kalau begitu aku masuk dulu iya mas." Pamit Sifa.
'Yah kirain mau di tawarin masuk dulu atau apa gitu.' Ucap ku dalam hati kesal.
"Iya sama-sama, kalau gitu mas langsung pamit iya." Ucap ku.
"Iya mas, hati-hati di jalan." Ucap Sifa.
"Tunggu. ." Ucap Bapaknya Sifa yang ntah sejak kapan sudah ada di dekat kami.
"Iya pak, ada apa?" Tanya ku bingung.
"Ayo masuk dulu, ga baik tamu langsung pulang." Ucap Bapak Sifa mengajak aku masuk.
Awalnya aku kira Bapaknya akan welcome kepadaku, tetapi ternyata tidak. Beliau mencecar berbagai pertanyaan, yang menurut ku berlebihan. Namun demi meni mencari muka didepan calon mertua, hehe. . . aku pun menjawab dengan meyakinkan orang tua nya.
'Yes, akhirnya.' Ucap ku dalam hati dengan senyum semangat.
"Iya pak, makasih." Ucap ku sambil mengikuti Bapak Sifa menuju teras rumah.
"Ayo silahkan duduk dulu, nak. Bu tolong buatkan minum untuk tamu kita." Perintah Bapa Sifa pada istrinya.
"Gak usah repot-repot pak, saya cuman sebentar." Tolak ku.
"Udah ga apa-apa, tunggu iya sebentar." Ucap Bapak Sifa.
"Jadi ini siapa, fa? Kamu ga kenalin ke bapa?" Tanya Bapak Sifa.
"Ini temen kantor Sifa, pak. Tadi dompet Sifa hilang dan HP nya mati, Sifa udah bingung aja gimana mau pulangnya. Mana temen-temen yang lain udah pada pulang, Alhamdulillah Mas Tio mau nganterin Sifa pulang." Jelas Sifa pada bapaknya.
"Oh gitu, terus kenapa kamu ga pinjem uang aja ke Mas nya ini? Atau minta dipesankan ojek online? Kenapa harus berboncengan? Kamu kan tau, wanita dan pria yang bukan muhrimnya tidak boleh dekat-dekat! Apalagi boncengan begitu!" Cecar Bapak Sifa pada Sifa dengan raut wajah kecewa.
"Maafin Sifa, pak." Sesal Sifa.
"Bapak hanya ingin menjaga kamu dari fitnah dan dosa, nak." Ucap Bapak Sifa sendu.
"Maaf pak, saya menyela. Begini pak, saya yang memaksa Sifa untuk saya antar. Karna kondisi kantor sudah sepi dan sudah malam pula. Bukannya saya tidak mau meminjamkan uang, namun memang saya tidak punya uang cash pak." Terang ku, sambil memperlihatkan dompet ku yang kosong.
'Ada gunanya juga tadi lupa ngambil uang di ATM.' Ucap Ku dalam hati sambil terkekeh.
"Dan kuota hp saya juga habis pak, jadi saya tidak bisa pesan ojek online. Untuk itu saya minta maaf sekali pak." Ucap ku penuh penyesalan, padahal aku kesel banget.
Kulihat Sifa hanya menunduk sedih dan Bapa Sifa pun menarik napas panjang, namun saat akan berbicara ibu nya datang.
"Ayo nak, silakan di minum. Maaf iya cuman seadanya aja." Ucap Ibu Sifa ramah.
"Iya bu, makasih. Saya minum iya Bu." Ucap ku sambil meraih gelas.
"Jadi nama kamu siapa nak?" Tanya Ibu Sifa.
"Nama saya Tio Bu, saya teman satu kantor Sifa." Jawab ku dan Ibu Sifa hanya menganggukkan kepala.
"Sebelum nya terimakasih iya nak Tio sudah mau mengantarkan anak kamu pulang." Ucap tulus Ibu Sifa.
"Iya Bu sama-sama, saya hanya kasian karna di kantor sudah sepi Bu dan sudah malam pula. Jadi saya yang memaksa Sifa untuk saya antar, sekali lagi saya mohon maaf sudah memaksa Sifa." Ucap ku penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa nak, maafkan bapaknya Sifa iya. Beliau hanya tidak ingin ada fitnah untuk keluarga kami, apalagi kami baru pertama kali bertemu nak Tio." Jelas Ibu Sifa.
"Iya Bu saya mengerti." Ucapku.
Tidak hanya bapaknya yang menanyakan berbagai macam pertanyaan, Ibunya pun sama bertanya berbagai macam pertanyaan dan yang terakhir menanyakan status ku.
"Ngomong-ngomong, nak Tio ini sudah berkeluarga atau masih sendiri?" Tanya Ibu Sifa.
Deg. .
'Apa yang harus aku bilang? Kalau bilang sejujurnya, pasti ga boleh lagi deket-deket sifa.' Ucap Tio dalam hati bingung.
"Mmm. . Saya masih sendiri Bu." Jawab Tio bohong.
"Alhamdulillah kalau memang nak Tio masih sendiri, jadi nanti tidak akan timbul kesalah pahaman." Ucap Ibu Sifa.
"Mohon maaf, sepertinya saya harus pamit. Ini sudah malam." Ucap ku sambil melihat jam tangan ku, ternyata sudah malam.
"Oh iya nak, kalau begitu hati-hati iya." Ucap Ibu Sifa.
"Iya Bu, saya pamit dulu. Assalamualaikum." Ucap ku sambil mencium tangan kedua orang tua Sifa.
"Hati-hati mas, maafkan ucapan bapak iya." Ucap Sifa sendu.
"Iya ga apa-apa, ga usah di pikirin. Mas pulang iya." Ucap ku pamit, sambil memarkirkan motor ku.
"Iya mas." Ucap Sifa.
Aku pun melakukan sepedah motor ku dengan kecepan penuh, karna sudah malam. Pasti Nadira khawatir.
Sejak saat itu kami semakin dekat, aku pun setiap hari mengantarnya pulang. Dan selama itu pun Nadira istriku tidak pernah sama sekali curiga, dia begitu mencintaiku dan selalu mempercayaiku.
Hari demi hari aku lewati dengan 2 orang wanita yang mengisi hidup ku. Yang satu istri sah yang sangat aku cintai, namun setiap hari aku harus mendengar istri dan ibu ku bertengkar, terkadang membuat aku kesal dan ingin pergi menenangkan diri.
Dan yang satunya pacar ku yang selalu bisa membuat aku nyaman, apalagi keluarganya sekarang dapat menerima ku dengan baik.
Aku tau ini semua salah, namun aku mencintai keduanya. Bolehlah sekali ini aku egois, dan biarlah semua mengalir seperti apa adanya.
Pagi ini aku terkejut mendengar istriku ingin bekerja kembali. Namun aku senang, dengan begitu aku bisa lebih banyak waktu bersama Sifa.
Maka aku memutuskan untuk mengajak pacarku kecan. Setelah pulang kerja, aku mengajaknya untuk berjalan-jalan dan makan di angkringan langganan kami.
Namun tiba-tiba istriku menelepon dan meminta di jemput, aku pun menolak dengan alasan ibu sudah menungguku dan aku meminta dia untuk pulang dengan ojol.
Karena takut istriku sampai rumah duluan, aku pun memutuskan untuk mengantarkan Sifa pulang. Walaupun sebenernya aku masih ingin berduaan dengannya, namun untuk menjaga rahasia ini tetap aman. Aku pun harus mengesampingkan keinginan ku ini.
Setelah mengantarkan Sifa, aku bergegas pulang ke rumah. Ternyata istriku sudah pulang dan dia sudah tertidur, mungkin karna terlalu capek bekerja.
Aku pun membersihkan diri dan ikut tertidur bersamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Ma Em
oh ternyata Tio selingkuh semoga cepat ketahuan sama Nadira.
2023-11-03
0
Sukliang
dasar
2023-10-14
0
Riyana Lanay
kurang baik apa nadira, masih aja di selingkuhin
dasar laki2 minim akhlak
up lagi thor
2023-04-26
2