Ku hukum Selva dengan berdiri dengan mengangkat 1 kaki dan memegang telinga nya selaman 30 menit.
Mungkin ini adalah hukuman yang paling ringan untuk Selva, karena jujur aku paling tidak bisa marah padanya. Dia sudah ku anggap adik kandung ku sendiri.
"Mba ayo dong, aku pegel banget ini!" Rengek Selva, yang terus berbicara mengganggu konsentrasi ku.
"Kamu ini berisik banget Selva! Mba kan lagi baca berkas, bisa diem dulu ngga sih kamu?" Ucap ku kesal.
"Makanya udahan dulu ini hukumannya, biar aku lanjut tidur. Kan mba bisa tau ngerjain itu berkas sepuas mba, tanpa aku ganggu." Ucap Selva terus membujuk Ku.
"Iya udah iya, hukuman kamu berakhir. Puas kamu? Sekarang kamu diem, mba mau fokus kerja!" Perintah ku pada Selva.
"Yes! Akhirnya aku bisa tiduran lagi." Ucap Selva kegirangan, kemudian dia merebahkan badan nya di sofa dan tak lama tertidur kembali.
Karena aku sibuk mengerjakan berkas yang tidak di kerjakan Selva, membuat aku tidak sadar hari semakin sore dan sudah waktunya pulang.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Ucap ku.
"Permisi Bu, sudah waktunya pulang." Ucap Sekretaris Dian mengingatkan.
"Oh iya! Udah sore ternyata." Ucap ku sambil melihat jam tangan yang ku pakai.
"Ibu mau saya siapkan sopir atau mau saya antar pulang?" Tanya Sekretaris Dian yang tau aku tidak membawa kendaraan.
"Tidak usah, kamu pulang saja duluan. Nanti saya pulang di antar Selva saja." Ucap ku pada Sekretaris Dian.
"Loh. . . Memang Bu Selva mau balik lagi ke sini Bu? Biasanya kalau udah keluar kantor atau udah jam pulang, Ibu Selva ngga akan pernah kembali ke kantor Bu. Sekali pun handphone nya tertinggal." Ucap Sekretaris Dian.
"Lah itu orang nya masih tidur nyenyak di sofa." Ucap ku sambil menunjuk sofa.
"Iya ampun saya kira, Ibu Selva sudah pulang. Ternyata cuman pindah tempat untuk tidur." Ucap Sekretaris Dian terkejut dengan tingkah Selva yang pindah tempat untuk tidur.
"Udah sana kamu siap-siap, pulang duluan aja. Tidak usah menunggu saya! Masih ada berkas sedikit lagi yang mau saya kerjakan." Ucap ku.
"Baik, kalau begitu saya pamit pulang duluan Bu. Assalamualaikum." Pamit Sekretaris Dian.
"Wa'alaikum salam." Jawab ku, kemudian kembali mengerjakan beberapa berkas yang tersisa.
"Hoaaammm. . ." Selva menguap sambil mengucek mata nya.
"Nyenyak banget deh tidurnya, tapi ko laper banget ini perut." Gumam nya yang belum sadar sepenuhnya.
"Enak iya tidur?" Tanya ku sambil mengerjakan berkas terakhir.
"Astaghfirullah, mba ngagetin aja!" Ucap nya terkejut mendengar suaraku.
"Ngapain mba di sini? Bikin orang kaget aja!" Ucapnya kesal.
"Hello! Liat dong kamu ada di mana?" Ucap ku, kemudian kulihat Selva sedang celingukan melihat sekitar.
"Kok aku ada di kantor iya?" Ucap Selva sambil menggaruk leher belakangnya.
"Udah cepet kamu cuci muka, kalau ngga mba tinggal." Perintah ku pada Selva, sambil membereskan meja kerja ku.
"Oh iya! Tadi siang aku datang ruangan kosong, jadi aku tidur dulu. Tunggu. . . Jadi tadi aku bukan mimpi?" Tanya Selva pada ku, dan ku balas dengan mengangguk kan kepala bertanda benar.
"Mba hukum aku kaya anak SD, itu juga bukan mimpi?" Tanya Selva lagi dan di balas anggukan kepala ku.
"Harus nya kan mba yang aku hukum, karena mba datang terlambat. Kenapa jadi aku yang di hukum?" Ucap Selva kesal.
"Apa kata kamu? Mba datang terlambat?" Tanya ku kesal dan d jawab Selva dengan mengangguk kan kepalanya.
"Enak aja kamu ngomong! Kalau mba datang terlambat, siapa yang ngerjain itu berkas di meja kamu? Siapa yang meeting dengan Pak Wijaya? Kamu pikir semua itu di kerjain hantu apa? Enak banget kalau ngomong!" Ucap ku kesal dengan omongan Selva.
"Jadi yang ngerjain sebagian berkas itu mba? Terus tadi pas aku datang, ngga ada orang di sini. Kalian meeting di luar?" Tanya Selva ragu-ragu.
"Menurut kamu?" Ucap ku sambil menaikan alis.
"Ralat ucapan kamu! Bukan ngerjain sebagian berkas, tapi semua berkas sudah selesai. Liat sendiri itu di meja." Ucap ku sinis.
"Ya ampun mba, baik banget sih. Makin sayang deh sama mba." Ucap Selva merayu sambil berjalan menghampiri ku.
"Enak banget iya kamu selama ini makan gajih buta!" Kesal ku pada Selva yang malah cengengesan.
"Ngga ko mba! Aku juga kerja ko! Iya cuman kan aku juga butuh refreshing, jadi iya gitu deh." Ucap Selva mencari alasan.
"Mba udah bingung harus gimana lagi sama kelakuan kamu!" Ucap ku sambil memijit pelipis ku.
"Ayolah mba! Aku janji deh, bakalan berubah. Ngga akan kaya gini lagi." Ucap Selva sambil menggoyangkan badan ku.
"Terserah apa kata kamu saja, mba udah pusing." Ucap ku menyerah.
"Lebih baik sekarang kamu siap-siap dan pulang, ini sudah hampir magrib." Ucap ku pada Selva.
"Oke mba, aku cuci muka dulu. Kita pulang bareng, aku anterin mba dulu." Ucap Selva yang bergegas ke kamar mandi.
Lelah hati dan pikiran, terkadang membuatku ingin mengeluh. Namun, lagi-lagi tanggung jawab yang ku miliki sangat besar. Tidak bisa hanya mengandalkan hati nurani, namun harus juga mengorbankan sesuatu.
Ingin ku mengalah dengan proyek itu, tetapi aku ingat bagaimana karyawan bekerja keras demi proyek ini. Meski harus mengorbankan rumah tangga ku, mungkin ini lah resiko yang harus ku ambil.
Aku yakin, Mas Tio akan membujuk ku untuk membatalkan kerja sama perusahaan ku dengan Pak Wijaya, namun aku harus tegas demi keberlangsungan hidup karyawan.
Tanggung jawab lain yang harus tetap ku jalan kan adalah mengubah perilaku Selva adik sepupu ku, agar menjadi lebih baik lagi. Tak mungkin aku mengecewakan Om dan Tante yang sudah memberikan tanggung jawab ini padaku.
Rasanya ingin sekali aku berteriak, menangis dan marah. Mengapa tidak ada yang pernah perdulikan perasaan ku. Aku hanya bisa berdo'a, semoga aku kuat dalam menjalani semuanya.
"Makasih iya, mba masuk dulu. Kamu hati-hati di jalannya." Ucap ku pamit pada Selva.
"Siap mba, assalamualaikum." Ucap Selva.
"Wa'alaikum salam." Jawab ku sambil melambaikan tangan, melihat mobil Selva menjauh.
Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah dan bersiap menghadapi suami dan mertua ku. Yang ku tau pasti akan selalu banyak kejadian yang tak terduga yang akan terjadi di rumah ini.
Hanya satu pinta ku d setiap do'a ku. Jika memang kami berjodoh, mudahkan lah kami dalam menghadapi segala macam cobaan yang menerpa rumah tangga kami. Namun jika kami tidak berjodoh, berilah kamu jalan yang terbaik untuk mengakhiri nya.
Kulangkah kan kaki ku perlahan, yang terasa sangat berat semakin aku mendekati pintu. Ku tarik napas dalam-dalam dan ku hembuskan, sebelum aku mengetuk pintu.
Tok. . . Tok. . .
Ceklek. . .
"Assalamualaikum." Ucap salam ku, yang tidak ada yang menjawab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Nurlaela Sifa
punya sepupu ko gitu banget
2023-05-21
0
Erni Sulistia
up lagi dong thor
2023-04-25
1