Satu Jam Kemudian. . .
"Huft. . . Akhirnya beres juga." Ucap Selva sambil mengusap keringat di wajah nya.
"Tuh liat, beres kan! Udah rapi semua seperti sedia kala, udah wangi pula." Ucap bangga Selva.
"Ko ga ada suara dari tadi?" Bingung Selva, kemudian menengok ke sofa dan ternyata Nadira sedang asik tidur.
Karena menunggu Selva membereskan ruangan, membuat Nadira bosan hingga tertidur di sofa. Dan tidak menyadari bahwa Selva sudah menyelesaikan acara bersih-bersih.
"Dasar sodara ga punya akhlak! Dia nya asik tidur, lah aku beres-beres sendiri!" Ucap Selva ambil menggelengkan kepala.
"Aku denger iya ucapan kamu!" Ucap Nadira yang terganggu karna suara keras Selva.
"Waduh. . . Gawat! Macan bangun!" Ucap Selva gelagapan.
"Sini kamu." Titah Nadira.
"Iya, ada apa lagi sih? Mau ceramah? Kan tadi udah! Masa mau ceramah lagi." Ucap Selva memelas. Namun di hadiahi jeweran di telinga.
"Aw. . Aw. . Ampun. . Iya aku ga akan kaya gitu. Lepas dong! Sakit ini telingaku! Aw. . Aw. ." Ucap Selva yang sedang di jewer Nadira.
"Rasain kamu! Kamu itu harus sering di jewer biar telinga kamu bisa berfungsi dengan baik! Di nasehatin malah di bilang ceramah! Ampun aku pusinggg. ." Keluh Nadira memijit pelipisnya, pusing dengan kelakuan Selva yang ga pernah berubah dari dulu.
"Pantes aja Bunda kamu nyerahin kamu ke mba. Orang kelakuan anak nya parah gini!" Keluh Nadira sambil menepuk kening nya sendiri.
"Parah gimana? Orang aku anak yang baik ko! Buktinya aku ga pernah tuh iya yang namanya mabok parah, buat ke onaran." Ucap Selva bangga.
"Iya memang. Tapi kamu paling jago abisin Kartu Kredit, keluar malem, ganti-ganti pacar, ga pernah on time ngerjain kerjain kantor, datang seenaknya, sering hangout. Apa perlu mba sebutin semuanya?" Ucap Nadira kesal.
"Hehe. . Wah mba hebat iya, udah hapal hobi aku!" Ucap kagum Selva dengan mata bersinar.
"SELVAAAA. . . !" Teriak Nadira kesal. Bukannya menyesal, Selva malah bercanda.
"Ga usah teriak mba, aku ada di samping mba ko. Awas nanti darah tinggi, masuk UGD deh." Ucap santai Selva.
"Ya Allah, kamu nyumpahin mba masuk UGD? Ya Allah kenapa bisa aku punya sodara ga ada akhlak kaya gini! Kasian Bunda, punya anak kaya gini amat iya!" Ucap memelas Nadira yang sudah bingung harus bagaimana dengan kelakuan sepupunya ini.
"Harusnya kalian itu pada bersyukur loh. Aku sampe sekarang masih bisa jaga diri baik-baik, gini-gini aku anti *** loh. Jadi harus nya kalian bangga dong sama aku, bukannya marah-marah mulu. Pusing tau dengernya." Ucap Selva kesal.
Memang selama ini Selva sering keluar masuk club' malam, namun dia cukup bisa menjaga diri. Hingga tidak terlibat dengan *** bebas.
"Ya Allah Selva. . Selva. . Jangankan kamu, mba aja udah pusing liat kelakuan kamu yang minim akhlak ini. Mending kamu nikah aja, dari pada nyusahin semua orang terus. Biar nanti suami kamu yang susah sendirian." Ucap kesal Nadira.
"NOOO. . . Enak aja, ga mau pokok nya! Ga ada iya nikah-nikahan apalagi di jodohin, ogah banget deh. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi iya mba!" Kesal Selva.
Kedua orang tua Selva pun mengatakan ingin menjodohkan nya dengan anak teman bisnis orang tuanya. Namun Selva menolak dan memilih untuk membantu Nadira untuk mengurus perusahaan.
"Tau ah mba pusing sama kamu, biar nanti mba pikirin lagi gimana caranya buat kamu tobat." Ucap Nadira menyerah menasehati Selva yang keras kepala.
"Iya mending gitu aja mba. Dari pada mba pusing, mending ga perlu lah ceramah lagi. Kan enak adem ayem." Ucap Selva senang sambil menarik turun kan alisnya.
"Tau ah. . .Suruh Dian ke dalem sekarang." Titah Nadira.
"Oke." Jawab Selva sambil beranjak ke meja kerja.
Tut. .
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sekretaris Dian.
"Cepet ke ruangan sekarang juga." Ucap Selva.
"Baik, Bu." Jawab Sekretaris Dian.
"Eh. . Tunggu, suruh OB bawain minuman dingin sama makan siang buat 2 orang." Titah Selva.
"Baik Bu, ada lagi?" Tanya Sekretaris Dian.
"Kamu udah makan siang? Kalau belum pesen aja sekalian." Ucap Selva.
"Saya sudah makan di kantin Bu." Ucap Sekretaris Dian.
Walaupun sering bertengkar, Sekretaris Dian dan Selva sangat akrab dalam hal lainnya dan mereka saling perhatian, seperti kakak dan adik.
"Oke." Ucap Selva kemudian mematikan telpon nya.
Kemudian Selva pun menuju sofa kembali dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ah. . Enaknya bisa tiduran." Ucap Selva dengan mata terpejam.
Nadira hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Selva.
Tok. . Tok. . Tok. .
"Masuk." Ucap Nadira.
Ceklek . .
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Sekretaris Dian.
"Sini kamu duduk dulu." Titah Nadira. Yang langsung di turuti Sekretaris Dian.
"Selva duduk!" Ucap tegas Nadira.
"Udah mba ngomong aja, aku dengerin ko. Aku cape tau mba." Ucap Selva memohon dengan masih tiduran di sofa.
"Duduk!" Ucap tegas Nadira.
"Iya. . . Iya. . Bawel banget sih!" Gerutu Selva, tetapi tetap bangun dari tidurnya.
"Mulai hari ini dan seterusnya, mba akan kerja lagi di kantor." Ucap santai Nadira.
"APPPAAAAAA. . . ." Teriak Selva syok mendengar ucapan Nadira. Berbeda dengan Selva, sekretaris Dian nampak senang.
"Alhamdulillah, akhirnya ibu mau ngantor lagi. Selamat datang kembali, Bu." Ucap Sekretaris Dian dengan senyum senang.
"Heh. . Ko kamu seneng banget Mba Nadira ngantor lagi? Kamu ga seneng apa kita jadi partner?" Ucap Selva kesal.
"Mmm. . . Anu Bu, ngga gitu juga ko Bu." Ucap Sekretaris Dian gelagapan.
"Udah. . . Udah. . .Terimakasih Dian, kamu sudah sabar sama kelakuan bocah nakal ini. Mulai sekarang kerjaan kamu akan lebih ringan lagi, dan tentu akan ada bonus buat kamu." Ucap tulus Nadira.
"Wah terimakasih banyak ibu." Ucap senang Sekretaris Dian.
"Tunggu, kalau Dian dapet bonus. Artinya aku juga pasti dapet bonus yang lebih gede dong. Secara aku kan atasannya." Ucap Selva dengan percaya diri.
"Gak ada!" Ucap tegas Nadira.
"Loh ko gitu mba? Aku juga dong mba." Rengek Selva sambil menggoyangkan tangan Nadira.
"Masa Dian doang yang di kasih bonus, aku ngga? Itu ga adil tau!" Ucap kesal Selva.
"Apa? Ga adil kata kamu?" Tanya Nadira, yang di jawab anggukan oleh Selva.
"Oke kamu pengen bonus kan? Tapi jawab dulu pertanyaan mba!" Ucap Nadira kesal dengan kelakuan Selva.
"Tapi jangan yang susah-susah nanya nya iya." Ucap Selva memelas sambil menangkupkan kedua tangan.
"Belum apa-apa aja udah nawar segala, ini bukan pasar yang bisa tawar menawar." Ucap kesal Nadira dan Sekretaris Dian yang menahan tawa.
"Iya deh iya. Jadi mba mau nanya apa?" Tanya Selva.
"Selama 3 tahun mba kasih tanggung jawab Direktur ke kamu, pencapaian apa yang udah kamu dapat? Ayo jawab!" Ucap tegas Nadira.
"Emm. . Apa iya? Bentar aku pikir dulu." Jawab Selva sambil memberi kode ke Sekretaris Dian untuk membantu nya menjawab. Namun sekretaris jenderal hanya mengangkat bahunya, bertanda tidak tahu.
'Sial. . Bukannya bantuin, awas kamu Dian.' Gerutu Selva dalam hati.
'hahaha. . Rasain kamu, akhirnya aku terbebas dari Bu Selva. Semoga aja Bu Selva keluar dari perusahaan, biar ga bikin pusing terus.' Do'a Sekretaris Dian dalam hati.
"Helloooooo. . . Di tanya malah diem, katanya mau bonus?" Tanya Nadira, sambil melambaikan tangan di depan muka Selva.
"Apa iya? Banyak loh mba yang udah berhasil aku capai selama ini. Coba tanya aja Dian, iya kan Dian?" Tanya Selva kepada Dian dengan mengedipkan sebelah mata.
"Sepertinya Bu Nadira lebih tau dari pada saya, Bu." Ucap Sekretaris Dian ragu-ragu, sambil menautkan jari.
"Diaaaaannnn. . ." Teriak Selva.
"Ampun Buuu." Ucap Sekretaris Dian menangkupkan tangannya takut.
"Hahaha. . . Sudah. . Sudah. ." Nadira tertawa terpingkal-pingkal melihat mereka berdebat.
"Kalian ini kaya tikus dan kucing aja." Di sela tawa nya.
"Dia yang mulai mba, masa ga mau bela atasan nya sendiri. Sekretaris macam apa dia." Adu Selva memelas.
"Ngga Bu, saya hanya berbicara fakta. Ibu pasti lebih tau bagaimana Ibu Selva dari pada saya?" Ucap Sekretaris Dian membela diri.
"Hahaha. . ." Tawa Nadira.
"Ketawa aja terus, bukan belain adiknya." Ucap Selva cemberut.
"Iya. . iya. . maaf." Di sela tawa Nadira.
"Abis kalian udah kaya Kucing sama Tikus, berantem mulu." Ucap Nadira terkekeh.
"Auakh. . Sebel sama mba." Ucap Selva cemberut.
"Oke mba udah ga ketawa lagi, jangan marah iya anak cantik." Ucap Nadira sambil mencubit pipi Selva.
"Aww. . . Sakit mba, lepas ikh!" Ucap Selva kesakitan.
"Abis kamu lucu banget kalau lagi ngambek, mba kan jadi gemes deh." Ucap Nadira mengelus pipi Selva.
"Iya udah Dian kamu kembali ke ruangan kamu aja, gih sana. Dari pada di sini berantem mulu." Titah Nadira.
"Baik Bu, saya permisi ke ruangan saya dulu." Pamit Sekretaris Dian.
"Oke." Ucap Nadira.
"Woyy. . Cuman pamit sama mba Nadira doang nih? Yang ini ga pamit gitu?" Sindir Selva.
"Ibu Nadira dan Ibu Selva yang terhormat, saya pamit dulu keruangan saya. Udah cukup belum Bu?" Kesal Sekretaris Dian.
"Nah gitu dong, udah gih sana pergi. Hus. . Hus. ." Usir Selva.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments