Bab VIII

Satu Jam Kemudian. . .

"Huft. . . Akhirnya beres juga." Ucap Selva sambil mengusap keringat di wajah nya.

"Tuh liat, beres kan! Udah rapi semua seperti sedia kala, udah wangi pula." Ucap bangga Selva.

"Ko ga ada suara dari tadi?" Bingung Selva, kemudian menengok ke sofa dan ternyata Nadira sedang asik tidur.

Karena menunggu Selva membereskan ruangan, membuat Nadira bosan hingga tertidur di sofa. Dan tidak menyadari bahwa Selva sudah menyelesaikan acara bersih-bersih.

"Dasar sodara ga punya akhlak! Dia nya asik tidur, lah aku beres-beres sendiri!" Ucap Selva ambil menggelengkan kepala.

"Aku denger iya ucapan kamu!" Ucap Nadira yang terganggu karna suara keras Selva.

"Waduh. . . Gawat! Macan bangun!" Ucap Selva gelagapan.

"Sini kamu." Titah Nadira.

"Iya, ada apa lagi sih? Mau ceramah? Kan tadi udah! Masa mau ceramah lagi." Ucap Selva memelas. Namun di hadiahi jeweran di telinga.

"Aw. . Aw. . Ampun. . Iya aku ga akan kaya gitu. Lepas dong! Sakit ini telingaku! Aw. . Aw. ." Ucap Selva yang sedang di jewer Nadira.

"Rasain kamu! Kamu itu harus sering di jewer biar telinga kamu bisa berfungsi dengan baik! Di nasehatin malah di bilang ceramah! Ampun aku pusinggg. ." Keluh Nadira memijit pelipisnya, pusing dengan kelakuan Selva yang ga pernah berubah dari dulu.

"Pantes aja Bunda kamu nyerahin kamu ke mba. Orang kelakuan anak nya parah gini!" Keluh Nadira sambil menepuk kening nya sendiri.

"Parah gimana? Orang aku anak yang baik ko! Buktinya aku ga pernah tuh iya yang namanya mabok parah, buat ke onaran." Ucap Selva bangga.

"Iya memang. Tapi kamu paling jago abisin Kartu Kredit, keluar malem, ganti-ganti pacar, ga pernah on time ngerjain kerjain kantor, datang seenaknya, sering hangout. Apa perlu mba sebutin semuanya?" Ucap Nadira kesal.

"Hehe. . Wah mba hebat iya, udah hapal hobi aku!" Ucap kagum Selva dengan mata bersinar.

"SELVAAAA. . . !" Teriak Nadira kesal. Bukannya menyesal, Selva malah bercanda.

"Ga usah teriak mba, aku ada di samping mba ko. Awas nanti darah tinggi, masuk UGD deh." Ucap santai Selva.

"Ya Allah, kamu nyumpahin mba masuk UGD? Ya Allah kenapa bisa aku punya sodara ga ada akhlak kaya gini! Kasian Bunda, punya anak kaya gini amat iya!" Ucap memelas Nadira yang sudah bingung harus bagaimana dengan kelakuan sepupunya ini.

"Harusnya kalian itu pada bersyukur loh. Aku sampe sekarang masih bisa jaga diri baik-baik, gini-gini aku anti *** loh. Jadi harus nya kalian bangga dong sama aku, bukannya marah-marah mulu. Pusing tau dengernya." Ucap Selva kesal.

Memang selama ini Selva sering keluar masuk club' malam, namun dia cukup bisa menjaga diri. Hingga tidak terlibat dengan *** bebas.

"Ya Allah Selva. . Selva. . Jangankan kamu, mba aja udah pusing liat kelakuan kamu yang minim akhlak ini. Mending kamu nikah aja, dari pada nyusahin semua orang terus. Biar nanti suami kamu yang susah sendirian." Ucap kesal Nadira.

"NOOO. . . Enak aja, ga mau pokok nya! Ga ada iya nikah-nikahan apalagi di jodohin, ogah banget deh. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi iya mba!" Kesal Selva.

Kedua orang tua Selva pun mengatakan ingin menjodohkan nya dengan anak teman bisnis orang tuanya. Namun Selva menolak dan memilih untuk membantu Nadira untuk mengurus perusahaan.

"Tau ah mba pusing sama kamu, biar nanti mba pikirin lagi gimana caranya buat kamu tobat." Ucap Nadira menyerah menasehati Selva yang keras kepala.

"Iya mending gitu aja mba. Dari pada mba pusing, mending ga perlu lah ceramah lagi. Kan enak adem ayem." Ucap Selva senang sambil menarik turun kan alisnya.

"Tau ah. . .Suruh Dian ke dalem sekarang." Titah Nadira.

"Oke." Jawab Selva sambil beranjak ke meja kerja.

Tut. .

"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sekretaris Dian.

"Cepet ke ruangan sekarang juga." Ucap Selva.

"Baik, Bu." Jawab Sekretaris Dian.

"Eh. . Tunggu, suruh OB bawain minuman dingin sama makan siang buat 2 orang." Titah Selva.

"Baik Bu, ada lagi?" Tanya Sekretaris Dian.

"Kamu udah makan siang? Kalau belum pesen aja sekalian." Ucap Selva.

"Saya sudah makan di kantin Bu." Ucap Sekretaris Dian.

Walaupun sering bertengkar, Sekretaris Dian dan Selva sangat akrab dalam hal lainnya dan mereka saling perhatian, seperti kakak dan adik.

"Oke." Ucap Selva kemudian mematikan telpon nya.

Kemudian Selva pun menuju sofa kembali dan merebahkan tubuhnya di sofa.

"Ah. . Enaknya bisa tiduran." Ucap Selva dengan mata terpejam.

Nadira hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Selva.

Tok. . Tok. . Tok. .

"Masuk." Ucap Nadira.

Ceklek . .

"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Sekretaris Dian.

"Sini kamu duduk dulu." Titah Nadira. Yang langsung di turuti Sekretaris Dian.

"Selva duduk!" Ucap tegas Nadira.

"Udah mba ngomong aja, aku dengerin ko. Aku cape tau mba." Ucap Selva memohon dengan masih tiduran di sofa.

"Duduk!" Ucap tegas Nadira.

"Iya. . . Iya. . Bawel banget sih!" Gerutu Selva, tetapi tetap bangun dari tidurnya.

"Mulai hari ini dan seterusnya, mba akan kerja lagi di kantor." Ucap santai Nadira.

"APPPAAAAAA. . . ." Teriak Selva syok mendengar ucapan Nadira. Berbeda dengan Selva, sekretaris Dian nampak senang.

"Alhamdulillah, akhirnya ibu mau ngantor lagi. Selamat datang kembali, Bu." Ucap Sekretaris Dian dengan senyum senang.

"Heh. . Ko kamu seneng banget Mba Nadira ngantor lagi? Kamu ga seneng apa kita jadi partner?" Ucap Selva kesal.

"Mmm. . . Anu Bu, ngga gitu juga ko Bu." Ucap Sekretaris Dian gelagapan.

"Udah. . . Udah. . .Terimakasih Dian, kamu sudah sabar sama kelakuan bocah nakal ini. Mulai sekarang kerjaan kamu akan lebih ringan lagi, dan tentu akan ada bonus buat kamu." Ucap tulus Nadira.

"Wah terimakasih banyak ibu." Ucap senang Sekretaris Dian.

"Tunggu, kalau Dian dapet bonus. Artinya aku juga pasti dapet bonus yang lebih gede dong. Secara aku kan atasannya." Ucap Selva dengan percaya diri.

"Gak ada!" Ucap tegas Nadira.

"Loh ko gitu mba? Aku juga dong mba." Rengek Selva sambil menggoyangkan tangan Nadira.

"Masa Dian doang yang di kasih bonus, aku ngga? Itu ga adil tau!" Ucap kesal Selva.

"Apa? Ga adil kata kamu?" Tanya Nadira, yang di jawab anggukan oleh Selva.

"Oke kamu pengen bonus kan? Tapi jawab dulu pertanyaan mba!" Ucap Nadira kesal dengan kelakuan Selva.

"Tapi jangan yang susah-susah nanya nya iya." Ucap Selva memelas sambil menangkupkan kedua tangan.

"Belum apa-apa aja udah nawar segala, ini bukan pasar yang bisa tawar menawar." Ucap kesal Nadira dan Sekretaris Dian yang menahan tawa.

"Iya deh iya. Jadi mba mau nanya apa?" Tanya Selva.

"Selama 3 tahun mba kasih tanggung jawab Direktur ke kamu, pencapaian apa yang udah kamu dapat? Ayo jawab!" Ucap tegas Nadira.

"Emm. . Apa iya? Bentar aku pikir dulu." Jawab Selva sambil memberi kode ke Sekretaris Dian untuk membantu nya menjawab. Namun sekretaris jenderal hanya mengangkat bahunya, bertanda tidak tahu.

'Sial. . Bukannya bantuin, awas kamu Dian.' Gerutu Selva dalam hati.

'hahaha. . Rasain kamu, akhirnya aku terbebas dari Bu Selva. Semoga aja Bu Selva keluar dari perusahaan, biar ga bikin pusing terus.' Do'a Sekretaris Dian dalam hati.

"Helloooooo. . . Di tanya malah diem, katanya mau bonus?" Tanya Nadira, sambil melambaikan tangan di depan muka Selva.

"Apa iya? Banyak loh mba yang udah berhasil aku capai selama ini. Coba tanya aja Dian, iya kan Dian?" Tanya Selva kepada Dian dengan mengedipkan sebelah mata.

"Sepertinya Bu Nadira lebih tau dari pada saya, Bu." Ucap Sekretaris Dian ragu-ragu, sambil menautkan jari.

"Diaaaaannnn. . ." Teriak Selva.

"Ampun Buuu." Ucap Sekretaris Dian menangkupkan tangannya takut.

"Hahaha. . . Sudah. . Sudah. ." Nadira tertawa terpingkal-pingkal melihat mereka berdebat.

"Kalian ini kaya tikus dan kucing aja." Di sela tawa nya.

"Dia yang mulai mba, masa ga mau bela atasan nya sendiri. Sekretaris macam apa dia." Adu Selva memelas.

"Ngga Bu, saya hanya berbicara fakta. Ibu pasti lebih tau bagaimana Ibu Selva dari pada saya?" Ucap Sekretaris Dian membela diri.

"Hahaha. . ." Tawa Nadira.

"Ketawa aja terus, bukan belain adiknya." Ucap Selva cemberut.

"Iya. . iya. . maaf." Di sela tawa Nadira.

"Abis kalian udah kaya Kucing sama Tikus, berantem mulu." Ucap Nadira terkekeh.

"Auakh. . Sebel sama mba." Ucap Selva cemberut.

"Oke mba udah ga ketawa lagi, jangan marah iya anak cantik." Ucap Nadira sambil mencubit pipi Selva.

"Aww. . . Sakit mba, lepas ikh!" Ucap Selva kesakitan.

"Abis kamu lucu banget kalau lagi ngambek, mba kan jadi gemes deh." Ucap Nadira mengelus pipi Selva.

"Iya udah Dian kamu kembali ke ruangan kamu aja, gih sana. Dari pada di sini berantem mulu." Titah Nadira.

"Baik Bu, saya permisi ke ruangan saya dulu." Pamit Sekretaris Dian.

"Oke." Ucap Nadira.

"Woyy. . Cuman pamit sama mba Nadira doang nih? Yang ini ga pamit gitu?" Sindir Selva.

"Ibu Nadira dan Ibu Selva yang terhormat, saya pamit dulu keruangan saya. Udah cukup belum Bu?" Kesal Sekretaris Dian.

"Nah gitu dong, udah gih sana pergi. Hus. . Hus. ." Usir Selva.

Episodes
1 Bab I
2 Bab II
3 Bab III
4 Bab IV
5 Bab V
6 Bab VI
7 Bab VII
8 Bab VIII
9 Bab IX
10 Bab X
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Bab I
2
Bab II
3
Bab III
4
Bab IV
5
Bab V
6
Bab VI
7
Bab VII
8
Bab VIII
9
Bab IX
10
Bab X
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!