"Apa-apaan kamu, dek? Harus nya kamu yang minta maaf, bukan ibu yang minta maaf. Mas kecewa sama kamu!" Bentak Mas Tio, kemudian keluar dari kamar ibu.
Sedangkan aku masih diam berdiri kaku, aku masih syok dengan apa yang terjadi barusan. Kemudian aku sadar dari lamunan ku, saat ibu mertua ku berbicara.
"Liat kan? Siapa yang lebih Tio percaya. Hahaha. ." Ucap senang Ibu Mertua.
"Ingat jangan macam-macam lagi kamu sama ibu! Kamu bisa ibu tendang dari rumah ini kalau kamu macam-macam." Ancam Ibu Mertua pada ku.
Tanpa mengucapkan apa pun, aku keluar dari kamar ibu mertua.
Aku menangis dikamar ku.
'Ya Allah kenapa ibu setega itu padaku? Apa salahku padanya?" Ucap lirih Nadira, dengan air mata yang terus mengalir.
Bisakah aku terus bertahan dengan keadaan yang seperti ini?
Aku seperti berjalan sendiri, tanpa arah dan tak tau akan kemana aku sampai.
Selalu di tuntut untuk sabar, namun tidak pernah mengerti keadaan ku dan tidak pernah bertanya keluh kesah ku.
Lelah menangis, aku pun tertidur. Menjelang subuh aku terbangun seperti biasa, kulihat kasur sebelah ku ternyata kosong. Berarti semalam Mas Tio tidur di kamar tamu.
"Kenapa, Mas kamu lebih percaya ucapan Ibu dari pada mendengar penjelasan aku? Apa selama ini aku memang tidak berarti apa pun untuk mu mas?" Ucap Nadira dengan air mata yang mengalir.
Tak mau memperkeruh suasana, aku pun keluar kamar dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya dan kembali ke kamar untuk shalat.
Setelah shalat subuh aku kembali ke dapur, ternyata ibu sudah ada didapur, untuk menghidangkan masakan yang aku buat.
"Udah sana pergi, jangan ganggu ibu" Ucap Ketus Ibu Mertua, mengusir ku dari dapur.
Namun aku tetap melakukan kegiatan ku.
"Heh, kamu budeg iya? Sana pergi" Usir Ibu Mertua.
Tanpa banyak kata aku meneruskan pekerjaan ku. Dan ku lihat muka ibu sangat kesal.
"Ntah apa yang akan ibu lakukan lagi" Ucap Nadira tak habis pikir dengan kelakuan ibu mertuanya.
Suami ku pun datang ke meja makan, sudah lengkap dengan stelan kerja yang aku siapkan.
Dia pun duduk, tanpa banyak bicara.
"Ayo, Tio ini cobain. Seperti biasa ini ibu semua yang masak, kamu pasti suka. Sini piring nya" Ucap Ibu Mertua dengan bangga, kemudian mengambil piring suami ku dan di isi lauk oleh ibu mertua.
Padahal semua masakan itu aku yang membuatnya, tapi ya sudahlah aku ga mau ambil pusing lagi.
"Makasih bu" Jawab Mas Tio.
"Gimana enak kan Tio?" Tanya Ibu Mertua semangat.
"Iya Bu, enak" Ucap Mas Tio.
"Tentu, ibu yang masak" Ucap Ibu Mertua dengan bangga.
Aku hanya diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Mulai hari ini semua keuangan biar ibu yang pegang, kamu serahin sisa uang bulanan ke ibu semua. Biar ibu yang atur semua uang" Tegas Mas Tio.
"Iya Mas" Ucap Nadira pelan, kemudian Nadira pun pergi ke kamar.
"Ini sisa uang bulanan dari Mas Tio, ada 4.850.000 semua rincian uang yang udah aku pake, ada semua di buku ini. Dan ini semua tagihan yang belum terbayarkan bulan ini" Ucap Nadira, sambil menyerahkan buku dan uang kepada Mas Tio.
Mas Tio pun mengambil nya dan melihat isi buku tersebut, sedangkan Ibu Mertua ku.
"Loh ko tinggal segitu, Nad? Kamu boros amat jadi orang! Nih jadi istri itu harus pinter-pinter nyimpen uang, kalau sewaktu-waktu perlu uang kan ga repot. Ini baru tanggal segini uang tinggal segitu, pasti kamu hambur-hamburin kan uangnya?" Tuduh Ibu Mertua ketus
"Ibu bisa lihat di catatan nya, untuk apa aja aku ngeluarin uang." Ucap Nadira santai.
"Alah bisa aja itu rekayasa kamu semua, cuman tulisan gitu doang juga ibu bisa." Ucap Ibu Mertua menyepelekan ku.
"Sini-sini biar ibu yang pegang uang nya" Ucap Ibu Mertua, sambil mengambil sisa uang bulanan yang ada di meja.
Sedangkan suami ku masih membaca rincian yang selama ini aku tulis.
Iya betul, selama ini aku selalu menuliskan semua pengeluaran ku di buku. Untuk berjaga-jaga hal seperti ini terjadi, tak lupa aku selalu mefoto dan melampirkan bukti pengeluaran.
Setiap bulan Mas Tio memberikan aku uang bulanan 8 juta, untuk keperluan rumah, bayar tagihan, bayar cicilan rumah dan untuk Ibu Mertua.
Sebenarnya uang itu tidak pernah cukup hingga akhir bulan, karna Ibu Mertua selalu meminta uang dengan berbagai alasan. Hingga aku selalu menggunakan uang tabungan ku.
Mas Tio pun memandang ke arah ku, kemudian ke arah Ibunya. Sedangkan aku hanya diam.
"Aku berangkat" Ucap Mas Tio dengan muka yang masih terlihat bingung.
"Iya hati-hati, Tio" Ucap Ibu Mertua, saat Mas Tio mencium tangan nya.
Aku pun mengantar Mas Tio ke depan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Saat sampai di depan rumah, aku menyerahkan tas kerja suami.
"Ini mas, hati-hati di jalannya. Semoga Allah melancarkan pekerjaan Mas hari ini dan semoga Allah selalu melindungi Mas." Do'a ku untuk Mas Tio, sambil mencium tangannya.
"Aamiin, makasih Dek. Maafin Mas iya Dek, semoga kamu mengerti kondisi Mas." Ucap Mas Tio sendu.
"Iya, mas." Ucap singkat Nadira, sambil melambaikan tangan.
Kemudian aku pun masuk kedalam rumah, untuk membereskan piring di meja makan. Ibu pun keluar dari kamar nya dengan pakaian rapih, berjalan melewatiku.
Aku hanya menggelengkan kepala, sambil terus beristighfar.
'Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, aku diam bukan karna aku lemah. Tapi aku pengen liat drama apa lagi yang akan terjadi' Ucap ku dalam hati.
Tanpa pamit ibu pergi keluar rumah.
Sedangkan aku di rumah, untuk strika baju atau mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Hingga siang hari Ibu Mertua ku belum juga kembali, aku khawatir takut terjadi apa-apa sama Ibu Mertua.
Aku pun menelpon ibu mertua, namun hanya jawaban dari operator yang ku dengar. Akhirnya aku telpon suami ku.
"Assalamualaikum, Mas" Ucap salam Nadira lewat telpon.
"Wa'alaikum salam, ada apa dek? Mas lagi kerja ini!" Ucap Mas Tio kesal.
"Maaf Mas mengganggu. Aku cuman mau bilang, ibu dari tadi pagi pergi dan sampe sekarang belum pulang. Aku udah coba telpon, tapi ga aktif nomor nya. Barangkali mas tau, aku khawatir sama ibu." Ucap Nadira hati-hati.
"APA? Sampe jam segini belum pulang? Emang tadi kamu ga tanya ke mana ibu pergi? Kamu kan yang seharian di rumah, harusnya kamu lebih perhatian ke ibu! Tanya ibu mau ke mana, pulang jam berapa atau apa ke gitu!" Marah Mas Tio.
"Maaf mas, tadi ibu keliatan nya buru-buru. Mau aku tanya ibu keburu pergu." Ucap Nadira sambil menjelaskan.
"Alah bilang aja kamu emang ga pernah peduli sama ibu!" Marah Mas Tio langsung mematikan telpon.
'Ya Allah apalagi ini, kenapa semakin lama ucapan ku tidak lagi di dengar Mas Tio. Bahkan Mas Tio sudah tidak perhatian seperti dulu lagi.' Ucap Lirih Nadira dengan air mata yang mengalir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments