Bab 16

Pov Nadira. . .

Pagi ini aku datang dengan semangat, ingin membantu Selva mengerjakan berkas yang belum selesai. Namun semangat ku luntur, begitu tau Selva belum datang.

Apalagi ternyata di meja benar-benar banyak dokumen, lebih tepatnya 2 tumpuk dokumen setinggi laptop. Ingin rasanya aku berkata kasar dan mengumpat.

Ku tarik napas dalam-dalam, kemudian ku hembuskan. Mencoba merilekskan diri, agar tidak tambah stres menghadapi semua ini.

Akhirnya ku mulai untuk mengerjakannya berkas yang ada, hingga tak terasa 2 jam pun berlalu dan Sekretaris Dian memberitahukan bahwa kami ada meeting sebentar lagi. Bergegas aku kerjakan sebisa ku.

Kemudian kami pun pergi menuju tempat meeting, sesampainya di sana aku terkejut melihat suami ku dengan wanita yang tempo hari ku lihat berboncengan dengan nya.

Kemudian aku mencoba tenang dan akan menghampiri mereka, namun tidak jadi.

"Mari Bu, Pak Wijaya sudah menunggu di ruang meeting." Ajak Sekretaris Dian padaku.

"Oke." Ucapku lesu.

'Ingin sekali rasanya menghampiri mereka dan bertanya sedang apa kalian di Hotel? Namun aku juga harus ingat, sekarang aku sedang menjalankan tugasku.' Ucap ku dalam hati.

Kami berjalan bersama menuju ruang meeting.

"Selamat siang Pak Wijaya, perkenalkan ini adalah Ibu Nadira yang akan menggantikan Ibu Selva yang berhalangan hadir." Ucap Sekretaris Dian memperkenalkan ku kepada klien kami.

"Senang bertemu dengan anda, ibu Nadira. Saya adalah Wijaya pemilik PT. Jaya Wijaya." Ucap Pak Wijaya dengan mengulurkan tangannya.

"Senang juga bertemu dengan Bapak, saya Nadira Perwakilan PT. NH grup. Mohon kerjasamanya pak." Ucap ku sambil meraih tangan beliau dan kami pun berjabat tangan.

"Mari silahkan duduk, kita akan mulai setelah perwakilan PT. ABC datang. Silakan di minum dulu." Ucap Pak Wijaya menjelaskan dan kami pun duduk dulu, tetapi tak lama kemudian pintu di ketuk dan masuk lah perwakilan PT. ABC.

Betapa terkejutnya aku, ternyata perwakilan PT. ABC adalah suami ku dengan wanita berhijab itu. Namun aku berusaha untuk profesional dan tidak mencampur adukkan urusan pribadi.

Dan kulihat Mas Tio pun terkejut, namun dia berusaha menutupi hal itu. Dan kami pun mulai membahas tentang proyek yang akan di jalan kan, begitu pun siapa yang nanti akan memenangkan proyek tersebut.

Saat ini aku di beri kesempatan untuk mempresentasikan terlebih dahulu. Karena aku sudah biasa berhadapan dengan klien yang seperti ini, jadi aku bisa lebih rileks.

". . . .

Sekian dari kami, apabila ada pertanyaan kami persilahkan." Ucapku menutup presentasi yang ku paparkan.

Prok. . . Prok. . . Prok. . .

Aku pun melempar senyuman, karena ternyata hasil presentasi ku memuaskan pihak klien kami. Hingga mereka memberikan tepuk tangan untuk ku.

"Hebat. . . Hebat. . . Saya suka. Penjelasan yang dibuat singkat, namun banyak hal yang bisa kita lihat bersama. Penyampaian yang luwes, tidak canggung sama sekali. Saya suka sekali. Hebat!" Ucap Pak Wijaya puas dengan hasil presentasi kami.

"Terimakasih atas pujiannya, kalau begitu kami akhiri presentasi hari ini. Terimakasih atas perhatiannya, assalamualaikum." Aku pun mengakhiri presentasi dan kembali duduk.

"Baiklah sekarang giliran PT. ABC untuk menyampaikan presentasi nya, silahkan." Ucap Pak Wijaya mempersilakan perwakilan PT. ABC dan yang maju adalah Mas Tio.

Kulihat Mas Tio melirik pada ku dan aku pun melempar senyuman padanya. Padahal hati ku sedang tidak baik-baik saja, melihatnya bersama wanita itu lagi.

Kemudian Mas Tio mulai memaparkan presentasi nya, namun yang lihat Mas Tio tampak gugup dan tidak percaya diri. Mungkin karena melihat aku ada disini, sebagai pesaing perusahaannya membuat Mas Tio gugup.

". . . .

Sekian presentasi dari saya, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan Bapak dan Ibu sekalian. Terimakasih atas perhatiannya, Selamat Siang!" Ucap Mas Tio menutup presentasi yang disampaikan nya.

Prok. . . Prok. . . Prok. . .

"Terimakasih Pak Tio atas presentasi nya." Ucap Pak Wijaya sambil bertepuk tangan.

"Baik setelah saya mendengar dan melihat presentasi yang disampaikan, dengan ini saya memutuskan untuk memberikan proyek Resort Arumi kepada PT. NH grup. Selamat kepada PT. NH grup, semoga dapat menjalankan proyek ini dengan baik, seperti yang di presentasi kan tadi." Ucap Pak Wijaya sambil mengulurkan tangan padaku, kami pun berjabat tangan.

"Terimakasih banyak atas kepercayaan Bapak, Insyallah kami tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih banyak." Ucap ku tulus dengan senyum merekah.

"Sama-sama, senang bisa bekerjasama dengan anda Ibu Nadira. Dan untuk PT. ABC saya ucapkan permohonan maaf, semoga lain kali kita bisa bekerjasama." Ucap Pak Wijaya mengulurkan tangannya kepada Mas Tio, mereka pun berjabat tangan.

"Tidak apa-apa pak! Iya semoga lain kali kami bisa memenangkan proyek Bapak uang selanjutnya, terimakasih atas kesempatan yang Bapak berikan kepada kami." Ucap Mas Tio dengan senyum terpaksa dan menatap ku tajam.

"Sama-sama Pak Tio! Baik lah, pertemuan ini kita akhiri. Terimakasih atas kedatangannya dan mohon maaf bila ada jamuan kami yang kurang berkenan." Ucap Pak Wijaya tulus.

"Sama-sama pak! Mohon maaf tidak bermaksud untuk tidak sopan, namun kami ingin pamit undur diri terlebih dahulu. Karena masih ada meeting yang harus kami hadiri." Ucap ku pamit kepada semua yang ada di ruang meeting.

"Silahkan Bu, tidak perlu sungkan. Saya tau ibu sangat sibuk, untuk perihal kelanjutan proyek ini sekretaris saya yang akan menghubungi ibu." Ucap Pak Wijaya.

"Terimakasih pak, atas pengertiannya. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, assalamualaikum." Ucap saya sambil mengulurkan tangan kepada Pak Wijaya.

Ku langkahkan kaki dengan cepat, ntah kenapa ingin sekali aku menghindar dari pandangan Mas Tio.

"Ayo Dian, kita segera ke kantor." Ucap ku dengan berjalan tergesa-gesa.

"Baik Bu." Ucap Sekretaris Dian yang mengikuti ku dengan sedikit berlari mengikuti, hingga tibalah kami di tempat parkir.

Ceklek. .

"Silakan, Bu!" Ucap Sekretaris Dian membukakan pintu untuk ku.

"Terimakasih." Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil dan setelah Sekretaris Dian masuk aku pun memerintahkan supir untuk segera kembali ke kantor.

"Jalan, Pak! Kita kembali ke kantor." Ucap ku pada sopir kami.

"Baik, Bu." Ucap sang sopir, yang kemudian menyalakan mobil dan kami pun berjalan meninggalkan Hotel.

Suasana di mobil hening, tidak ada yang memulai obrolan. Aku yang sedang memikirkan hubungan suami ku dengan wanita berhijab itu dan Sekretaris Dian yang mungkin enggan mengganggu ku. Hingga Sekretaris Dian membuyarkan lamunanku.

"Maaf, Bu. Boleh saya bertanya?" Tanya Sekretaris Dian hati-hati.

"Kamu pasti mau bertanya kenapa suami ku bisa dekat sekali dengan wanita berhijab itu? Dan kenapa aku berbohong kepada Pak Wijaya? Betul kan?" Ucap ku kepada Sekretaris Dian yang sepertinya penasaran dengan tingkah laku yang aku lakukan.

"Iya Bu betul sekali. Soalnya saya sudah beberapa kali melihat suami ibu dengan wanita berhijab itu, dan bukankah kita sudah tidak ada meeting lagi Bu?" Ucap Sekretaris Dian yang penuh tanya.

"Yang pertama, saya juga tidak tau siapa wanita itu. Karna jujur saya baru melihat suami saya dan wanita itu bersama tadi malam. Yang kedua, saya sengaja menghindari suami saya untuk sementara. Karena jika kita berlama-lama, mungkin saya tidak bisa menahan diri." Ucapku menjelaskan dengan wajah sendu.

"Maafkan saya Bu, sudah membuat ibu sedih." Ucap Sekretaris Dian menyesal, sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak apa, ini bukan salah kamu." Ucap ku dengan senyum paksa.

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara kami, hingga sampailah kamu di kantor.

Terpopuler

Comments

Soraya

Soraya

aneh aja ms Tio ga punya mobil

2023-10-09

0

Riyana Lanay

Riyana Lanay

sabar nad
up lagi thor

2023-04-26

1

Erni Sulistia

Erni Sulistia

up lagi dong

2023-04-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab I
2 Bab II
3 Bab III
4 Bab IV
5 Bab V
6 Bab VI
7 Bab VII
8 Bab VIII
9 Bab IX
10 Bab X
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Bab I
2
Bab II
3
Bab III
4
Bab IV
5
Bab V
6
Bab VI
7
Bab VII
8
Bab VIII
9
Bab IX
10
Bab X
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!