Pov Nadira. . .
Pagi ini aku datang dengan semangat, ingin membantu Selva mengerjakan berkas yang belum selesai. Namun semangat ku luntur, begitu tau Selva belum datang.
Apalagi ternyata di meja benar-benar banyak dokumen, lebih tepatnya 2 tumpuk dokumen setinggi laptop. Ingin rasanya aku berkata kasar dan mengumpat.
Ku tarik napas dalam-dalam, kemudian ku hembuskan. Mencoba merilekskan diri, agar tidak tambah stres menghadapi semua ini.
Akhirnya ku mulai untuk mengerjakannya berkas yang ada, hingga tak terasa 2 jam pun berlalu dan Sekretaris Dian memberitahukan bahwa kami ada meeting sebentar lagi. Bergegas aku kerjakan sebisa ku.
Kemudian kami pun pergi menuju tempat meeting, sesampainya di sana aku terkejut melihat suami ku dengan wanita yang tempo hari ku lihat berboncengan dengan nya.
Kemudian aku mencoba tenang dan akan menghampiri mereka, namun tidak jadi.
"Mari Bu, Pak Wijaya sudah menunggu di ruang meeting." Ajak Sekretaris Dian padaku.
"Oke." Ucapku lesu.
'Ingin sekali rasanya menghampiri mereka dan bertanya sedang apa kalian di Hotel? Namun aku juga harus ingat, sekarang aku sedang menjalankan tugasku.' Ucap ku dalam hati.
Kami berjalan bersama menuju ruang meeting.
"Selamat siang Pak Wijaya, perkenalkan ini adalah Ibu Nadira yang akan menggantikan Ibu Selva yang berhalangan hadir." Ucap Sekretaris Dian memperkenalkan ku kepada klien kami.
"Senang bertemu dengan anda, ibu Nadira. Saya adalah Wijaya pemilik PT. Jaya Wijaya." Ucap Pak Wijaya dengan mengulurkan tangannya.
"Senang juga bertemu dengan Bapak, saya Nadira Perwakilan PT. NH grup. Mohon kerjasamanya pak." Ucap ku sambil meraih tangan beliau dan kami pun berjabat tangan.
"Mari silahkan duduk, kita akan mulai setelah perwakilan PT. ABC datang. Silakan di minum dulu." Ucap Pak Wijaya menjelaskan dan kami pun duduk dulu, tetapi tak lama kemudian pintu di ketuk dan masuk lah perwakilan PT. ABC.
Betapa terkejutnya aku, ternyata perwakilan PT. ABC adalah suami ku dengan wanita berhijab itu. Namun aku berusaha untuk profesional dan tidak mencampur adukkan urusan pribadi.
Dan kulihat Mas Tio pun terkejut, namun dia berusaha menutupi hal itu. Dan kami pun mulai membahas tentang proyek yang akan di jalan kan, begitu pun siapa yang nanti akan memenangkan proyek tersebut.
Saat ini aku di beri kesempatan untuk mempresentasikan terlebih dahulu. Karena aku sudah biasa berhadapan dengan klien yang seperti ini, jadi aku bisa lebih rileks.
". . . .
Sekian dari kami, apabila ada pertanyaan kami persilahkan." Ucapku menutup presentasi yang ku paparkan.
Prok. . . Prok. . . Prok. . .
Aku pun melempar senyuman, karena ternyata hasil presentasi ku memuaskan pihak klien kami. Hingga mereka memberikan tepuk tangan untuk ku.
"Hebat. . . Hebat. . . Saya suka. Penjelasan yang dibuat singkat, namun banyak hal yang bisa kita lihat bersama. Penyampaian yang luwes, tidak canggung sama sekali. Saya suka sekali. Hebat!" Ucap Pak Wijaya puas dengan hasil presentasi kami.
"Terimakasih atas pujiannya, kalau begitu kami akhiri presentasi hari ini. Terimakasih atas perhatiannya, assalamualaikum." Aku pun mengakhiri presentasi dan kembali duduk.
"Baiklah sekarang giliran PT. ABC untuk menyampaikan presentasi nya, silahkan." Ucap Pak Wijaya mempersilakan perwakilan PT. ABC dan yang maju adalah Mas Tio.
Kulihat Mas Tio melirik pada ku dan aku pun melempar senyuman padanya. Padahal hati ku sedang tidak baik-baik saja, melihatnya bersama wanita itu lagi.
Kemudian Mas Tio mulai memaparkan presentasi nya, namun yang lihat Mas Tio tampak gugup dan tidak percaya diri. Mungkin karena melihat aku ada disini, sebagai pesaing perusahaannya membuat Mas Tio gugup.
". . . .
Sekian presentasi dari saya, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan Bapak dan Ibu sekalian. Terimakasih atas perhatiannya, Selamat Siang!" Ucap Mas Tio menutup presentasi yang disampaikan nya.
Prok. . . Prok. . . Prok. . .
"Terimakasih Pak Tio atas presentasi nya." Ucap Pak Wijaya sambil bertepuk tangan.
"Baik setelah saya mendengar dan melihat presentasi yang disampaikan, dengan ini saya memutuskan untuk memberikan proyek Resort Arumi kepada PT. NH grup. Selamat kepada PT. NH grup, semoga dapat menjalankan proyek ini dengan baik, seperti yang di presentasi kan tadi." Ucap Pak Wijaya sambil mengulurkan tangan padaku, kami pun berjabat tangan.
"Terimakasih banyak atas kepercayaan Bapak, Insyallah kami tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih banyak." Ucap ku tulus dengan senyum merekah.
"Sama-sama, senang bisa bekerjasama dengan anda Ibu Nadira. Dan untuk PT. ABC saya ucapkan permohonan maaf, semoga lain kali kita bisa bekerjasama." Ucap Pak Wijaya mengulurkan tangannya kepada Mas Tio, mereka pun berjabat tangan.
"Tidak apa-apa pak! Iya semoga lain kali kami bisa memenangkan proyek Bapak uang selanjutnya, terimakasih atas kesempatan yang Bapak berikan kepada kami." Ucap Mas Tio dengan senyum terpaksa dan menatap ku tajam.
"Sama-sama Pak Tio! Baik lah, pertemuan ini kita akhiri. Terimakasih atas kedatangannya dan mohon maaf bila ada jamuan kami yang kurang berkenan." Ucap Pak Wijaya tulus.
"Sama-sama pak! Mohon maaf tidak bermaksud untuk tidak sopan, namun kami ingin pamit undur diri terlebih dahulu. Karena masih ada meeting yang harus kami hadiri." Ucap ku pamit kepada semua yang ada di ruang meeting.
"Silahkan Bu, tidak perlu sungkan. Saya tau ibu sangat sibuk, untuk perihal kelanjutan proyek ini sekretaris saya yang akan menghubungi ibu." Ucap Pak Wijaya.
"Terimakasih pak, atas pengertiannya. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, assalamualaikum." Ucap saya sambil mengulurkan tangan kepada Pak Wijaya.
Ku langkahkan kaki dengan cepat, ntah kenapa ingin sekali aku menghindar dari pandangan Mas Tio.
"Ayo Dian, kita segera ke kantor." Ucap ku dengan berjalan tergesa-gesa.
"Baik Bu." Ucap Sekretaris Dian yang mengikuti ku dengan sedikit berlari mengikuti, hingga tibalah kami di tempat parkir.
Ceklek. .
"Silakan, Bu!" Ucap Sekretaris Dian membukakan pintu untuk ku.
"Terimakasih." Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil dan setelah Sekretaris Dian masuk aku pun memerintahkan supir untuk segera kembali ke kantor.
"Jalan, Pak! Kita kembali ke kantor." Ucap ku pada sopir kami.
"Baik, Bu." Ucap sang sopir, yang kemudian menyalakan mobil dan kami pun berjalan meninggalkan Hotel.
Suasana di mobil hening, tidak ada yang memulai obrolan. Aku yang sedang memikirkan hubungan suami ku dengan wanita berhijab itu dan Sekretaris Dian yang mungkin enggan mengganggu ku. Hingga Sekretaris Dian membuyarkan lamunanku.
"Maaf, Bu. Boleh saya bertanya?" Tanya Sekretaris Dian hati-hati.
"Kamu pasti mau bertanya kenapa suami ku bisa dekat sekali dengan wanita berhijab itu? Dan kenapa aku berbohong kepada Pak Wijaya? Betul kan?" Ucap ku kepada Sekretaris Dian yang sepertinya penasaran dengan tingkah laku yang aku lakukan.
"Iya Bu betul sekali. Soalnya saya sudah beberapa kali melihat suami ibu dengan wanita berhijab itu, dan bukankah kita sudah tidak ada meeting lagi Bu?" Ucap Sekretaris Dian yang penuh tanya.
"Yang pertama, saya juga tidak tau siapa wanita itu. Karna jujur saya baru melihat suami saya dan wanita itu bersama tadi malam. Yang kedua, saya sengaja menghindari suami saya untuk sementara. Karena jika kita berlama-lama, mungkin saya tidak bisa menahan diri." Ucapku menjelaskan dengan wajah sendu.
"Maafkan saya Bu, sudah membuat ibu sedih." Ucap Sekretaris Dian menyesal, sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, ini bukan salah kamu." Ucap ku dengan senyum paksa.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara kami, hingga sampailah kamu di kantor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Soraya
aneh aja ms Tio ga punya mobil
2023-10-09
0
Riyana Lanay
sabar nad
up lagi thor
2023-04-26
1
Erni Sulistia
up lagi dong
2023-04-20
1