Pov Selva. . .
"Hoammm. . ." Aku menguap, sambil merenggangkan badan ku.
Rasanya baru saja aku tertidur, karena semalam aku pergi bersama teman ke acara party. Awalnya aku menolak, namun mereka terus memaksa. Hingga akhirnya aku pun pergi bersama mereka.
Ntah jam berapa aku sampai rumah, namun saat aku akan tidur. Suara adzan berkumandang, mungkin subuh aku sampai rumah. Aku pun langsung tertidur, tanpa berganti pakaian.
Tring. . . Tring. . . Tring. . .
Tring. . . Tring. . . Tring. . .
Handphone ku terus berbunyi, menggangu tidur ku yang nyenyak. Namun aku tidak memperdulikan nya, ku lanjutkan tidur ku yang terganggu.
Tring. . . Tring. . . Tring. . .
Tring. . . Tring. . . Tring. . .
Lagi dan lagi ada yang menelpon, karena kesal ambil handphone dan mematikan nya. Namun ntah kenapa mata ini malah melirik jam dinding di kamar, aku sangat terkejut.
Karena sekarang sudah jam 11.35, itu artinya aku terlambat masuk kerja. Bergegas ku aktifkan handphone ku, ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Asisten Dian dan juga Mba Nadia.
"Mba Nadia?" Gumam ku.
"Ngapain mba Nadia telpon sebanyak ini?" Ucap ku bingung, hingga sepersekian detik aku baru mengingat sesuatu.
"Astaghfirullah, mba Nadia kan mau ngantor lagi mulai hari ini." Ucap ku sambil menepuk kening ku.
"Alamat kena ceramah 2 hari 2 malem ini." Keluh ku, kemudian aku bergegas mandi dan bersiap ke kantor.
Ku lajukan mobil ku dengan cepat, namun ternyata jalanan sangat macet. Membuat aku terus mengumpat kesal, 1 jam kemudian aku tiba di kantor.
Bergegas aku turun dari mobil dan berlari ke arah lift khusus petinggi perusahaan. Banyak mata yang melihat ku heran, namun aku tidak memperdulikannya. Aku hanya ingin segera sampai ke ruangan.
Ting. . .
"Hosh. . . Hosh. . ." Bunyi napas ku kelelahan, karena berlari.
"Sial banget hari ini, ayo dong lama banget ini lift." Ucap ku kesal, karena lift terasa lama sekali.
Ting. . .
Akhirnya aku tiba di lantai atas, di mana ruangan ku berada. Bergegas aku berlari, dan ku sempatkan melirik ruangan Sekretaris Dian ternyata kosong.
"Kemana Dian? Ko ruangannya kosong?" Ucap ku bingung.
"Oh. . Iya! Mungkin masih makan siang." Ucap ku saat melihat jam menunjukan 12.40.
Ceklek. . .
"Selamat. . . Selamat. . Mba Nadira belum datang." Ucap ku riang gembira dengan senyum merekah, sambil melangkah menuju meja kerja. Tetapi seperti ada yang berbeda dengan meja kerjaku, tapi aku tidak tau.
"Tunggu deh. . . Bukannya kemaren itu masih banyak banget berkasnya? Ada 2 tumpuk! Ko sekarang cuman 1 tumpuk?" Ucap bingung aku melihat meja ku yg sebagian berkasnya tidak ada.
"Aku yakin banget, kemaren ada 2 tumpuk berkas! Kemana sisanya? Mati aku kalau sampe hilang!" Keluh Selva bingung dan sibuk mencari kemana sisa berkas nya.
"Dian. . . Iya aku harus tanya dulu, dia pasti tau kemana berkasnya! Aku telpon aja, biar dia cepetan ke sini." Ucap ku sambil mengambil handphone dan menghubungi Asisten Dian.
Tut. . . Tut. . . Tut. . .
[Selamat siang Bu.] Sapa Asisten Dian
[Dian kamu di mana? Cepet keruangan sekarang juga!] Perintah ku yang sedang galau kemana berkas ku hilang.
[Mohon maaf Bu, saya sedang meeting dengan perwakilan PT. Jaya Wijaya, saat ini kami baru menyelesaikan makan siang dan akan melanjutkan meeting nya Bu.] Jelas Asisten Dian kepadaku.
[Ya ampun. . . Aku lupa kalau hari ini ada meeting, terus gimana? Mereka pasti nanyain aku kan? Ya ampun bisa jadi pepes aku sama mba Nadira.] Keluh ku pada Asisten Dian.
[Ibu tenang saja, semua sudah terkendali. Mohon maaf Bu, kami akan melanjutkan meeting.] Ucap Asisten Dian.
[Oke kalau gitu, kamu hati-hati pulang nya.] Ucap ku.
[Baik Bu, selamat siang.] Ucap Asisten Dian kemudian ku matikan handphone ku.
"Lah kenapa tadi ngga nanya di mana itu berkas." Keluh ku sambil menepuk kening.
"Aduh jangan sampe mba Nadira tau, bakal panjang ceritanya. Udah datang telat, berkas lupa nyimpen, lupa meeting pula." Ucap ku sambil bolak balik di depan meja kerja ku, kemudian aku pun duduk di kursi kerjaku.
Niat hati ingin mengerjakan berkas yang ada, namun mata ku tidak bisa di ajak kompromi. Hingga akhirnya aku pun tertidur di meja kerja ku, ntah berapa lama aku tertidur.
Karena terganggu dengan suara berisik, aku pun terbangun. Dan aku terkejut melihat Mba Nadira dan Asisten Dian sudah ada di ruangan ku, sedang membahas sesuatu.
"Eh kalian udah datang, dari mana aja sih? Aku nungguin kalian sampe ke tiduran mih!" Ucap ku pura-pura kesal, padahal aku sedang berusaha menutupi rasa takut.
"Oke Dian kamu buat seperti yang tadi saya jelaskan, sekarang kamu kembali ke ruangan. Saya mau memberikan pelajaran untuk anak nakal dulu." Ucap Mba Nadira pada Sekretaris Dian.
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Pamit Sekretaris Dian, kemudian berjalan meninggalkan ruangan ku.
Ku lihat Mba Nadira masih fokus dengan laptopnya, dan aku bingung harus bicara apa. Yang jelas aku berharap Mba Nadira tidak tau apa yang terjadi hari ini.
"Jadi apa yang mau kamu jelaskan ke mba?" Tanya Mba Nadira kepadaku.
"Mmm. . . Gini mba, tadi itu Dian pergi. Aku kan bosen dan capek juga ngerjain berkas, jadi aku ke tiduran. Maaf banget iya mba." Ucap ku memelas, sedikit berbohong agar tidak kena marah ratu singa.
Kulihat Mba Nadira tampak menarik napas panjang dan memijit pelipisnya.
"Mba kenapa? Mba sakit? Kita ke Rumah Sakit aja yuk." Ajak ku pada Mba Nadira, sambil mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tau mba datang dari jam berapa?" Tanya Mba Nadira.
"Tau ko. . . Mba baru datang kan? Soalnya tadi aku datang ruangan masih kosong." Ucap ku percaya diri.
"Ke mana berkas yang ada di meja kamu 1 tumpuknya lagi?" Tanya Mba Nadira lagi.
"Mmmm. . . Ngga ada ko mba, cuman ada 1 tumpuk ini doang ko mba. Tenang aja hari ini juga selesai ko mba." Ucap ku gelagapan.
"Yakin?" Tanya Mba Nadira sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri ku.
"Yakin lah mba, masa aku bohong sama mba!" Ucap ku berusaha meyakinkan Mba Nadira.
Tiba-tiba telinga ku di jewer oleh Mba Nadira, ntah apa salahku. Lagi dan lagi telinga yang jadi korban.
"Aw. . . Aw. . . Ampun mba, apa salah aku mba?" Ucap ku memelas menahan sakit di telinga.
"Masih nanya salah kamu apa?" Ucap kesal Mba Nadira dengan tangan yang menjewer telingaku.
"Ampun mba. . . Ampun. . . Janji ga lagi. . Ampun. . ." Ucap ku memelas.
"Ngga ada ampun lagi buat kamu, pokoknya sekarang kamu mba hukum. Berdiri sana di pojok, cepetan." Ucap Mba Nadira kesal, sambil melepaskan jeweran di telinga ku.
"Iya ampun mba, mau ngapain sih?" Tanya ku, namun aku tetap menuruti perintahnya. Sambil mengelus telingaku.
"Angkat kaki satu, pegang telinga. SEKARANG!" Ucap tegas Mba Nadira.
"Whatt??? Mba ngga serius kan? Aku bukan anak SD Loch mba!" Aku pun protes tidak mau melakukan hal memalukan seperti itu.
"Mending juga anak SD di kasih tau ngerti, lah ini kamu udah tua juga di kasih tau ngga ngerti-ngerti!" Ucap Mba Nadira kesal.
"Udah cepetan lakuin yang mba suruh." Ucap Mba Nadira dan aku pun melakukan apa yang dikatakan nya.
"Udah nih mba, udahan iya!" Ucap ku dengan muka memohon.
"Jangan di turunin, sampai mba bilang turun. Mengerti!" Ucap Mba Nadira tegas.
Aku hanya bisa pasrah menuruti apa yang diucapkan Mba Nadira, dari pada menambah murka Ratu Singa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Erni Sulistia
up
2023-04-18
1
Ibu Kurnia Astuti
up lagi thor
2023-04-18
1