4 jam berlalu dan mereka telah tiba di gerbang depan Kerajaan Estonia. Serlun bicara dengan salah satu kesatria yang merupakan kenalannya. Dia melaporkan penyerangan petualang yang di sewanya agar guild menangani masalah tersebut.
Uyne menghampiri Leon dan memberikan beberapa tanaman obat. "Silakan diterima," ucap Uyne dengan senyum menawan.
Leon tidak tahu kegunaan tanaman obat yang berbentuk seperti rumput liar. "Namanya Daun Thim. Kamu bisa menyeduhnya dengan air panas dan campurkan sedikit gula. Saat meminumnya akan melancarkan pernapasan dan saluran pencernaan," ucap Cerlin.
"Seperti Daun Teh," pikir Leon.
Serlun selesai bicara dan memberikan tanda pengenal kepada Leon. "Itu digunakan sebagai tanda bahwa kamu adalah pedagang yang sudah mendapatkan izin berjualan," ucap Serlun.
"Terima kasih," balas Leon menyimpan tanda pengenalnya.
Kesatria mempersilakan mereka masuk Kerajaan Estonia. Leon terpukau melihat kota seperti abad pertengahan. Ada banyak pedagang dengan Ras yang berbeda-beda sedang menawarkan produk buatannya kepada penduduk Kerajaan Estonia.
"Kenapa ada begitu banyak pedagang di sini, bahkan dari berbagai Ras." Tanya Leon bingung.
"Kerajaan Estonia berada di tengah dari empat kerajaan sehingga menjadikannya sebagai arus perdagangan," jawab Serlun.
"Lalu kenapa mereka saling rukun satu sama lain, bahkan tidak ada masalah seperti diskriminasi." Leon bertanya lagi.
"Itu semua karena Ras Dragonoid membuat Perjanjian Lima Ras, yaitu dilarang berperang jika tidak ada persetujuan dari kedua belah pihak dan dilarang untuk membenci perbedaan Ras!" jawab Serlun.
Leon bingung harus mulai dari mana dan meminta saran kepada Serlun. Alih-alih menerima saran, Leon justru diberi tempat gratis untuk memulai dagang.
"Sekali lagi terima kasih, Serlun!" ucap Leon.
"Semangat dan sampai jumpa lagi, Leon!" balas Serlun dan keluarganya berpamitan.
Leon bersemangat untuk mulai jualan dan hal pertama yang dilakukannya adalah memotong buah dengan bentuk hewan. Leon mengincar anak-anak dengan memperlihatkan Magic Fruit berbentuk kelinci. Selain itu, Leon juga menjelaskan secara singkat kepada pelanggan yang berhenti.
"Silakan dibeli hanya 5 tembaga saja!" teriak Leon.
Namun, berkali-kali Leon menawarkan produknya tidak ada yang mau membeli. Mereka masih ragu dan takut melihat warna buahnya, tetapi Leon masih bersemangat menawarkan Magic Fruit. Pagi, siang sampai sore tidak ada satu pun pelanggan yang mau membeli Magic Fruit.
Master kurang beruntung atau kurang ahli menjualnya?
"Aku yakin teknik penjualanku sudah cukup!" bantah Leon.
Di sore hari, pedagang mengemas barangnya karena semakin sedikit penduduk Kerajaan Estonia yang lalu-lalang. Leon memutuskan untuk lanjut besok dan mencari penginapan. Dia menemukan penginapan tidak jauh dari tempat dagangnya ketika memeriksa kamar penginapan ternyata fasilitasnya mirip di Desa Archi.
Keesokan harinya, Leon mulai berdagang lebih awal dan masih belum mendapatkan pelanggan. Cuaca terik di siang hari memaksa Leon untuk menutup jualannya. Namun, Leon teringat sebuah guild yang pernah orang tuanya ceritakan sehingga memilih untuk menjual di sana.
Leon memasuki guild petualang dan di dalamnya ada banyak sekali petualang berwajah sangar, tetapi ada petualang berparas cantik. Leon mengajukan permohonan kepada resepsionis guild untuk menjual beberapa buah apel merah sebagai item konsumsi.
"Maaf, buahnya terlalu mencurigakan!" resepsionis guild menolak.
"Sama sekali tidak mencurigakan jika perlu saya akan membuktikannya!" bantah Leon.
"Sebaiknya, tuan bicarakan terlebih dahulu dengan ketua guild!" resepsionis guild tetap menolak.
Leon tidak diperbolehkan menunjukkan bukti bahwa apel merah tidak beracun tiba-tiba sosok resepsionis cantik dengan telinga panjang menepuk pundak rekan kerjanya.
"Guild hanya menerima lima buah apel merah untuk proses awal jika sesuai dan petualang membutuhkannya maka bisa dibicarakan mengenai jumlah buahnya," ucap Cerlin tersenyum lembut.
Semua yang ada di guild terutama rekan kerja tidak pernah melihat Cerlin menunjukkan senyuman, bahkan ketua guild sendiri diberikan senyuman datar. Mereka berbisik dan bertanya-tanya tentang pria yang membuat Cerlin tersenyum. Leon sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian sehingga memilih untuk tidak mengenal Cerlin agar tidak ada satu pun yang penasaran.
"Saya perlu menahan tanda pengenal supaya menjadi bukti bahwa tuan tidak menipu guild petualang," ucap Cerlin.
"Baik, ini tanda pengenal saya. Terima kasih atas kerja samanya!" balas Leon sambil memberikan tanda pengenalnya kepada Cerlin.
"Ini tanda pengenal baru dari guild. Tuan perlu mengingat bahwa tanda pengenal dari kesatria merupakan yang asli. Jadi, untuk keluar dari Kerajaan Estonia maka tanda pengenal dari guild harus ditukarkan kembali. Guild petualang akan mengambil 50% dari keuntungan penjualan, sedangkan 50% untuk tuan!" ucap Cerlin.
"Satu buah apel merah seharga 10 tembaga," ucap Leon menaiki harga buahnya.
"Baik, 5 tembaga akan guild petualang ambil dan sisanya milik tuan. Lima buah apel merah akan dipajang depan meja resepsionis, apa tidak masalah?" tanya Cerlin.
"Tidak masalah. Terima kasih banyak, Nona Cerlin!" Leon tersenyum.
"Sama-sama, tuan!" Cerlin membalas senyumannya Leon.
Leon pergi meninggalkan guild petualang karena ingin keliling Kerajaan Estonia. Rekan kerjanya Cerlin terus bertanya mengenai pria tadi, tetapi Cerlin hanya diam dan hatinya merasa lega karena sudah balas budi.
Beberapa menit berlalu. Terlihat lima buah apel merah masih belum laku, tetapi regu petualang beranggotakan enam petualang masuk dalam keadaan lelah. Mereka terjebak dua hari di labirin karena tanda jalan keluar ada beberapa yang menghilang. Selama dua hari, mereka menahan lapar dan salah satu dari mereka langsung memakan apel merah yang ada di meja resepsionis.
Orang tersebut memakannya dengan sangat lahap tiba-tiba tubuhnya kembali bertenaga. Rekannya seketika terkejut, bahkan petualang lain mengira orang itu akan semakin menderita karena memakan buah dengan warna beracun. Namun, melihatnya bertenaga seketika yang lain ikut memakan apel merah tersebut dan ternyata tubuh mereka juga kembali bertenaga.
"Masih ada buahnya lagi?" tanyanya karena belum memakan apel merah.
"Sudah habis!" jawab resepsionis guild petualang.
Cerlin terkejut karena buah mangga kemarin juga terbukti menyembuhkan luka luar. Buah apel merah juga terbukti menyegarkan stamina sesuai perkataan Leon. Petualang mempercayai bahwa buah apel merah sekelas item konsumsi dengan harga murah sehingga ingin membelinya.
Di sisi lain, Leon membeli makanan jalanan dan sangat enak. Setiap kali membeli makanan ada anak kecil mengikutinya dari belakang, tetapi saat Leon menoleh seketika anak kecil bersembunyi. Leon tidak menyangka harga makanan sangat murah, bahkan lebih mahal buahnya. Leon berpikir bahwa harga buahnya terlalu mahal, tetapi tidak ada niatan untuk mengurangi harganya.
"Itu sudah sesuai harga. Jadi, aku tidak akan menurunkan harganya!" pikir Leon.
Anak kecil semakin banyak mengikutinya seketika Leon menoleh cepat ke belakang sehingga salah satu dari mereka menabrak Leon sampai terjatuh.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments