Tubuh kurus, berpakaian compang-camping dan bau menyengat seperti bau sampah itulah kondisi anak-anak di kota kumuh. Mereka makan dengan sangat lahap dan membagikan makanan ke setiap penduduk yang kelaparan, padahal mereka sendiri belum kenyang. Namun, ekspresi anak-anak yang membagikan makanan terlihat sangat bahagia.
Master ....
Leon meneteskan air mata dan salah satu anak dari kota kumuh menyentuh pakaiannya sambil bertanya dengan ekspresi khawatir. "Kakak sakit?"
"Kakak tidak apa-apa." Leon menjawab sambil mengusap air matanya.
Semua penduduk kota kumuh melihat ke arahnya Leon dan mereka berkerumun di sekitarnya Leon seakan ingin membagi kebahagiaan. Leon merasakan kehangatan penduduk kota kumuh di mana mereka sedang tersenyum dan mengajak Leon untuk makan bersama.
Namun, anak yang tadi menjual tempat dagang pada Leon menampilkan raut wajah terkejut dan ekspresi menyesal akan suatu hal. Orang tuanya menghampiri Leon sambil menunduk malu karena mengetahui anaknya telah melakukan penipuan.
"Kami sebagai orang tuanya Jena sangat meminta maaf karena Jena sudah menipu, Tuan!" ucap orang tuanya Jena.
Jena langsung berdiri di depan orang tuanya dan berteriak, "Ibu, ayah. Jena melakukan itu karena kita butuh makanan!"
Orang tuanya Jena berkata dengan sangat lembut, "Jena walaupun kita sangat kelaparan bukan berarti harus menipu orang lain. Jadi, segera minta maaf sama kakak yang di sana!"
Kesal dan menatap benci ke arahnya Leon. "Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada orang yang menghina kami!" teriak Jena.
Leon tidak menyangka untuk anak usia 10 tahunan sudah mempunyai kebencian yang teramat dalam. Leon mengambil sesuatu di dalam tas lalu memberikannya kepada Jena. Semua penduduk terlihat terkejut karena Jena diberikan roti edisi selai stroberi.
"Aku masih ada banyak jika Jena mau memaafkan kakak maka kalian semua masing-masing dapat satu roti selai stroberi, bagaimana?" Leon berteriak sambil tersenyum.
Teman-temannya Jena sangat ingin merasakan roti selai stroberi sehingga memaksa Jena untuk segera meminta maaf, sedangkan orang dewasa tertawa melihat tingkah laku anak-anak.
"Aku minta maaf, Kak!" ucap Jena dengan sangat terpaksa.
Orang tuanya Jena ingin bertanggung jawab, tetapi Leon memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa justru saya sangat senang karena Jena membeli makanan," ucap Leon.
"Terima kasih, Tuan!" Orang tuanya Jena menangis.
Mereka menangis bukan tanpa sebab karena tindakan penipuan yang Jena lakukan bisa mengakibatkannya dipenjara. Leon yang sudah tinggal selama dua minggu sangat paham peraturan yang ditetapkan Pangeran Kerajaan Estonia selaku pemimpin semua kesatria.
Jena tidak tahu kenapa orang tuanya menangis sehingga dia melakukan sujud untuk minta maaf. "Tolong maafkan semua perbuatan saya!" ucap Jena dengan nada sopan sambil menangis.
"Jika sudah begini maka kamu harus diberikan pelajaran, yaitu bertanggung jawab untuk membeli makanan." Leon memberikan sekantong uang.
"Berhenti bercanda, Tuan!" teriak Jena sangat terkejut melihat isi kantong uang berjumlah 1.000 koin emas.
Sebuah sihir mengekang tubuh semua penduduk kota kumuh.
"Tolong dengarkan! Aku akan membantu kalian setelah urusanku selesai. Jadi, selama menunggu kedatanganku maka kalian jangan sekali pun keluar dari kota ini terkecuali Jena karena hukumannya," ucap Leon sambil meninggalkan kota kumuh.
Sihir pengekang seketika berubah menjadi sihir yang membersihkan tubuh penduduk kota kumuh dari semua kotoran sampai bersih total. Mereka sangat terkejut serta bingung dengan sosok pemuda berambut hitam menggunakan anting tiga warna bulu yang berbeda.
"Aku sudah menemukan tempat bagus untuk membangun bisnis di Kerajaan Estonia. Suatu hari, mereka akan kubuat tercengang dengan penduduk yang ditinggalkannya," ucap Leon.
Saya tidak sabar untuk melihatnya dan tentu saja saya akan membantu!
Melihat anak-anak masih tersenyum sudah memberikan perasaan lega untuk Leon. Namun, sudah waktunya untuk bertindak agar mereka mendapatkan kehidupan yang layak seperti penduduk Kerajaan Estonia. Leon pergi ke tempat penjualan budak, tetapi semasa perjalanan menuju ke sana. Dia bertemu kembali dengan anak perempuan yang pernah mengikuti saat keliling dan seharusnya berstatus budak, tetapi Leon tidak melihat borgol di lehernya.
"Kak, kumohon tolong selamatkan temanku. Dia lagi diserang sama orang dewasa!" teriaknya dengan sangat memohon.
Leon menggendongnya dan berkata, "Tunjukkan arahnya!"
Dia menunjukkan arah ke tempat yang sangat sepi, bahkan saat tiba di lokasi tidak ada siapa pun.
"Di mana te—" (terpotong karena Leon tertusuk pisau tepat di bagian perutnya).
"Maaf, aku butuh uangmu!" ucapnya dengan tatapan kosong.
Leon langsung terbaring bersimbah darah dan tasnya diambil. Dia berharap tidak perlu terkejut lagi, tetapi kali ini anak-anak melakukan pembunuhan untuk mendapatkan uang. Anak perempuan tadi meninggalkan Leon dan pergi menemui teman-temannya.
[Sudut Pandang Berubah]
Anak perempuan tadi bernama Luna dan alasannya membunuh karena melihat Leon memberikan uang kepada Jena. Luna adalah kakak dari 10 bersaudara-saudari sehingga dia bertanggung jawab walaupun harus mengotori tangannya.
Namun, adiknya tidak tega melihat kakak perempuan membunuh sendirian sehingga mereka berniat untuk melakukannya bersama-sama. Sebuah tindakan bertahan hidup yang sudah mencapai keputusasaan sehingga Luna menangis melihat kedua tangan berlumuran darah korban.
"Maaf, maaf, maaf. Aku harus melakukannya karena sisa uangnya bisa menyelamatkan mereka," ucap Luna sambil menangis.
Semua adiknya memeluk Luna tiba-tiba sebuah pelukan lebar dari belakang mengagetkan mereka.
"Bagaimana, kamu masih hidup?" tanya Luna dengan sangat ketakutan melihat korban yang seharusnya sudah dibunuhnya.
Semua adiknya mencoba melindungi Luna sembari memegang pisau, tetapi genggaman tangannya terlihat sangat ketakutan.
"Kalau tidak salah namamu Luna, bukan?" tanya Leon sambil jongkok di depan pisau.
"Menjauh dari kakakku!" teriak salah satu adiknya Luna.
"Tolong dijawab, siapa yang ingin Luna selamatkan?" tanya Leon.
"Aku ingin menyelamatkan saudariku!" jawab Luna sambil menahan rasa takutnya.
"Kalau begitu antar aku ke lokasinya dan kita akan membeli saudarimu," ucap Leon dengan senyuman.
Mereka terheran-heran dengan perkataan Leon. Akan tetapi, Luna mempercayai orang yang sudah selamat dari kematian. Luna mengantarkan Leon menuju lokasi penjualan budak lalu menemui bandarnya seketika Leon membeli semua budak.
"Total semua budak adalah 6.000 koin emas," ucap Leon.
Master, uang tersisa 12.500 koin emas!
"Tuan, teri—" (terpotong karena Leon mengajak mereka semua untuk membeli makanan)
"Ayo cepat pilih makanan sebelum malam tiba!" teriak Leon.
Luna semakin bingung, sedangkan adik-adiknya langsung memilih berbagai makanan dengan sikap polosnya.
"Tuan, kenapa membantu kami?" tanya Luna dengan ekspresi serius.
"Aku pernah mengalami betapa beratnya bertahan hidup, tetapi tidak seberat kalian. Jadi, ini semua bentuk simpati pada kalian karena tolong-menolong sudah harus dilakukan!" jawab Leon sambil mengelus Luna.
Luna menangis. "Jadi, perkataanmu untuk membantu kami ternyata benar! Maaf sudah melukaimu, Tuan!" ucapnya.
"Urusanku sudah selesai. Jadi, ceritakan padaku kenapa ada sebuah kota kumuh di Kerajaan Estonia!" ucap Leon.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Pika
Precious bngt anaknyaaa •́ ‿ ,•̀
2023-05-06
1