"Kamu nih yah!" Mama berteriak emosi saat menyidang Rahadyan. "Udah bikin Mama kesel punya anak enggak tanggung jawab, ngurusin anak yang udah besar aja kanu enggak becus!"
Rahadyan benar-benar sakit kepala dan merasa harus ke dokter alih-alih cuma minum obat tekanan darah.
Kenapa jadi salah Rahadyan coba? Memang anak itu yang kelakuannya bikin migrain.
"Kalista itu bukan anak bayi, Rahadyan! Bukan anak yang maunya enggak bisa ditanya! Kamu itu udah dikasih enak punya anak tinggal kamu tanyain mau dia apa, masih juga kamu ajakin dia berantem! Gimana sih kamu?!"
"Ma, masalahnya dia tuh sengaja." Rahadyan membalas, tak tahan jadi pihak yang disalahkan. "Emang Kalista tuh sengaja biar Mama marahin aku. Lagian dia tuh—"
"Terus itu salah siapa bikin dia begitu?" potong Mama tajam, sekaligus makjleb bagi Rahadyan. "Yang suruh kamu punya anak terus nelantarin anak kamu siapa?"
Double kill.
"Kamu kira masuk akal dia tiba-tiba baik sama kamu padahal lima belas tahun dia enggak tau kamu?! Emang kamunya yang mesti sabar sama dia!"
Akh, sudahlah. Pokoknya apa pun yang terjadi, intinya semua salah Rahadyan. Pasti begitu.
"Rahadyan." Papa ikut buka suara setelah suara Mama selesai dengan semua semburan omelan itu.
Walau suara Papa itu rendah, teguran di nadanya jauh lebih ngena dari teriakan Mama.
"Kamu ngira kita enggak tau anakmu sengaja bikin ulah?"
Rahadyan menelan ludah. Sebenarnya ia sempat berpikir mereka percaya, tapi kalau dipikir lagi, tidak ada orang bodoh di rumah ini.
Jelas saja mereka tidak akan berpikir kalau Rahadyan sengaja membuat anaknya marah. Mudah untuk sadar kalau anak itu memang sengaja membuat kesan Rahadyan bersalah, biar dia dibela dan biar Rahadyan dimarahi.
"Anakmu begitu karena buat dia, kamu punya salah ke dia." Papa menghela napas. "Jadi mestinya kamu enggak emosi melulu kalo dia bikin ulah. Yang dia mau itu cuma kamu buktiin kamu beneran Papanya atau bukan."
"Iya, Pa." Rahadyan mau tak mau diam.
Ya, mungkin dirinya juga agak terlalu emosi. Lain kali Rahadyan berjanji akan lebih menahan diri dan sadar kalau anak itu cuma sengaja berbuat konyol agar Rahadyan marah padanya.
Tapi ....
"Itu ya itu, ini ya ini." Rahadyan sekarang melotot pada Sergio setelah berhasil menarik dia keluar dari kamar anaknya.
Oh, apa Rahadyan tidak bilang kalau Sergio mulai hari ini akan tinggal bersama mereka? Mama yang meminta pada orang tua Sergio mengizinkan anaknya pindah, agar bisa nemenani Kalista.
Tapi bukannya ingat tugas dia itu cuma pembimbing, malah dia memacari Kalista saat ini juga.
"Sekarang bilang," Rahadyan menerima gesper yang diberikan oleh Latifah atas permintaannya, "kamu mau dicambuk depan atau belakang?"
Sergio meringis ketakutan. "Ampun, Om."
"Halah, enggak ada! Ampan-ampun-ampan-ampun! Taikucing! Kamu bisa nipu Kalista sama Mama saya, tapi enggak sama saya! Enggak bakal! Isi otak kamu ketahuan!"
Sergio tambah meringis. Salahnya apa coba malah dibuat begini?
"Saya lagi sakit kepala jadi enggak mau banyak omong." Rahadyan kembali siap dengan cambuk gespernya. "Kamu mau depan apa belakang?"
"Tapi, Om—"
"Apa tapi-tapi?!"
"Kalo Kalista tau Om mukulin saya, emangnya dia enggak marah?"
Rahadyan malah semakin terlihat mau membunuhnya. "Bocah, jadi sekarang kamu ngancem saya?"
"E-enggak, Om." Sergio menelan ludah susah payah. "Tapi saya sama Kalista emang serius saling sayang Om."
"TAIKUDA!"
Emang, balas Sergio dalam hati, setengah meringis. Sengaja ia bicara begitu, karena Kalista yang minta.
"Saling sayang saling sayang! Taikuda kamu! Hah! Enggak jadi saya nanya kamu! Sini saya pukulin langsung!"
"Tapi, Om—"
"ENGGAK ADA TAPI-TAPI!"
"Yaudah, Om." Sergio kicep. "Tapi tanggung jawab yah Om kalo Mami saya lapor polisi."
Rahadyan langsung membatu.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments