"Ma."
"Mama enggak marah." Harini langsung mengibaskan tangan santai, sebagai bentuk penolakan dari hiburan Rahadyan.
Memang senormalnya orang-orang akan berpikir Kalista sungguh tidak tahu diri. Sudah dipungut dari jalanan karena dia tidak punya keluarga, bukannya berterima kasih dia malah bersikap kasar.
Memang biasanya orang jadi jengkel. Tapi tidak dengan Harini.
"Kamu liat mata anakmu, kan?" ucap wanita itu tegas. "Itu bukan mata orang bodoh. Dia tau dia ngapain."
Rahadyan diam, tapi membenarkan dalam hati.
Baik Mama atau dirinya atau adiknya dan tentu juga Papa, mereka terbiasa menilai seseorang bersikap. Walaupun Kalista bertingkah sangat kurang ajar, anak itu juga terlihat seperti mengetes apa yang orang rumah ini mau lakukan padanya.
Dia seperti memukul seseorang lalu berkata 'mau pukul balik atau diam saja?'.
Rahadyan tidak membenarkan hal itu, tapi ia juga tidak akan menghentikan karena Kalista mustahil mau diberitahu.
"Mama udah bilang bujukin anakmu. Mama enggak peduli dia mau teriak-teriak manggil kamu enggak guna kek, enggak pantes idup kek, orang sinting kek, terserah dia."
Rahadyan menggaruk kepalanya saat tiba-tiba berpikir kalau sifat Kalista dan Mama entah kenapa mirip.
"Ohiya." Sebelum Mama beranjak pergi, Mama menoleh padanya. "Tadi Tantemu ngasih saran Kalista dicariin temen dulu. Gimana kalo ponakanmu aja? Biar dia sama Kalista bisa temenan."
"Siapa?"
"Gio, siapa lagi? Ponakanmu yang lain masih pada TK."
Rahadyan terperangah. Maksudnya Sergio yang kutu buku itu? Anak yang kelihatannya baik-baik tapi Rahadyan tahu tidak mungkin dia baik-baik karena dia laki-laki?
"NO." Rahadyan menolak mentah-mentah. "Thank you, Ma, for your wonderful advice but NO."
Mama langsung menatapnya dengan alis terangkat tinggi. "What do you mean 'NO'?"
Jelas karena dia laki-laki dan Kalista adalah perempuan. Sebagai seseorang yang (ternyata) punya anak di usia enam belas tahun, sungguh Rahadyan akan berterus terang.
Jangan pernah percayai pikiran pria itu suci, walaupun dia anak baik-baik.
No!
BIG, SUPER SUPER BIG, SUPER DUPER MEGA SUPER SPEKTAKULER MEGA ULTRA BIG NO.
"Na-no-na-no. Emang kamu tuh enggak becus ngurus anak." Mama berkacak pinggang. "Udahlah, kamu nurut aja kata Mama."
"Ma—"
"Lagian bagus kalo Gio jadi temennya Kalista. Umurnya cuma beda dua tahun, Gio juga pinter di sekolah jadi Kalista bisa diajarin. Anakmu juga mau dipindahin ke sekolah Gio jadi mending dia akrab sama sepupunya."
"What? Mama mutusin begituan enggak ngomong dulu? Kalista tuh enggak—"
"Enggak usah ngajarin Mama ngurus anak. Kamu tuh yang mesti belajar banyak. Udah, Mama sibuk."
Dengan egoisnya Mama pergi, meninggalkan Rahadyan ternganga begitu saja.
Sekarang Rahadyan benar-benar yakin.
GEN egois Mama telah turun pada Kalista secara brutal hingga anak itu pun menjadi super egois.
Tapi yang lebih penting, Mama serius berpikir kalau Kalista mau diberi teman? Oleh anak sepupu Rahadyan sementara dengan bapaknya saja, yaitu Rahadyan sendiri, Kalista ogah bersikap baik?
"Latifah." Rahadyan teralihkan oleh salah satu pembantu muda di rumahnya yang lewat sambil membawa mangkok berisi es krim. "Kamu mau bawain siapa?"
"Eh?" Anak berusia empat belas tahun itu terkejut karena diajak bicara. "I-itu, Pak, Non Kalista yang minta. Katanya suruh bawain es krim."
Tunggu sebentar! Siapa kemarin yang berteriak mengatakan dia sudah tidak suka es krim mulai hari ini?
"Hah." Rahadyan mengibas-ngibaskan tangan sebagai isyarat dia boleh pergi. "Tanya Kalista kalo mau sesuatu. Apa aja kasih tau saya."
"Iya, Pak."
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Emily
eh..Kallista giman katanya gak mau es krim😁😀
2023-11-16
1