Dimas menghentikan mobilnya di depan rumah mantan ibu mertuanya, tapi ia sama sekali tidak menganggap ibunya Salma mantan ibu mertua, karena dia menyayanginya, seperti menyayangi ibunya sendiri. Apalagi ibunya Salma adalah sahabat karib mendiang ibunya. Walau pun Dimas sudah mengecewakan anak perempuannya, ibunya Salma tetap masih bisa menerima Dimas dengan baik, karena beliau tahu bagaimana kehidupan Dimas setelah menikahi Rani, dan tahu bagaimana Rani. Meskipun ibunya Dimas tidak mau mengakui Rani sebagai menantunya, karena beranggapan Rani merebut Dimas dari Salma, menantu kesayangannya, tetap saja ibunya Salma bisa memahami pernikahan Rani dengan Dimas.
Pernikahan Dimas juga membuat ibunya Dimas meninggal, karena mendengar kabar Dimas menikah lagi, ibunya yang memiliki sakit jantung langsung drop hingga mengembuskan napas terakhirnya sehari setelah Dimas menikahi Rani.
“Kamu pagi-pagi ke sini ada apa, Dim? Terus itu kok masih pakai kaos saja? Memang kamu tidak ke kantor?” tanya Bu Mila.
“Terus ibu mau ke mana? Rapi sekali pakaian ibu, bawa tas segala?” Dimas balik bertanya pada ibu mertuanya itu.
“Ibu kangen Salma. Dia itu kok ya jarang pulang, sejak dia memilih menggeluti profesinya lagi, apalagi sejak dia menikah, makin jarang pulang saja itu anak, gak tahu ibunya kesepian? Kemarin katanya seminar di sini saja dia tidak mampir, karena waktunya sedikit, dan paginya harus seminar ke Semarang, jadi dia hanya sempat mampir ke makam ayahnya saja,” ucap Bu Mila.
Dimas berpikir sejenak. Pagi-pagi sekali ibunya Salma akan mengunjungi rumah Salma, berari ibunya Salma belum tahu yang terjadi sebenarnya kalau suami Salma menikah lagi, dia kembali menikahi mantan istrinya yang bertahun-tahun menghilang.
“Apa Salma dari kemarin tidak menghubungi ibu?” tanya Dimas.
“Dia menghubingi ibu ya waktu sedang di Semarang itu. Ibu kangen sekali sama dia, coba dia tidak keras kepala seperti itu, dan tidak ada kejadian itu, dia masih di sini,” ucap Bu Mila.
“Ini ibu mau ke sana sudah bilang sama Salma, kalau ibu mau ke sana?” tanya Dimas.
“Ya belum, Dim. Namanya juga kejutan?” jawab ibu.
“Ibu mending hubungi dulu, barangkali Salma itu sedang sibuk, apa sedang di luar kota, sedang seminar misalnya?” ujar Dimas.
“Iya juga sih, ya sudah ibu hubungi Salma dulu,” ucapnya.
Dimas yakin ibunya Salma tidak tahu kalau suami Salma menikah lagi. Kalayu tahu, pastinya akan marah, dan akan cerita pada dirinya.
“Benar kamu, Dim. Salma sedang di luar kota, seminggu dia di luar kota, sedang ada pekerjaan di sana,” ucap Bu Mila.
“Benar dugaanku, pasti Salma menutupi semuanya dari ibu. Kenapa dia seperti itu? Kenapa dia menutupinya, dan dia mau dimadu? Padahal dia benci sekali dengan hal yang berbau poligami? Aku yakin dia terpaksa, atau ada sesuatu, karena dia sampai mau dimadu,” batin Dimas.
“Dimas ... kamu diajak ngomong malah melamun?” Bu Mila mengangetkan Dimas, yang sedang memikirkan Salma.
“Ah iya bu, gimana?”
“Itu Salma sedang di luar kota, katanya seminggu,” jawab Bu Mila.
“Ya sudah ibu ke sana minggu depan saja,” ucap Dimas. “Apa tadi Salma bicara sesuatu, menyampaikan apa gitu sama ibu?” tanya Dimas.
“Tidak, dia hanya bilang sedang sibuk saja. Karena sedang di luar kota, dan nanti dia akan ke sini, dia melarang ibu ke sana sih?” jawab Bu Mila.
Dimas mengangguk, dan dia mengerti kalau Salma memang tidak memberitahukan ibunya kalau Askara menikah lagi. “Untung ibu agak gaptek? Kalau ibu tahu banget soal internet, pasti tahu rumor itu?” gumam Dimas.
Bu Mila menaruh tas nya lagi ke kamar, karena dia tidak jadi berangkat ke kota Salma. Dia membuatkan kopi untuk Dimas, lalu membahas soal toko roti yang mereka kelola bersama. Sebelum Dimas menikahi Salma, Bu Mila juga sudah akrab dengannya, karena Dimas sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Setelah cukup lama mengobrol dengan Bu Mila, Dimas pamit pulang. Dia sementara meninggalkan pekerjaannya untuk beberapa hari, untuk mencari tahu benar atau tidak berita yang beredar kalau suami Salma menikah lagi, dan Salma merestuinya.
“Aku harus cari cara, supaya aku bisa bertemu dengan suami Salma. Tapi, kalau aku menemuinya, nanti aku disangka ikut campur dengan masalahnya? Ah tidak, tidak seperti itu caranya, Dimas! Ayo pikirkan, bagaimana caranya kamu memperoleh kebenaran berita ini!” pekik Dimas lirih.
Dimas meminta anak buahnya mencari tahu tentang Salma dan Askara. Dia meminta anak buahnya mengawasi Salma, sekarang keadaan Salma bagaimana, dan menyuruh anak buahnya lagi, supaya mengawasi Askara. Dia tidak terima Salma diduakan begitu saja, meski dulu dirinya juga pernah menyakiti Salma dengan cara yang sama.
^^^
Sudah satu minggu Askara tidak ke kantor. Dia menyerahkan semua pekerjaannya pada anak buahnya di kantor. Dia pergi liburan bersama Azzura dan Afifah. Seminggu Salma pergi dari rumah, Askara sama sekali tidak menemui Salma, tidak membujuk Salma pulang, tapi dia malah membawa Azzura liburan di Bali dengan Afifah. Salma tahu, meski Askara sama sekali tidak pamit dan tidak memberi kabar pada dirinya bahwa dia sedang berlibur di Bali dengan Azzura dan Afifah. Mungkin bisa jadi disebut honeymoon.
Salma tidak peduli mereka mau apa. Mau honeymoon atau apa, Salma sudah tidak peduli lagi, toh dirinya sudah tidak dianggap Askara meski masih berstatus istri pertamanya. Salma tetap menjalankan tugasnya, dia tetap tenang menghadapi semua, dia lebih fokus pada pekerjaannya, dan tidak mau lagi mengurusi orang yang sudah tidak peduli dengannya.
“Sal, bisa ke ruanganku?” tanya Acha. Padahal Salma sudah bersiap untuk pulang. Salma mengekori Acha menuju ruangan Acha.
“Duduk, Sal,” titah Acha.
“Ada apa, Budhe?” tanya Salma.
“Kamu kenapa tidak ikut mereka ke Bali?” tanya Acha.
“Untuk apa ikut, Budhe? Ditawari saja tidak? Aku pergi dari rumah saja sampai saat ini Mas Aska sama sekali tidak peduli?” jawab Salma.
“Maksud kamu pergi dari rumah bagaimana, Sal?” tanya Acha.
Keluarga Askara memang tidak ada yang tahu kalau Salma pergi dari rumah Askara, dan kembali menempati rumah dinas yang dulu ia gunakan sebelum menikah dengan Askara.
“Belum ada sehari Mas Aska menikahi Mbak Zura, dia sudah memintaku keluar dari kamar, kamar di mana aku dan Mas Aska tempati. Mas Aska meminta aku menempati kamar tamu, dan Mbak Zura kembali menempati kamar utama. Aku protes, aku tidak mau. Aku ini istri pertama, harusnya Mas Aska dan Mbak Zura menghargaiku yang sudah berbesar hati mengizinkan mereka menikah. Tapi, dengan enteng Mbak Zura bilang, aku harus mengalah, dan harus pindah kamar. Ya aku memilih pergi dari rumah? Kalau diteruskan di situ, bisa jadi aku jadi babu mereka? Aku yang merawat Mbak Zura sakit, sedang Mas Aska tidak peduli denganku dan hatiku?” jelas Salma tenang.
“Masa Askara begitu?” ucap Acha.
“Ya kalau budhe tidak percaya tanya saja keponakan budhe itu?” jawab Salma.
“Keterlaluan sekali dia. Sudah dia di Bali lama. Meninggalkan pekerjaannya cukup lama, dan dia malah tidak peduli dengan kantor yang sedang berantakan, sampai Nina yang harus turun tangan menghandle kantor Askara,” ucap Acha.
“Dia mana tahu tanggung jawab? Tanggung jawab dengan istri satunya saja tidak? Sedang kesengsem sama mantan istri, jadi biar saja begitu? Sampai dia tidak peduli aku pergi dari rumah. Ya mungkin itu masalah sepele, karena aku disuruh tukar kamar tidak mau, dia jadi marah denganku, dan tidak peduli aku pergi. Sampai sekarang, Mas Aska gak pernah tanya kabarku sama sekali, Budhe,” ucap Salma.
“Dia keterlaluan sekali, kenapa kamu tidak cerita, Sal? Kalau bundanya tahu pasti Askara kena marah besar, apalagi sampai papa dan ayahnya tahu,” ucap Acha.
“Budhe pasti tahu perasaanku. Aku bicara begini bukan aku mencari pembelaan. Aku memang egois, dan aku sangat cemburu. Tapi aku bisa tahan untuk tidak egois dan tidak cemburu kalau mereka menghargaiku, kalau Mas Aska menganggap aku. Dia bilang mau adil, apa seperti itu yang dinamakan adil? Aku sudah capek mau istirahat, Mas Aska menyuruhku mengemasi barang-barangku untuk berganti kamar, karena malam itu juga Mbak Zura mau menempati kamarku. Kalau itu terjadi pada budhe, apa budhe bisa terima? Aku sudah capek semuanya, badan, pikiran, hati. Ketika mau istirahat aku malah disuruh beresin kamar, dan pindah ke kamar tamu?” ucap Salma apa adanya.
“Keterlaluan sekali dia? Lagian Azzura gak ada malu-malunya gitu? Harusnya dia itu kan sedang sakit, dia harusnya baik sama kamu, dia gak enak sama kamu, tidak seperti itu. Maunya menang sendiri! Sudah dia salah, tapi malah tidak mau mengalah! Jelas salah, kan? Pergi meninggalkan suami dan anaknya sampai tujuh tahun lamanya?” ujar Acha.
“Aku tidak menyangka Mas Aska akan seperti itu, Budhe. Semudah itu dia memutuskan, semudah itu dia berjanji dan tidak ditepati,” ucap Salma.
“Kamu yang sabar, Sal. Mungkin dia ingin menebus rasa bersalahnya, saat dulu Zura sakit, tapi dia tidak bisa merawatnya,” ucap Acha.
“Menebus rasa bersalahnya? Yang harusnya menebus rasa besalah itu Mbak Zura, bukan Mas Askanya. Salahnya sendiri sakit malah pergi, malah ninggalin suami dan anak. Giliran suami sudah punya kehidupan baru yang bahagia, dia seenaknya, mengusik kehidupannya, dan mengambil kembali Mas Aska yang sudah bersamaku,” ucap Salma.
Acha membenarkan apa kata Salma. Iya, untuk apa Azzura kembali lagi, kalau dulu saat awal sakit saja Azzura malah pergi meninggalkan Askara? Sekarang setelah dia lelah berobat sendiri, dia kembali pada Askara.
“Aku pamit pulang, Budhe,” pamit Salma.
Salma keluar dari ruangan Acha. Baru saja dia melangkahkan kakinya untuk pulang, dia mendengar ada seorang suster memanggilnya, untuk menangani pasien yang sedang gawat darurat.
Salma langsung ke IGD, dia tidak peduli dirinya sudah mau pulang, karena menyelamatkan nyawa seseorang adalah prioritasnya.
“Mas Aska?” ucap Salma.
“Sal, tolong Azzura,” pinta Askara.
“Sus, hubungi Dokter Elizabeth sekarang!” titah Salma.
“Dokter Elizabeth sedang di luar kota, Dok,” jawabnya.
“Dokter Tirta, suruh beliau ke sini!” titah Salma.
Bukan dia tidak mau menanangani Azzura, dia masih kesal melihat dua manusia yang satu minggu ini bak ditelan bumi. Biar saja, dia dianggap keras hati atau keras kepala. Daripada dia mengobati Azzura dengan perasaan tidak baik, mending dia melemparkan tugasnya pada dokter lain yang sama dengan dirinya.
“Kenapa tidak kamu saja, Sal?” tanya Askara.
“Aku akan tetap bantu menangani, tapi aku pilihkan dokter yang terbaik. Aku sudah menyerahkan dia pada Dokter Elizabeth, tapi beliau sedang di luar kota, jadi aku coba hubungi dokter lainnya,” ucap Salma.
“Tolong Zura, Sal,” pintanya.
“Berdoa saja, toh sudah vonis dokter seperti itu, kan?” ucap Salma.
Biar saja, dia dianggap jelek menjadi dokter, daripada harus menyembuhkan pasien yang membuat hidupnya hancur seperti sekarang.
“Kamu kan yang awal menangani, Sal?”
“Iya memang, tapi aku tidak bisa, aku mau mengajukan resign dari sini,” jawab Salma. “Lagian aku kan sudah bilang, cari dokter yang lebih bagus dariku, seperti kamu yang menikahi mantan istrimu lagi, yang mungkin lebih segalanya dariku! Jangan datang disaat kamu butuh saja, Mas! Maaf aku tidak bisa menangani!” tolak Salma penuh penekanan.
Salma menemui Dokter Tirta yang baru saja datang. “Dok, saya sudah mau pulang, dan saya minta dokter yang menangani pasien saya ini. Memang tadinya saya yang menangani, tapi saya yakin dokter yang terbaik untuk menangani ibu ini,” ucap Salma.
“Baik, saya sudah dapat perintah dari Dokter Elizabeth soal pasien Dokter Salma yang bernama Azzura sekarang yang menangani Dokter Elizabeth, dan dokter tahu sendiri, saya biasa ditugaskan beliau untuk menggantikannya,” ucap Dokter Tirta.
“Terima kasih, Dok,” ucap Salma, lalu pergi begitu saja meninggalkan Askara dan Azzura.
Salma tidak peduli dengan Askara, toh dia juga sudah tidak peduli dengan dirinya.
“Aku tidak peduli, mau aku dikatakan kejam, atau bagaimana? Aku bersikap sesuai dengan seperti apa mereka bersikap padaku!” batin Salma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussrhst
2024-04-03
0
Zahraa
Buah jatuh tidak jauh dr pohonnya ternyata.. IQ Zhafran sama Askara sama sama gajauh beda.. berikan pembacamu Laki² baik hati nan dermawan seperti Ardha🥹🥹🤣
2023-04-16
0