Kedatangan Dimas

Azzura masih berada di rumah sakit, sambil menunggu rujukan untuk berobat ke Singapura disetujui, Azzura harus menjalani perawatan di rumah sakit milik keluarga Askara. Askara masih setia menjaga Azzura yang kondisinya semakin lemah.

“Mas, untuk apa ke Singapura lagi? Sudah di sini saja,” ucap Azzura.

“Kamu harus sembuh, Sayang,” ucap Askara.

“Percuma, Mas. Yang aku butuhkan bukan berobat lalu sembuh, aku hanya butuh mas untuk menemaniku saat seperti ini,” ucap Azzura.

“Tapi aku ingin kamu sembuh, Zura ....” Askara menggenggam tangan Azzura, tidak bisa Askara pungkiri, Askara masih sangat mencintai Azzura.

“Kalau aku sembuh, bagaimana dengan Salma? Aku juga tidak ingin ada yang lain memilikimu, Mas,” ucap Azzura.

“Jangan bahas ini, ya? Aku ingin kamu sembuh pokoknya,” ucap Askara.

“Apa kamu mencintai Salma?”

“Iya, aku mencintainya,” jawab Askara.

Azzura diam, saat mendengar jawaban Askara. Askara memang tidak bisa memilih salah satu istrinya. Dia mencintai Salma, sangat mencintainya, dengan Zura pun dia masih mencintainya, tapi hanya sisa cinta yang terdahulu, berbeda cinta untuk Salma. Tapi, secinta apa pun Askara, Salma tetap tidak rela berbagi suami, apalagi sikap Askara yang plin-plan dan terlalu condong ke Azzura saja.

^^^

Siang ini, saat Salma akan berangkat ke rumah sakit Salma kedatangan tamu yang tidak terduga.

“Mau apa kamu di sini?” tanya Salma sadis.

“Kamu kenapa tinggal di rumah dinas lagi, Sal?” tanya laki-laki yang  berdiri di depan Salma.

“Bukan urusanmu!” tukas Salma.

“Suamimu menikah lagi?”

“Aku bilang bukan urusanmu! Sana pulang, aku mau berangkat kerja!” sarkas Salma.

“Jangan galak-galak, masa dokter galak?” ucapnya.

“Tuan Dimas yang terhormat, silakan pergi dari sini!” pekik Salma dengan penuh penekanan.

Dimas, mantan suaminya dulu tiba-tiba datang menemuinya. Entah mau apa, dia datang ke rumah Salma.

“Tadi aku ke rumah suamimu, tapi kata pembantumu di sana, kamu menempati rumah dinasmu lagi. Apa karena dia menikah lagi? Kamu jadi keluar dari rumah suamimu?”

“Aku bilang itu bukan urusan kamu, Dimas!”

“Jelas ini urusanku, kamu disakiti suamimu, Sal!”

“Lalu kamu? Ngaca dong! Kamu ini bagaimana?”

“Beda, jelas beda. Aku menikahi Rani bukan inginku, dan kami tidak saling mencintai. Aku hanya membantu dia saja, sedangkan suamimu, menikahi mantan istrinya, Sal! Kalau gak cinta, gak mungkin dia menikahinya lagi!”

Salma mendekati Dimas, ia tatap wajah Dimas dengan tatapan penuh kemurkaan. Dia semakin tidak mengerti, kenapa hidupnya di kelilingi laki-laki pendusta semua.

“Aku bilang pergi, pergi Dimas!” teriak Salma di depan wajah Dimas.

“Slow, Sal. Jangan begitu, aku tahu hatimu sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak mengerti, kenapa kamu mau dimadu, padahal dulu kamu menolak keras, Sal,” ucap Dimas.

“Tolong kamu pergi, Dim. Aku mau kerja,” ucap Salma melunak.

“Sal, bisa kita bicara sebentar, ada yang ingin aku sampaikan, ini penting,” pinta Dimas.

“Aku harus berangkat ke rumah sakit sekarang, Dim,” jawab Salma.

“Sebentar saja, Sal,” pinta Dimas dengan meraih tangan Salma.

“Lepaskan tanganku! Sudah mau bicara apa!”

Salma mengajak Dimas duduk di kursi yang ada di depan terasnya. Dia tidak mempersilakan Dimas masuk ke dalam, karena bagaimana pun dia masih istri dari Askara. Tidak mungkin dia memasukkan tamu laki-laki ke dalam rumahnya.

“Mau bicara apa?” tanya Salma dengan nada ketus.

“Ada titipan dari Rani sebelum dia pergi, aku sibuk sekali, jadi aku baru kasih ini, apalagi kamu lihat sendiri kondisiku bagaimana, aku baru bisa berjalan dan menggunakan tongkat,” ucap Dimas.

“Ini apa?” tanya Salma.

“Aku hanya menyampaikan pesan terakhir Rani saja, dia minta supaya aku memberikan kotak itu padamu, kuncinya ada di sini. Aku tidak berani membukanya, karena itu amanah dari Rani,” jelas Dimas.

“Oke, aku terima. Sudah seperti itu saja?” tanya Salma.

“Ini ada surat dari Rani juga,” ucap Dimas.

“Hmm ... aku simpan dulu, aku akan baca nanti kalau sempat,” jawab Salma.

“Terserah kamu mau dibaca kapan, Sal,” ucap Dimas.

“Sudah kan ini saja, aku mau ke rumah sakit,” ucap Salma.

“Sal boleh aku tanya sekali lagi?” tanya Dimas dengan pelan, karena dia tahu, kalau keadaan Salma seperti ini harus diajak bicara dengan pelan.

“Iya, mau tanya apalagi?”

“Kenapa kamu izinkan suamimu menikah lagi, Sal?” tanya Dimas. “Sedangkan dulu kamu langsung meminta cerai denganku saat aku akan menikahi Rani.”

“Keadaannya berbeda, Dim. Azzura butuh Mas Aska, dia sedang sakit, kanker paru-paru, dan dokter memvonis umur dia sebentar lagi,” jelas Salma.

“Bukannya dia dulu pergi meninggalkan suaminya, dan sudah tujuh tahun lamanya?” tanya Dimas.

“Dari mana kamu tahu?”

“Ibumu yang cerita,” jawab Dimas.

“Ibu memang sukanya begitu, dibilang jangan katakan apa pun soal aku pada dirimu, pasti ibu cerita,” cebik Salma kesal.

“Tapi kali ini aku dengar suamimu menikah lagi bukan dari ibumu, aku tahu ibu tidak tahu keadaan kamu sekarang ini, kan?”

“Aku gak berani ngasih tahu ibu, Dim. Aku takut ibu syok, dan malah berimbas pada kesehatan ibu,” jawab Salma. “Kamu tahu dari mana?”

“Kamu gak tahu berita Askara menikah lagi gempar di internet? Dia pengusaha terkenal, sedang berada di puncak kejayaan, gak mungkin berita itu tidak menyebar, Sal. Untung ibumu gaptek, Sal. Kalau ibumu bisa buka-buka internet, mungkin ibumu tahu. Untung ibu hanya bisa whatsapp saja,” ucap Dimas.

“Iya benar, untung ibu tidak tahu soal internet, Dim.” Ucapnya.

“Kenapa kamu tinggal di sini, Sal? Kenapa kamu izinkan dia menikah lagi, tapi kamu tinggal di sini?” tanya Dimas.

“Ceritanya panjang Dim.” Jawab Salma dengan tatapan sendu.

“Intinya Zura sakit keras, dan dia mau Askara menikahinya lagi, karena dia ingin di sisa umurnya dia bersama Askara. Awalnya aku menolak keras, Askara pun iya menolaknya, tapi satu minggu lebih dia di rumah kami, tinggal di rumah kami, Azzura setiap hari memohon supaya Askara menikahinya. Aku akhirnya setuju, karena aku tidak mau mereka sampai nekat melakukan hubungan di luar pernikahan, Dim. Aku menyetujuinya, dan Askara janji akan adil, tapi belum ada sehari Azzura menjadi istri Askara, dia sudah meminta kamar kami untuk menjadi kamarnya lagi bersama Askara. Ya, memang sih kamar itu dulu kamar Azzura dan Askara, tapi kan sekarang beda. Lalu aku memutuskan untuk tinggal di sini lagi. Aku butuh ketenangan, Dim,” jelas Salma.

Dimas mendengarkan semua yang Salma ceritakan. Bukan Salma bertujuan untuk mengumbar masalah rumah tangganya, tapi selama ini dia mau cerita dengan siapa lagi? Dia hanya punya ibunya, tempat berkeluh kesah meski Salma dan ibunya berjauhan. Sekarang masalah ini, ibunya tidak tahu, karena Salma gak ingin ibunya tahu. Sebenci apa pun dia dengan Dimas, tapi Salma sadar, Dimas begitu baik dengan ibunya. Selama dia bekerja di rumah sakit, ibunya di sana dengan Dimas, Dimas yang memantau ibunya, dengan Rani juga. Ibunya sering cerita Rani dan Dimas selalu mampir ke rumahnya, membawakan makanan, dan lainnya. Kata ibunya Salma, Rani dan Dimas begitu baik padanya.

Setiap weekend, Dimas dan Rani menginap di rumah Bu Mila. Mereka tahu Bu Mila kesepian, jadi Dimas mengajak Rani menginap di rumah Bu Mila. Rani tidak mempermasalahkannya, karena Dimas sudah menganggap Bu Mila seperti ibunya sendiri. Meski perseteruan Dimas dan Salma terus berlangsung, Bu Mila tidak pernah mau ikut campur urusan mereka. Bu Mila hanya menengahi, dan masih bersikap baik dengan Dimas, apalagi sahabatnya menitipkan Dimas pada dirinya sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

“Dia seperti ingin menyingkirkan aku, Dim. Dia memintaku untuk mengalah sesaat. Padahal dia kan tahu, menikah dengan Askara saja karena izinku. Aku pergi dari rumah mereka saja tidak mencegahku. Biarkan saja aku lihat bagaimana nanti,” ucap Salma.

“Dia sakit kanke, berarti kamu yang menanganinya?” tanya Dimas.

“Ya, dia memang pasienku sejak dulu. Sebelum dia menikah dengan Mas Askara, dan sebelum aku menikah denganmu. Dia pernah memiliki riwayat tumor payudara. Aku sudah bilang untuk melanjutkan terapi setelah operasi, tapi dia tidak mau, dan sekarang kankernya sudah menjalar ke paru-paru, semakin parah. Tadinya memang aku yang merawatnya, tapi karena aku benci sekali lihat dia, aku pasrahkan pada dokter lain. Aku takut, karena aku benci dan marah, nanti yang aku masukkan ke tubuh dia bukan obat, melainkan racun,” ucap Salma.

“Salma ... Salma ... kamu tidak berubah kalau sudah membenci orang,” ucap Dimas.

“Ya seperti inilah aku, Dim. Aku memang tidak mau diduakan, dan aku terpakas mengizinkan mereka menikah karena aku kasihan pada Zura, tapi ternyata dia begitu? Ya sudah terserah mereka,” ucap Salma.

“Ya sudah sana kamu berangkat ke rumah sakit. Maaf sudah ganggu waktu kamu. Itu titipan dari Rani kamu harus tahu, jangan sampai kamu lupa tidak membuka dan membaca surat dari Rani. Aku pamit pulang,” ucap Dimas.

“Iya, Dim. Jangan bilang sama ibu soal ini, Dim.”

“Oh iya, kemarin ibu sempat mau ke sini, Sal. Mau ketemu kamu, tapi aku cegah, karena aku gak mau dia bertemu dengan kamu dalam keadaan yang masih seperti ini,” ucap Dimas.

“Aku titip ibu, jangan sampai ibu tahu aku begini. Aku belum siap menjelaskan pada ibu, tapi nanti pasti aku jelaskan pada ibu, kalau keadaannya sudah membaik,” ucap Salma.

“Iya, aku akan sering jenguk ibu. Aku hanya punya ibumu saja, Sal. Siapa lagi yang kupunya?”

“Terima kasih ya, Dim? Ya sudah aku ke rumah sakit,” pamit Salma.

“Iya, sama-sama. Kamu hati-hati. Awas jangan salah suntik, nanti bukan obat yang kamu suntikkan, tapi racun!” gurau Dimas  dengan tersenyum.

“Tenang saja, kalau sama pasien lain aku ramah, tapi dengan Zura, bisa jadi seperti itu,” jawab Salma.

“Psikopat Dokter, gak berubah kamu, Sal!” ucap Dimas.

“Salma memang seperti ini, Dim. Tidak pernah berubah,” jawab Salma dengan mengulas senyum. “Aku berangkat, ya? Kamu langsung pulang?”

“Iya kamu hati-hati, aku mau meninjau proyek baru di sini. Sampai jumpa nanti,  Sal,” ucap Dimas. “Oh iya Sal, boleh minta nomor telefonmu?” tanya Dimas.

“Kemarikan ponselmu,” pinta Salma.

“Sudah punya hape, Sal?”

“Mau tidak?! Kalau gak mau ya udah!”

“Ngegas lagi? Tadi udah senyum tipis-tipis, sekarang ngegas?”

“Sini buruan hapemu!”

Dimas memberikan hapenya pada Salma. Salma langsung mengetik nomor hapenya di hape Dimas. “Ini!” Salma memberikan hape Dimas.

“Ini benar nomormu, kan? Bukan nomor orang lain?”

“Iyalah, masa nomor togel?” tukas Salma.

“Ya kali saja nomor siapa gitu?”

“Di coba saja masuk gak ke aku? Ada kuota atau pulsa, kan?”

“Ada,” jawab Dimas dengan menyentuh icon telefon untuk memanggil Salam. “Masuk, kan?” tanya Dimas.

“Oke, ini nomor kamu?”

“Iya, simpan, ya?”

“Hmm ... aku simpan.” Salma menunjukkan ponselnya kalau dia sudah menyimpan nomor Dimas. “Sudah, ya? Aku berangkat dulu,” pamit Salma.

“Iya, hati-hati,” jawab Dimas.

Salma masuk ke dalam mobilnya, Dimas pun masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak menyetir mobil sendiri, dia membawa sopir. Kakinya belum bisa untuk menginjak pedal gas dan rem, jadi dia belum bisa bawa mobil sendiri. Dimas melihat mobil Salma melaju, lalu dia mengikuti mobil Salma, memastikan Salma sudah sampai di Rumah Sakit dengan selamat.

“Kalau ada kesempatan kedua, aku akan membahagiakanmu lagi, Sal. Maafkan aku, aku menikahi Rani karena aku juga tidak mau kehilangan perusahaanku yang hampir tumbang saat itu,” gumam Dimas.

Terpopuler

Comments

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trusceris

2024-04-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Haruskah Mengalah Lagi?
3 Aku Bukan Siapa-Siapa
4 Aku Tidak Mau Dimadu
5 Aku Bukan Pelakor
6 Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7 Cemburumu Terlalu Berlebihan
8 Mantan Lebih Utama
9 Saatnya Aku Pergi
10 Tutur Batin
11 Haruskan Aku Merelakan?
12 Izinkan Aku Menikahinya
13 Kita Harus Sama-Sama Belajar
14 Inikah Yang Dinamakan Adil?
15 Bertukar Kamar
16 Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17 Bukan Aku Kejam
18 Manusia Tidak Punya Hati
19 Kedatangan Dimas
20 Keluarga Toxic
21 Aku Sangat Mencintai Salma
22 Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23 Pulang
24 Hanya Sebatas Belas Kasihan
25 Sebelas Dua Belas
26 Kopi Rasa Air Laut
27 Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28 Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29 Penyesalan Askara
30 Takut Gagal Lagi
31 Seperti Dihipnotis
32 Kehadiranmu Merubah Segalanya
33 Berita Tidak Penting
34 Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35 Mantan Rasa Teman
36 Dia Calon Suamiku
37 Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38 Resmi Pacaran
39 Kebimbangan Salma
40 Pindah
41 Pamit
42 Menemui Afifah
43 Dua Wanita Yang Aku Cintai
44 Aku Cemburu
45 Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46 Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47 Ingin Selalu Bersama
48 Gara-Gara Semut Merah
49 Mengkhawatirkan Salma
50 Afifah Yang Beranjak Remaja
51 Salma Yang Tegas
52 Kekhawatiran Askara dan Salma
53 Sudah Memiliki Anak Gadis
54 Baru Menyadari
55 Mirip Dengan Salma
56 Om Dimas Sakit?
57 Permintaan Afifah
58 Pacar Kecilku
59 Merasa Bersalah
60 Kenalan
61 Aku Mau Putus, Titik!
62 Mimpi Indah
63 Tidak Bisa Tidur
64 Kedatangan Vero
65 Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66 Mendapat Lampu Hijau
67 Tidak Ingin Ada Perdebatan
68 Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69 Vero Yang Kecewa
70 Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71 Cedera Karena Jadian
72 Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73 Kartumu Akan Terbuka!
74 Kita Sudah Putus
75 Kegundahan Afifah
76 Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77 Sama-Sama Memakai Cincin
78 My Little Girl
79 Kebahagiaan Salma dan Askara
80 Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81 Selalu Merindukanmu
82 Putih Abu-Abu
83 Kejutan Di Pagi Hari
84 Hari Penuh Kejutan
85 Alasan Dimas
86 Mendapat Kado Dari Rafka
87 Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88 Kecurigaan Salma
89 Bolos Kuliah
90 Kedatangan Tamu Asing
91 Semakin Rumit
92 Aku Calon Mertuamu!
93 Resmi Dilamar
94 Afifah Yang Menggemaskan
95 Jangan Panggil Om Lagi
96 Kangen
97 Kedatangan Kania
98 Akhirnya SAH
99 Lebih Suka Memanggil Om
100 Sedang Merajuk
101 Mendahului Kami
102 Sama-Sama Gugup
103 Malam Penuh Perjuangan
104 Penggangu Di Pagi Hari
105 Ayah Mertua Yang Kepo
106 Masih Terasa Sakit
107 Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108 Kita Pulang Saja
109 Sentuhanmu Canduku
110 Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111 Jangan Dengarkan Kata Orang
112 Siapa Sebenarnya Wanda?
113 Menyusul Dimas
114 Quality Time Bersama Ayah
115 Afifah Yang Berubah
116 Aku Hamil?
117 Suami Siaga
118 Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119 Ekstra Part 1
120 Ekstra Part 2
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Prolog
2
Haruskah Mengalah Lagi?
3
Aku Bukan Siapa-Siapa
4
Aku Tidak Mau Dimadu
5
Aku Bukan Pelakor
6
Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7
Cemburumu Terlalu Berlebihan
8
Mantan Lebih Utama
9
Saatnya Aku Pergi
10
Tutur Batin
11
Haruskan Aku Merelakan?
12
Izinkan Aku Menikahinya
13
Kita Harus Sama-Sama Belajar
14
Inikah Yang Dinamakan Adil?
15
Bertukar Kamar
16
Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17
Bukan Aku Kejam
18
Manusia Tidak Punya Hati
19
Kedatangan Dimas
20
Keluarga Toxic
21
Aku Sangat Mencintai Salma
22
Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23
Pulang
24
Hanya Sebatas Belas Kasihan
25
Sebelas Dua Belas
26
Kopi Rasa Air Laut
27
Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28
Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29
Penyesalan Askara
30
Takut Gagal Lagi
31
Seperti Dihipnotis
32
Kehadiranmu Merubah Segalanya
33
Berita Tidak Penting
34
Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35
Mantan Rasa Teman
36
Dia Calon Suamiku
37
Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38
Resmi Pacaran
39
Kebimbangan Salma
40
Pindah
41
Pamit
42
Menemui Afifah
43
Dua Wanita Yang Aku Cintai
44
Aku Cemburu
45
Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46
Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47
Ingin Selalu Bersama
48
Gara-Gara Semut Merah
49
Mengkhawatirkan Salma
50
Afifah Yang Beranjak Remaja
51
Salma Yang Tegas
52
Kekhawatiran Askara dan Salma
53
Sudah Memiliki Anak Gadis
54
Baru Menyadari
55
Mirip Dengan Salma
56
Om Dimas Sakit?
57
Permintaan Afifah
58
Pacar Kecilku
59
Merasa Bersalah
60
Kenalan
61
Aku Mau Putus, Titik!
62
Mimpi Indah
63
Tidak Bisa Tidur
64
Kedatangan Vero
65
Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66
Mendapat Lampu Hijau
67
Tidak Ingin Ada Perdebatan
68
Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69
Vero Yang Kecewa
70
Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71
Cedera Karena Jadian
72
Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73
Kartumu Akan Terbuka!
74
Kita Sudah Putus
75
Kegundahan Afifah
76
Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77
Sama-Sama Memakai Cincin
78
My Little Girl
79
Kebahagiaan Salma dan Askara
80
Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81
Selalu Merindukanmu
82
Putih Abu-Abu
83
Kejutan Di Pagi Hari
84
Hari Penuh Kejutan
85
Alasan Dimas
86
Mendapat Kado Dari Rafka
87
Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88
Kecurigaan Salma
89
Bolos Kuliah
90
Kedatangan Tamu Asing
91
Semakin Rumit
92
Aku Calon Mertuamu!
93
Resmi Dilamar
94
Afifah Yang Menggemaskan
95
Jangan Panggil Om Lagi
96
Kangen
97
Kedatangan Kania
98
Akhirnya SAH
99
Lebih Suka Memanggil Om
100
Sedang Merajuk
101
Mendahului Kami
102
Sama-Sama Gugup
103
Malam Penuh Perjuangan
104
Penggangu Di Pagi Hari
105
Ayah Mertua Yang Kepo
106
Masih Terasa Sakit
107
Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108
Kita Pulang Saja
109
Sentuhanmu Canduku
110
Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111
Jangan Dengarkan Kata Orang
112
Siapa Sebenarnya Wanda?
113
Menyusul Dimas
114
Quality Time Bersama Ayah
115
Afifah Yang Berubah
116
Aku Hamil?
117
Suami Siaga
118
Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119
Ekstra Part 1
120
Ekstra Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!