Tutur Batin

Salma berusaha biasa saja. Dia keluar dari kamarnya setelah selesai membersihkan diri. Dia ikut gabung di ruang tengah bersama Askara, Azzura, dan Afifah.

“Kamu sudah makan, Fifah?” tanya Salma.

“Sudah bunda, tadi sama ayah dan ibu. Ibu yang masak lho? Enak sekali masakannya,” jawab Afifah.

“Oh ya? Mbak kok masak? Apa tidak apa-apa? Jangan kecapean, Mbak,” ucap Salma.

“Gak apa-apa, cuma bantuin bibi kok,” jawab Azzura.

“Gak apa-apa gimana? Habis masak kamu drop lagi?” ujar Askara.

“Jangan gitu dong, Mbak? Mbak harus jaga kesehatan,” tutur Salma.

“Bosan, setiap hari di kamar, Sal,” jawab Azzura.

“Ya sudah kalian sudah pada makan, kan? Aku makan sendiri deh jadinya, aku makan dulu, ya?” ucap Salma.

“Ehm ... Sal, aku masakin nasi goreng, ya? Masakannya tadi habis,” ucap Askara.

Salma menarik napasnya dengan berat. Tidak ia sangka, masakan saja tidak disisakan sama sekali. Dia merasa tidak dianggap lagi di rumahnya, benar-benar sudah tidak dianggap lagi, sampai makanan saja dihabiskan semuanya.

“Memang masaknya untuk berapa orang, kok tumben habis?” tanya Salma.

“Habisnya enak sekali masakan ibu, Bunda,” ucap Afifah. “Ya kan, Yah? Ayah saja sampai nambah dua kali,” imbuhnya dengan membanggakan masakan ibunya.

“Hih kalian curang, masa bunda gak disisahin? Kan jad bunda gak ngerasain masakan enaknya ibumu, Sayang?” ucap Salma dengan mengacak-acak rambut Afifah.

“Habis enak sekali, Bunda,” ucap Afifah, mengulang lagi, memuji masakan Azzura.

Salma memang bisa dikatakan tidak bisa memasak. Sejak masih gadis, dia terlalu dimanja ibu dan ayahnya. Dia hari-harinya hanya belajar dan belajar. Dia bisa memasak saja karena belajar dengan pembantunya saat dulu masih berumah tangga dengan Dimas. Itu pun colong-colongan dari Dimas, karena Dimas tidak memperbolehkan Salma memasak, dan mengerjakan pekerjaan rumah, Dimas begitu meratukan Salma, hingga ia sama sekali tidak pernah memasak, kalau ia ingin memasak, ia harus colong-colongan dengan Dimas.

“Aku masakin nasi goreng ya, Sal? Atau mie instant? Atau apa?” Askara merasa bersalah, dan menawarkan diri untuk memasakkan nasi goreng untuk Salma.

“Gak usah deh mas, merepotkan kamu, aku pesan saja, delivery juga  bisa,” ucap Salma.

“Ayo aku masakin kamu nasi goreng, gak kangen makan nasi gorengku?” ucap Askara.

“Oke deh, ayo aku ikut ke dapur.” Salma bergelayut manja dan mengajak Askara ke dapur. Ia tidak peduli dengan Azzura yang mungkin cemburu melihatnya.

“Mungkin selama ini mereka hanya pura-pura menyukai masakanku. Oke, mulai besok pagi, aku akan kembali seperti dulu. Seperti saat dengan Dimas. Tidak memasak, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, hanya duduk manis santai, dan bekerja. Aku akan kembali seperti dulu, hanya melayani suamiku di atas ranjang, sudah aku yakin masakanku di lidah mereka sudah tidak berguna lagi!” gumam Salma.

Salma menunggu di kursi, sedangkan Askara sibuk memasakkan nasi goreng untuk dirinya. Salma tidak peduli lagi, dia tidak mau merasa tidak enak hati karena suaminya memasakkannya. Salma turun dari kursinya, lalu mendekati Askara dan memeluk Askara dari belakang.

“Yang enak ya masaknya, Mas Cheef?” ucapnya dengan memeluk Askara manja.

“Siap, Sayang!” ucap Askara dengan mencium kening Salma. “Maaf ya, tadi gak kebagian masakan,” ucap Askara.

“Iya, tidak apa-apa, kan sudah diganti sama nasi goreng buatan suamiku?” jawab Salma.

Salma sebetulnya kecewa sekali dengan suaminya, tapi dia gak mau ribut dengan suaminya, hanya karena masalah sepele. Salma menikmati nasi goreng buatan suaminya. Askara menemani Salma makan di dapur. Sesekali mereka saling suap-suapan. Askara merasa Salma kali ini beda, dari pagi Salma juga sudah berbeda, dia sama sekali tidak marah, padahal kemarin Salma begitu sensitif sekali, apalagi kalau dirinya dekat dengan Azzura. Dari tadi pagi, pdahal Salma melihat dirinya tidur memeluk Azzura di sofa, tapi Salma biasa saja, seakan tidak peduli.

“Besok kamu seminar ke Semarang berangkat jam berapa, Sal?” tanya Askara.

“Siangan sih, aku naik kereta sama temanku dari rumah sakit,” jawab Salma.

“Aku antar saja, ya?”

“Jangan pekerjaanmu banyak, gak apa-apa aku sendiri saja,” jawab Salma.

Tidak biasanya Salma menolak untuk diantar suaminya. Biasnaya kalau mau pergi ke mana-mana Askara selalu mengantarnya, meski pekerjaannya banyak, dia tetap mengantarkan Salma yang mau pergi ke luar kota.

“Kamu kenapa sih, tumben menolak diantar aku?” tanya Askara.

“Bukan aku menolak, aku hanya tidak ingin merepotkan kamu saja, Mas. Aku bisa kok berangkat sendiri?” jawab Salma.

“Aneh tahu, kamu menolah diantar aku?”

“Ih mas itu, masa menolak diantar dibilang aneh?” ucap Salma.

“Besok aku antar saja, Sal.”

“Mas, aku bisa sendiri, gak enak sudah janjian sama teman-teman juga,” tolak Salma.

“Kamu itu aneh, kamu marah sama aku? Sal, kalau kamu marah, marah dong, jangan begini, bikin aku khawatir?” ucap Askara ketakutan. “Tadi pagi kamu bilang, kamu pulang sampai rumah jam lima sore, tapi kamu sampai rumah jam tujuh lebih? Besok mau ke Semarang, gak mau diantar? Kamu kenapa, Sal? Kamu marah, soal tadi pagi aku tidur di sofa? Marah karena semalam, marah karena tadi pagi aku membentakmu? Atau  marah karena aku gak menyisakan makan malam tadi?”

“Mas ... jangan berlebihan gitu pikirannya? Mas kan kemarin bilang, jangan terlalu over thinking, sama negatif thinking, tapi mas begini? Mas menegur aku, menasihati aku tapi malah gini?”

“Habisnya kamu kemarin merajuk terus, tapi dari tadi pagi malah diam saja, baisa saja, padahal kamu lihat aku memeluk Zura di sofa?”

“Jadi pengin aku cemburui terus? Aku gak mau cemburu lagi, Mas. Aku gak mau kita terus bertengkar karena masalah sepele, ya meski kalau keterusan berdampak lebih, tapi aku sadar mas, Mbak Zura lebih butuh kamu daripada aku,” ucap Salma. “Dia butuh support kamu dan Afifah,” imbuhnya.

Salma padahal tidak baik-baik saja bicara seperti itu. Ia sebetulnya ingin marah, meluapkan emosinya, tapi ia tidak mau ribut dengan Askara, tidak mau ada pertengkaran lagi seperti semalam. Salma tahu, Askara orang yang mudah tersulu emosinya.

“Tapi aku juga tidak mau kamu gini, Sal. Kamu beda tidak seperti biasanya yang apa-apa serba melibatkan aku?”

“Keadaannya sedang berbeda, Mas. Di sini ada yang lebih butuh kamu,” jawab Salma.

“Apa kamu gak butuh aku sekarang, Sal?”

“Butuh, Mas. Tapi ada yang lebih butuh kamu, aku masih sehat, masih bisa apa-apa sendiri, tanpa kamu aku bisa, Mas. Jadi mas jangan khawatir,” ucap Salma.

“Gak, Sal! Ini bukan kamu, ini kamu pasti lagi marah sama aku!”

“Mas, aku harus bagaimana sih? Aku begini salah,  begitu ya salah. Aku biasa saja kamu bilang aku marah, lebih-lebih seperti semalam, sampai kamu malah meninggalkan aku di kamar sendirian? Lalu aku harus bagaimana, Mas? Coba mas maunya aku bagaimana?”

Askara diam, menatap Salma yang sedang menahan amarahnya. Askara juga tidak tahu Salma harus bagaimana dan harus seperti apa. Kalau Salma marah dan cemburu, dirinya bilang Salma keterlaluan, tapi Salma seharian cuek dan biasa saja, dia takut Salma akan pergi meninggalkannya.

“Coba mas maunya apa? Katakan, Mas? Apa aku harus menyetujui kamu mengontrakkan rumah untuk Mbak Zura? Oke aku setuju untuk itu, Mas. Aku setuju sekali, tanpa paksaan apa pun,” ucap Salma.

“Kok kamu bahas itu lagi?” ucap Askara.

“Mas mau itu, kan? Oke aku setuju. Aku tidak masalah untuk itu, Mas.”

“Kamu kok tiba-tiba gini, Sal?”

“Kalau memang itu yang membuat kamu nyaman, lakukan saja, Mas. Aku menurutinya,” ucap Salma.

“Nanti aku pikirkan lagi,” ucap Askara.

“Sudah jangan tanya aku ini kenapa, Mas. Aku ini gak apa-apa, aku memang sedang sibuk dengan pekerjaanku juga, jadi aku begini,” jelas Salma.

Setelah menemani Salma makan, Askara ke ruang tengah menghampiri Afifah yang sedang bersama ibunya. Mereka terlihat bahagia sekali. Entah sihir apa yang Azzura gunakan sehingga Afifah semakin dekat denganny.

“Bukan, bukan karena sihir, itu adalah tutur batin mereka. Mereka punya ikatan batin yang kuat. Mereka itu ibu dan anak, Sal. Ikatan batin mereka jelas kuat sekali. Kamu harus kuat. Biar mereka dekat, toh kamu tahu sendiri umur Azzura sudah divonis dokter, kamu jelas lebih tahu, Sal. Kamu ini seorang dokter. Sudah, kamu harus mengalah sementara, Sal. Kamu pasti bisa,” batin Salma.

Terpopuler

Comments

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussemangat

2024-04-03

0

Sunarmi Narmi

Sunarmi Narmi

Sangat berat dlm posisi Salma...nyesek Thor 😭😭😭😭😭

2023-06-10

1

𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏

𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏

Nyesek, kasian Salma,,, 🥺🥺🥺

2023-04-13

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Haruskah Mengalah Lagi?
3 Aku Bukan Siapa-Siapa
4 Aku Tidak Mau Dimadu
5 Aku Bukan Pelakor
6 Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7 Cemburumu Terlalu Berlebihan
8 Mantan Lebih Utama
9 Saatnya Aku Pergi
10 Tutur Batin
11 Haruskan Aku Merelakan?
12 Izinkan Aku Menikahinya
13 Kita Harus Sama-Sama Belajar
14 Inikah Yang Dinamakan Adil?
15 Bertukar Kamar
16 Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17 Bukan Aku Kejam
18 Manusia Tidak Punya Hati
19 Kedatangan Dimas
20 Keluarga Toxic
21 Aku Sangat Mencintai Salma
22 Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23 Pulang
24 Hanya Sebatas Belas Kasihan
25 Sebelas Dua Belas
26 Kopi Rasa Air Laut
27 Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28 Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29 Penyesalan Askara
30 Takut Gagal Lagi
31 Seperti Dihipnotis
32 Kehadiranmu Merubah Segalanya
33 Berita Tidak Penting
34 Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35 Mantan Rasa Teman
36 Dia Calon Suamiku
37 Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38 Resmi Pacaran
39 Kebimbangan Salma
40 Pindah
41 Pamit
42 Menemui Afifah
43 Dua Wanita Yang Aku Cintai
44 Aku Cemburu
45 Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46 Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47 Ingin Selalu Bersama
48 Gara-Gara Semut Merah
49 Mengkhawatirkan Salma
50 Afifah Yang Beranjak Remaja
51 Salma Yang Tegas
52 Kekhawatiran Askara dan Salma
53 Sudah Memiliki Anak Gadis
54 Baru Menyadari
55 Mirip Dengan Salma
56 Om Dimas Sakit?
57 Permintaan Afifah
58 Pacar Kecilku
59 Merasa Bersalah
60 Kenalan
61 Aku Mau Putus, Titik!
62 Mimpi Indah
63 Tidak Bisa Tidur
64 Kedatangan Vero
65 Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66 Mendapat Lampu Hijau
67 Tidak Ingin Ada Perdebatan
68 Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69 Vero Yang Kecewa
70 Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71 Cedera Karena Jadian
72 Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73 Kartumu Akan Terbuka!
74 Kita Sudah Putus
75 Kegundahan Afifah
76 Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77 Sama-Sama Memakai Cincin
78 My Little Girl
79 Kebahagiaan Salma dan Askara
80 Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81 Selalu Merindukanmu
82 Putih Abu-Abu
83 Kejutan Di Pagi Hari
84 Hari Penuh Kejutan
85 Alasan Dimas
86 Mendapat Kado Dari Rafka
87 Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88 Kecurigaan Salma
89 Bolos Kuliah
90 Kedatangan Tamu Asing
91 Semakin Rumit
92 Aku Calon Mertuamu!
93 Resmi Dilamar
94 Afifah Yang Menggemaskan
95 Jangan Panggil Om Lagi
96 Kangen
97 Kedatangan Kania
98 Akhirnya SAH
99 Lebih Suka Memanggil Om
100 Sedang Merajuk
101 Mendahului Kami
102 Sama-Sama Gugup
103 Malam Penuh Perjuangan
104 Penggangu Di Pagi Hari
105 Ayah Mertua Yang Kepo
106 Masih Terasa Sakit
107 Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108 Kita Pulang Saja
109 Sentuhanmu Canduku
110 Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111 Jangan Dengarkan Kata Orang
112 Siapa Sebenarnya Wanda?
113 Menyusul Dimas
114 Quality Time Bersama Ayah
115 Afifah Yang Berubah
116 Aku Hamil?
117 Suami Siaga
118 Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119 Ekstra Part 1
120 Ekstra Part 2
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Prolog
2
Haruskah Mengalah Lagi?
3
Aku Bukan Siapa-Siapa
4
Aku Tidak Mau Dimadu
5
Aku Bukan Pelakor
6
Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7
Cemburumu Terlalu Berlebihan
8
Mantan Lebih Utama
9
Saatnya Aku Pergi
10
Tutur Batin
11
Haruskan Aku Merelakan?
12
Izinkan Aku Menikahinya
13
Kita Harus Sama-Sama Belajar
14
Inikah Yang Dinamakan Adil?
15
Bertukar Kamar
16
Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17
Bukan Aku Kejam
18
Manusia Tidak Punya Hati
19
Kedatangan Dimas
20
Keluarga Toxic
21
Aku Sangat Mencintai Salma
22
Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23
Pulang
24
Hanya Sebatas Belas Kasihan
25
Sebelas Dua Belas
26
Kopi Rasa Air Laut
27
Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28
Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29
Penyesalan Askara
30
Takut Gagal Lagi
31
Seperti Dihipnotis
32
Kehadiranmu Merubah Segalanya
33
Berita Tidak Penting
34
Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35
Mantan Rasa Teman
36
Dia Calon Suamiku
37
Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38
Resmi Pacaran
39
Kebimbangan Salma
40
Pindah
41
Pamit
42
Menemui Afifah
43
Dua Wanita Yang Aku Cintai
44
Aku Cemburu
45
Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46
Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47
Ingin Selalu Bersama
48
Gara-Gara Semut Merah
49
Mengkhawatirkan Salma
50
Afifah Yang Beranjak Remaja
51
Salma Yang Tegas
52
Kekhawatiran Askara dan Salma
53
Sudah Memiliki Anak Gadis
54
Baru Menyadari
55
Mirip Dengan Salma
56
Om Dimas Sakit?
57
Permintaan Afifah
58
Pacar Kecilku
59
Merasa Bersalah
60
Kenalan
61
Aku Mau Putus, Titik!
62
Mimpi Indah
63
Tidak Bisa Tidur
64
Kedatangan Vero
65
Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66
Mendapat Lampu Hijau
67
Tidak Ingin Ada Perdebatan
68
Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69
Vero Yang Kecewa
70
Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71
Cedera Karena Jadian
72
Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73
Kartumu Akan Terbuka!
74
Kita Sudah Putus
75
Kegundahan Afifah
76
Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77
Sama-Sama Memakai Cincin
78
My Little Girl
79
Kebahagiaan Salma dan Askara
80
Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81
Selalu Merindukanmu
82
Putih Abu-Abu
83
Kejutan Di Pagi Hari
84
Hari Penuh Kejutan
85
Alasan Dimas
86
Mendapat Kado Dari Rafka
87
Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88
Kecurigaan Salma
89
Bolos Kuliah
90
Kedatangan Tamu Asing
91
Semakin Rumit
92
Aku Calon Mertuamu!
93
Resmi Dilamar
94
Afifah Yang Menggemaskan
95
Jangan Panggil Om Lagi
96
Kangen
97
Kedatangan Kania
98
Akhirnya SAH
99
Lebih Suka Memanggil Om
100
Sedang Merajuk
101
Mendahului Kami
102
Sama-Sama Gugup
103
Malam Penuh Perjuangan
104
Penggangu Di Pagi Hari
105
Ayah Mertua Yang Kepo
106
Masih Terasa Sakit
107
Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108
Kita Pulang Saja
109
Sentuhanmu Canduku
110
Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111
Jangan Dengarkan Kata Orang
112
Siapa Sebenarnya Wanda?
113
Menyusul Dimas
114
Quality Time Bersama Ayah
115
Afifah Yang Berubah
116
Aku Hamil?
117
Suami Siaga
118
Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119
Ekstra Part 1
120
Ekstra Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!