Alana tidak menyangka menantunya yang selama tujuh tahun meninggalkan anak dan cucunya itu, kini kembali lagi. Dengan keadaan kuyu dan sedang sakit keras.
“Dulu ke mana saja? Kenapa setelah kamu menyerah dan tidak bisa sembuh kamu kembali lagi? Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaan putra saya dan cucu saya sewaktu kamu tinggal begitu saja?” ucap Alana.
“Maafkan aku, Bunda. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya,” jawab Azzura.
“Kalau mau bertindak, pikirkan baik-baik, Zura!” tekan Alana.
Azzura hanya diam saja. Ia memang bersalah, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Ia kembali hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Askara dan Afifah. Namun, semua keluarga Askara sudah terlanjur kecewa dengan apa yang sudah Azzura perbauat. Afifah juga masih belum percaya ibunya kembali pulang.
“Fah, itu ibu. Salim sama ibumu,” tutur Askara. Afifah hanya diam, dia menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya ibunya kembali.
“Ayo, Nak. Ibu kan pengin ketemu kamu,” bujuk Salma.
Afifah masih belum mau. Dia masih bersembunyi di balik tubuh bundanya. Yang ia tahu ibunya hanya Salma. Karena sejak ia Azzura pergi Afifah dengan Salma.
“Sini, Nak. Ibu kangen kamu,” ucap Azzura parau.
Semua diam, semua juga tahu perasaan Azzura. Semua tahu Azzura pergi dengan alasan apa.
“Ibu ke mana saja? Ibu bilang kangen, tapi ibu ninggalin Afifah sejak Fifah masih kecil,” ucap Afifah dengan menahan tangis. “Apa ibu tahu, aku pagi itu mencari ibu, aku menangis, mencari-cari ibu. Ibu yang biasanya kalau aku bangun selalu ada di sebelahku, menciumku, memelukku, dan menggendongku, saat itu tak kudapati ibu di sampingku, hanya ayah yang masih tertidur. Dan setalah itu aku tidak tahu ke mana ibu, aku tidak pernah melihat ibu lagi. Sekarang, Fifah sudah bahagia, sudah ada bunda, dan ibu kembali. Ibu mau apa? Mau ajak aku dan ayah pergi? Aku gak mau, Bu. Aku ingin di sini sama ayah dan bunda saja!” Afifah menangis, mengingat saat dulu, waktu ibunya pergi meninggalkannya.
“Ibu gak akan ajak Fifah pergi, ibu pengin ketemu kamu saya, Sayang,” ucap Azzura.
“Ini sudah ketemu kan, Bu?” ucap Afifah.
Salma berjongkok di depan Afifah, ia bujuk Fifah supaya dia mau memeluk ibunya. Salma tahu kalau Azzura merindukan Fifah dan ingin memeluknya. “Ibu kangen sama kamu, Fah. Ibu pengin peluk kamu, peluk ibumu,” bujuk Salma, tapi Afifah menggelengkan kepalanya. “Ibu memang salah, ibu pernah meninggalkan kamu, tapi dia tetap ibumu, Nak,” ucap Salma.
Afifah terdiam sejenak. Benar kata bundanya, mau bagaimana pun Azzura adalah ibu kandungnya. Afifah berjalan mendekati Azzura, dia memeluknya, meski terpaksa, karena dibujuk oleh bundanya. Afifah takut, dirinya akan berpisah dengan bundanya, karena ibunya kembali. Dia takut, ibunya akan membawa dirinya dan ayahnya pergi.
“Ibu pulang bukan untuk menjemput aku dan ayah supaya ikut ibu, kan?” tanya Afifah.
“Tidak, Nak. Ibu tidak seperti itu,” ucap Azzura.
Azzura tidak menyangka Afifah akan bicara seperti itu. Tapi, Afifah berhak bicara seperti itu karena dia kecewa dengan dirinya.
“Kenapa ibu pergi? Kenapa ninggalin Fifah sama ayah sampai Fifah gede, Bu?” tanya Afifah.
“Ibu harus berobat, Fifah,” jawab Azzura.
“Harusnya ibu bilang. Ibu jahat ninggalin Fifah sama ayah gitu saja!” pekik Afifah.
Azzura hanya diam. Iya benar dirinya jahat sekali dengan anak dan suaminya, tapi mau bagaimana lagi, dia ingin sembuh namun ujungnya masih sama, bukannya sembuh, tapi semakin parah.
“Bunda, ayah, izinkan Azzura tinggal di sini. Zura ingin menghabiskan waktu Zura yang sebentar lagi dengan Afifah dan Mas Aska,” pinta Zura.
“Keadaannya sudah berbeda, Zura. Askara bukan suamimu lagi, dia sudah memiliki Salma. Kamu harusnya paham bagaimana perasaan Salma saat ini. Bunda juga tahu, kamu keadaannya seperti ini, tapi apa tidak bisa di sisa akhir waktumu kamu gunakan untuk tidak menyakiti perempuan lain, Zurra?” ucap Alana.
Azzura terdiam mendengar jawaban Alana. Iya kedatangannya memang membuat Salma sakit hati, apalagi permintaannya ingin menghabiskan waktu terakhirnya dengan Askara dan Afifah. Dirinya sama sekali tidak memikirkan perasaan Salma saat ini.
“Tolong pikirkan lagi apa tujuanmu, Azzura!” tegas Alana.
Alana tidak mau ada kejadian seperti dirinya dulu saat bersama Zhafran. Zhafran lebih memilih wanita masa lalunya demi dirinya. Takutnya Salma akan bernasib seperti dirinya, kalau ada Azzura di rumahnya, dan Askara pasti akan lebih perhatian pada Azzura, dan ujungnya Salma patah hati seperti dirinya, karena suaminya memilih masa lalunya.
“Askara, bunda harap, kamu tidak lagi mengulang kesalahan papamu dulu!” Tegas Alana.
“Iya, jangan pernah mengulang kesalahan papamu, Nak,” tutur Ardha.
“Askara dan Salma memang sepakat untuk merawat Azzura bersama di sini,” ucap Askara.
“Kau tidak memikirkan perasaan istrimu? Akan melakukan hal seperti itu?” ucap Alana.
“Nanti Mbak Azzura akan dirawat di sini, Bunda. Aku yang akan merawatnya, dan mungkin aku meminta dua suster untuk bekerja di sini, merawat Azzura 24 jam non stop. Jadi aku dan Mas Aska hanya memantau,” jelas Salma. “Kalau tidak di sini Mbak Zurra mau tinggal di mana lagi, Bunda?”
“Bunda kira hanya kamu dan Askara saja yang merawatnya?” ucap Alana.
“Mas Aska sudah bukan muhrimnya lagi. Mana aku izinkan Mas Askara terlalu dekat dengan perempuan yang sudah bukan muhrimnya lagi, Bunda? Itu kenapa aku sewa jasa perawat yang memang bertugas home care,” ucap Salma.
Azzura tidak menyangka ternyata Salma sudah merencanakan seperti itu. Dirinya mengira Aska yang nantinya akan merawatnya. Azzura tahu Askara masih mencintainya, tapi karena ada Salma jadi Aska bersikap seperti itu. Menuruti apa yang Salma mau.
“Ya kalau seperti itu ayah juga setuju,” ucap Ardha.
“Yah, aku sangat mencintai Salma, aku memang dulu mencintai Azzura, tapi itu dulu, sebelum aku bersama Salma,” ucap Askara.
Salma tahu Askara masih ada rasa dengan Azzura, itu kenapa Salma rela membayar dua atau tiga perawat untuk merawat Azzura di rumahnya. Tidak mungkin dia melepaskan Askara begitu saja untuk merawat mantan istrinya? Sekarang posisinya sudah berbeda. Sejak Askara menikahinya, Askara sudah bukan siapa-siapanya Azzura. Azzura adalah sebuah masa lalu pahitnya Askara. Hanya saja Azzura masih ada hubungan dengan Afifah, karena selamanya tidak akan ada mantan anak. Yang ada mantan suami atau mantan istri.
“Aku tahu Azzura sedang sakit, dia sedang menderita karena sakit yang ia derita. Tapi, aku tidak mau meberikan celah pada Azzura dan Askara untuk kembali merajut tali kasih mereka. Semuanya sudah berakhir, dan semua itu adalah salah Azzura yang meninggalkan Askara. Aku di sini bukan pelakor, aku datang dalam kehidupan Askara setelah Azzura pergi bertahun-tahun!” batin Salma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-04-03
0
Soraya
knp gak di kontrakin aja sih, jgn tinggal satu rumah
2023-10-22
0
A Yes
makarya ngaca mbak ngaca, situ yg ninggali koq siti yg mau balik seenaknya, ngarep lebih lagi
kecualiiiii pas situ pergi pamit mau berobat, tetap berkabar, menegihkan hati niat menkauh biar sehat dulu dan tdk merepotkan, lah ini 7 tahun koq klo org mati dah jd tengkorak mba eee,💀💀😂😂😂😂
2023-08-26
0