Saatnya Aku Pergi

“Semalam kenapa kau bisa tidur di sofa denganku, Ra?” tanya Askara.

“Aku hanya menyelimuti tubuhmu saja, lalu kau tidak memperbolehkan aku pergi, kamu menarik tanganku, dan memelukku,” jawab Azzura. “Kenapa kamu tidur di Sofa? Marahan dengan Salma?” tanya Azzura.

“Pengin tidur di sofa saja,” jawab Askara. “Aku berangkat ke kantor, ya?” pamit Askara pada Azzura.

Azzura hanya mengangguk. Askara langsung mengambil tas kerjanya di kamar, lalu ia pergi meninggalkan rumah untuk ke kantor.

Sepanjang prerjalanan, Askara memikirkan Salma, dia sudah sampai mana. Dia khawatir Salma membawa mobil sendirian. Meski kesal dengan Salma, Askara kali ini benar-benar khawatir. Pagi ini Salma berbeda. Dia tidak banyak bicara, tidak banyak protes soal Azzura, dan hingga dirinya lupa mencium keningnya saat tadi mau berangkat pun Salma tidak protes sama sekali. Padahal setiap hari, sebelum ada Azzura pun Salma selalu protes kalau Askara lupa mengecup keningnya.

Askara mencoba menghubungi Salma, tapi nomornya tidak aktif. Berkali-kali sepanjang perjalannya ke kantor, Askara terus menghubungi Salma.

“Kenapa gak aktif, Sal?” gumam Askara.

Askara mencoba lagi, dan lagi. Tidak sia-sia, nomor Salma aktif, Salma menerima telefon dari Askara.

“Hallo, Sal? Sampai di mana?”

“Hallo, Mas? Gak dengar! Aku sedang di jalan.”

“Sal, sampai mana?”

“Ya, Hallo ... ngomong apa, Mas? Gak jelas! Susah sinyal!”

Tuuutt ... tuuutt ....

Telfon terputus, suara juga tidak jelas sama sekali. Lalu ponsel Askara bergetar, ada notifikasi pesan masuk dari Salma.

“Sinyalnya susah, Mas. Aku sebentar lagi sampai.”

Ada perasaan lega pada diri Askara, Salma sudah memberi kabar. Setidaknya Salma sudah memberik kabar, jadi Askara bisa tenang.

Padahal Salma tidak ingin bicara dengan Askara saja, dia di sana pura-pura tidak ada sinyal. Ia malas berdebat dengan suaminya. Dan ini adalah salah satu cara dirinya supaya suaminya tidak menghubungi dirinya. Ia tidak mau diganggu saat acara nanti, jadi ia mematikan telefonnya.

“Biar saja, aku hanya tidak mau diganggu dia, atau apa pun itu. Aku malah berdebat dengannya! Aku lelah, aku cemburu salah? Aku protes juga salah? Apa tidak boleh aku cemburu kalau suaminya tidur memeluk mantan istrinya di sofa? Iya, aku tidak boleh cemburu untuk itu?” ucap Salma dengan perasaan tidak karuan.

Salam turun dari mobilnya. Ia harus konsentrasi mengikuti seminar. Ia tidak mau memikirkan hal yang membuatnya stres. “Aku harus bisa menjaga kewarasan diriku. Aku tidak mau kembali terpuruk seperti dulu saat bersama Dimas,” gumam Salma.

^^^

Seharian Salma mengikuti seminar di sebuah hotel berbintang. Sepulang dari hotel, Salma menyempatkan mampir ke makam ayahnya. Pulangnya memang sejalan ke arah makam ayahnya.

Sesampainya di tempat pemakaman umum, Salma turun, dan masuk ke area pemakaman, dia menyusuri jalan setapak menuju ke pemakaman ayahnya dengan membawa keranjang kecil yang berisi bunga melati yang ia beli tadi di jalan saat akan menuju makam.

Salma berjongkok di depan makam ayahnya. Dia menaburkan bunga melati, dan menyiramkan air dari botol kecil. Ia kecup batu nisan ayahnya.

“Yah, kenapa nasib rumah tangga Salma selalu begini?” ucap Salma dengan perasaan getir. “Salma takut, Yah. Salma takut tidak kuat menjalani semua ini.”

Selesai bercengkrama di depan makam ayahnya, dan mendoakan ayahnya. Salma pamit pulang. “Salma pulang ya, Yah?” pamit Salma.

Salma mengusap batu nisan ayahnya sebelum pulang. Ia kembali berjalan di jalan setapak, hingga langkahnya terhenti saat berpapasan dengan seseorang yang ia kenal.

“Sal, kamu di sini?” tanya orang tersebut.

“Ya, dari makam ayah. Kamu mau apa di sini? Mau jenguk makam siapa? Oh iya lupa, pasti makan ibu dan bapakmu, juga mertuamu, kan?” ucap Salma.

“Iya, dan makam Rani,” imbuhnya.

“Ra—Rani istrimu?” tanya Salma.

“Iya, dia meninggal seratus hari yang lalu, kecelakaan lalu lintas, dan aku juga baru pulih,” jawab Dimas. Ya, Dimas mantan suami Salma.

“Oh, begitu? Ya sudah aku duluan,” jawab Salma dengan santai, tanpa tanya kabar Dimas, padahal dia lihat Dimas berjalan memakai tongkat, sepertinya kakinya memang sedang cedera.

“Kau dengan siapa?” tanya Dimas.

“Yang kamu lihat?” jawab Salma.

“Kamu sendirian,” ucap Dimas.

“Ya aku sendirian.”

“Kamu apa kabar, Sal?” tanya Dimas.

“Baik,” jawab Salma, tanpa menanyakan balik kabar Dimas.

“Kamu sengaja datang ke sini?”

“Kamu tidak lihat aku pakai seragam apa? Aku habis ikut seminar, lalu mampir ke sini,” jawabnya.

“Lama tidak tahu kabar kamu, kamu begitu berubah,” ucap Dimas.

“Ya, manusia itu harus ada perubahan, jangan monoton. Jelas aku berubah, aku sudah bergelut dengan profesiku lagi, dan suamiku juga mengizinkannya,” ucap Salma. “Ya sudah aku pulang, nanti keburu petang.”

“Kamu sendirian? Jauh dari tempat kamu lho?” ujar Dimas.

“Ya sendirian lah, memang kenapa? Aku bukan perempuan manja lagi, yang harus apa-apa dengan suami,” jawab Salma.

“Setidaknya suamimu perhatian dong, diantar kek, biar kamu gak sendiri. Masa antar istri saja gak mau? Suami macam apa?”

“Yang penting, dia mengerti aku. Gak sok-sok’an perhatian, sayang sama istri, istri gak boleh ini dan itu takut kecapekan, tapi akhirnya kawin lagi? Situ waras? Bilang suamiku macam apa? Lalu kamu itu apa, Dimas!” Salma menujuk dada Dimas, lalu mendorongnya sedikit, dan dia pergi meninggalkan Dimas.

“Sal, aku minta kontakmu boleh?”

“Gak punya hape!” teriak Salma.

Salma menggelengkan kepalanya melihat sikap Dimas yang seperti itu. “Tidak tahu malu sekali dia? Main minta nomor telefon? Mau apa? Tuh makan jasad istrimu? Enak, kan? Kamu kecelakaan, istrimu mati? Karma akan bekerja sesuai tugasnya, Dim!” geram Salma.

Salma masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat poselnya yang tergeletak di jok sebelahnya. Ia dari sampai di hotel, hingga sekarang mau perjalanan pulang, membiarkan ponselnya mati. Ia tidak mengaktifkan ponselnya. Ia tidak mau diganggu siapa pun. Ia ingin menikmati perjalanannya sendirian, membunuh rasa cemburu yang dari kemarin terus memenuhi rongga dadanya.

Salma sampai di rumah hingg selepas isya. Dia memang mampir ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya sejenak, sebelum kembali ke rumah, yang suasananya tidak seperti dulu lagi. Suasana di rumahnya tidak senyaman dulu, tidak sehangat dulu, dan seindah dulu. Sekarang suasana rumahnya menjadi sendu, karena masa lalu yang dulu kembali bertamu.

Salma keluar dari mobilnya. Askara langsung menyambutnya dengan rasa khawatir.

“Astaga, Sayang ... dari mana saja sih?”

“Ya seminar mas, kan aku pamitnya seminar, bukan main-main?” jawab Salma santai, tidak peduli dengan Askara yang begitu mengkhawatirkannya.’

“Ponselmu gak aktif lagi?” ucap Askara.

“Oh iya, sejak mulai acara aku off, dan kelupaan sampai sekarang. Lagian on percuma, di sana sinyal susah,” ucap Salma. Padahal dia memang tidak ingin mengaktifkan ponselnya saja.

“Aku mau bersih-bersih dulu, Mas,” ucap Salma dengan langsung masuk ke dalam rumah. Ia melihat Afifah sedang tertawa bahagia dengan ibunya, hingga dirinya masuk pun Afifah tidak menyapanya.

“Sepertinya aku sudah tidak lagi dibutuhkan oleh Mas Askara dan Afifah, apa aku harus pergi? Tapi, jangan Sal! Tunggu dulu, bagaimana suamimu setelah ini. Kamu harus kuat untuk di sini dulu,” gumam Salma.

Terpopuler

Comments

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trudbetj

2024-04-03

0

Novita

Novita

lebih baik pergi, dari pada hrs nyiksa diri dan bikin kita jadi enggak waras

2023-05-09

0

𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏

𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏

Mungkin pergi lebih baik dri pda harus terluka,,, 😔
Azzura jg pdhal kan wktu meluk dia Aska nyebut Nama Salma tpi masih aj kepedean, 😏

2023-04-13

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Haruskah Mengalah Lagi?
3 Aku Bukan Siapa-Siapa
4 Aku Tidak Mau Dimadu
5 Aku Bukan Pelakor
6 Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7 Cemburumu Terlalu Berlebihan
8 Mantan Lebih Utama
9 Saatnya Aku Pergi
10 Tutur Batin
11 Haruskan Aku Merelakan?
12 Izinkan Aku Menikahinya
13 Kita Harus Sama-Sama Belajar
14 Inikah Yang Dinamakan Adil?
15 Bertukar Kamar
16 Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17 Bukan Aku Kejam
18 Manusia Tidak Punya Hati
19 Kedatangan Dimas
20 Keluarga Toxic
21 Aku Sangat Mencintai Salma
22 Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23 Pulang
24 Hanya Sebatas Belas Kasihan
25 Sebelas Dua Belas
26 Kopi Rasa Air Laut
27 Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28 Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29 Penyesalan Askara
30 Takut Gagal Lagi
31 Seperti Dihipnotis
32 Kehadiranmu Merubah Segalanya
33 Berita Tidak Penting
34 Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35 Mantan Rasa Teman
36 Dia Calon Suamiku
37 Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38 Resmi Pacaran
39 Kebimbangan Salma
40 Pindah
41 Pamit
42 Menemui Afifah
43 Dua Wanita Yang Aku Cintai
44 Aku Cemburu
45 Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46 Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47 Ingin Selalu Bersama
48 Gara-Gara Semut Merah
49 Mengkhawatirkan Salma
50 Afifah Yang Beranjak Remaja
51 Salma Yang Tegas
52 Kekhawatiran Askara dan Salma
53 Sudah Memiliki Anak Gadis
54 Baru Menyadari
55 Mirip Dengan Salma
56 Om Dimas Sakit?
57 Permintaan Afifah
58 Pacar Kecilku
59 Merasa Bersalah
60 Kenalan
61 Aku Mau Putus, Titik!
62 Mimpi Indah
63 Tidak Bisa Tidur
64 Kedatangan Vero
65 Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66 Mendapat Lampu Hijau
67 Tidak Ingin Ada Perdebatan
68 Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69 Vero Yang Kecewa
70 Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71 Cedera Karena Jadian
72 Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73 Kartumu Akan Terbuka!
74 Kita Sudah Putus
75 Kegundahan Afifah
76 Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77 Sama-Sama Memakai Cincin
78 My Little Girl
79 Kebahagiaan Salma dan Askara
80 Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81 Selalu Merindukanmu
82 Putih Abu-Abu
83 Kejutan Di Pagi Hari
84 Hari Penuh Kejutan
85 Alasan Dimas
86 Mendapat Kado Dari Rafka
87 Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88 Kecurigaan Salma
89 Bolos Kuliah
90 Kedatangan Tamu Asing
91 Semakin Rumit
92 Aku Calon Mertuamu!
93 Resmi Dilamar
94 Afifah Yang Menggemaskan
95 Jangan Panggil Om Lagi
96 Kangen
97 Kedatangan Kania
98 Akhirnya SAH
99 Lebih Suka Memanggil Om
100 Sedang Merajuk
101 Mendahului Kami
102 Sama-Sama Gugup
103 Malam Penuh Perjuangan
104 Penggangu Di Pagi Hari
105 Ayah Mertua Yang Kepo
106 Masih Terasa Sakit
107 Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108 Kita Pulang Saja
109 Sentuhanmu Canduku
110 Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111 Jangan Dengarkan Kata Orang
112 Siapa Sebenarnya Wanda?
113 Menyusul Dimas
114 Quality Time Bersama Ayah
115 Afifah Yang Berubah
116 Aku Hamil?
117 Suami Siaga
118 Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119 Ekstra Part 1
120 Ekstra Part 2
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Prolog
2
Haruskah Mengalah Lagi?
3
Aku Bukan Siapa-Siapa
4
Aku Tidak Mau Dimadu
5
Aku Bukan Pelakor
6
Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7
Cemburumu Terlalu Berlebihan
8
Mantan Lebih Utama
9
Saatnya Aku Pergi
10
Tutur Batin
11
Haruskan Aku Merelakan?
12
Izinkan Aku Menikahinya
13
Kita Harus Sama-Sama Belajar
14
Inikah Yang Dinamakan Adil?
15
Bertukar Kamar
16
Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17
Bukan Aku Kejam
18
Manusia Tidak Punya Hati
19
Kedatangan Dimas
20
Keluarga Toxic
21
Aku Sangat Mencintai Salma
22
Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23
Pulang
24
Hanya Sebatas Belas Kasihan
25
Sebelas Dua Belas
26
Kopi Rasa Air Laut
27
Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28
Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29
Penyesalan Askara
30
Takut Gagal Lagi
31
Seperti Dihipnotis
32
Kehadiranmu Merubah Segalanya
33
Berita Tidak Penting
34
Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35
Mantan Rasa Teman
36
Dia Calon Suamiku
37
Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38
Resmi Pacaran
39
Kebimbangan Salma
40
Pindah
41
Pamit
42
Menemui Afifah
43
Dua Wanita Yang Aku Cintai
44
Aku Cemburu
45
Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46
Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47
Ingin Selalu Bersama
48
Gara-Gara Semut Merah
49
Mengkhawatirkan Salma
50
Afifah Yang Beranjak Remaja
51
Salma Yang Tegas
52
Kekhawatiran Askara dan Salma
53
Sudah Memiliki Anak Gadis
54
Baru Menyadari
55
Mirip Dengan Salma
56
Om Dimas Sakit?
57
Permintaan Afifah
58
Pacar Kecilku
59
Merasa Bersalah
60
Kenalan
61
Aku Mau Putus, Titik!
62
Mimpi Indah
63
Tidak Bisa Tidur
64
Kedatangan Vero
65
Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66
Mendapat Lampu Hijau
67
Tidak Ingin Ada Perdebatan
68
Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69
Vero Yang Kecewa
70
Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71
Cedera Karena Jadian
72
Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73
Kartumu Akan Terbuka!
74
Kita Sudah Putus
75
Kegundahan Afifah
76
Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77
Sama-Sama Memakai Cincin
78
My Little Girl
79
Kebahagiaan Salma dan Askara
80
Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81
Selalu Merindukanmu
82
Putih Abu-Abu
83
Kejutan Di Pagi Hari
84
Hari Penuh Kejutan
85
Alasan Dimas
86
Mendapat Kado Dari Rafka
87
Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88
Kecurigaan Salma
89
Bolos Kuliah
90
Kedatangan Tamu Asing
91
Semakin Rumit
92
Aku Calon Mertuamu!
93
Resmi Dilamar
94
Afifah Yang Menggemaskan
95
Jangan Panggil Om Lagi
96
Kangen
97
Kedatangan Kania
98
Akhirnya SAH
99
Lebih Suka Memanggil Om
100
Sedang Merajuk
101
Mendahului Kami
102
Sama-Sama Gugup
103
Malam Penuh Perjuangan
104
Penggangu Di Pagi Hari
105
Ayah Mertua Yang Kepo
106
Masih Terasa Sakit
107
Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108
Kita Pulang Saja
109
Sentuhanmu Canduku
110
Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111
Jangan Dengarkan Kata Orang
112
Siapa Sebenarnya Wanda?
113
Menyusul Dimas
114
Quality Time Bersama Ayah
115
Afifah Yang Berubah
116
Aku Hamil?
117
Suami Siaga
118
Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119
Ekstra Part 1
120
Ekstra Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!