Izinkan Aku Menikahinya

Aku mencoba biasa saja. Pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak mendengar apa yang tadi mereka bicarakan. Aku tidak mau menunjukkan seolah aku marah dan kecewa pada Mas Aska saat Mas Aska  masuk ke dalam kamar, dan langsung memelukku dari belakang lalu menciumi tengkukku. Aku tahu dia ingin merayuku lebih dulu, membuat hatiku bahagia, senang, dan rasanya terbang ke awan. Tapi, tidak untuk saat ini, aku sama sekali tidak bisa merasakan sentuhan lembut suamiku yang sedang mencumbuku.

“Ini ada apa datang-datang tiba-tiba gini, meluk, nyium, dan raba-raba gini?” ucapku dengan menghentikan tangan Mas Aska yang sudah mampir ke dadaku, mengusapnya dengan lembut, tapi aku sama sekali tidak merasakan gairah apa pun.

“Sudah lama lho kita gak begini, Sal?” ucapnya dengan terus mencumbuiku.

Iyalah sudah lama! Orang yang dia urusi Azzura terus? Satu minggu lebih dia hanya fokus pada Azzura, sekarang baru sadar dia belum menyentuhku selama itu? Padahal hampir setiap malam, kami bercinta penuh gelora, gairah cinta yang menggebu. Aku tahu, ini trik dia yang ingin menyampaikan permintaan Azzura. Dia merayuku dulu, mencumbuku, hingga nanti pada akhirnya aku pasrah dengan apa yang akan ia lakukan.

Namun, sedikit pun gairah bercintaku tidak bangkit. Aku merasa biasa saja, mungkin karena aku sedang kecewa, dan kenapa segampang ini dia berbuat? Kenapa tidak dari kemarin saat aku menginginkannya? Saat itu dia malah pergi meninggalkanku, padahal aku merajuk karena aku ingin dapat perhatian lebih darinya, aku ingin disentuhnya, tapi dia malah tidur di luar, di sofa dengan memeluk Azzura.

“Mas, ini sudah siang, kamu sebentar lagi mau ke kantor lho?” ucapku.

“Aku tidak ke kantor, kamu mau ke Semarang hari ini, kan? Nanti siang?”

“Iya, nanti siang aku ke Semarang, aku dua hari di sana,” jawabku.

“Yakin gak mau dulu? Mau dua hari dua malam kan di sana?”

“Iya, tapi ini sudah siang, Mas?”

“Please ... sekali saja, satu minggu kita libur lho?” pinta Mas Aska.

Aku tahu dia ingin, tapi kalau tadi dia menolak permintaan Azzura, mungkin aku akan melayaninya. Tapi, aku dengar dia mengiyakan permintaan Azzura yang ingin kembali dinikahinya. Pantaskah aku memberikannya jika dia sudah ingin dan berniat menikahi perempuan lain?

Aku biarkan saja dia menyentuhku, meski tidak ada hasrat dalam diriku, terserah dia mau bagaimana, toh dia pasti tahu aku sedang tidak ingin melakukannya.

“Sal, kok gini? Kamu kenapa?”

“Pikiranku sedang tidak fokus, maaf, Mas.” Aku menyingkirkan tubuh Mas Aska dari atas tubuhku.

“Sal ... tumben gini? Biasanya kalau waktu sudah siang dan mepet saja kamu masih bisa menikmatinya, Sal?” ucap Mas Aska.

“Gak tahu, Mas. Kenapa aku begini, coba mas tanya pada hati mas, atau pada diri mas kenapa aku bisa begini,” jawabku.

“Kamu kenapa bilang begini? Kenapa kamu mau mancing ribut lagi, Sal! Ini masih pagi, Salma!” ucapan Mas Askara semakin meninggi. Aku merasa sejak ada Azzura, dia semakin kasar, tempramen dan tidak bisa bicara lembut padaku. Bicara lembut karena seperti tadi saja, dia mau meminta jatahnya yang dilupakan dirinya sendiri.

“Katakan apa yang mas inginkan saat ini, selain ingin berhubungan seperti tadi? Katakan apa maumu, Mas? Aku akan mendengarkan dan mencoba menerimanya,” ucapku dengan sedikit menyeka air mataku yang sudah mengembun di sudut matanya.

“Kamu ngomong apa sih, Sal? Gak jelas kamu, pagi-pagi bahas begini! Suami minta itu layani, Sal! Pantas kamu ditinggal nikah lagi saat dulu!” erang Mas Aska.

“Jadi sekarang kamu akan menikahi Azzura lagi, setelah aku gak bisa memberikan pagi ini? Nikahi dia, aku sadar, aku tidak boleh egois,  nikahi dia, mungkin tadi permintaan dia terakhir kalinya. Aku tidak akan meminta cerai darimu. Aku akan buktikan ucapan kamu yang katanya akan berlaku adil, dan adil yang seperti apa, aku ingin tahu,” ucapku. “Maaf aku mendengarkan percakapan kamu dengan Azzura tadi saat kalian di taman belakang. Nikahi dia, jangan meminta izin setelah kamu merayuku seperti tadi,” imbuhku.

Mas Aska diam saja aku bicara seperti itu. Dia menatapku yang sedang meratapi nasibku sendiri. Dua kali aku harus seperti ini. Aku kira badai yang seperti ini tidak akan datang lagi, ternyata datang lebih dahsyat lagi.

“Izinkan aku menikahinya, Sal. Aku akan adil terhadap kalian berdua.”

“Iya nikahi dia.” Jawabku tanpa berpikir panjang. Aku tertegun setelah mengiyakan permintaan Mas Aska, dengan air mata yang berjatuhan mengiringi luka di hatiku yang kembali menganga. Luka yang sudah kering, sudah sembuh, kini kembali basah dan menganga. Sakit sekali rasanya, kedua kalinya aku mengalami hal seperti ini. Tapi, kali ini aku akan membuktikan seadil apa Mas Aska memperlakukan kedua istrinya.

“Kau yakin dengan jawabanmu, Sal?”

“Iya, aku yakin, aku sudah memutuskannya. Kamu boleh bicarakan semua ini dengan keluargamu, asala jangan dengan ibuku. Biarkan ibuku tidak tahu soal ini. Ibu pasti akan kecewa dengan kamu, dan mungkin ibu akan berpikir kenapa aku saat ini bodoh sekali, karena aku bisa menerima kamu yang akan menikah lagi, sedang dulu dengan Dimas aku memilih pergi, meski Dimas menjamin hidupku, dan sampai sekarang dia memang masih menjamin hidupku, tapi semua itu urusannya dengan ibu, dia bilang semua itu untuk menebus kesalahannya pada diriku,” ucapku berterus terang pada Mas Aska, karena dia tidak tahu selama ini Dimas masih memberikan hakku, meski aku sudah menikah, dia sama sekali tidak mau berhenti memberikan  itu.

“Dua tahun kenapa kamu baru bilang Dimas masih menanggung hidupmu, Sal?”

“Karena aku tidak pernah menganggap semua itu. Aku tidak pernah menganggap dia ada lagi dalam hidupku, meski ibu terus membujukku untuk kembali padanya. Setelah menikahi Rani, dia memintaku lagi pada ibuku, untuk dijadikan istri keduanya. Dan kamu tahu istri kedua pasti diutamakan. Rani sendiri juga memintaku kembali pada Dimas, tapi aku tidak bisa menerima apa yang namanya poligami, dimadu, dan apa lagi istilahnya selain itu. Aku memilih pergi, dan biar saja dia memberikan uang pada ibuku, toh memang dari dulu ibu sama Ibunya Dimas kerja sama mengembangkan toko roti mereka yang berdiri sejak orang tua Dimas masih ada. Ibunya Dimas adalah sahabat karib ibuku. Dimas  tidak mau memutus tali silahturahminya, sebab itu Dimas juga masih dekat dengan ibu, dia sudah dianggap seperti anak ibu sendiri, meski dia sudah mengecewakanku,” jelasku.

Mas Aska hanya diam mendengarkan penjelasan dariku. Memang begitu adanya. Dimas masih berhubungan baik dengan ibu. Tapi, aku sudah mewanti-wanti ibu untuk tidak usah memberikan kabar apa pun tentang Dimas padaku. Aku tidak melarang ibu masih dekat dengan Dimas, dengan syarat tidak usah lagi menceritakan keadaan Dimas seperti apa padaku. Dan, benar sampai Rani meninggal, dia kecelakaan hingga jalan pun memakai tongkat, ibu sama sekali tidak memberitahu keadaan dia padaku. Aku yakin, ibu pasti tahu, dan ibu juga mungkin yang mengurus Dimas saat Dimas mengalami kecelakaan.

“Aku sama sekali tidak memakan sepeser pun uang dari Dimas. Begitu juga ibu. Ibu memakai uang untuk hidupnya mutlak dari gajiku sekarang, dan bagi hasil dari toko itu. Bukan makan dari hasil pemberian Dimas. Ibu hanya menyimpan saja pemberian Dimas, termasuk uang jaminan yang Dimas kasih padaku saat setelah kami sah bercerai. Ibu juga tidak mau memakai rumah yang Dimas berikan, mobil, Vila, dan aset perusahaan ibu biarkan begitu saja. Karena bagi ibu itu semua adalah luka hatiku. Ibu masih kerja sama di toko karena dia janji dengan sahabatnya yang tak lain ibunya Dimas, ibu sudah janji akan membesarkan toko itu bersama, meski nanti salah satu di antara mereka sudah pergi.”

“Aku akan mempersiapkan semuanya untuk menikahi Azzura, Sal. Dan, aku mohon, kamu jangan pergi, Sal. Aku janji aku akan adil pada kalian berdua. Izinkan aku menemani Zura di sisa hidupnya. Kamu tahu keadaan Zura, kan? Kamu dokter yang menanganinya, kamu pasti tahu akan itu.”

“Iya, aku tahu. Aku mengizinkan kamu menikahinya, Mas. Aku tidak akan pergi, aku harus pergi ke mana lagi? Mata pencaharianku di sini. Aku bertugas di rumah sakit milik keluarga besarmu, bagaimana bisa aku pergi? Jika bercerai denganmu pun aku tetap akan tinggal di sini, tidak mungkin aku kembali ke kota asalku,” ucapku.

“Sal, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu, Salma,” ucap Mas Aska dengan sungguh-sungguh.

Terpopuler

Comments

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trusceria

2024-04-03

0

Soraya

Soraya

mencintai tpi menyakiti

2023-10-22

0

Zahraa

Zahraa

Alana liat nih Alana anak nya.. keturunan jatuh dr si Zhafran memang.. sifat dr Ardha nya gada

2023-04-13

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Haruskah Mengalah Lagi?
3 Aku Bukan Siapa-Siapa
4 Aku Tidak Mau Dimadu
5 Aku Bukan Pelakor
6 Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7 Cemburumu Terlalu Berlebihan
8 Mantan Lebih Utama
9 Saatnya Aku Pergi
10 Tutur Batin
11 Haruskan Aku Merelakan?
12 Izinkan Aku Menikahinya
13 Kita Harus Sama-Sama Belajar
14 Inikah Yang Dinamakan Adil?
15 Bertukar Kamar
16 Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17 Bukan Aku Kejam
18 Manusia Tidak Punya Hati
19 Kedatangan Dimas
20 Keluarga Toxic
21 Aku Sangat Mencintai Salma
22 Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23 Pulang
24 Hanya Sebatas Belas Kasihan
25 Sebelas Dua Belas
26 Kopi Rasa Air Laut
27 Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28 Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29 Penyesalan Askara
30 Takut Gagal Lagi
31 Seperti Dihipnotis
32 Kehadiranmu Merubah Segalanya
33 Berita Tidak Penting
34 Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35 Mantan Rasa Teman
36 Dia Calon Suamiku
37 Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38 Resmi Pacaran
39 Kebimbangan Salma
40 Pindah
41 Pamit
42 Menemui Afifah
43 Dua Wanita Yang Aku Cintai
44 Aku Cemburu
45 Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46 Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47 Ingin Selalu Bersama
48 Gara-Gara Semut Merah
49 Mengkhawatirkan Salma
50 Afifah Yang Beranjak Remaja
51 Salma Yang Tegas
52 Kekhawatiran Askara dan Salma
53 Sudah Memiliki Anak Gadis
54 Baru Menyadari
55 Mirip Dengan Salma
56 Om Dimas Sakit?
57 Permintaan Afifah
58 Pacar Kecilku
59 Merasa Bersalah
60 Kenalan
61 Aku Mau Putus, Titik!
62 Mimpi Indah
63 Tidak Bisa Tidur
64 Kedatangan Vero
65 Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66 Mendapat Lampu Hijau
67 Tidak Ingin Ada Perdebatan
68 Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69 Vero Yang Kecewa
70 Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71 Cedera Karena Jadian
72 Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73 Kartumu Akan Terbuka!
74 Kita Sudah Putus
75 Kegundahan Afifah
76 Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77 Sama-Sama Memakai Cincin
78 My Little Girl
79 Kebahagiaan Salma dan Askara
80 Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81 Selalu Merindukanmu
82 Putih Abu-Abu
83 Kejutan Di Pagi Hari
84 Hari Penuh Kejutan
85 Alasan Dimas
86 Mendapat Kado Dari Rafka
87 Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88 Kecurigaan Salma
89 Bolos Kuliah
90 Kedatangan Tamu Asing
91 Semakin Rumit
92 Aku Calon Mertuamu!
93 Resmi Dilamar
94 Afifah Yang Menggemaskan
95 Jangan Panggil Om Lagi
96 Kangen
97 Kedatangan Kania
98 Akhirnya SAH
99 Lebih Suka Memanggil Om
100 Sedang Merajuk
101 Mendahului Kami
102 Sama-Sama Gugup
103 Malam Penuh Perjuangan
104 Penggangu Di Pagi Hari
105 Ayah Mertua Yang Kepo
106 Masih Terasa Sakit
107 Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108 Kita Pulang Saja
109 Sentuhanmu Canduku
110 Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111 Jangan Dengarkan Kata Orang
112 Siapa Sebenarnya Wanda?
113 Menyusul Dimas
114 Quality Time Bersama Ayah
115 Afifah Yang Berubah
116 Aku Hamil?
117 Suami Siaga
118 Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119 Ekstra Part 1
120 Ekstra Part 2
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Prolog
2
Haruskah Mengalah Lagi?
3
Aku Bukan Siapa-Siapa
4
Aku Tidak Mau Dimadu
5
Aku Bukan Pelakor
6
Aku Tidak Mau Bercerai Lagi
7
Cemburumu Terlalu Berlebihan
8
Mantan Lebih Utama
9
Saatnya Aku Pergi
10
Tutur Batin
11
Haruskan Aku Merelakan?
12
Izinkan Aku Menikahinya
13
Kita Harus Sama-Sama Belajar
14
Inikah Yang Dinamakan Adil?
15
Bertukar Kamar
16
Selamat Menunaikan Tugasmu, Azzura.
17
Bukan Aku Kejam
18
Manusia Tidak Punya Hati
19
Kedatangan Dimas
20
Keluarga Toxic
21
Aku Sangat Mencintai Salma
22
Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku
23
Pulang
24
Hanya Sebatas Belas Kasihan
25
Sebelas Dua Belas
26
Kopi Rasa Air Laut
27
Berbaik Hati Boleh, Tapi Sekadarnya Saja
28
Permintaan Terakhir Azzura Yang Terlalu Banyak
29
Penyesalan Askara
30
Takut Gagal Lagi
31
Seperti Dihipnotis
32
Kehadiranmu Merubah Segalanya
33
Berita Tidak Penting
34
Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu
35
Mantan Rasa Teman
36
Dia Calon Suamiku
37
Aku Ini Sedang Sakit, Sal?
38
Resmi Pacaran
39
Kebimbangan Salma
40
Pindah
41
Pamit
42
Menemui Afifah
43
Dua Wanita Yang Aku Cintai
44
Aku Cemburu
45
Tidak Ingin Membuka Luka Lama
46
Ayok Piknik! Biar Gak Panik!
47
Ingin Selalu Bersama
48
Gara-Gara Semut Merah
49
Mengkhawatirkan Salma
50
Afifah Yang Beranjak Remaja
51
Salma Yang Tegas
52
Kekhawatiran Askara dan Salma
53
Sudah Memiliki Anak Gadis
54
Baru Menyadari
55
Mirip Dengan Salma
56
Om Dimas Sakit?
57
Permintaan Afifah
58
Pacar Kecilku
59
Merasa Bersalah
60
Kenalan
61
Aku Mau Putus, Titik!
62
Mimpi Indah
63
Tidak Bisa Tidur
64
Kedatangan Vero
65
Kabar Bahagia Dari Askara dan Salma
66
Mendapat Lampu Hijau
67
Tidak Ingin Ada Perdebatan
68
Istrimu Bukan Seleraku Lagi
69
Vero Yang Kecewa
70
Keluarga Vero Yang Sebenarnya
71
Cedera Karena Jadian
72
Ibarat Kucing Dikasih Ikan Asin.
73
Kartumu Akan Terbuka!
74
Kita Sudah Putus
75
Kegundahan Afifah
76
Melepas Keberangkatan Dimas Ke London
77
Sama-Sama Memakai Cincin
78
My Little Girl
79
Kebahagiaan Salma dan Askara
80
Penerus Alfarizi Bertambah Satu
81
Selalu Merindukanmu
82
Putih Abu-Abu
83
Kejutan Di Pagi Hari
84
Hari Penuh Kejutan
85
Alasan Dimas
86
Mendapat Kado Dari Rafka
87
Izinkan Aku Tetap Mencintaimu
88
Kecurigaan Salma
89
Bolos Kuliah
90
Kedatangan Tamu Asing
91
Semakin Rumit
92
Aku Calon Mertuamu!
93
Resmi Dilamar
94
Afifah Yang Menggemaskan
95
Jangan Panggil Om Lagi
96
Kangen
97
Kedatangan Kania
98
Akhirnya SAH
99
Lebih Suka Memanggil Om
100
Sedang Merajuk
101
Mendahului Kami
102
Sama-Sama Gugup
103
Malam Penuh Perjuangan
104
Penggangu Di Pagi Hari
105
Ayah Mertua Yang Kepo
106
Masih Terasa Sakit
107
Dimas Yang Sedang Terpapar Virus
108
Kita Pulang Saja
109
Sentuhanmu Canduku
110
Yusuf Yang Semakin Sulit Diatur
111
Jangan Dengarkan Kata Orang
112
Siapa Sebenarnya Wanda?
113
Menyusul Dimas
114
Quality Time Bersama Ayah
115
Afifah Yang Berubah
116
Aku Hamil?
117
Suami Siaga
118
Kebahagiaan Dimas Dan Afifah
119
Ekstra Part 1
120
Ekstra Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!