Azzura mendapatkan izin dari Ardha dan Alana untuk tinggal di rumah Askara. Alana juga berpikir, kalau tidak di rumah Askara mau di mana lagi Azzura tinggal? Toh nantinya juga ada perawat yang bakal merawatnya, juga ada Bibi di rumah, jadi tidak mungkin Askara akan kembali dekat dengan Zurra. Alana juga tahu, Askara sudah sangat menyayangi dan mencintai Salma.
Sedangkan Askara, ia sebetulnya ingin mengontrak rumah untuk tempat tinggal Azzura. Walau bagaiamana pun, Salma pasti akan cemburu jika ada Azzura. Ia ingin membicarakan itu pada Salma nanti kalau Salma sudah tidak sibuk lagi. Salma sedang menata kamar Azzura supaya lebih nyaman, dia juga sedang bersama dua perawat yang nanti setiap harinya akan merawat Azzura. Dengan cara seperti ini, Salma ingin menyelamatkan pernikahannya, Salma tahu jika tidak ada perawat, mungkin Azzura akan fokus minta bantuan pada Askara.
Setelah kedua perwat itu pulang, karena baru mulai besok pagi mereka bekerja, Askara mengajak Salma bicara soal kalau Azzura lebih baik tinggal di rumah kontrakan saja, yang dekat dengan rumahnya.
“Mas manggil aku ada apa?” tanya Salma.
“Aku mau bicara sebentar, ayo di luar saja,” ajak Askara.
“Mau bicara apa memangnya, Mas?” tanya Salma.
“Jadi gini, Sal, kalau misal Azzura kita kontrakkan rumah saja bagaimana?” tanya Askara.
“Maksudnya kita cari kontrakan untuk tinggal Mbak Zura begitu?”
“Iya, jadi kamu bisa tenang, kamu tidak takut aku dekat dengan dia. Kamu sewa perawat juga karena tujuanmu begitu, kan?” jawab Askara.
“Mas, kalau kamu ada niat, mau ada perawat atau gak ada perawat, ya kamu tetap dekatin Azzura. Kalau tidak ada niat, mau tidak ada orang sekali pun di rumah, adanya Cuma kamu dan Azzura, ya gak bakalan mas mau dekatin Azzura,” ujar Salma. “Dari awal dia ke sini saja, mas sudah ada niatan kembali dengannya, bukan? Sejak dia minta untuk di sini, untuk menghabiskan sisa waktunya dia bersama kamu dan Fifah, mas juga sudah ingin kembali dengan dia lagi, kan? Menikahinya lagi? Aku tahu, meski mas bicara tidak, tapi hati mas tidak berkata sesuai apa yang mas ucapkan.”
“Gak seperti itu, Sal! Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan dia hidup sendiri pun gak mungkin kan, Sal?”
“Banyak rumah singgah khusus orang sakit kanker. Dan di sana kebanyakan orang yang tuna wisma, orang sebatangkara tak punya siapa-siapa. Di sana ditangani dokter terbaik, dan para perawat, juga alat medis yang memadai. Aku pun setiap satu minggu sekali berkunjung ke sana. Jadi perkataan membiarkan dia hidup sendiri itu hanya sebuah pernytaan klise saja, Mas! Mungkin mas menganggap aku ini egois, iya aku egois, karena aku sedang mempertahankan apa yang seharusnya aku pertahankan! Tapi, kalau yang dipertahankan sudah tidak mau, ya sudah aku bisa apa?” ucap Salma.
Salma langsung masuk ke dalam. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Sejak kedatangan Azzura, hatinya selalu tak tenang. Bayang-bayang masa lalunya dulu saat dia terjatuh karena Dimas kembali muncul. Ia takut, ia tidak mau diduakan, dan tidak mau mendengar apa itu dimadu. Kata-kata itu sudah merusak mentalnya dulu. Mental seorang istri yang begitu setia dan penurut pada suaminya.
Bagaimana Salma tidak penurut? Bukan penurut lagi, dia begitu patuh terhadap suaminya. Dia rela mengabdikan dirinya pada suaminya, dan meninggalkan pekerjaan yang sudah hampir lima tahun digelutinya. Dia harus meninggalkan profesi dokternya, demi untuk mengabdikan diri pada Dimas, seorang pemilik perusahaan yang kaya raya. Dia merelakan semuanya, dia lakukan yang terbaik untuk Dimas. Ya Dimas begitu mencintainya, menyayanginya, apa pun kebutuhan Salma saat itu Dimas penuhi, ke mana pun Salma ingin liburan, Dimas siap mengajaknya liburan ke mana pun Salma mau. Namun, suatu ketika, lima bulan setelah Salma kehilangan buah hatinya, Dimas membawa perempuan lain untuk dia nikahi, dengan dalih permintaan terakhir ayah dari wanita yang Dimas bawa itu.
Hancur sudah hidup Salma saat itu. Dia tidak mau dimadu, hanya ada dua pilihan yang Dimas berikan, dimadu atau berpisah. Dan, Salma memilih untuk berpisah.
“Jangan pergi, Sal.” Ucapan Dimas saat Salma akan meninggalkan rumahnya setelah menikahi Rani, teman masa kecilnya.
“Apa aku akan mengulang hal seperti itu lagi? Apa aku egois dengan keadaan ini? Azzura memang butuh support dari orang yang ia cintai. Mas Aska, hanya dia yang Azzura cintai. Haruskah aku merelakan untuk membagi suamiku dengan wanita lain? Oh Tuhan ... aku tidak mau lagi bercerai untuk kedua kalinya. Aku tidak mau? Lalu aku harus bagaimana? Jika yang dibutuhkan Azzura hanya Mas Aska, bukan pengobatan yang Azzura butuhkan?” batin Salma.
Salma mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia sudah memberikan saran yang terbaik seperti tadi, tapi suaminya ingin Azzura tinggal di rumah kontrakan saja.
“Untuk apa Mas Aska mengontrakkan rumah untuk tinggal Azzura? Sedangkan di sini, kita semua bisa memantaunya? Apa untuk mengenang kisah mereka dulu? Supaya bisa berduaan bersama? Iya, begitu? Ah ... pikiranku saja yang terlalu negatif, tapi bisa jadi seperti itu, karena kalau di sini, Mas Aska gak bisa omong-omongan berdua dengan Azzura. Jadi Mas Aska memilih supaya Azzura dikontrakkan saja? Apa aku seperti ini karena aku terlalu takut ditinggalkan Mas Aska? Seperti dulu aku sangat takut, saat Dimas pergi dari hidupku. Menyembuhkan luka tidak segampang menggoreskan luka. Dan, aku tidak mau itu terjadi. Biar saja aku dibilang posesif atau egois, ini aku, aku yang tidak mau diduakan!” Salma terus bergelut dengan perasaannya.
Askara masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Salma duduk di tepi ranjang, dengan meremas rambutnya. Askara tahu apa yang sedang Salma rasakan saat ini. Askara duduk di sebelah Salma. Diraihnya tubuh Salma lalu ia peluk. Salma membalas pelukan Askara.
“Sal, kalau kamu tidak setuju, tidak apa-apa, Sal. Maafkan aku atas usulku yang membuat kamu kecewa,” ucap Askara.
“Apa aku salah, jika aku takut gagal lagi dalam pernikahanku, Mas? Dan itu karena suamiku memilih menikahi orang ketiga? Apa aku salah kalau aku takut seperti itu?” ucap Salma dengan terisak.
“Jangan terlalu takut, Sal. Kalau kamu terlalu takut, akan kejadian apa yang kamu takutkan,” ucap Askara.
Salma melepaskan pelukan suaminya saat suaminya berkata seperti itu. Salma menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kamu bilang apa tadi mas? Kalau aku terlalu takut akan benar-benar terjadi? Kalau kamu bicara seperti itu, berarti kamu sudah ada niatan untuk melakukan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan, Mas!” pekik Salma dengan tatapan nanar.
“Kok kamu bilang seperti itu, Sal?”
“Ya karena dari awal memang kamu sudah ada niatan menikahi Azzura lagi, kan?” ucap Salma. “Aku tidak mau berdebat soal ini, Mas. Tolong mas paham, aku melakukan seperti ini saja, harusnya mas merasa tidak enak dengan aku yang posisinya sebagai istri mas. Aku jamin, istri di luar sana tidak akan ada yang mau menerima wanita masa lalu suaminya kembali dan tinggal di rumahnya lagi, Mas!”
Askara diam mendengarkan apa yang Salma katakan. Askara tidak tahu harus bagaimana. Dia serba salah, mau mendekati Azzura, dia takut Salma salah paham, kalau menghindari Azzura, pasti Azzura akan berpikaran tidak-tidak, apalagi Azzura sedang sakit keras.
“Ya Allah, aku harus bagaimana? Salma begitu pemikirannya, sedangkan Zura ingin aku menemaninya, aku tahu batasannya, aku hanya ingin menemaninya saja, bukan untuk kembali dengannya,” ucap Askara dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
guntur 1609
banyak x ceritamu. dasar laki2 anjing
2024-04-24
0
guntur 1609
navua tuh
org sprti azkaharus dikasih ketegasan
2024-04-24
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-04-03
0