Keluarga Askara sudah pamit pulang setelah acara selesai. Memang hanya acara akad nikah saja dan hanya dihadiri oleh keluarga Askara saja, juga tetangga terdekat, karena supaya ada yang menyaksikan bahwa Askara menikahi Azzura atas izin Salma.
Salma sudah berada di dalam kamarnya. Ia masih bertanya-tanya dalam dirinya, salahkah dirinya mengizinkan Askara menikahi Azzura? Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Padahal sebelum pernikahan Askara dan Azzura terjadi, Salma sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Dia tidak peduli kalau dirinya salah atau tidak mengizinkan suaminya menikah lagi. Padahal selama ini dia berpegang teguh pada pendiriannya yang tak mau dimadu, tapi entah kenapa dia seperti mengikhlaskan begitu saja suaminya menikahi mantan istrinya lagi yang sedang sakit-sakitan.
Mungkin karena Salma merasa kasihan pada keadaan Azzura yang sedang sakit dan sendirian. Pakde dan budenya juga sudah tidak mau lagi mengurusnya, karena mereka juga harus ikut anaknya. Tidak enak mambawa Azzura ke rumah anaknya, apalagi dalam keadaan Azzura sakit-sakitan. Pakde dna budenya Azzura sudah semaksimal mungkin mengurus Azzura yang sakit. Selama hampir tujuh tahun mereka mengurus Azzura, tapi tidak ada tanda-tanda Azzura membaik. Hingga pakde dan budenya Azzura memutuskan untuk ikut dengan anaknya ke kalimantan. Anak perempuan mereka butuh mama dan papanya untuk menemani, karena suaminya bertugas, dan pulangnya kadang setahun sekali. Daripada memakai jasa ART yang tidak mereka percayai, akhirnya dimintalah bude dan pakdenya Azzura ikut ke Kalimantan.
Salma pun tidak ingin lagi ada salah paham dengan Afifah. Afifah yang juga selalu memojokkan Salma. Entah kenapa gadis kecil itu tambah jauh dengan dirinya selama ada Azzura. Mungkin karena Azzura adalah ibu kandungan, jadi ikatan batin mereka sangat kuat. Afifah selalu bilang dirinya egois dan tidak mau mengerti Azzura yang ingin dekat dengan ayahnya. Afifah memang belum tahu kalau ayahnya sudah bercerai, dia hanya tahu, ibunya kembali jadi dia dan ayahnya harus menerima dengan baik, tapi melihat Salma yang sering uring-uringan dengan ayahnya, Afifah kecewa, karena bundanya marah jika ayahnya dekat dengan ibunya.
“Bunda kenapa sih? Kenapa marah kalau ayah deketin ibu? Ibu kan sedang sakit, jadi gak apa-apa ayah dekat dengan ibu, ayah urus ibu lagi? Bunda kenapa marah-marah terus. Afifah ingin ibu sembuh, Bunda. Harusnya bunda gak begitu, tidak boleh marah kalau ayah sedang dengan ibu!”
Dengan raut wajah penuh amarah Afifah mengatakan itu. Salma kira Afifah akan membela dirinya yang selalu dicueki ayahnya setelah ibunya kembali. Sebab itu Salma mengizinkan Askara menikahi Azzura karena dia tidak mau semakin dia memberikan kesempatn berduaan setiap hari dengan Zura, malah akan mendatangkan masalah baru. Kedekatan antara mantan tidak mungkin akan baik-baik saja. Rasa yang tertinggal pasti masih ada, mereka pasti masih menyimpan rapi perasaan mereka supaya tidak diketahui oleh orang lain.
Salma tidak mau pernikahannya ternoda karena suami dekat lagi dengan mantan istrinya. Lebih baik mengizinkan suaminya menikah lagi, daripada suaminya harus berbuat yang mendekati zina dengan mantan. Dan satu lagi, dirinya tidak mau menjadi janda lagi. Mungkin mudah sekali jika Salma pergi dan minta cerai, tapi dia tidak mau pernikahannya berpisah di pengadilan agama lagi untuk saat ini. Rasanya melihat gedung tempat di mana diputuskannya tali pernikahan, ia masih sangat takut mengulang kejadian dulu.
Salma membereskan kamarnya yang berantakan, karena tadi ia menggunakan kamarnya untuk merias Azzura yang akan menikah dengan suaminya. Saat selesai membereskan kamarnya ia melihat Askara masuk ke dalam kamarnya. Askara melepas jasnya mendekati Salma.
“Sal, bsia kita bicara?”
“Iya, mau bicara apa, Mas?” tanya Salma.
“Sal, kalau misalkan tukaran kamar bisa? Kamu sementara di kamar tamu, karena Zura ingin memakai kamar ini lagi,” ucap Askara tanpa rasa berdosa.
Salma tertegun mendengar permintaan Askara, tidak tahu malu sekali, sudah dikasih hati minta jantung!
“Tukar kamar? I—ini maksudnya apa, ya? Aku ini istri pertamamu, Mas! Sudah sepantasnya aku memakai kamar utama ini!” pekik Salma.
“Sal, perkara kamar saja kamu gini sih? Kamu tahu keadaan Zura, kan?”
“Ya aku tahu, karena aku dokternya! Tapi gak harus gini mas! Sudah baik aku izinkan kamu menikahinya, sekarang mau merebut kamar ini? Dan, kamu menurutinya? Setelah kamar apa lagi? Aku disuruh pergi dari rumah? Iya begitu?!” erang Salma.
“Ingat mas, kamu bilang apa? Mau adil kan? Kamu harus paham adil lebih dulu, Mas! Inikah yang namanya adil? Kau bahkan tidak terima kasih padaku yang sudah mengizinkanmu menikah lagi! Sekarang kamu minta aku pindah kamar? Sadar gak sih kamu? Kamu menahan aku di sini, tapi kamu begitu! Mau dijadikan apa aku di sini? Harusnya kamu dan Zura menghargaiku yang mau membagi kehidupan pernikahan, Mas!”
“Kamu emang egois ya, Sal!”
“Aku egois? Kamu harusnya mikir, Mas! Siapa yang egois aku atau Zura! Jelas dia pergi meninggalkanmu, oke dengan alasan tidak mau merepotkanmu karena dia sakit! Tapi dia pergi tanpa pamit, Mas! Tiga hari seorang istri meninggalkan rumah tanpa kabar saja sudah dosa besar, Mas! Dia tujuh tahun! Sekarang dia kembali, ingin merebut kamu dariku, kau bilang aku yang egois karena tidak mengerti keadaan dia yang sedang sakit? Yang aku tahu, istri yang sakit-sakitan malah justru memaksakan suaminya menikah lagi, supaya batinnya terpernuhi, bukan malah melarang suaminya dekat dengan istri pertamanya! Gak tahu malu sekali dia!”
“Kau bilang apa? Dia gak tahu malu? Dia perempuan baik-baik, Sal!”
“Kalau dia perempuan baik-baik, dia tidak akan mengganggu rumah tangga orang, merusak rumah tangga orang, masuk ke dalam rumah tangga orang, dan merebut suami orang!” Salma benar-benar kecewa sekali dengan suaminya. Belum ada sehari Azzura sudah macam-macam permintaannya.
Salma duduk di tepi ranjang, meredakan amarahnya. Ia memijit keningnya. Sampai hati Azzura meminta agar bertukar kamar.
“Kalau dia tujuannya ingin menghabiskan sisa umurnya denganmu, dia tidak akan mementingkan tempatnya di mana, mau di kamar tamu kek, di kamar pembantu, atu mungkin gudang, itu tidak akan mempermasalahkannya? Ini minta kamar yang sedang aku pakai hanya karena kamar ini mengingatkan kenangan kalian dulu? Itu sungguh tidak masuk akal!” cetus Salma.
“Dia juga butuh tempat yang membuatnya nyaman, Sal!”
“Dan kamu tidak memikirkan kenyamanan aku? Hanya kenyamanan dia saja?”
“Gak begitu, Salma? Kamu kan sehat, dia tidak, Sal! Kamu harus paham itu!”tegas Askara.
“Kalau begini lebih baik aku pergi saja, Mas!” Salma beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengambil koper dan mengeluarkan baju-bajunya, ia menatanya ke dalam koper. Sia-sia juga, niat hati ingin berbagi dengan tenang, tentram, karena Askara janji akan adil, tapi baru saja sehari seperti ini kejadiannya.
“Kamu mau ke mana, Sal!”
“Mau pergi, daripada aku jadi babu di sini. Aku yang merawatnya, aku yang ngalah, aku yang harus tersisih! Ingat aku masih istrimu, Mas!” jawab Salma. “Cari dokter lain, untuk merawat istrimu! Aku sudah tidak mau menanganinya lagi, takut terbawa emosi, dan yang aku masukkan bukan obat, tapi racun!”
“Kamu mau pergi ke mana, Salma?”
“Aku pergi mau cari ketenangan. Kalau kamu masih mengharapkanku, dan masih menganggap aku ini istrimu, kamu bisa menemuiku di rumah dinas dokter dekat rumah sakit!” jawabnya. “Biarkan aku pergi, Mas. Aku akan meminta bibi menata kamar ini. Silakan pakai dengan Zura.”
Azzura melihat Salma yang keluar dari kamarnya. Ia mendengarkan semua yang perdebatan Salma dan Azzura.
“Sal, maaf aku hanya ingin menempati kamarku dulu dengan Mas Aska,” ucap Azzura.
“Silakan tempati saja!” jawabnya singkat.
“Kamu mau ke mana, Sal?” tanya Azzura.
“Mau menenangkan diri. Oh iya, perawat sudah aku tarik kembali untuk bekerja di rumah sakit, aku juga tidak akan menanganimu lagi. Silakan cari dokter lain, banyak dokter hebat di rumah sakit. Aku tidak akan lagi merawat kamu di rumah,” ucap Salma.
Salma langsung pergi meninggalkan rumah Askara. Ingin rasanya Askara atau Afifah memanggilnya lagi, dan menahan dia untuk tidak pergi, tapi tidak ada satu pun orang yang menghalangi Salma pergi.
“Mulai hari ini, aku harus bisa meninggalkan semuanya. Benar kata bunda, aku harusnya cerai saja dengan Mas Aska. Mumpung aku juga belum diberikan keturunan dengan Askara,” gumam Salma.
Tidak peduli dengan status Salma yang masih menjadi istri Askara. Jika Askara bisa memperlakukannya dengan baik, dia akan tahan tinggal di dalam rumah Askara, meski rumah tangganya tidak baik-baik saja dengan kedatangan Azzura. Tapi, baru saja Askara menikahi Azzura, dia tega meminta kamar yang sedang dipakainya. Askara minta Salma meninggalkan kamarnya, karena akn dipakai Azzura dengan dirinya
Azzura diam di depan pintu kamar yang dipakai Salma dan Askara. Azzura menatap ke depan, Salma sudah tidak terlihat lagi, dia benar-benar pergi.
“Maafkan aku, Salma. Aku hanya ingin Mas Askara jadi milikku lagi. Aku memang egois, tapi inilah aku. Saat ini aku tidak mau berbagi dengan siapa pun. Kamu boleh pergi, silakan kembali jika memang umurku sudah habis untuk bersama Mas Aska,” gumam Azzura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
guntur 1609
wah dasar otak anjing. gak tahu diri. biadab
2024-04-24
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-04-03
0
Umi Asijah
jangan mau kembali lg ke Aska bila suatu saat azzura tidak ada
2023-07-22
0