Pulang sekolah, Senja menunggu Aksa di parkiran. Bukan hal baru lagi jika Aksa selalu pulang telat. Banyak hal yang diurusnya, membuat waktu pulang baginya tidak begitu penting.
"Lo yakin mau belajar sama Aksa?" tanya Arhez. Laki-laki itu sengaja belum pulang hanya untuk menemani Senja.
"Iya."
"Ck. Sayang banget gue nggak tau apa-apa soal pelajaran itu. Seandainya gue bisa, mending lo belajar sama gue."
"Hehe... Malah nggak fokus gue kalau belajar sama lo."
Arhez mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"
"Lo suka iseng."
"Hehehe... Sekali-kali, Nja. Soal belajar jangan serius-serius amat. Cepat bosan. Tapi, kalau gue belajar sama lo nggak bakal bosan."
"Ck. Mulai deh," ucap Senja membuat Arhez kembali terkekeh. Dua remaja itu saling melempar canda.
Sementara dari halaman sekolah, Aksa melihat keduanya yang terlihat akrab dan tertawa bersama. Amara yang berjalan bersamanya pun ikut menatap Arhez dan Senja.
"Mereka kayaknya dekat banget," ucap Amara, membuat Aksa semakin tajam menatap keduanya.
"Aku pernah dengar waktu Dean sama Roni ngomong. Arhez suka sama Senja. Tapi, belum nemuin moment yang pas buat ungkapin perasaannya. Dia lagi berusaha buat luluhin hati Senja."
Ucapan Amara benar-benar menyulut amarah dalam diri Aksa. Dia juga tidak tahu, mengapa ia mudah sekali marah saat Senja bersama Arhez.
Menarik nafasnya, Aksa dengan tenang menggenggam tangan Amara lalu membawanya menuju parkiran.
Tawa Senja yang mengurai seketika terhenti ketika Aksa datang sambil menggandeng tangan Amara.
"Ayo!" seru Aksa dingin pada Senja. Cowok itu mengenakan helmnya, kemudian menyuruh Amara naik ke motornya.
"Zayyan." Aksa menoleh. "Amara...."
"Dia juga mau belajar di rumah gue. Kalau lo keberatan, gue tarik kembali ucapan gue soal mau bantuin lo."
"Anjing!! Maksud lo apa? Lo mau permainin Senja!" Amarah Arhez tersulut. Ia tidak terima saat Aksa dengan mudahnya membatalkan janjinya. Cowok itu dengan kasar menarik kerah seragam Aksa.
"Hez, udah! Jangan berantem." Senja berusaha melerai. Ia menggenggam kedua tangan Arhez yang mencengkram kerah seragam Aksa, lalu menariknya lembut.
"Nja, dia brengsek!"
"Tenang. Nggak apa-apa."
"Ayo, lo pulang aja. Biar gue cari guru privat yang bisa bantuin lo."
"Arhez." Senja menurunkan suaranya, dan menepuk pelan pundak Arhez. Membuat cowok itu paham jika Senja tidak suka.
"Maaf," ucap Arhez yang diangguki Senja. Namun, reaksi lain ditunjukan Aksa dan Amara saat melihat Arhez yang begitu penurut. Aksa yang kesal dan Amara yang tercenang. Gadis itu diam-diam mengakui jika Senja hebat, bisa mengendalikan cowok brandal seperti Arhez.
"Kalau gue ganggu lo berdua belajar, gue lebih baik nggak ikut."
"Enggak. Lo nggak gangguin kita," sahut Amara cepat. Biasa. Pencitraan di depan Aksa.
Senja tersenyum tipis, kemudian menoleh pada Arhez. "Lo pulang gih! Hati-hati!"
"Iya. Lo juga hati-hati. Kalau ada apa-apa, telpon gue."
Senja mengangguk. Aksa yang mendengarnya semakin terbakar amarah. Tanpa menunggu Senja, cowok itu melajukan motornya terlebih dulu. Dan Senja, dia hanya bisa menatap nanar, kemudian melajukan motornya mengikuti mereka.
***
Di rumah Aksa, mereka duduk bersama di lantai dengan meja kecil persegi panjang yang berada di tengah-tengah. Hanya ada mereka bertiga di rumah sebesar itu. Tidak ada mbak Iyam karena sudah kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Lo berdua pesan aja makanan yang lo berdua suka. Biar gue yang bayar," ucap Aksa sambil mengeluarkan beberapa bukunya.
"Senja, lo pesenin buat gue sekalian ya," ucap Amara, sengaja membuat Senja merasa tak nyaman.
"Lo mau pesan apa?"
"Oh ya, Sa. Gue masih belum paham di bab polimer." Bukannya menjawab, Amara malah mengalihkan pembicaraannya pada Aksa. Membuat Senja sedikit kesal.
Senja mencoba memanggilnya lagi. Namun, belum sempat Senja membuka mulut, Amara kembali berbicara dengan Aksa. Dan lebih membuat Senja kesal lagi, Aksa malah meladeni cewek itu.
Tak ingin dibuat kesal lagi, Senja memesan makanannya sendiri. Persetan dengan Amara. Setelah itu, Senja mulai mengeluarkan tabel periodiknya dan mulai menghafal.
"Lo udah pesan, Nja?" tanya Amara.
"Unsur golongan 10." Senja mengabaikan Amara. Ia balas dendam.
"Senja, gue tanya sama lo." Amara menarik seragam Senja.
"Apa sih, tarik-tarik?"
"Lo nggak dengar gue ngomong?"
"Eh, lo ngomong sama gue?" tanya Senja dengan tampang polosnya. Aksa hanya mendengarkan kedua cewek itu tanpa berniat menegur keduanya. Dia masih fokus dengan buku, karena olimpiadenya akan berlangsung seminggu. Ini olimpiade terakhirnya sebelum lulus. Dia tidak ingin predikat juara I yang selama ini dipertahankan olehnya dan teman-teman se-timnya direbut sekolah lain.
"Iya, Senja. Gue ngomong sama lo!" Amara melotot kesal. Jika tidak ada Aksa, sudah ia pastikan akan memukul kepala yang berisi otak bodoh Senja.
"Gue pikir lo ngomong sama Zayyan," ucap Senja. "Emangnya, lo ngomong apa?"
"Lo udah pesan makanan buat gue?"
"Belum," jawab Senja tak bersalah.
"Lho? Kok belum sih? Gue kan nyuruh lo pesenin buat—"
"Nih handphone lo!" Senja meletakan handphone Amara yang tergeletak di atas meja tepat di depannya. "Gue capek ngomong terus. Nanya-nanya terus ke lo. Lo pesan sendiri aja!" ucapnya kemudian kembali membaca tabel periodiknya.
"Lo—"
"Unsur golongan 10. Unsur—"
"Sini gue ajarin." Aksa tiba-tiba menarik lembaran tabel periodik Senja, membuat ucapan gadis itu terpotong. Ia menatap Aksa, namun Aksa fokus pada lembaran tersebut.
"Kalau lo hafalnya gitu terus, hukuman lo nggak akan selesai," ucap Aksa. Aksa bergeser agar lebih dekat pada Senja. "Dari golongan 1 sampai 18 yang ada di tabel periodik, lo harus misahin mana yang termasuk ke golongan A dan mana yang golongan B." Senja mengangguk, mendengarkan penjelasan Aksa dengan seksama.
"Golongan 1, 2, 13 sampai 18 itu golongan A. Golongan 3 sampai 12 itu termasuk golongan B." Aksa terus menjelaskan bagaimana cara penulisannya, cara baca dan unsur-unsur apa saja yang tidak termasuk dalam golongan tersebut.
Senja mendengarkannya dengan serius dan mencoba memahami yang Aksa jelaskan. Namun tetap saja ia kurang fokus dan merasa deg-degan karena jaraknya dengan Aksa terlalu dekat. Sementara Amara, gadis itu mendengus kesal melihat Aksa yang terlihat cukup ramah pada Senja.
"Sekarang, lo pisahin tiap-tiap golongan. Jangan lupa tulis periode sama nomor atomnya juga. Dengan begitu, lo lebih mudah ngafalnya."
"Ya udah. Makasih, Zay."
Zayyan mengangguk, kemudian kembali bergeser, sedikit menjauhi Senja. Cowok itu kembali fokus pada bukunya, dan Senja mulai fokus melakukan saran Aksa.
Suasana menjadi senyap saat mereka fokus dengan urusan masing-masing. Setelah beberapa saat kemudian, pintu rumah Aksa diketuk. Aksa bangun dan menuju pintu. Tak lama, Aksa kembali dengan membawa makanan yang mereka pesan.
"Nih, punya lo." Aksa memberikan pesanan Amara. Senja terdiam menatap cowok itu. Sepertinya Aksa mengenal Amara dengan baik. Makanan yang Amara pesan saja dia tahu. Padahal, dia tidak diberitahu Amara mengenai makanan tersebut.
Senja meraih makanannya kemudian kembali melanjutkan tulisannya.
"Senja, tolong ambilin air. Gue mau nyelesaiin ini dulu," ucap Amara.
Senja menatapnya senjak kemudian beralih pada Aksa. "Dapurnya dimana?
"Dari sini, lo lurus aja. Pasti ketemu dapurnya." Bukan Aksa yang menjawab, melainkan Amara. Senja kembali terdiam. Amara terlihat sudah begitu hafal mengenai letak dapur di rumah Aksa. Sepertinya gadis itu sering mengunjungi Aksa.
Senja bangun dan segera ke dapur. Ia membawakan minum untuk mereka bertiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nabil Az Zahra
meski judulnya Aksarasenja, tp aku kok lbih pro Arhesenja aja
2024-10-31
0
Little Queen
kapan up
2023-08-05
2
Little Queen
Kapan up kak
2023-08-05
2