Kelas Senja terlihat tenang meski tidak ada guru yang mengawasi. Jam pelajaran terakhir hari ini merupakan jam kosong. Guru mata pelajaran mendadak tidak masuk karena sakit.
Senja menarik nafasnya, kemudian menatap jam yang tertera di layar handphonenya.
"Sejam lagi, pulang," gumamnya. "Dari pada gue diem-dieman disini, mending gue ajak Rara sama Parto bersihin gudang."
Senja berbalik menatap Rara. Ia lalu menoel-noel lengan Rara. "Rara," panggilnya. Rara yang sedang fokus pada handphonenya menoleh sebentar, kemudian kembali fokus pada handphone.
"Apa?" jawabnya.
"Kita bersihin gudangnya sekarang aja, yuk! Biar bisa pulang sama teman-taman."
"Ayo!" Rara langsung mematikan handphonenya. Gadis itu menoleh pada Parto. "Parto!"
Parto yang sedang berusaha menghafal tabel periodik menoleh. "Apa? Gue lagi hafal ini. Nggak usah ganggu!"
"Idih, siapa juga yang mau gangguin lo? Gue sama Senja mau bersihin gudang sekarang. Kalau lo nggak mau ikut ya udah. Nanti kita sisain buat lo bersihin."
"Nggak! Gue ikut!" sahutnya cepat, dan menyimpan kembali lembaran bertulis tabel periodik.
Ketiga remaja itu berjalan beriringan menuju gudang yang letaknya di belakang sekolah paling ujung. Sebelum itu, Parto mengambil kunci gudang di pak Kardi terlebih dahulu.
"Ya Allah, berantakan banget ni gudang!" pekik Rara saat pintu gudang terbuka.
"Namanya juga gudang, Ra," sahut Parto.
"Udah, nggak usah mikirin berantakannya. Kita bersihin sekarang biar cepat selesai." Senja masuk terlebih dahulu. Gadis itu menatap seisi gudang yang cukup luas.
Gadis itu mulai mengangkat barang-barang yang berantakan dan merapihkannya. Rara dan Parto pun mulai bekerja.
"Uhuk... Uhuk... Banyak debu," ucap Rara.
"Iya, uhuk... To, beli masker di kantin." Senja menutup hidung dan mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Ya udah. Aku beli masker dulu." Parto segera keluar. Cowok itu berjalan cepat menuju kantin. Tanpa mengulur waktu, Parto segera kembali ke gudang setelah mendapat masker.
"Parto!!"
Mendengar namanya dipanggil, Parto menghentikan langkahnya dan berbalik. Ternyata yang memanggilnya adalah Roni.
Cowok itu mendekati Parto bersama Arhez dan Dean yang berjalan bersamanya.
"Lo mau kemana?" tanya Arhez ketika berada di depan Parto.
"Gue mau ke gudang."
"Ngapain ke gudang?" tanya Dean.
"Bersihin gudang. Gue, Senja sama Rara dihukum pak Rahmat bersihin gudang."
"Senja juga?" Arhez memastikan.
"Iya."
"Dean, beli masker! Kita bantuin mereka beresin gudang."
"Siap, Hez!"
"Eh, nggak usah. Nanti lo semua dimarahin pak Rahmat."
"Udah, lo tenang aja. Cepetan, De!"
Dean mengangguk dan langsung berjalan menuju kantin. Setelah Dean kembali, keempat cowok itu bersama-sama menuju gudang.
Sementara di gudang, mulut Rara tak berhenti komat kamit mengatai Parto. Dia sudah teramat kesal karena Parto belum juga kembali.
"Sialan si Parto! Pasti nih dia lagi santai-santai di kantin. Emang gak punya akhlak tu anak. Gak ada jiwa persahabatannya si Parto."
"Udah sih, Ra. Nggak apa-apa juga kalau dia istirahat bentar," ucap Senja.
"Bentar apanya? Ini udah hampir 15 menit. Pasti dia lagi enak-enakkan di kantin. Awas aja! Kalau udah sampai, gue—"
"Parto nungguin kita."
Sahutan dari pintu gudang membuat Senja dan Rara menoleh. Ekspresi marah Rara langsung berubah saat melihat Arhez, Dean dan Roni.
Senja yang melihatnya memutar bola matanya, kemudian tersenyum. Ia bahkan geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ekhm... Kalian ngapain kesini? Disini banyak debu," ucap Rara lembut. Dan Parto, cowok itu merotasikan bola matanya, menunjukkan ekspresi julidnya.
"Iya. Kalian mending balik ke kelas aja. Kalau kalian di sini, bisa-bisa dimarahin pak Rahmat," timpal Senja.
"Nggak bakal dimarahin. Pak Rahmat izin balik duluan. Nggak bakal ada yang ngawasin."
"Gue yang bakal ngawasin mereka!"
Sontak mereka yang berdiri di depan pintu menoleh ke sumber suara. Arhez tersenyum miring melihat Aksa berjalan mendekati mereka.
"Huh! Kalau gue tetap mau bantuin Senja, lo mau apa?" tanya Arhez ketika Aksa berdiri tepat di depannya.
Aksa tak menjawab. Ia hanya menatap Arhez dengan tatapan dinginnya. Begitupun dengan Arhez. Cowok itu balas menatap Aksa tak kalah dingin.
"Lo nggak ada hubungannya sama hukuman yang mereka terima," ucap Aksa.
"Dan gue gak peduli!" balas Arhez. "Ayo, bersihin gudangnya," sambung Arhez lalu masuk ke gudang dan diikuti teman-temannya juga Parto.
Aksa tak mencegah. Ia tetap diam sambil memperhatikan mereka.
"Sini, biar gue pakai in." Arhez meraih masker dari tangan Senja, lalu memakaikannya pada gadis itu. Senja hanya bisa diam dan menerima perlakuan Arhez.
Rara, Parto, Dean dan Roni menahan senyum melihat moment terebut. Sementara Aksa, dia diam dan semakin tajam menatap Senja dan Arhez. Dan tanpa ia sadar, tangannya turut mengepal, seolah sedang menahan emosi.
"Makasih, Hez," ucap Senja sambil tersenyum dari balik masker.
"Sama-sama." Arhez mengacak pelan rambut Senja, membuat Dean dan Roni batuk-batuk, mengkode Arhez agar berhenti membuat mereka iri.
"Yang punya gebetan beda ya, De. Asal berdua, bersihin gudang pun rasanya bahagia. Serasa kayak lagi liburan," ucap Roni.
"Hehehe... Bener, Ron. Dunia rasanya indah semua, nggak ada susahnya," sahut Dean.
"Yang susah cuman kita, kaum penonton," timpal Parto.
"Hehehe... Bisa aja lo, To," kekeh Roni dan Dean bersamaan. Senja dan Rara pun ikut terkikik pelan mendengar celotehan ketiga cowok itu. Dan Arhez, cowok itu hanya tersenyum tipis dengan tatapan tak lepas dari Senja.
"Waktu gue ngawasin lo semua cuman sampai jam 4. Kalau kalian belum selesai di jam segitu, hukumannya dilanjut besok plus hukuman tambahan."
Senja, Rara dan Parto seketika melotot mendengar ucapan Aksa. Ketua osis itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mereka berteriak di depannya. Tapi, diantara mereka bertiga tidak ada yang berani.
"Kita pasti selesai tepat waktu," ucap Senja, kemudian mulai melanjutkan pekerjaan. Karena ada Arhez dan dua temannya yang membantu, pekerjaan mereka terasa lebih mudah.
Dan tanpa terasa, pekerjaan mereka hampir selesai. Tinggal memindahkan lemari agar terlihat lebih rapih dan bisa menyapu sudut dinding yang terhalang lemari.
"Lo berdua nggak usah. Biar kita berempat," ucap Arhez, melarang Senja dan Rara ikut mendorong.
Keempat cowok itu mulai mendorong lemari kayu yang memiliki ukuran cukup besar dan berat. Sementra Aksa, cowok itu hanya diam memperhatikan sambil bersandar di dinding dalam gudang.
"Hati-hati, jangan sampai kejepit," ucap Senja.
Mendengar suara Senja, Aksa memindahkan tatapannya pada gadis itu. Dan saat Senja tiba-tiba menoleh, dengan cepat ia mengalihkannya.
"Yeay! Akhirnya... pindah juga ni lemari," girang Rara. Kedua gadis itu dengan cepat lanjut menyapu.
Aksa yang sejak tadi terdiam, tanpa banyak bicara keluar dari gudang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments