Setelah beberapa saat mencari kunci motornya, Senja akhirnya ingat. Tadi, yang membawa motornya ke parkiran adalah Aksa. Bisa jadi kunci motornya ada di Aksa.
Senja dengan cepat meraih tasnya dan berlari keluar kelas menuju kelas Aksa.
"Mudah-mudahan belum pulang si Zayyan," gumam Senja sambil terus mempercepat langkahnya.
Senja bernafas lega saat melihat kelas Aksa masih diisi beberapa siswa. Ia mengetuk pintu, membuat yang ada dalam ruangan itu menoleh padanya.
Gadis itu tersenyum, membuat lesung pipinya semakin terlihat. "Zayyan udah balik?"
"Tadi ke ruang osis sama Jafar sama Bagas."
Senja mengangguk. "Makasih infonya. Gue ke Zayyan dulu."
Semua yang ada dalam kelas itu mengangguk. Beruntung yang Senja temui dalam kelas itu adalah murid laki-laki. Jika mereka perempuan, dia tidak akan dapat informasi apapun. Banyak siswi di sekolah ini yang tidak suka padanya. Hanya cewek-cewek di kelasnya saja yang paling baik padanya.
Senja berjalan cepat menuju ruang osis. Dia berpapasan dengan Bagas dan Jafar saat berbelok ke ruang osis.
"Eh, Senja. Mau kemana lo?" tanya Bagas.
"Eh, Bagas, Jafar. Gue mau ke ruang osis ketemu Zayyan. Zayyan adakan disana?"
"Ada. Dia lagi beresin mejanya. Mungkin bentar lagi pulang," ucap Jafar.
"Ya udah, gue kesana dulu."
Bagas dan Jafar mengangguk. Keduanya menatap Senja yang berjalan ke arah ruang osis.
"Senja cewek baik, Far. Tapi, kenapa Aksa nggak pernah bisa nerima kebaikan Senja, ya?"
"Lo tau sendiri, Gas, gimana si Aksa. Dia nggak suka diganggu."
"Menurut lo, mana yang lebih jadi pengganggu sih? Senja, atau Amara?"
"Menurut gue sih, Amara. Cuman, Amara mainnya rapih plus dekat sama Aksa dari jaman SMP. Kalau Senja, baru dua tahun lebih kenal Aksa. Baru kenal juga langsung dikejar-kejar si Aksa. Gimana nggak kesal si Aksa?" jawab Fajar.
"Tapi, gue sih kalau disuruh milih, ya gue milih Senja aja yang dekat sama Aksa."
"Karena lo sering dikasi bekal sama Senja tiap hari?"
"Enggaklah! Bekal juga yang dikasi Aksa nya, bukan gue. Gue makan juga kalau Aksa nya nolak. Lagian, lo juga makan kan bekal dari Senja?" sinis Bagas.
"Hehehe... Iya, iya. Sensi amat lo. Gue juga kalau ditanya dukung siapa, ya gue dukung Senja. Amara itu licik. Aksa lagi buta nggak bisa liat kelicikan Amara."
"Gue setuju," ucap Bagas. "Udah ah! Nggapain kita bahas ini. Ayo pulang!"
"Ck. Lo yang mulai, kompor gas!"
"Eleh, anak keledai sok ngatain gue kompor gas."
Sementara di ruang osis, Senja mengetuk pelan pintu ruangan tersebut. Aksa yang sedang fokus merapihkan mejanya mendongak ke arah pintu yang memang sengaja tak ia tutup.
Wajah datar Aksa berubah dingin. Tatapannya juga ikut mendingin menatap Senja. Senja mengabaikan tatapan itu dan mendekati Aksa, berdiri di hadapan Aksa dengan sebuah meja yang berada di tengah-tengah mereka.
"Ngapain lo kesini?"
"Zay—"
"Udah gue bilang! Jangan panggil gue Zayyan!!" Aksa berteriak keras, membuat Senja terkejut. Hatinya sakit diteriaki Aksa seperti ini.
"Kamu apaan sih? Teriak-teriak gitu? Aku masih dengar kal—"
"Kalau lo dengar, lo nggak akan ulangi!! Lo nggak ngerti apa yang gue bilang?"
"Kamu kenapa sih ketus banget sama aku? Aku ada salah sama kamu?"
"Salah lo banyak!! Lo itu pengganggu!!"
Deg...
Hati Senja seperti teriris benda tajam. Jadi, ia dianggap pengganggu selama ini. Sakit sekali rasanya dikatai pengganggu.
Mata Senja berkaca-kaca. Ia ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia menahannya. Dia tidak ingin menangis di depan Aksa ataupun yang lain. Dia tidak ingin orang-orang melihat sisi rapuhnya.
"Nggak apa-apa lo anggap gue pengganggu. Tapi, asal lo tau. Gue dekatin lo selama ini karena gue tulus buat jadi teman berbagi luka lo. Dan asal lo tau, lo lebih beruntung dari orang diluar sana, yang nggak dapat kasih sayang dari orang yang mereka sayang sedikit pun!!"
Senja meraih kunci motornya yang tergeletak di atas meja, kemudian keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata lagi.
Aksa terdiam mendengar ucapan Senja. Ia terpaku sembari menatap pintu, dimana Senja berjalan keluar. Perasaannya campur aduk. Marah, kesal, tertampar ucapan Senja, bersalah dan... Penasaran. Dia penasaran apakah Senja tau soal hidupnya?
Dengan segera Aksa berlari keluar ruangan, mengejar Senja. Namun, saat tiba di parkiran, ia mendapati Senja mengendarai motornya melewati gerbang utama sekolah.
Aksa hanya bisa diam menatap ke arah gerbang. Ia menarik nafasnya. Dia rasa, dia memang keterlaluan tadi. Nggak sepantasnya dia berkata kasar pada Senja.
Di perjalanan, Senja sesekali mengusap air matanya sambil terus menyetir motornya. Air matanya jatuh tak bisa ia tahan.
Senja menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu turun. Ia berusaha menghentikan air matanya dengan mendongak dan terus mengedip-ngedipkan matanya.
"Kenapa lo jadi cengeng si, Nja? Udah biasa lo diteriakin kayak tadi. Lo juga udah biasa dibentak, dicuekin. Kenapa lo jadi mudah nangis kayak gini?" gumam Senja. Dan tanpa dia sadar, Arhez terus menatap dari jarak yang sedikit jauh sejak tadi.
***
Aksa mengendarai motornya menuju sekolah. Dia harus mengambil beberapa buku yang ia lupa di perpustakaan sekolah sebagai referensi untuknya dan Amara saat belajar bersama sore ini.
Masih ada beberapa siswa di sekolah yang sedang memiliki kegiatan ekstrakurikuler. Aksa memarkirkan motornya dan segera ke arah perpus. Namun, seseorang dengan kasar menariknya ke salah satu ruangan yang ia lewati.
"Ar—"
Bugh...
Satu pukulan tepat di rahang kiri Aksa, membuat ucapan laki-laki itu terpotong. Wajah Aksa terlempar ke samping dengan sudut bibir yang berdarah.
"Bangsat! Lo apain Senja, hah!!" teriak Arhez. Ia meraih kerah baju Aksa, membuat wajah mereka saling berhadapan.
"Gue nggak ngapa-ngapain tu cewek!"
Bugh...
Arhez kembali melayangkan satu pukulan di rahang Aksa. Ia geram. Jelas-jelas ia melihat Senja menangis dari arah ruang osis. Dan sekarang Aksa bilang nggak ngelakuin apa-apa? Sulit buat Arhez percaya.
"Lo pikir gue percaya? Hah! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Senja nangis! Dia nangis dari arah ruangan osis!"
"Itu bukan urusan gue!" jawab Aksa, masih tidak ingin mengakui kesalahannya.
Emosi Arhez semakin tersulut. Ia kembali melayangkan satu pukulan ke arah Aksa. Namun, laki-laki itu dengan cepat menahannya dan berbalik menghajar Arhez. Terjadi perkelahian diantara keduanya.
Tidak satupun dari keduanya yang ingin mengalah. Hingga Pak Kardi yang tak sengaja lewat pun melerai mereka.
"Ehh... Nak Aksa! Nak Arhez! Astaghfirullah, kenapa malah berantem?"
"Nggak usah ikut campur!!" jawab Aksa dan Arhez bersamaan. Pak Kardi sampai terkejut dengan jawaban tersebut.
Namun, laki-laki paruh baya tersebut tak mudah menyerah. Ia kembali mencoba memisahkan mereka, dan akhirnya bisa dipisahkan.
"Huufthh... Kalian ini... Apa-apaan sih? Udah besar masih aja berantem," ucap Pak Kardi dengan nafas yang sedikit tersengal.
"Kamu juga, Nak Arhez! Udah sering kamu terlibat kasus perkelahian. Kamu nggak takut dikeluarin? Nggak rugi kamu dikeluarin dari sekolah saat hampir lulus?" lanjut Pak Kardi.
"Urus saja urusan Bapak! Nggak perlu ikut campur masalah saya!" balas Arhez, lalu melenggang meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Badelan
ceritanya nggak terlalu menghayal, suka banget
2024-10-26
1
bintang orion
next Thorrr,,,aku kawal sampe end
2023-04-11
2