Senja tiba di rumah dan memarkirkan motornya. Ia menarik nafasnya saat tak melihat motor Kakanya di garasi. Ia sangat rindu saat-saat bersama abangnya.
"Bibiii!!" panggil Senja dengan suara melengking dan nada cerianya. Seolah tidak terjadi apa-apa padanya tadi.
"Non Senja, kelihatannya seneng banget. Ada apa?" tanya Bi Haya.
"Nggak ada apa-apa, Bi. Biasanya juga Senja ceria gini," ucap Senja. "Oh ya Bi, bang Aldi belum pulang?"
"Udah pulang tadi. Tapi, pergi lagi. Tapi, den Aldi masakin Non Senja nasi goreng."
"Hah? Seriusan bang Aldi masakin Senja nasi goreng?"
"Iya Non. Sekarang Non Senja ganti baju, Bibi siapin nasi nya."
"Oke, Bi."
Dengan senyuman lebar, gadis itu berlari menaiki tangga. Bi Haya yang melihatnya juga ikut tersenyum. Senang sekali melihat Senja tersenyum seperti ini.
Setelah beberapa saat, Senja turun dan langsung menuju meja makan. Di sana, sudah ada sepiring nasi goreng buatan Aldi yang terhidang.
"Ini minumnya. Non Senja makan ya, Bibi mau beresin dapur dulu."
"Iya, Bi. Makasih ya."
"Sama-sama, Non."
Senja mulai melahap nasi goreng tersebut setelah Bi Haya pergi. Ia tersenyum. Rasanya masih sama dengan buatan Aldi 6 tahun lalu.
Ia menyuapkan sesendok lagi ke mulutnya. Tapi kali ini, air mata ikut menetes. Jika dulu ia makan bersama Aldi, sekarang hanya dia sendiri yang ada di meja makan.
Seharusnya kamu bersyukur Senja, udah dibuatin makanan kayak gini sama bang Aldi. Batinnya.
***
Seperti biasa, malam hari, Senja akan ke cafe untuk melakukan pekerjaan paruh waktunya. Sekolah dan cafe, sedikit menghiburnya dari rasa kesepian di rumah.
"Nja, udah diberesin meja nomor 5?" tanya Tama.
"Udah, Kak. Aman."
"Oh ya, entar kalo lo pulang, jangan lupa kunciin pintu belakang ya? Gue mau ke rumah pak Yahya dulu. Ada berkas yang mau gue anter ke dia."
"Siap Kak. Jadi, sisa gue sama kak Chesie sama kak Manda di sini?"
"Kalau gue nggak lama, gue balik lagi kesini."
"Oke."
Setelah Tama berlalu, Senja menghampiri Chesie dan Manda yang sedang beristirahat. Belum ada pengunjung membuat mereka bisa mengambil waktu istirahat.
"Mau Senja buatin minum Kakak-Kakak cantik?" tawar Senja sambil tersenyum berdiri di depan Chesie dan Manda.
Dua gadis itu terkekeh pelan. Sejak Senja ikut bekerja, penghibur mereka saat lelah bertambah satu. Dulu hanya tingkah absurd Tama yang buat mereka tertawa. Sekarang tingkah ceria Senja yang menularkan senyum pada mereka.
"Nggak usah, Nja. Mending istirahat lo," ucap Chesie.
"Iya. Waktu-waktu kayak gini jarang banget kita dapat," sahut Manda.
"Ya udah. Senja ikut istirahat aja," ucap Senja yang diangguki kedua gadis itu.
"Gimana sama sekolah lo?" tanya Chesie.
"Aman, Kak."
"Lo sekali-kali nggak usah dandan kayak gitu. Gue pengen lihat lo yang natural," ujar Manda yang diangguki Chesie.
"Eggak deh, Kak. Udah nyaman gue dandan kayak gini."
Chesie dan Manda tersenyum mendengarnya. Mereka hanya sekedar mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Jika Senja nyaman seperti itu, mereka tidak akan memaksa.
"Kapan lo lulus?" Manda kembali bertanya.
"Nggak lama lagi, empat bulan."
"Seharusnya lo fokus belajar. Kenapa malah kerja begini. Pulang jam sepuluh, masih sempat belajar jam segitu?"
Senja menatap Chesie yang memberikan pertanyaan itu padanya. Ia tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
"Sempat nggak sempat sih. Tapi aku selalu usahain belajar 10 menit. Setelah subuh baru lanjutin sebelum berangkat sekolah."
"Salut gue," ucap Manda menepuk pelan punggung Senja.
Chesie yang duduk menghadap ke arah pintu masuk melihat ada pengunjung. Itu menandakan waktu istirahat mereka udah usai. Mereka harus melayani pengunjung.
"Ada pelanggan," ucap Chesie membuat Senja dan Manda menoleh. Namun, mereka tak bisa melihat dengan jelas karena kedua pengunjung itu mengambil tempat yang cukup terhalang pengunjung lain.
"Biar gue aja yang tanyain. Kak Chesie sama Kak Manda siap-siap buatin pesanannya."
"Oke," jawab keduanya bersamaan.
Senja segera menuju meja dimana pengunjung yang baru datang itu duduk.
"Permisi, selamat dat—" ucapan Senja langsung terhenti saat melihat siapa yang duduk di meja itu.
"Senja? Lo kerja disini?" tanya Amara dengan tatapan terkejut sekaligus mengejeknya. Ya, yang datang adalah Amara dan Aksa yang sekarang hanya diam. Tidak sedikitpun laki-laki itu menoleh pada Senja. Dia fokus membaca daftar menu.
Senja berusaha mengontrol rasa dalam hatinya. Entah rasa seperti apa sekarang, yang jelas dia tidak ingin berada di sekitar Aksa dan Amara.
Senja tersenyum. "Iya, gue kerja disini."
"Kita pindah!" Suara Aksa tiba-tiba terdengar bersamaan dengan decitan kursi karena ia yang berdiri.
"Eh, kok pindah?" Amara pura-pura terkejut mendengar ucapan Aksa.
"Kalau lo mau tetap disini, silakan." Setelah mengucapkan itu, Aksa langsung pergi. Ia tak sedikitpun melirik Senja yang berdiri mematung. Dan Amara, ia segera mengejar Aksa.
Senja masih terdiam di tempatnya. Matanya berkaca-kaca. Lagi-lagi ia merasakan terluka diperlakukan seperti itu oleh Aksa. Senja mengerjabkan matanya berusaha menahan air mata agar tak terjatuh. Setelah itu, ia menemui Chesie dan Manda.
"Kenapa?" tanya Chesie.
"Pelanggannya pergi."
"Pergi gimana?" Manda menimpali.
"Nggak mau makan disini lagi."
"Mereka kenal sama lo?" Chesie bertanya dengan nada meyelidik.
"Gue mau ke toilet bentar," ucap Senja dan berlalu begitu saja tanpa menanggapi pertanyaan Chesie.
Chesie dan Manda saling menatap. Pasti dua pelanggan itu ada hubungannya dengan Senja. Tapi, mereka tidak bisa memaksa Senja untuk bercerita.
Sementara di toilet, air mata Senja akhirnya jatuh. "Kenapa lo jadi cengeng gini sih? Aksa pasti marah sama lo. Lo udah kelewatan batas mengetahui tentang kehidupan Aksa," gumam Senja.
"Tapi, gue tahu bukan karena sengaja," lanjutnya memberi pembelaan atas ucapannya sendiri.
***
Pukul 10 : 25, Senja tiba di rumah. Motor Aldi sudah terparkir di garasi. Dengan senyuman tipis, gadis itu melangkah masuk rumah. Langkahnya langsung menuju kamar. Tapi, sebelum tangannya meraih gagang pintu kamar, Aldi keluar dari kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Senja.
"Dari mana lo?" tanya Aldi.
"Senja dari rumah Rara. Belajar bareng Rara," bohong Senja. Dia tidak ingin Aldi tahu jika dia bekerja.
"Harus setiap malam lo belajar di rumah Rara? Emang Rara nggak ada ongkos buat kesini?" tanya Aldi dengan nada dinginnya.
"Eemm... Oh ya, makasih ya Bang, nasi gorengnya. Masih enak sama kayak dulu," ucap Senja berusaha mengganti topik pembicaraan mereka. Dan itu berhasil. Aldi terpancing pada topik yang baru Senja mulai. Namun, Senja salah mengangkat topik. Jawaban Aldi membuatnya terluka.
"Nasi goreng itu sisanya Dita. Gue masakin buat dia. Dia nggak bisa abisin. Dari pada mubazir, mending simpan buat lo!" jawab Aldi lalu melangkah menuju tangga.
Senja terdiam. Dia seperti diajak terbang lalu dihempas kembali hingga terjatuh. Dan rasanya sangat sakit.
"Nggak apa-apa bukan buat Senja, dan hanya sisa dari orang lain yang Senja makan. Yang penting Senja bisa makan masakan buatan Bang Aldi. Dengan begitu, Senja nggak akan merasa diri Senja sebagai orang asing di hidup Abang."
Aldi yang tadinya menuruni tangga terhenti sejenak mendengar ucapan Senja. Tapi setelah itu, ia melanjutkan jalannya.
Senja menarik nafasnya. Saat ingin membuka pintu, tiba-tiba bagian atas perutnya terasa sakit. Ia meyentuh dan sedikit menekannya.
"Shhh... Sakit banget ya Allah," gumam Senja. Dengan raut menahan sakit, Senja dengan cepat membuka pintu kamarnya dan masuk. Ia meraih obatnya yang ada di laci. Menelan cepat obatnya dan meneguk setengah gelas air yang ada diatas nakasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments