Kembali dari gudang, semua siswa SMA Gerhana telah pulang. Senja, Rara dan Parto dengan cepat berlari ke kelas, berharap kelas belum ditutup.
"Yaahh... Udah ditutup. Mana tas gue di dalem lagi," ucap Senja.
"Ck. Tas gue juga ada di dalem," kata Rara.
"Gue juga," timpal Parto. "Ya udah deh, biarin aja. Besok baru ambil sekalian," lanjut Parto.
"Ya udah deh. Gue juga besok aja baru ambil sekalian."
"Gue nggak bisa besok. Ada flashdisk Kak Chesie di tas gue," ucap Senja. Flashdisk Chesie tak sengaja tertukar dengan flashdisknya saat mereka di cafe. Karena abangnya belum kembali hari ini, ia berniat langsung ke cafe tanpa mampir ke rumah setelah pulang sekolah.
"Gue mau cari Pak Kardi dulu. Mudah-mudahan belum balik." Senja langsung berjalan meninggalkan Rara dan Parto. Dua orang itu sampai geleng-geleng melihat Senja.
Tiba di pos jaga, Senja melihat pak Kardi sudah menaiki motornya. Sepertinya laki-laki itu hendak pulang.
"Pak!" teriak Senja, membuat Pak Kardi menoleh. Senja berlari kecil mendekati laki-laki itu.
"Nak Senja. Ada apa, ya?"
"Saya boleh pinjam kunci kelas, Pak? Soalnya tas saya masih di kelas."
"Kuncinya udah Bapak kasi ke nak Aksa, Nak. Bapak tahu, Nak Senja sama yang lain belum pulang gara-gara dihukum pak Rahmat. Karena nak Aksa yang ditugasin buat awasin kalian, jadi Bapak kasi ke nak Aksa."
"Oohh.... Ya udah, Pak. Makasih, ya."
"Iya, nak. Bapak balik dulu."
"Iya, Pak. Hati-hati."
Setelah pak Kardi pergi, Senja berbalik untuk mencari Aksa. Dia kembali bertemu Rara dan Parto.
"Eh, Senja. Dapet kuncinya?" tanya Rara.
"Kuncinya dikasi pak Kardi ke Zayyan."
"Aksa nya udah balik?" tanya Parto.
"Kayaknya belum. Motornya masih ada di parkiran."
"Biar gue aja yang ambil kuncinya," timpal Arhez yang baru tiba dan mendengar percakapan Senja, Rara dan Parto.
"Nggak usah, Hez. Entar lo berdua malah ribut," ucap Dean yang sudah sangat hafal, apa yang terjadi jika Arhez dan Aksa bersama. Ucapannya tersebut membuat Arhez menatapnya tajam.
"Dean benar. Gue sendiri aja yang ambil." Senja langsung berjalan meninggalkan taman-temannya.
Arhez yang sudah sangat kesal pada Dean, menonjok lengan cowok itu. Membuatnya meringis kesakitan.
Arhez menatap ke arah yang dilewati Senja. Ingin menyusul, tapi dia takut jika Senja marah padanya. Ia pun memilih untuk menunggu di parkiran.
Sementara Senja, ia berjalan menuju kelas Aksa. Namun, kelas tersebut terkunci. "Kayaknya Zayyan di ruang osis." Senja berbalik arah dan segera menuju ruang osis. Dan benar saja. Pintu ruang osis masih terbuka.
Tok... Tok... Tok...
Aksa yang sedang membereskan buku-buku yang ada di atas meja osisnya pun mendongak, menatap ke arah pintu.
"Maaf aku ganggu," kata Senja, pelan. Aksa hanya menganggukkan kepalanya, seolah tidak keberatan dengan kedatangan Senja. Cowok itu kemudian kembali membereskan bukunya.
"Aku mau minta kunci kelas. Mau ambil tas yang—"
"Lo punya sopan santun nggak?"
"Hah?" Senja bingung. Dia tidak paham dengan ucapan Aksa. Sopan santun? Sepertinya ia sudah mengetuk pintu sebelum memulai pembicaraan.
"Ma-maksud kamu apa ya? Aku udah ketuk pintu tadi."
Aksa kembali mendongak menatap Senja. Kali ini, tatapannya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Membuat jantung Senja berdetak lebih cepat, antara takut dan gugup.
"Sopan lo minta sesuatu dari jauh gitu?" tanya Aksa dingin.
"Kam-kamu kan belum suruh aku masuk," jawab Senja dengan polosnya.
Aksa terdiam. Ia kemudian mengeluarkan kunci dari laci dan meletakkannya di meja. "Ambil sendiri!" ucapnya, kemudian memakai tasnya.
Senja masuk mendekati meja Aksa. Saat tangannya menggapai kunci tersebut, tangan Aksa dengan cepat menahannya.
"Lo boleh ambil. Tapi, jawab pertanyaan gue dulu."
"Pertanyaan apa?"
"Dari mana lo tahu soal banyak hal yang terjadi sama gue?" tanya Aksa serius.
"Aku lihat sendiri. Aku liat kamu di depan ruang jenazah. Aku juga liat kamu dengan perempuan di depan toko. Kamu sepertinya marah banget sama perempuan itu."
Aksa memejamkan matanya. Sepertinya Senja cukup banyak tahu mengenai kehidupannya.
"Di makam?" Aksa kembali melontarkan pertanyaan.
"Itu.... Pas ketemu kamu di rumah sakit, aku ikutin kamu."
Aksa mengeraskan rahangnya dan mencengkram pergelangan Senja lebih kuat. Membuat gadis itu meringis.
"Shh... Sakit, Zay."
Aksa tak peduli. Ia tetap tak mengendurkan cengkramnya. "Kenapa lo lakuin itu?" tanya Aksa dengan tatapan dingin mengintimidasi.
"Ak-aku takut kamu nekat. Aku liat kamu yang begitu rapuh di depan kamar jenazah. Aku nggak tau sepenting apa orang itu di hidup kamu. Jadi, sengaja ikutin kamu karena takut kamu nekat bunuh diri."
"Gue nggak sebodoh itu!!" Aksa semakin mengencangkan cengkramannya.
"Shh... Sakit, Zay," ringis Senja. Matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu, Aksa sedikit mengurangi kekuatan cengkramannya.
"Terakhir gue tanya sama lo! Apa hubungan lo sama Arhez?"
Senja sudah tak fokus lagi. Rasa sakit di bagian atas perutnya sudah tak bisa ia tahan. Tatapannya mulai buram.
"Jawab gue, Senja!!"
Senja benar-benar tak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Pandangannya semakin tak jelas. Dan detik berikutnya, gadis itu ambruk. Beruntung Aksa memegang tangannya dan dengan sigap menahannya.
"Senja." Aksa menepuk pelan pipinya, berusaha membangunkan Senja. Namun, gadis itu tak membuka matanya.
"Senja," ulang Aksa, tapi hasilnya masih sama. Tanpa menunggu lagi, Aksa segera menggendongnya keluar ruangan tersebut. Langkah cowok itu tergesa menuju parkiran.
"Senja!" Rara yang melihat Aksa berjalan tergesa sambil menggendong Senja langsung menghampiri cowok itu. Hal itu membuat Arhez, Parto, Dean dan Roni menoleh. Seketika semua menjadi khawatir.
"Senja kenapa?" tanya Rara. Wajah khawatirnya terlihat jelas.
"Senja tiba-tiba pingsan."
"Bangsat!! Lo apain Senja?!" Arhez tak bisa menahan emosinya. Ia hendak menghajar Aksa, tapi Dean dan Roni menahannya.
"Tenang, Hez. Jangan emosi," ucap Dean.
"Nggak emosi gimana? Senja pingsan!"
"Kalau lo mukul Aksa, Senja juga kena, Hez!" kesal Roni.
Aksa tak menanggapi. Pikirannya hanya tertuju pada Senja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aksa berjalan menuju gerbang dan menghentikan taksi.
"Sa! Lo mau kemana sama Senja?" tanya Parto.
"Rumah sakit."
"Gue ikut!" sahut Rara.
"Lo pakai motor." Aksa membalas Rara. "To, ambil tas Senja. Kunci kelas di ruang osis. Kunciin ruang osis sekalian bawa kunci motor gue."
"Oke, Sa."
"Ke rumah sakit terdekat, Pak."
Supir taksi tersebut segera melajukan taksinya. Parto segera melakukan perintah Aksa. Rara pun membuntuti taksi menggunakan motornya, begitupun dengan Arhez dan Dean. Sementara Roni, cowok itu menunggu Parto.
***
Roni dan Parto datang tergesa-gesa. Parto segera menyerahkan tas Senja pada Rara, kemudian menyerahkan kunci motor pada Aksa.
"Gimana Senja?" tanya Parto.
"Masih di periksa dokter," jawab Rara.
"Rara!" Semua yang duduk di kursi tunggu ruangan UGD menoleh saat mendengar nama Rara dipanggil. Di depan mereka, berdiri sosok cowok yang memiliki garis wajah yang sedikit mirip Senja. Rara sontak berdiri.
"Kak Aldi," gumamnya. Ia tak menyangka Aldi akan tiba secepat ini. Yang ia tahu dari Senja, Aldi sedang ada acara kampus dan belum bisa diganggu. Tidak disangka Aldi membaca pesan yang ia kirimkan tadi.
"Gimana keadaan Senja?" tanya Aldi.
"Masih di dalam, Kak. Lagi ditangani dokter."
Aldi mengangguk. Tatapannya tertuju pada pintu ruang UGD yang masih tertutup rapat. Dan diam-diam Rara mengagumi Aldi sebagai sosok kakak yang penyang. Tanpa ia ketahui, hubungan Senja dan Aldi tak seperti yang terlihat.
Decitan pintu ruang UGD yang terbuka membuat mereka semua menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan Senja, Dok?" tanya Aksa, Aldi dan Arhez bersamaan. Aldi yang mendengarnya menoleh tajam pada Arhez, kemudian Aksa. Tatapannya terhenti cukup lama pada Aksa. Ia ingat, dia cowok yang dikejar Senja saat itu.
Dokter yang melihat adanya kilat permusuhan diantara tiga orang itu tersenyum. "Kalian tenanglah. Senja tidak apa-apa," ucap Dokter, membuat Aldi kembali menatapnya.
"Dia pingsan, Dok! Apa maksud Dokter dia nggak apa-apa?" Kesal Aldi.
"Pasien kelelahan, kekurangan cairan dan juga pola makan yang tidak teratur membuat asam lambungnya naik. Tidak ada masalah serius," ucap Dokter. "Kalau boleh tahu, keluarga pasien—"
"Saya. Saya kakaknya," sahut Aldi cepat.
Dokter tersebut kembali tersenyum. "Tolong lebih perhatikan pasien. Pola makan pasien harus diatur, banyak minum air putih, dan jangan sampai terlalu kelelahan."
"Iya, Dok."
"Pasien sudah sadar. Kalian boleh melihatnya," ucap dokter. "Kalau begitu, saya permisi."
Setelah dokter pergi, Aldi segera masuk diikuti teman-teman Senja. Sepertinya Senja kembali tertidur sebelum mereka masuk. Aldi menarik nafasnya. Ia menatap adiknya yang sedang berbaring dengan tatapan rumit. Tatapan yang mejelaskan segala perasaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Siti Atia Jumadin
knp sih Senja,,menjauh lah sdkt dri akss
2023-09-17
1
pisces
menyesalkah al krn sll mengabaikan adikmu? sbnrnya dia adik kandungmu bkn sih?
Aksa nih kasar bgt klo sama senja, fak hrs main fisik jg kali sa
2023-08-02
2