Senja melajukan motornya dengan cepat menuju sekolah. Seharusnya dia sudah sampai sejak 10 menit lalu, tapi dia malah masih di jalan sekarang.
"Ck. Pasti telat gue sekarang. Bodoh banget sih gue. Seharusnya pulang sekolah dulu baru ambil ni motor," gumamnya sambil terus fokus mengendarai motor kesayangannya, yang baru dia ambil dari bengkel.
"Nah, bener kan telat. Ck, dihukum nih gue," gumamnya lagi, sambil memarkirkan motornya tepat di depan gerbang sekolah. Dia turun dan berdiri berdempetan dengan gerbang.
"Pak, udah pada masuk, ya?" tanyanya, basa basi pada Pak Kardi, si penjaga gerbang sekolah.
"Ya, Neng liatnya gimana? Udah masuk apa belum?"
"Hehehe... Udah masuk, Pak."
"Nah, itu Neng tau. Kenapa nanya?" ketus si Bapak.
"Ish, Bapak. Jangan marah lah, Pak. Nanti cepat rontok gigi Bapak."
"Heh! Kamu sumpahin saya?"
"Eh, enggak Pak. Bercanda doang, nggak usah dibawa serius kali, Pak. Bapak masih ganteng kok. Janda 2 anak di samping rumah saya masih mau kok sama Bapak... Kalau istri Bapak setuju poligami," ucap Senja.
"Saya emang udah ganteng dari sana nya," balas Pak Kardi.
Dih, narsis ni Bapak. Batin Senja.
"Kamu nggak perlu puji-puji saya. Saya nggak akan kemakan omongan kamu. Udah sana! Kamu balik aja ke rumah, belajar di rumah."
"Lho? Kok gitu sih, Pak? Saya kan murid disini, masa disuruh pulang? Saya juga udah bayar SPP nya kok."
"Pokoknya kamu nggak boleh masuk!"
"Yaah... Pak say—"
"Bukain aja, Pak."
Suara dingin Aksa terdengar dari belakang punggung Pak Kardi. Laki-laki itu berbalik dan mendapati Aksa berdiri di belakangnya.
"Saya takut dimarahi, Nak Aksa."
"Bukain saja, Pak. Disuruh Pak Rahmat," ucap Aksa sambil menoleh ke arah Pak Rahmat yang berdiri di koridor. Pak Kardi ikut menoleh, kemudian mengangguk. Laki-laki itu berbalik dan membukakan pintu gerbang untuk Senja.
Senja langsung tersenyum lebar. Saat hendak berbalik untuk memasukan motornya ke parkiran sekolah, suara Aksa kembali terdengar.
"Lo masuk! Motor lo, gue yang masukin."
"Hah? Nggak usah. Entar ngerepotin,"
"Lo mau jalan jongkok sambil dorong motor?"
"Lho? Kenapa jalan jongkok?"
Aksa tak menjawab. Ia mendekati motor Senja dengan tampang dinginnya. Kemudian, tangannya meraih stang motor Senja. "Berisik!" ucapanya lalu membawa motor itu masuk.
"Eh, Zayyan! Maksudnya gimana?"
"Maksudnya, Neng Senja dapat hukuman jalan jongkok. Entah sampai depan Pak Rahmat atau sampai kelas Neng Senja, Bapak nggak tahu. Tanya aja sendiri," ucap Pak Kardi menjelaskan.
Senja yang mendengarnya mengangguk-angguk. Otaknya sedikit lemot mencerna ucapan Aksa.
"Jadi masuk nggak nih, Neng? Kalau nggak Bapak tutup gerbangnya."
"Eehh... Jadi, Pak."
Senja segera berjongkok dan berjalan melewati gerbang. Aksa hanya menatapnya sejenak, lalu berjalan cepat ke arah Pak Rahmat.
"Kamu lanjut saja ke ruang lab nya. Bapak urus Senja dulu." Aksa mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Pak Rahmat.
Jarak dari gerbang sekolah hingga koridor tempat Pak Rahmat berdiri cukup jauh. Pinggang Senja sudah begitu sakit dan kakinya terasa lemas. Ia berhenti tepat di depan Pak Rahmat.
"Capek, Pak. Sampe sini aja, ya? Nggak sanggup saya kalau begini terus sampai kelas."
"Berdiri!" perintah Pak Rahmat, dan Senja menurutinya. "Kenapa? Nggak biasanya kamu telat seperti ini?"
"Itu, Pak. Saya ambil motor dulu di bengkel. Tiga hari lalu motor saya bermasalah. Jadi harus dibawa ke bengkel."
"Ck. Lain kali, kalau bawa motor ke bengkel, ambilnya setelah pulang sekolah saja. Besok-besok nggak boleh telat lagi. Bapak nggak suka murid yang nggak disiplin."
"Siap, Pak. Nggak akan telat lagi."
"Ya udah, kamu boleh ke kelas."
Bukannya pergi, Senja berdiri di hadapan Pak Rahmat sambil menyengir. Membuat kening Pak Rahmat mengerut.
"Kenapa kamu?"
"Hehehe... Anterin saya ke kelas, Pak. Di kelas lagi mapel Bu Tyas."
"Saya masih banyak urusan."
"Ayolah, Pak. Masa saya dihukum lagi sampe di kelas. Saya kan udah dihukum disini."
Pak Rahmat yang melihat wajah memelas Senja tak tega menolak. Ia menarik nafasnya, lalu mengangguk. "Ya sudah. Saya antar kamu ke kelas."
"Alhamdulillah. Makasih, Pak."
"Hmm."
***
Suasana kelas menjadi ricuh saat jam mata pelajaran terakhir tidak ada kegiatan belajar. Setiap kelas kosong karena guru-guru mendadak dipanggil kepala sekolah untuk melakukan rapat.
Kelas Senja yang paling ricuh. Siswa-siswi di kelas itu memiliki kegiatan masing-masing. Ada yang mengobrol, main game, sampai bernyanyi sambil memukul meja.
Senja dan Rara masuk dalam kelompok bernyanyi. Parto, salah satu siswa di kelas itu yang bernyanyi sambil memukul meja. Menimbulkan suara yang membuat orang-orang ingin bergoyang.
"Abaaah, emaaak," nyanyi Senja "Sa-sa-sa-sa, sabar dulu, Sa-sa-sa, sabarlah dulu"
"Tu-tu-tu-tu, tunggu dulu, Tu-tu-tu, tunggulah dulu," sambung Rara dan Parto.
"Untuk apa sih terburu-buru?
Mencari menantu, mencari menantu," lanjut Senja dan Rara.
"Sedangkan umur... ku..." suara Rara mulai terdengar lirih. Yang tadinya bergoyang, kini hanya berdiam diri. Parto yang membuat irama dengan memikul meja pun perlahan memelankan pukulannya hingga tak menimbulkan suara lagi.
Sementara Senja, dia dengan semangat melanjukan lagunya.
"Sedangkan umurku baru 17 tahun
Jalan dua bulan lebih 10 har—"
Glek...
Gadis itu langsung menenguk kasar ludahnya, saat memutarkan tubuhnya ketika berjoget, dan mendapati Aksa berdiri bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya. Wajah laki-laki itu tanpa ekspresi menatap Senja.
Senja menyengir, lalu mundur mendekati Rara.
"Kenapa lo nggak bilang ada Aksa disini?" bisik Senja.
"Mau ngomong juga telat, Nja. Lidah gue keburu kelu pas liat Aksa nongol depan pintu. Iya kan, To?"
Parto yang memang duduk di dekat Rara berdiri pun, menganggukkan kepalanya. "Bener, Nja. Lo sih nggak peka. Kita udah pada diam, lo masih aja nyanyi," timpal Parto, ikut berbisik.
"Siapa biangnya?" suara dingin Aksa terdengar.
"Mereka!" ucap siswa siswi yang ada di kelas itu bersamaan, sambil menunjuk ke arah Senja, Rara dan Parto.
Ketiga orang itu hanya menyengir, tidak bisa mengelak. Memang mereka yang memulai. Awalnya kelas aman. Hanya terdengar suara siswa siswi yang mengobrol. Tapi tiba-tiba, Senja mulai bernyanyi dan berakhirlah dengan digelarnya mini konser di kelas itu oleh Senja, Rara dan Parto.
Aksa menatap ketiga teman seangkatannya itu dengan tatapan dingin. Dia dan semua anggota osis diamanahkan untuk menjaga ketenangan siswa tiap-tiap kelas.
"Kalian semua, tenang di kelas! Kalau kalian ulangi sekali lagi, kalian saya bawa ke ruang BK," ucap Aksa. "Kalian, ikut saya ke ruang osis!" lanjutnya kemudian berbalik meninggalkan kelas tersebut.
"Huufthh... Mampus kita, Nja, To. Pasti dihukum sama si Aksa," ucap Rara.
"Gue jadi lebih takut Aksa dibanding Pak Rahmat," ucap Parto.
"Zayyan emang nyeremin, tapi tetap aja ganteng," sahut Senja.
"Idih, otak lo mikirin ganteng mulu. Udah ah! Ayo, entar si Aksa ngamuk, panjang urusannya," ucap Rara. Gadis itu langsung meraih tangan Senja dan membawa sahabatnya itu keluar menuju ruang osis.
"Eh, tunggu gue!" Parto dengan cepat mengikuti Senja dan Rara.
Ketiga orang itu berjalan beriringan. Namun, belum sempat tiba di ruang osis, Senja kebelet ingin ke toilet. Dia menghentikan langkahnya hingga Rara dan Parto ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Rara.
"Gue kebelet mau ke toilet. Lo berdua duluan aja," ucap Senja langsung berlari meninggalkan Rara dan Parto.
"Ya udah, kita duluan aja. Entar kita bilangin ke Aksa kalau Senja ke toilet." Rara mengangguk setuju atas ucapan Parto keduanya langsung menuju ruang osis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments