Aksa melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang sedikit macet. Setelah 20 menit mengendarai motornya, Aksa tiba di sebuah rumah kecil, yang terlihat begitu asri.
"Den Aksa," sapa seorang wanita berusia sekitar 40-an.
"Asslamu'alaikum, Bi." Aksa menyapa wanita itu, yang merupakan pelayan yang mengurus Papa nya.
"Wa'alaikumsalam, Den."
"Papa?"
"Pak Herman lagi istirahat di kamar, Den."
Aksa mengangguk. Ia memasuki rumah tersebut dan duduk di ruang tengah. Sebenarnya, dia ingin langsung masuk ke kamar menemui Papanya. Tapi, dia lebih memilih untuk tidak mengganggunya yang sedang istirahat.
"Den Aksa mau Bibi buatin Minum? Atau mau makan?" tawar Bi Darsi.
"Minum aja, Bi."
Bi Darsi mengangguk dan segera berlalu ke dapur. Pak Ijan yang baru tiba di rumah itu cukup terkejut melihat Aksa ada di ruangan tersebut. Pasalnya, hari ini bukan jadwal Aksa berkunjung.
"Den Aksa, kapan sampainya?"
"Baru aja, Pak."
"Ibu dimana?" Pak Ijan menoleh ke arah dapur. Mencari-cari keberadaan Bi Darsi, istrinya.
"Bibi di dapur," jawab Aksa.
"Ya udah. Saya ke dapur dulu. Den Aksa duduk aja dulu. Biasanya bentar lagi Pak Herman bangun," ucap Pak Ijan.
Aksa hanya mengangguk. Dia duduk sambil membaca materi untuk persiapan olimpiade yang akan dilaksanakan bulan depan.
"Nak." Tiba-tiba suara seorang laki-laki terdengar. Aksa segera menoleh dan mendapati Papanya berdiri di ambang pintu dengan tangan yang gemetaran memegang tongkat penyangga. Aksa segera berdiri dan menghampiri sang Papa.
"Papa kenapa nggak pencet bel aja? Aksa bisa bantu Papa keluar kamar," ucapnya sambil memegang sebelah tangan Papanya yang bebas, dan menuntun laki-laki paruh baya itu menuju sofa yang di dudukinya tadi.
"Papa nggak apa-apa. Papa lagi mau latihan jalan sendiri seperti ini."
"Duduk, Pa." Aksa membantu Papanya duduk, lalu ikut duduk di sebelah sang Papa. "Papa kalau mau latihan, harus ada yang awasin, Pa. Aksa nggak mau terjadi sesuatu sama Papa."
Pak Herman tersenyum. Dia sangat senang memiliki putra seperti Aksa. Anak itu sangat memperhatikannya. "Papa nggak apa-apa," ucapnya. "Ngomong-ngomong, kamu kenapa kesini? Hari ini bukan jadwal kamu kesini," tanya Pak Herman dengan bibir yang bergetar dan bergerak pelan. Laki-laki paruh baya itu menglami stroke sejak dua tahun lalu.
Meski sudah berkali-kali berobat, kondisinya masih belum sepenuhnya membaik. Tapi, Aksa bersyukur, Papanya sepertinya memiliki perubahan. Dia sudah lebih sering jalan menggunakan tongkat penyangga dibandingkan menggunakan kursi roda.
"Memangnya Aksa nggak boleh datang kesini kalau nggak sesuai jadwal? Apa anak harus pake jadwal buat ketemu Papanya sendiri?" tanya Aksa dingin. Dia tidak suka Papanya bertanya seperti itu padanya.
"Bukan... Bukan seperti itu maksud Papa," ucap Pak Herman tenang. "Bagaimana sekolahmu?"
"Bulan depan ada olimpiade."
"Semoga kamu bisa memenangkannya."
"Aamiin," jawabnya. "Bi Darsi kirim jadwal Papa ke rumah sakit. Nanti Aksa yang anterin."
"Nak, Papa nggak apa-apa sama Darsi sama Ijan. Kamu fokus saja sama sekolah kamu."
"Aksa mau tau perkembangan Papa secara langsung. Aksa nggak mau kejadian soal Farah terulang lagi, Pa..." ucapnya lirih, sambil menundukkan kepalanya. Ia selalu merasa bersalah dan menyesal saat mengingat adiknya itu.
Laki-laki paruh baya yang bibir dan tangannya bergetar itu menatap sendu sang putra. Dia juga merasakan penyesalan yang sama.
"Huuh... Kita akan pergi setelah kamu pulang sekolah."
Aksa mendongak menatap Papanya. "Papa harus janji buat tetap sehat," ucapnya.
"Eh, Bapak sudah bangun? Kenapa nggak di pencet bel nya?" Bi Darsi datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Ini, Den. Maaf Bibi lama. Kebelet," ucap Bi Darsi sambil meletakkan nampan di meja. Aksa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Darsi, ubah jadwal ketemu dokternya sore saja. Aksa mau ikut pergi," ucap Pak Herman.
"Iya, Pak." Darsi berlalu dari tempat itu dan kembali ke dapur.
"Minum sama ngemil aja, nggak akan kenyang."
"Aksa udah makan tadi," jawabnya, meraih minuman yang dibawa bi Darsi.
Ayah dan anak itu terlibat percakapan. Aksa lebih banyak menjawab pertanyaan Papanya dibanding mengatakan banyak tentang kehidupannya yang lepas dari pandangan sang Papa.
Hingga petang menjelang, Aksa berpamitan pulang.
"Papa ke kamar aja. Nggak usah anterin Aksa ke depan," ucapnya sambil menyalimi tangan sang Papa.
"Bentar aja, Nak. Papa sama Darsi sama Ijan," jawab Pak Herman, melirik Bi Darsi dan Pak Ijan yang berdiri di dekatnya.
Aksa menarik nafasnya. "Ya udah. Ayo," Aksa meraih lembut sebelah tangan sang Papa, kemudian menggandengnya keluar.
Aksa melepaskan gandengannya saat tiba di teras rumah minimalis tersebut. Membiarkan sang Papa bersama Bi Darsi dan Pak Ijan. Cowok itu memaikai helm dan menghidupkan motornya.
"Aksa pergi dulu," ucapnya, membunyikan klakson kemudian berlalu dari hadapan orang-orang tersebut.
Motor Aksa melaju sedang, menikmati jalanan yang cukup tenang. Ia lalu membelokkan motornya ke jalanan menuju pantai. Memarkirkan motornya, Aksa menyusuri pantai. Ia berhenti dan menatap jauh ke arah matahari yang sebagian besarnya sudah tenggelam. Kedua tangannya menyusup masuk ke dalam saku celana seragam abu-abu yang ia kenakan.
"Lo indah. Sayangnya nggak bisa digapai," gumam Aksa tanpa melepas tatapannya dari langit yang sudah sangat senja. Hal yang paling dia suka saat sore hari adalah senja. Jika ada waktu, dia akan menyempatkan dirinya untuk menikmati keindahan tersebut.
Setelah beberapa saat, Aksa kembali melajukan motornya. Kembali ke rumah yang penuh kenangan dan luka.
***
"Senja, meja nomor 09 belum diantar pesanannya," ucap salah seorang pelayan cafe.
"Iya, Kak. Tapi, setelah ini Senja pulang. Jam kerja Senja udah selesai."
"Iya. Gue juga tahu. Temen lo juga udah tungguin tuh di depan sana,"
"Seriusan lo, Kak?" kaget Senja. Dia tidak menyangka Rara secepat ini sampai.
"Serius. Udah cepetan! Kasian temen lo. Gue suruh masuk nggak mau dia," ucap Tama, orang yang ditanya Senja, dan berperan sebagai ketua pelayan di tempat Senja bekerja. Dia yang akan menghendle teman-temannya dalam bekerja, sesuai instruksi manajer.
"Hehehe... Iya, Kak."
Senja dengan segera membawa pesanan ke meja yang dikatakan Tama. Setelah itu, dia mengganti seragamnya, lalu menemui Rara.
"Ra!"
"Allahu akbar! Buseeett... Kaget gue, Nja!" Rara mengusap-usap dadanya, terkejut karena Senja menepuk bahunya sedikit keras, dan tentunya tanpa sepengetahuan Rara.
"Ya elah, gitu doang kaget," sungut Senja.
"Kagetlah! Orang lo nepuknya dari belakang."
"Iya iya, gue minta maaf. Btw, thank's ya udah mau jemput gue."
"Iya. Sama-sama!" jawab Rara ketus.
"Ketus amat jawabnya. Nggak ikhlas nih?"
"Ikhlas. Ya udah, ayo naik."
"Makasih Rara cantik," ucap Senja, lalu menaiki motor Rara.
Gadis itu melajukan motornya menuju rumah Senja. Rara sering heran dengan sahabatnya itu. Kehidupan Senja jauh dari kata kekurangan. Semua kebutuhannya terpenuhi bahkan bisa dibilang, Senja berasal dari keluarga konglomerat. Tapi, kenapa sahabatnya itu memilih untuk bekerja paruh waktu begini? Itu yang menjadi pertanyaan Rara selama ini.
"Oh ya, Ra. Lo kok bisa cepat gitu sampe nya? Padahal kan gue telponnya belum lama?" tanya Senja, sedikit berteriak karena takut suaranya tidak terdengar Rara.
Rara meneguk ludah mendengar pertanyaan Senja. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Hah? Apa, Nja? Gue gak denger," ucap Rara berpura-pura. Dia tidak tahu harus memberi alasan apa pada sahabatnya itu.
"Gue tanya. Lo kok bisa cepet gitu sampe nya? Gue kan telpon lo barusan."
"Sampe rumah lo aja deh baru lo tanyain. Gue gak denger!"
Senja menarik nafasnya, pasrah saja dengan kelakuan sahabatnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Badelan
bagus ceritanya
2024-10-26
0
Evelyn
🤔🤔🤔
2023-11-05
0