Rara segera mendekat saat melihat Senja datang. Cewek itu dengan ceria meraih lengan Senja.
"Ekhm... Yang anterin kamu tadi bang Aldi?" tanya Rara dengan senyum malu-malu.
"Idih, kenapa begitu ekspresi lo?" tanya Senja, melihat pipi Rara memerah.
"Ish, apaan sih Senja? Gue kan tanya? Kenapa lo malah balik nanya?"
"Hehehe... Abisnya ekspresi lo gitu. Geli tau nggak liat lo gitu."
"Lo juga kalo di gombalin Arhez senyum lo."
"Kapan? Nggak ada tuh!"
"Eleh, pake ngelak. Yang di warung samping sambil ngobatin lukanya Arhez itu apa?" tanya Rara. Dia melihat semua yang terjadi di warung samping sekolah waktu itu. Termasuk melihat Aksa yang menatap Senja dan Arhez.
Senja terkekeh pelan mendengar ucapan sahabatnya. Jadi, Rara mengikutinya saat ia terburu-buru mencari Arhez.
"Ayolah, Nja. Tadi itu bang Aldi kan?" Senja mengangguk. "Ya Allah, ganteng banget calon jodoh gue. Ketutup helm aja gantengnya nggak hilang, apalagi buka helm. Pasti berkali-kali lebih ganteng."
"Idih centil! Bang Aldi lo mau. Arhez juga lo mau."
"Ya nggak apa-apa. Kalo Arhez calon pacar, bang Aldi calon suami."
"Sinting ni anak. Ya udah, sana kamu duluan ke kelas. Gue mau ke kelas Zayyan."
"Aksa lagi?"
"Hu'um. Kenapa?"
"Ck. Gue capek bilangin lo, Nja. Ya udah, gue ke kelas." Rara menepuk pelan pundak Senja kemudian berlalu ke kelasnya.
Senja menarik nafasnya sambil menatap punggung Rara yang mulai menjauh. Dia tahu, sahabatnya itu sangat menyayangi nya. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa yang Rara katakan.
Senja segera pergi ke kelas Aksa. Namun, ia tak bertemu Aksa. Hanya ada siswa lain, termasuk Bagas dan Jafar.
"Eh, Senja. Cari Aksa?" tanya Jafar.
"Iya. Zayyan dimana?"
"Lagi di lab. Kayaknya mereka makin fokus sama olimpiadenya," ucap Bagas.
"Oh. Ya udah, aku titip ini buat Zayyan ya?" Senja mengeluarkan kotak bekalnya dan memberikannya pada Jafar.
"Oke. Entar kita kasi kalau Aksa nya udah balik," ucap Bagas.
Senja mengangguk. "Ya udah. Gue ke kelas dulu," ucapnya, kemudian pergi dari kelas Aksa.
Setelah menyelesaikan urusannya di lab, Aksa kembali ke kelas. Ia duduk di kursi mejanya, dan tiba-tiba sebuah kotak bekal diletakkan di depannya. Aksa mendongak dan melihat Bagas dan Jafar.
Kedua sahabat Aksa itu menarik kursi, duduk di samping kiri dan kanan meja Aksa.
Aksa menatap kotak bekal tersebut, sementara Jafar dan Bagas menatap fokus ke arahnya.
"Ayolah, Sa. Sekali aja lo terima. Senja cewek baik. Udah sering lo nolak pemberian dia. Tapi, dia tetap aja bawa-bawa beginian buat lo," ucap Jafar.
"Iya, Sa. Cara lo nolak juga kasar. Kebagetan! Gue kalo jadi Senja, udah ngejauhin lo dari dulu," tambah Bagas.
Aksa terdiam. Dia tidak mengatakan apapun atau melakukan apapun.
"Sa, gue kalau jadi lo, nggak akan gue sia-sia in cewek sebaik Senja," ujar Jafar.
"Lo berdua nggak usah ngehasut deh! Kalo Aksa nya nggak mau, nggak usah lo berdua paksa!" Amara tiba-tiba menimpali.
"Eh, rubah licik! Nggak usah ikut campur! Ini nggak ada urusannya sama lo!" ketus Bagas.
"Lo kok ngatain gue rubah? Aksa tem—"
"Lo semua bisa diam nggak!!" bentak Aksa dengan nada marah. Membuat Bagas, Jafar, Amara dan seisi kelas terdiam. Jarang sekali Aksa lepas kontrol seperti ini.
Dengan wajah dinginnya, Aksa meraih kotak bekal tersebut kemudian pergi meninggalkan kelas.
***
"Mau ke kantin nggak?" tanya Arhez pada Senja. Cowok itu dengan sengaja ke kelas Senja dan mengajak cewek itu makan di kantin. Hal yang sangat jarang Arhez lakukan.
"Ayolah. Ini sebagai tanda terima kasih gue karena lo mau ngobatin luka gue waktu itu."
"Enggak deh. Gue sama Rara sama Parto ke perpus. Kita mau ngafalin tabel periodik," jawab Senja.
"Emang anak Bahasa ada pelajaran begituan?" tanya Arhez.
"Nggak ada. Ini hukuman dari pak Rahmat."
"Eh, Nja. Bukannya hukumannya udah lewat? Udah seminggu lewatnya. Pak Rahmat juga belum nagih-nagih," ucap Rara membuat Senja melotot ke arahnya.
"Teman lo bilang nggak apa-apa," ucap Arhez.
"Ya udah deh. Tapi, kita makan di kantin sekolah aja,"
"Oke," jawab Arhez. "Ayo!"
Senja tersenyum tipis pada Arhez. Ia rasa, Arhez tidak seburuk apa yang orang katakan.
"Tapi, Rara sama Parto ikut kan?"
"Iya," jawab Arhez lembut. Membuat Roni dan Dean melongo, begitu juga dengan Rara, Parto dan teman kelas lainnya. Tidak menyangka jika Arhez bisa berbicara lembut seperti saat ini.
Senja kembali mengulas senyum. Ia bersama Arhez dan sahabat masing-masing bergegas ke kantin. Selama perjalanan menuju kantin, Arhez tak henti-hentinya mengajak Senja berbicara.
"Entar, lo duduk aja. Biar gue yang pesenin," ucap Arhez saat mereka mulai memasuki kantin.
"Enggak deh. Gue bisa pesan sendiri."
"Nggak usah. Gue aja. Tugas lo cuman duduk diam, tunggu pesanan datang."
"Ya udah kalo mau nya gitu. Gua nggak akan sungkan. Gue mau pesan bakso sama es teh."
"Oke," jawab Arhez.
Setelah mendapat tempat duduk, Arhez segera memesan apa yang Senja mau, kemudian kembali. Dia dan Senja duduk berhadapan dan terhalang meja di tengah-tengah mereka. Sementara Rara, Dean, Roni juga Parto duduk di meja sebelah, seolah sedang memberi kesempatan Arhez bersama Senja.
"Entar sore lo sibuk nggak?"
Senja menatap Arhez. "Gue ada kerjaan. Kenapa?"
"Nggak kenapa. Gue mau ajak lo jalan. Tapi, karena lo ada kerjaan, lain kali aja."
Senja mengangguk. "Tumbenan lo makan disini. Biasanya juga di warung samping."
"Gue lagi pengen makan bareng lo hari ini," ucap Arhez yang membuat Senja terkekeh pelan.
Dari arah pintu kantin, Aksa melihat semua kebersamaan Senja dan Arhez. Ia hanya diam dengan tampang dinginnya. Bagas dan Jafar yang berdiri di samping kiri dan kanannya juga ikut terdiam dengan arah pandang yang sama dengan Aksa.
"Si Arhez deket sama Senja?" tanya Bagas. Matanya menatap Jafar, tapi tujuannya bertanya adalah memancing Aksa.
"Mungkin. Kita kan nggak tahu. Senja juga cewek nya baik. Mungkin bisa luluhin hati si Arhez. Liat aja, tuh! Arhez nggak berhenti senyum dari tadi," sahut Jafar.
"Ck. Gue tiba-tiba sakit liat mereka berdua deket gitu. Tau gitu, gue dari dulu aja deketin Sen— lho? Lo mau kemana, Sa?"
Ucapan Bagas langsung berganti pertanyaan saat Aksa tiba-tiba berbalik dan pergi menjauh dari kantin. Bagas hendak mengikutinya, tapi Jafar segera menahan.
"Nggak usah lo ikutin. Biarin aja dia sendiri. Biar dia coba ngertiin perasaannya sendiri," ucap Jafar. Bagas menurut. Kedua cowok itu lanjut mencari tempat duduk dan memesan makanan.
Sementara Aksa, cowok itu berjalan cepat menuju ruang osis. Dia tiba-tiba merasakan perasaan marah saat melihat Senja bersama Arhez.
"Aksa."
Tatapan Aksa langsung menajam mendengar suara itu. Ia menatap Amara yang berdiri di depannya bersama kedua sahabat cewek itu, Sonya dan Siska.
"Tadi katanya ke kantin, kenapa malah ke arah ruang osis?" tanya Amara lembut.
"Bukan urusan lo!" Aksa langsung pergi begitu saja, melewati Amara dan teman-temannya yang sedang mematung dengan mulut yag sedikit terbuka karena terkejut.
"Serius barusan itu Aksa? Tumben banget ngomongnya kasar sama lo?" Sonya menatap Amara yang sama terkejutnya dengannya.
"Pasti ada yang salah sama si Aksa. Dia kan nurut banget sama lo," sahut Siska.
"Lo berdua duluan aja ke kantin. Gue mau nyusul Aksa," ucap Amara.
"Lo serius mau ke Aksa?"
"Iya, Mara. Lo serius mau ketemu dia? Kayaknya tu cowok lagi marah. Mending lo nggak temuin dulu. Lo tau sendiri kan gimana Aksa kalo marah?" ujar Siska.
"Lo berdua tenang aja. Aksa nggak akan nyakitin gue," balas Amara percaya diri.
Sonya dan Siska hanya bisa mengangguk. Amara, dia susah diberitahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments