Aksa menghabiskan sarapannya, kemudian meraih tas dan kunci motor. Ia menoleh kesana kemari mencari mbak Iyam, wanita berusia 30 tahun yang mengurus rumahnya. Tugasnya menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Untuk makan siang dan malam, Aksa yang akan mengurusnya sendiri.
"Den Aksa udah selesai?" pertanyaan itu membuat Aksa menoleh. Wanita itu datang tepat waktu.
"Ya. Saya pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu saat pulang nanti."
"Iya, Den. Hati-hati."
Aksa melangkah tenang keluar dari rumah. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita berdiri di teras rumahnya. Seketika ekspresi wajahnya berubah dingin, begitu pun dengan tatapan matanya.
"Ada urusan apa anda disini?" tanya Aksa. Kilatan tak suka sangat jelas terlihat di mata cowok itu.
"Aksa, Mama—"
"Maaf, Mama saya sudah pergi. Dia gak butuh laki-laki miskin seperti Papa saya dan anak nakal seperti saya."
"Aksa. Jangan begitu, Nak. Ini Mama." Suara wanita yang mengakui dirinya sebagai Ibu Aksa itu terdengar bergetar menahan tangis.
"Anda salah orang." Aksa melanjutkan langkahnya, melewati sang Mama begitu saja.
"Aksa! Nak, maafin Mama." Wanita itu mengejar Aksa kemudian menahan tangannya. Tapi, Aksa menepisnya sedikit kasar.
"APALAGI!! MAMA MAU APALAGI? MAU AKSA BERLUTUT DI KAKI MAMA SUPAYA MAMA KEMBALI KE KELUARGA BARU MAMA?" Suara Aksa meninggi tanpa berbalik menatap sang Mama.
"Aksa sayang. Maafin Mama. Mama hanya mau kamu lihat Mama. Menjadi anak Mama yang dulu. Mama mau disini. Mau temani kamu."
Aksa menoleh. Matanya memerah dipenuhi air mata. "Apa Mama ada di sini bisa kembaliin Farah? Apa Mama bisa kembaliin Papa yang dulu? Apa Mama bisa ngembaliin keluarga kita yang dulu? Nggak kan Ma?"
Wanita itu meneteskan air matanya. Dia sadar, kesalahannya begitu besar. Dia sadar, dia egois memaksa Aksa untuk menerimanya.
"Jangan nambahain luka Aksa, Ma..." lirihnya kemudian mengusap kasar air matanya yang hampir jatuh. Cowok itu kemudian mengendarai motornya meninggalkan rumahnya.
Aksa terus melajukan motornya. Hingga beberapa saat kemudian, ia tiba di sekolah. Saat memarkirkan motor, mata tajamnya menangkap motor Senja yang sudah terparkir di parkiran.
Senja? Kenapa dia sekolah? Batin Aksa.
Cowok itu turun dan langsung menuju kelasnya. Meletakan tasnya, ia kemudian keluar dari kelas menuju kelas Senja.
"Lo sendiri?" Suara Aksa mengagetkan Senja yang hendak menelan obatnya.
"Eh. Za-Zayyan," gugupnya bersamaan dengan tangannya yang mulai menyembunyikan obat digenggamannya.
Aksa mengernyit heran. Senja tidak dikasi obat oleh dokter kemarin. Tapi, kenapa gadis itu minum obat?
"Zayyan?" panggil Senja membuat Aksa sadar dari pikirannya.
"Obat apa yang mau lo telan?"
Senja meneguk ludahnya. Sepertinya Aksa sadar jika kemarin dia tidak mendapat obat apapun.
"I-ini vitamin," jawab Senja gugup seraya menundukkan kepalanya. Aksa menatapnya kemudian mengangguk.
"Senja."
"Iya?" Gadis itu mendongak, membuat matanya dan mata Aksa saling beradu.
"Gue minta maaf," ucapnya tanpa basa basi.
"Minta maaf buat apa?"
"Buat yang kemarin. Gara-gara gue, lo masuk rumah sakit."
Senja tersenyum, membuat Aksa terpaku sejenak. "Bukan salah kamu. Memang aku nya aja yang lagi gak sehat."
"Sebagai permintaan maaf gue, hari ini gue traktir lo. Terserah lo mau beli apa."
Senja lagi-lagi tersenyum. "Aku udah iya in Rara sama Parto. Kita mau makan nasi goreng di warung samping sama Arhez, Dean, Roni."
Aksa seketika diam mendengar nama Arhez disebut. Tangannya tiba-tiba mengepal. Entah kenapa, setiap nama Arhez yang keluar dari mulut Senja, berhasil membuatnya marah.
Aksa menarik nafasnya pelan, berusaha mengontrol kemarahannya.
"Jadi, apa yang harus gue lakuin sebagai bentuk permintaan maaf gue?"
"Nggak ada. Ini bukan salah kamu."
"Oke. Sebagai gantinya, gue bantu lo ngafalin tabel periodik."
"Bener?" Senja memastikan.
"Hmm...."
Setelah menjawab Senja, Aksa langsung berbalik begitu saja tanpa mau melihat ekspresi Senja yang teramat bahagia.
"Oh ya, Zay! Kapan?" teriak Senja karena Aksa yang sudah menjauh. Membuat Aksa menghentikan langkahnya
"Hari ini, pulang sekolah," ucapnya kemudian lanjut berjalan.
Senja begitu senang mendengarnya. Bahkan senyumnya tak luntur. Rara dan Parto yang baru tiba dan melihatnya tersenyum mengernyit heran.
"Kenapa lo, Nja?" tanya Parto.
"Iya, Nja. Lo kenapa senyum-senyum gitu?" timpal Rara.
"Hehehe... Gue lagi seneng, Ra, To. Zayyan mau bantu gue ngafalin tabel periodik."
"Hah!!" pekik Rara dan Parto bersamaan.
"Lo serius Nja?" Parto tak percaya. Dan Senja dengan senyum manisnya mengangguk pelan.
"Jangan-jangan, gara-gara kekurangan cairan lo jadi gila, Nja."
"Ish, apaan sih, Ra! Tega lo ngatain gue gila."
"Iya, Ra. Gimana sih lo jadi sahabat," sambung Parto.
"Ya... Abisnya lo halu. Aksa aja dekat lo bawaannya kesel mulu. Masa mau bantuin lo?"
"Terserah lo deh, mau percaya atau enggak. Tadi Zayyan kesini dan minta maaf sama gue. Terus sebagai tanda permintaan maafnya, dia nawarin mau bantuin gue. Ya, gue terima."
"Jadi, Aksa yang barusan kita ketemu di lorong, balik dari sini?"
Senja kembali mengangguk, membenarkan ucapan Rara. Membuat Rara dan Parto saling menatap.
"Kalau kalian mau, nanti aku kasi tahu Zayyan kalau kalian mau ikut."
"Nggak!" jawab dua orang itu serentak.
"Kenapa?"
"Gue rada-rada ngeri belajar sama Aksa," ucap Rara.
"Iya, gue juga."
"Lho?" Senja mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Hehehe... Gue takut nggak bisa nyambung sama Aksa. Otak gue nggak sefrekuensi sama otak Aksa," jawab Rara cengengsan. Membuat Senja terkekeh pelan, begitu juga dengan Parto.
***
"Aksa!"
Panggilan dari Amara membuat langkah Aksa terhenti. Gadis itu berlari mendekati Aksa.
"Kamu kok ninggalin aku?"
"Gue buru-buru," sahut Aksa. Laki-laki itu mulai melanjutkan jalannya. Amara pun berjalan beriringan.
"Mau belajar di ruang osis ya?"
"Hmm."
"Aku ikut, ya? Aku belum paham di bagian sub bab terakhir. Mau tanya Pak Rahmat, tapi keburu keluar Pak Rahmat nya."
"Ya udah. Ayo!"
Yes! Batin Amara.
"Tapi, catatannya masih di lab."
"Ambil gih!" ucap Aksa. Benar-benar berbeda perlakuan Aksa saat bersama Senja dan Amara. Dan semua itu disaksikan Senja.
Gadis yang hendak ke perpustakaan mengantar buku itu terdiam di sudut kelas sembari menyaksikan sikap ramah Aksa pada Amara. Jauh berbeda dengan Aksa yang selalu dingin padanya.
"Nja!" Tepukan dibahunya membuat Senja terlonjak. Gadis itu berbalik dan mendapati Rara menyengir tanpa dosa.
"Hehehe... Kaget, ya?"
"Nggak lucu, Ra. Untung gue gak jantungan."
"Hehehe... Maaf. Lagian lo sih. Udah ditungguin sama yang lain malah berdiri diam disini. Emangnya lo liat apa? Han—"
"Udah?" pertanyaan yang keluar dari mulut Aksa untuk Amara membuat ucapan Rara terhenti. Gadis itu menoleh mengikuti arah pandang Senja. Disana, Aksa dan Amara berdiri dan saling berhadapan. Amara yang tersenyum dan Aksa dengan tampang yang tak sedingin saat bersama orang lain atau Senja.
Rara menarik nafasnya. "Gara-gara mereka lo berdiri diam disini?"
"Gue nggak sengaja liat."
"Dan sekarang lo sadar, kalau cewek yang bisa ngeluluhin Aksa cuma Amara?"
Senja diam. Tidak mampu menjawab ucapan Rara.
"Lo masih mau belajar bareng Aksa?"
"Belajar nggak ada kaitannya sama ini, Ra." Senja menatap sahabatnya itu. Rara, ia tak suka melihat Senja sedih, terutama karena orang seperti Aksa.
Rara kembali menarik nafasnya, kemudian merangkul punggung Senja.
"Udah. Nggak usah terlalu lo pikirin. Ayo, balik! Yang lain udah pada nungguin."
"Ayo," ucap Senja.
"Tapi, buku yang lo pinjam? Kalau nggak lo kembaliin hari ini, bisa kena denda."
"Nggak apa-apa. Gue nggak masalah bayar dendanya," ucap Senja. "Ayo!" Dua cewek itu kemudian berbalik arah, menemui Arhez dan yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments