Tanpa mengetuk pintu, Amara langsung masuk begitu saja ke ruang osis. Di dalam sana, Aksa hanya diam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Ak—"
"Lo nggak ngerti peraturan?" tanya Aksa dingin, memotong ucapan Amara.
"Hah? Maksudnya gimana?"
"Lo nggak bisa ketuk pintu?" Suara Aksa terdengar semakin dingin.
"Biasanya juga gitu. Aku masuk nggak perlu ketuk pintu."
"Mulai sekarang beda!"
"Tapi—"
"Lo lebih baik keluar!"
"Aksa, kok kamu gitu? Kamu nggak kayak biasanya."
Aksa tak peduli. Ia mengabaikan ucapan Amara dan malah membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan kotak bekal yang di kasi Senja.
"Itu kan yang dikasi Senja. Kenapa kamu simpan? Biasanya juga dibuang."
Aksa tak peduli dengan ucapan Amara. Ia membuka penutup kota bekal tersebut. Beberapa potong roti diberi selai kacang menjadi isi dalam kotak bekal tersebut.
Saat hedak mengambil salah satunya, Amara datang dan hendak menghempas kotak bekal tersebut. Namun, Aksa dengan cepatan menahannya.
"Kenapa kamu makan?"
"Udah gue bilang! Ini nggak ada urusannya sama lo!!"
"Tapi, ini buatan Senja! Ini bekal yang dikasi Senja."
"Apa masalahnya kalo buatan Senja!!"
"Dia cewek nggak bener! Kamu nggak boleh deket atau terima apapun dari dia!"
Aksa bertambah marah. Ia menguatkan cengkramannya di pergelangan tangan Amara. Membuat Amara meringis manahan sakit.
"Shhh... Aksa, sakit."
"Gue peringatin ke lo! Jangan ikut campur urusan gue!! Lo! Nggak ada hak ngatur hidup gue!!" tegas Aksa kemudian melepas mencengkramannya di tangan Amara.
"Keluar!!"
Amara dengan wajah cemberut dan sambil menahan sakit, keluar dari ruangan tersebut. Rasa bencinya pada Senja semakin menjadi-jadi.
Ini semua gara-gara Senja. Awas aja lo! Gue bakal balas ini, dan buat Aksa benci sama lo, Senja!! Batin Amara.
***
Setelah bel berbunyi untuk istirahat yang kedua, Senja langsung meninggalkan Rara menuju toilet. Dia sudah sangat ingin buang air. Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Senja langsung kembali menemui Rara. Mereka ada janji untuk ke perpustakaan.
Namun, saat sedang berjalan di lorong kelas, tiba-tiba Amara dan teman-temannya menghadang. Cewek itu bersidekap sambil menatap Senja dengan tatapan merendahkan.
"Cih! Cewek murahan! Mau kemana lo?" tanya Amara.
Senja menatap gadis itu. "Bukan urusan lo gue mau kemana!"
Amara maju. Ia pikir Senja akan mundur karena takut. Namun, yang ia pikirkan salah. Senja tetap berdiri di tempatnya, tak takut sedikitpun.
"Gue benci lo! Kenapa sih lo harus ngejar-ngejar Aksa? Lo itu murahan tau nggak!!" Amara mendorong bahu Senja sedikit kasar.
"Gue ngejar-ngejar Zayyan nggak ada hubungannya sama lo!! Dan seharusnya lo bercermin sebelum ngatain gue murahan! Lo lebih murahan dari—."
Plak.
Amara langsung menampar Senja sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Membuat wajah Senja tertoleh ke samping. Amara tersenyum miring karena bisa menampar Senja. Sejak tadi, dia sudah tidak sabar melakukan itu.
Senja menegakkan wajahnya hingga saling menatap dengan Amara. Dengan cepat ia membalas menampar Amara.
Plak!!
"Senja!!"
Teriakan keras dari arah depan Senja membuat gadis itu menoleh. Dia sangat kenal dengan suara itu. Dia juga sangat kenal dengan tubuh tegap yang sedang berdiri menatapnya dengan sorot mata tajam. Dia Aksa. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan aura dingin yang menakutkan.
Mata Senja terarah pada tangan Aksa. Cowok itu memegang kotak bekal yang ia berikan tadi. Dan yang membuat Senja terkejut, kotak bekal itu terlihat ringan tanpa isi.
"Zay—"
"Shh... Sakit, Sa. Senja nampar aku. Aku nggak tahu kenapa dia tiba-tiba nampar aku," ucap Amara berakting. Situasi dan kondisi sedang memihak padanya. Dia harus bisa memanfaatkannya.
"Zay—"
"Kata Senja, aku nggak pantas dekat-dekat sama kamu."
"Nggak. Amara bohong. Zay—"
"DIAM SENJA!!!" bentak Aksa yang seketika membuat Senja bungkam. "Gue liat sendiri. Lo nampar Amara! Gue nggak nyangka lo cewek kasar! Nyesel gue terima pemberian lo dan habisin semuanya!"
Aksa melempar kotak bekal tersebut tepat di depan kaki Senja. Membuat gadis itu menunduk menatap kotak bekalnya dengan perasaan terluka.
"Ayo ke UKS. Gue obatin," ucap Aksa, merangkul Amara dan membawa gadis itu pergi.
Sementara Sonya dan Siska, dua cewek itu masih berdiri menatap Senja.
"Gimana rasanya digituin sama Aksa? Sakit ya?" tanya Sonya.
"Hu'um. Sakit banget," sahut Siska dengan ekspresi yang dibuat seperti orang yang tersakiti perasaannya. Kemudian dua cewek itu terkekeh bersama.
"Jangan lupa ya, pungut kotak bekal. Ngerusak pemandangan tau nggak? Ayo Nya, kita ke Amara."
"Ayo," balas Sonya, kemudian dia dan Siska pergi meninggalkan Senja.
"Nggak semua yang kamu lihat itu benar, Aksara Zayyan..." lirih Senja sambil mengambil kotak bekal miliknya yang dibuang Aksa tadi.
Senja kembali ke kelas dan menyimpan kotak bekalnya dalam tas. Ia kemudian keluar kembali untuk ke perpustakaan. Namun, langkahnya menuju perpustakaan seketika terhenti. Di depannya ada Arhez. Laki-laki itu tersenyum padanya dan mendekat.
"Lo mau kem— pipi lo kenapa?" Arhez langsung mengganti pertanyaan nya saat melihat pipi Senja memerah. Tangannya terulur mengusap pipi cewek itu, namun Senja menepis pelan tangan cowok itu.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Senja.
"Nggak kenapa-kenapa gimana? Pipi lo merah. Lo nggak usah bohong sama gue. Ini bekas tamparan. Siapa yang nampar lo?"
"Hez gue—"
"Ikut gue." Arhez langsung menarik lembut tangan Senja, tanpa ingin mendengar ucapan gadis itu lagi. Ia membawa Senja ke warung samping sekolah. Dan kebetulan, mereka berpapasan dengan Aksa dan Amara yang baru kembali dari UKS.
Ekspresi wajah Aksa sudah lebih baik dari tadi. Tapi, tatapannya masih menyiratkan kemarahan pada Senja.
Sementara Arhez, ia semakin erat menggenggam tangan Senja. Membuat wajah Senja terangkat menatapnya, dan dibalas senyum manis oleh cowok itu.
"Jangan peduliin mereka. Lo sama gue sekarang. Yang lo pikirin sekarang adalah ikut gue, karena gue mau bantuin obatin pipi lo," bisik Arhez, yang entah dorongan dari mana, Senja mengangguk.
Tiba di warung samping sekolah, Arhez mendudukkan Senja dan segera ke arah kulkas. Laki-laki itu mambuka benda tersebut dan tak menemukan apa yang ia cari.
"Mbak, ada es batu nggak?" tanya Arhez.
"Ada. Tunggu saya ambilin." Mbak tersebut langsung mengambil es batu di kulkas yang lainnya, kemudian menyerahkan es batu yang diisinya dalam mangkuk pada Arhez.
"Ini," ucap Mbak tersebut.
"Minta kain yang bersih juga."
Wanita itu kembali mengambil kain bersih sesuai permintaan Arhez. Arhez adalah salah satu pelanggan di warungnya. Dari Arhez juga, anak-anak SMA Gerhana cukup banyak yang membeli di warung tersebut.
"Es sama kain itu, mau diapain?" tanya si Mbak.
"Mau obatin pipi Senja," ucapnya lalu berjalan ke arah Senja setelah Mbak itu mengangguk.
Arhez memutar kursi di sebelah Senja hingga berubah posisi menghadap Senja. Ia juga menarik kursinya lebih dekat, lalu duduk.
"Hadap sini," ucapnya. Senja menurut dan merubah posisinya menghadap Arhez.
Arhez mengulur tangannya, mengusap pipi senja. "Gue mau lo jujur siapa yang lakuin ini sama lo. Tapi, gue nggak akan paksa lo buat ngomong," ucap Arhez, dan Senja hanya diam.
Arhez menjauhkan tangannya kemudian membungkus es batu dengan kain. Ia kemudian menempel-nempel pelan ke pipi Senja, tepat di bekas tamparan Amara.
"Shh...." Senja meringis pelan karena rasa dingin dan masih terasa perih pipinya.
"Sorry. Gue terlalu kuat ya, nempelinnya?"
"Nggak. Bukan itu. Cuman terlalu dingin," ucap Senja sambil mengulas senyum tipis.
Suasana diantara mereka mendadak sunyi sejenak. Tapi tak berlangsung lama, karena Senja memulai pembicaraan.
"Lo kenapa sih baik sama gue?" tanyanya.
"Bukan cuman lo yang gue baikin. Banyak orang yang gue baikin. Walaupun gue terkenal nakal, gak menghalangi gue untuk berbuat baik. Dan lo salah satunya yang nerima kebaikan gue. Tapi, lo spesial."
"Makasih, Hez." Arhez mengangguk.
"Lo nggak mau tanya, kenapa lo sepesial buat gue?"
Senja menggeleng. "Cukup lo sendiri yang tau alasannya," jawab Senja, yang diangguki Arhez.
"Udah selesai. Pulang sekolah nanti, lo tempelin lagi aja pake es."
"Iya," jawab Senja membuat Arhez tersenyum.
"Tadi lo mau kemana?"
"Mau ke perpus. Rara udah tungguin dari tadi."
Arhez menatap jam yang menempel di dinding warung, kemudian menatap Senja.
"Bentar lagi masuk kelas. Nggak usah ke perpus. Ayo, gue anterin lo ke kelas." Senja hendak menolak, tapi Arhez lebih dulu memotongnya. "Nggak ada penolakan. Okey?" ucap Arhez yang berhasil membuat Senja tak menolak.
"Mbak, ini saya taroh disini."
"Iya. Nanti saya beresin."
Arhez meletakan uang seratus ribu dibawah kotak tisue, kemudian mengajak Senja pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments