Seperti yang Rara katakan, pintu gerbang samping sekolah benar-benar tidak dikunci. Dua gadis itu dengan cepat keluar dari lingkungan sekolah dan menuju warung yang biasa menjadi tongkrongan Arhez dan teman-temannya.
"Hez, ada Senja," bisik Dean saat melihat Senja yang berjalan ke arah mereka bersama Rara.
Cowok tampan yang nggak beda jauh sifatnya dengan Aksa itu menghentikan kunyahan nya, dan beralih menatap ke arah Senja dan Rara.
"Mbak, mau nasi gorengnya satu," ucap Rara pada Mbak penjaga warung. Rara terlihat seperti orang yang sudah terbiasa dengan situasi warung ini. Berbeda dengan Senja yang merasa kikuk karena baru kali ini berada di tempat itu.
"Nja, lo pesan apa?"
"Samain aja punya lo," jawab Senja.
"Ya udah mbak, tambah satu nasi gorengnya."
"Siap neng."
Setelah memesan, Senja dan Rara memilih tempat duduk. Tidak banyak tempat duduk di warung kecil itu. Dan semuanya penuh oleh anak-anak cowok yang sedang makan atau sekedar nongkrong. Hanya di meja Arhez yang terlihat dua kursi kosong.
"Gimana nih? Gue gak berani duduk dekat Arhez. Ngeri gue," bisik Senja. Sedingin-dinginnya Aksa, laki-laki itu belum terlibat kasus perkelahian atau apapun. Tapi Arhez, dia berbeda. Apapun kasus yang berurusan dengan perkelahian, nama Arhez yang paling pertama disebut.
"Gue juga takut, Nja. Gak berani gue," sahut Rara.
"Mau duduk, duduk aja. Gue masih makan nasi, bukan makan manusia." Suara Arhez terdengar. Senja dan Rara saling pandang. Bagaimana Arhez bisa tahu kalau mereka sedang berpikir keras agar bisa mendapatkan tempat duduk? Sementara dia sedang memunggungi mereka.
"Nja, ngomong gih."
"Eh enak aja, lo! Lo lah yang ngomong."
Arhez yang mendengar menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Ia bangun dan langsung menarik tangan Senja.
"Eh, lo kenapa—"
"Duduk!" Arhez menempatkan Senja duduk di sebelahnya. Ia lalu berbalik dan menarik tangan Rara. Arhez juga mendudukan gadis itu berseberangan dengan Senja. Roni dan Dean, sahabat Arhez, mengulum senyum melihat dua gadis yang tengah tegang wajahnya. Sepertinya mereka benar-benar takut pada Arhez.
"K-kita nggak jadi makan deh." Senja hendak beranjak namun Arhez dengan cepat menahan tangannya.
"Mau kemana?"
"G-gue mau—"
"Duduk! Pesanan lo udah datang," ucap Arhez, kembali memaksa Senja duduk. Dan dengan terpaksa gadis itu menurutinya.
"Ini Neng pesanannya," ucap si mbak yang membawa pesanan Senja dan Rara.
"Ayo makan!"
Senja dan Rara dengan segera menyantap makanan mereka tanpa bersuara sedikitpun.
"Pfftttt... Lo berdua kenapa? Takut banget lo sama si Arhez?" tanya Dean sambil menahan tawanya. Wajah Senja dan Rara membuat ia merasa lucu.
"Udah tau takut, masih aja lo berdua kesini, hehehe," timpal Roni.
Arhez hanya diam dan fokus menatap Senja. Gadis yang selalu menarik perhatiannya sejak pertama bertemu.
"Lo berdua, siapa yang duluan ngajak kesini?" Arhez bertanya dingin, seolah tidak suka ada yang datang ke tempat tongkrongannya.
Keduanya sama-sama diam. Mereka seakan tidak ingin menyalahkan satu sama lain.
"Berarti lo berdua yang mau kesini," ucap Arhez. Dia menuangkan air ke gelas, lalu meneguknya. Setelah itu, mengeluarkan sebatang rokok dan menghidupkannya.
"Diantara lo berdua, siapa yang nggak suka bau rokok?"
"Gue. Gue nggak suka," batin Senja. Bukan sekedar nggak suka. Dia akan menjauhi orang yang merokok.
Walaupun begitu, Senja tidak bisa mengatakannya. Dia terlalu takut bersuara. Namun, wajahnya mulai memucat saat perut bagian atasnya terasa sakit. Namun, dandanannya yang berlebihan menutup wajah pucatnya itu. Dia juga tetap menahan sakitnya dan melahap makanannya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Lo berdua diam. Berarti gue boleh ngerokok disini."
"Siapa bilang?" Suara dingin menyahut dari jarak yang tak jauh dari mereka. Disana, berdiri Aksa, Amara, Sonya dan Siska. Mereka adalah siswa siswi yang aktif di Osis. Aksa adalah ketuanya.
Arhez tersenyum miring menatap Aksa. Ia melepaskan rokok yang diapit kedua bibirnya dan meletakan diatas meja. Senja dengan cepat meraihnya dan mematikan benda tersebut.
"Gue gak suka asap rokok," ucapnya saat mendapati tatapan dari Arhez. Dia pikir, Arhez akan marah. Namun di luar dugaan, Arhez malah tersenyum dan mengusap rambutanya.
"Kenapa nggak bilang? Gue nggak akan ngerokok disini kalau lo nggak suka," ucap cowok itu.
Senja dan Rara melotot bersamaan mendengarnya. Seorang Arhez, mau nurut sama orang? Benar-benar ajaib.
"Sekarang lo semua ikut gue." Suara Aksa kembali terdengar. Sebagai ketua osis, tugasnya membantu guru-guru menertibkan teman-temannya.
"Ini nggak ada urusannya sama lo," ucap Dean. Jengkel juga dia dengan Aksa yang selalu menuntut mereka menuruti peraturan.
"Peraturan sekolah nggak seharusnya kalian langgar!" Amara menimpali. Dia sebagai wakil ketua osis, juga tidak suka teman-temannya melanggar peraturan.
"Sok ngomong peraturan lo. Lo bully cewek-cewek di sekolah, nggak ngelanggar peraturan lo? Nggak usah sok bener deh lo!" kesal Roni.
"Amara nggak pernah ngebully siapapun!" tegas Aksa membela.
"Cih! Ini nih yang namanya cinta buta," ucap Dean.
Aksa terdiam. Matanya lalu menatap Rara, kemudian beralih ke Senja. Tatapan dinginnya terhenti lama pada Senja. Setelah beberapa saat, dia berbalik dan kembali ke sekolah.
"Eh? Sa, kok pergi? Mereka gimana?" tanya Amara tidak terima jika Aksa membiarkan orang-orang yang melanggar aturan itu bebas dari hukuman.
Aksa tak menjawab. Dia juga tidak berhenti ataupun berbalik untuk menjawab Amara. Punggung lebarnya yang semakin menjauh membuat Amara mendengus kesal. Ia menyentakkan kakinya, lalu menatap ke arah Senja dan Rara.
"Lo berdua ikut gue," ucapnya.
Arhez yang berdiri di hadapan Senja mendekatinya. Amara meneguk ludah dan beringsut mundur, begitu juga dengan kedua sahabatnya, Sonya dan Siska.
"Kalau gue nggak ngizinin lo bawa mereka, lo mau apa?" tanya Arhez.
"L-lo nggak ada hak ngelarang gue bawa mereka. Mereka ngelanggar aturan sekolah."
"Gue ada hak. Siapa yang masuk wilayah gue, nggak boleh keluar sembelum dapat izin dari gue."
"Mara, kita balik aja yuk. Gue nggak mau berurusan sama Arhez," bisik Sonya.
"Gue kapok dikerjain Arhez. Balik aja," bisik Siska.
"Cih! Cewek murahan kayak Senja lo belain." Amara berdecih lalu berbalik, hendak pergi. Namun, Arhez dengan kasar menarik lengan Amara.
"Jaga mulut lo!"
"Lo juga jaga batasan lo!" Suara Aksa kembali terdengar. Tangannya manarik tangan Amara hingga terlepas dari genggaman Arhez. "Nggak seharusnya lo kasar sama cewek," lanjut Aksa.
Arhez tersenyum miring mendengarnya. "Lo semua dengar kan? Si paling baik sama cewek lagi nasihatin gue! Lo semua harus ingat! Jangan kasarin cewek!" teriak Arhez sambil terkekeh.
Setelah mengucapkannya, cowok itu berbalik ke arah Senja dan Rara.
"Ayo Nja, gue anterin lo berdua ke kelas. Makanan lo berdua biar Dean yang anterin ke kelas," ucap Arhez lembut.
Rara mengulum senyum mendengar tutur lembut seorang Arhez pada Senja. Nggak salah dia ngefans sama Arhez.
"Makasih, Hez. Gue sama Rara bisa ke kelas sendiri," ucap Senja.
"Eh, kok gitu sih, Nja?"
"Ayo, Ra!" Senja mengabaikan Rara yang hendak protes. Ia menarik tangan gadis itu dan membawanya menjauh dari warung tersebut.
Aksa tak sedikitpun melirik saat Senja dan Rara melewatinya. Wajah dinginnya terlihat semakin dingin. Tangannya masih saja menggenggam tangan Amara yang memerah karena cengkraman kuat Arhez.
"Shh... Sakit, Aksa."
"Ayo ke uks. Gue obatin," ucapnya yang dibalas anggukan Amara.
Roni dan Dean yang melihat itu serentak mengangkat sudut bibir mereka membentuk ekpresi julid.
"Cengeng!" seru Roni.
"Cabut!" ucap Dean
Arhez hanya menunjukkan senyumannya. Senyum yang membuat siapapun bergidik. Ia kemudian melenggang lebih dulu diikuti Roni dan Dean dibelakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Evelyn
🥺🥺🥺
2023-11-05
0