Waktu pulang adalah waktu yang paling dinanti-nantikan sebagian siswa setalah melewati pelajaran yang membuat otak mereka harus bekerja keras. Beramai-ramai mereka berjalan meninggalkan sekolah. Begitu juga dengan Senja dan Rara. Dua gadis itu saling melempar canda saat berjalan ke parkiran.
"Eh, Nja. Coba deh lo liat pak Kardi. Kenapa dia liatin Aksa terus?" bisik Rara yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Senja spontan ikut berhenti dan menatap ke arah tunjuk Rara.
"Bener. Samperin!" ucap Senja.
"Ayo!"
Kedua gadis itu berbalik menjauh dari parkiran, mendekati pak Kardi.
"Pak!" Suara Rara membuat Pak Kardi menoleh ke arah mereka.
"Eh, Neng Rara, Neng Senja," jawabnya.
"Bapak kenpa liatin ke arah Zayyan terus Pak? Orang nya juga udah pergi," ucap Senja.
"Saya bingung Neng."
Senja dan Rara saling menatap, kemudian kembali melihat Pak Kardi. "Bingung kenapa?" tanya kedua cewek itu bersamaan.
"Itu, nak Aksa kok ada lebam lagi ya, di muka nya? Yang kemarin aja belum hilang lebamnya. Sekarang tambah lagi."
Senja dan Rara lagi-lagi saling menatap. Lebam yang kemarin? Maksudnya gimana?
"Kita nggak ngerti Pak. Maksud Bapak?"
"Kemarin sore, nak Aksa sama nak Arhez berantem. Nggak tau masalahnya apa."
"Berantem?" tanya Senja dan Rara bersamaan.
"Iya. Bapak sendiri yang lihat. Bapak juga yang lerai mereka. Nak Arhez kayaknya marah banget sama Nak Aksa."
"Ya udah, Pak. Makasih infonya," ucap Senja kemudian menarik Rara menjauh.
"Eh, ngapain narik-narik sih, Nja?"
"Ayo ke rumah Zayyan," ucap Senja yang membuat Rara melotot menatapnya.
"Lo gila? Ngapain ke rumah Aksa?"
"Mau bantuin Zayyan obatin lukanya lagi. Lo tahu sendiri, kekuatan Arhez gimana kalau mukul orang. Zayyan dua kali dipukulin. Pasti lebamnya double. Harus diobatin dengan bener."
"Lo lupa? Arhez juga lebam. Kekuatan Aksa kalau mukul orang juga nggak bisa diragukan," seru Rara.
"Ya udah. Kita bagi tugas. Gue ke rumah Aksa dan lo ke rumah Arhez."
"Ngapain sih Senjaaaa? Mereka punya keluarga yang bakal ngurusin mereka."
Senja terdiam. Ucapan Rara memang benar. Tapi, hanya berlaku untuk Arhez bukan untuk Aksa.
"Lo benar. Tapi, gue mau mastiin sendiri," ucap Senja kemudian menaiki motornya. "Gue duluan, Ra," pamitnya lalu melajukan motornya menjauh.
Rara hanya bisa menatap sahabatnya itu yang mulai menjauh. "Lo terlalu baik buat Aksa yang suka nyakitin lo, Nja. Dan lo nggak sadar, ada Arhez yang tulus sama lo," batin Rara.
***
"Gue nggak butuh!" ucap Aksa dingin. Namun, laki-laki paruh baya itu terus-terusan menyodorkan rantang berisi makanan itu pada Aksa.
"Den Aksa ambil, ya? Nanti saya dimarahin Bu Rahma," ucap laki-laki paruh baya itu tak menyerah. Dia adalah supir bu Rahma, Mama Aksa. Orang yang paling tidak ingin Aksa temui.
"Bukan urusan gue!"
"Den Ak—"
Prak...
Rantang yang dibawa Bapak itu terhempas karena tepisan tangan Aksa. Semua isinya tumpah berserakan di depan gerbang rumah Aksa.
"Zayyan!"
Suara melengking itu membuat Aksa menoleh, begitu juga dengan si Bapak. Namun, Bapak itu hanya menatap Senja beberapa detik. Laki-laki paruh baya tersebut langsung berjongkok memungut kembali makanan yang masih utuh dan memasukannya ke rantang. Sayang sekali makanan tersebut. Dari pada membiarkan makanan itu di depan gerbang dan diinjak-injak oleh orang atau kendaraan yang keluar masuk, lebih baik ia membuangnya di tempat sampah.
Senja turun dari motornya dan langsung membantu si Bapak memungut makanan itu.
"Ada air di mobil Bapak?" tanya Senja.
"Ada Nak, di jok belakang."
Senja segera membuka pintu mobil dan meraih sebotol air mineral. Ia membarikan botol air mineral itu pada si Bapak dan mengambil alih makanan itu kemudian membuangnya di tempat sampah yang berada tak jauh di depan gerbang rumah Aksa.
"Kamu bisa nggak sih, ngomongnya nggak usah pake emosi? Dia orang tua yang harus kamu hargain, Zay," ucap Senja.
"Ini nggak ada urusannya sama lo!"
"Aku tahu. Tapi, sebagai manusia, kamu nggak boleh ngelakuin hal kayak gini ke manusia lain. Apalagi sama orang tua kayak gini."
"Lo orang asing! Lo nggak tau apa-apa soal hidup gue. Nggak usah sok!" sarkas Aksa.
"Nggak apa-apa, Nak. Saya udah biasa kayak gini," ucap si bapak. "Ini airnya buat kamu cuci tangan. Kalau gitu, saya pamit dulu," lanjut si bapak.
Senja hanya menatap bapak itu yang mulai melajukan mobilnya menjauh. Ia ikut merasakan apa yang bapak itu rasakan. Bagaimana pun, dia juga sering di perlakukan seperti itu.
"Aku memang orang asing. Tapi, orang asing juga nggak pantas di perlakukan asing!" ucap Senja. "Bagi kamu, tadi itu hanya makanan yang sengaja dibuat buat kamu. Tapi, bagi orang yang buat makanan itu buat kamu, itu bentuk kasih sayang dia. Dan kamu sendiri yang buang kasih sayang itu."
Senja berbalik dan hendak pergi. Namun, Aksa dengan cekatan menarik tangan Senja hingga ia dan Senja saling menatap satu sama lain. Aksa dengan wajah dinginnya dan tatapan tajam seolah akan membunuh Senja saat itu juga. Dan Senja, gadis itu menatap Aksa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa yang lo tau soal hidup gue?" tanya Aksa dengan rahang yang mengeras.
"Depan kamar jenazah, sapu tangan biru didepan makam dengan nisan bertuliskan nama Farah Sahira."
Aksa sontak melepas cengkraman kasar tangannya pada tangan Senja. Semua memori itu berputar di otaknya. Dimana ia jatuh ke titik paling rendah hidupnya.
"Lorong rumah sakit Cempaka. Di pinggir jalan depan toko roti. Kalau kamu ingat semuanya, itu alasan aku buat terus ngejar-ngejar kamu. Nggak apa-apa kamu marah, yang paling penting kamu nggak meresa kalau kamu sendiri," ucap Senja.
Aksa terdiam. Wajah datarnya berubah sendu. Membuat Senja merasa bersalah karena sudah mengungkit luka Aksa.
Senja menarik nafasnya. Ia mengusap pelan tangannya bekas cengkraman Aksa. "Aku kesini mau bantuin obatin memar kamu. Kata pak Kardi, kamu sama Arhez juga berantem kemarin."
"Gue nggak butuh rasa kasian lo," ucap Aksa kemudian mendorong motornya melewati gerbang rumah. Laki-laki itu lalu berbalik dan mengunci pintu gerbang.
"Asal kamu tahu, Zay. Aku akan selalu siap sebagai tempat keluh kesah kamu kalau kamu butuh. Hidup kamu nggak akan berubah kalau kamu terus terkurung dalam masa lalu," ucap Senja, tapi Aksa tak sedikitpun menjawabnya.
Melihat Aksa berbalik dan menuju rumahnya, Senja menghembuskan nafasnya lalu berbalik ke motornya. Gadis itu kemudian melajukan motornya menjauh dari rumah Aksa.
Di dalan rumah, Aksa duduk di sofa, terdiam memikirkan ucapan Senja. Ia kembali teringat saat dia di depan makam Farah.
"Ini Nak, buat kamu." Seorang laki-laki petugas TPU memberikan sapu tangan pada Aksa.
"Aksa mendongak menatap laki-laki itu. Ia menerima sapu tangan biru yang bapak itu berikan. "Terima kasih, Pak."
"Bukan saya yang kasih. Tadi ada anak perempuan, mungkin seumuran kamu yang kasih ini ke saya. Dia minta tolong buat kasih ini ke kamu."
Aksa menoleh ke arah belakang si bapak. Tapi, ia tidak menemukannya.
"Orangnya udah pergi. Yang saya ingat tingginya mungkin setelinga saya. Terus pipinya lesung," ucap si Bapak.
Mengingat itu semua, Aksa baru sadar, yang memberinya sapu tangan saat itu adalah Senja. Dia satu-satunya teman satu sekolahnya yang tahu sisi rapuhnya.
Senja, gadis yang selama ini ia anggap pengganggu, ternyata sedang berusaha untuk membuatnya tidak merasa sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Badelan
baru sadar aska
2024-10-26
0